General

“Sayap-Sayap Patah” – Kahlil Gibran

“Wahai langit..

Tanyakan padaNya

Mengapa Dia menciptakan sekeping hati ini

Begitu rapuh dan mudah terluka

Saat dihadapkan dengan duri-duri cinta

Begitu kuat dan kokoh

Saat berselimut cinta dan asa

Mengapa Dia menciptakan rasa sayang dan rindu di dalam hati ini

Mengisi kekosongan di dalamnya

Menyisakan kegelisahan akan sosok sang kekasih

Menimbulkan segudang tanya

Menghimpun berjuta asa

Memberikan semangat

Juga menimbulkan kepedihan yang tak terkira

Mengapa Dia menciptakan kegelisahan dalam relung jiwa

Menghimpit bayangan

Menyesakan dada

Tak berdaya melawan gejolak yang menerpa

Wahai ilalang

Pernahkah kau merasakan rasa yang begitu menyiksa ini

Mengapa kau hanya diam

Katakan padaku sebuah kata yang bisa meredam gejolak hati ini

Sesuatu yang dibutuhkan raga ini

Sebagai pengobat tuk rasa sakit yang tak terkendali

Desiran angin membuat berisik dirimu

Seolah ada sesuatu yang kau ucapkan padaku

Aku tak tahu apa maksudmu

Hanya menduga

Bisikanmu mengatakan ada seseorang di balik bukit sana

Menunggumu dengan setia

Menghargai apa arti cinta

Hati yang terjatuh dan terluka

Merobek malam, menoreh seribu duka

Kukepakan sayap-sayap patahku

Mengikuti hembusan angin yang berlalu

Menancapkan rindu

Di sudut hati yang beku

Dia retak, hancur bagai serpihan cermin

Berserakan

Sebelum hilang di terpa angin

Sambil terduduk lemah

Ku coba kembali mengais sisa hati

Bercampur baur dengan debu

Ingin ku rengkuh

Ku gapai kepingan di sudut hati

Hanya bayangan yang kudapat

Ia menghilang saat mentari turun dari peraduannya

Tak kusanggup ku kepakkan kembali sayap ini

Ia telah patah

Tertusuk duri-duri yang tajam

Hanya bisa meratap

Meringis

Mencoba menggapai sebuah pegangan”

 

Sayap-Sayap Patah – Kahlil Gibran

General

Storiette — 1

Katanya, kalau malam tiba, waktunya setiap manusia berwaspada. Menjaga hati dan pikiran dengan segala kewaspadaan, supaya kamu selamat ketika hadir kembali menjajakan kaki di duniamu dan menyambut terang di keesokan hari.

Babak belur. Mungkin itu satu kalimat pendek yang bisa mewakili hatinya yang terluka. Dari balik punggungnya, aku melihat dia terduduk di sudut ranjangnya, menatap lurus ke arah jendela kamarnya yang menggambarkan pemandangan kota dengan lampu kerlap kerlip di setiap permukaan gedung yang ada di hadapannya. Aku kira dia hanya sedang menikmati pemandangan kota yang sibuk itu. Tapi dari balik punggungnya, raut wajahnya bukanlah raut wajah yang aku kenal selalu menyambutku dengan senyumnya yang lebar. Berkerut. Sambil memeluk kedua kakinya, aku melihat dua garis yang bermuara di kedua matanya menapak di kedua sisi pipinya. Dia menangis tersedu2 dengan kepedihan yang sangat dalam tergambar dari tatapannya. Satu demi satu butir, jatuh ke tubuhnya yang bergetar. Tidak peduli sudah berapa banyak air mata yang jatuh, dia tahu air matanya tidak pernah kering. Dan dari suaranya pun aku sudah bisa mendengar, ada luka yang sama sekali tidak bisa di jangkau oleh siapa pun.

“Tolong aku”, ucapnya sambil bergetar.

Aku ingin memeluknya, tapi dia mengelak. Tapi aku tahu, bahwa dia membutuhkan sebuah pelukan hangat yang erat, yang bisa mengirimkan pesan kepadanya: “hey, everything is going to be allright”, dan meyakinkan dia bahwa dia tidak pernah sendiri. Dan aku begitu ingin membiarkannya menangis sepuasnya dipelukanku. Tapi justru sebuah pelukan yang seperti itu akan membuat dia mengeluarkan segala emosinya sehingga dia terlihat lemah. Dia akan menangis seolah dunianya runtuh, seolah hidupnya berakhir. Dan dia tidak mau terlihat lemah. Orang lain kira, dia kuat. Selalu menghindari di sentuh atau di peluk oleh orang2 sekitarnya. Padahal sebenarnya itulah yang paling dia butuhkan. Tapi dia takut. Mungkin takut, jika dia mengeluarkan segala emosinya melalui tangisannya yang tidak dapat mengucapkan sepatah kata tersebut di depan orang lain, nanti orang tersebut malah mengkhianatinya seperti cintanya dikhianati. Mungkin suatu saat nanti, entah kapan, akan datang masanya untuk dia bisa kembali membangun seluruh kepercayaannya.

Tak kuasa aku melihat dirinya setiap malam seperti demikian.

Aku hanya bisa memandangnya, memandang kedua matanya, dan berusaha untuk masuk ke lubuk hatinya. Mencoba mengerti lubuk hatinya, mencoba melihat seberapa hancur dirinya tertekuk di sudut dinding lubuk hatinya. Babak belur. Di dalam ruang hatinya sana, aku melihat dia seorang diri dalam kegelapan, meringkuk dan mengerang. Aku berjalan mendekatinya, dan aku melihat sekujur tubuhnya penuh goresan luka. Bahkan jika aku bisa gambarkan, dia tenggelam dalam darah tubuhnya sendiri. Hancur hatiku melihatnya. Maka aku mengerti mengapa dia tidak memilih untuk dipeluk. Ketika kedua lengan dan tubuhku menyentuh tubuhnya, dan kehangatan tubuhku menyelimuti dinginnya hatinya, dia akan kesakitan. Bayangkan saja seluruh tubuh seseorang yang mengalami luka bakar dipeluk orang, dan kulitnya bersentuhan dengan kulit orang lain. Ufh, that must be very painful. Dan itu yang aku lihat pada dirinya. Seterluka itu dirinya. Gosh!

Pada sudut lain ruang hatinya, aku melihat ada sosok Cinta yang mengenakan pakaian putih tergantung. Di sekitarnya aku melihat tiga sosok Benci, Marah, dan Kecewa sedang memukulinya. Si Cinta yang sakit mengerang dipukuli, dan si Benci, Marah, dan Kecewa yang berteriak menghina dan meremehkan Cinta. Setiap hari dia diam, tinggal, melihat, dan mendengar pemandangan tersebut pada ruang yang sama. Aku mengerti sebagaimana lelahnya dia.

Aku mengerti ketika dari balik tubuhnya aku melihat dia berdiri di sudut jendela dengan pandangan kosong ke bawah, ke tanah, siap terbang, padahal dia tahu bahwa dia tidak punya sayap untuk terbang kembali ke atas. Aku mengerti panasnya hawa kepahitan yang selama ini menguasai atmosphere ruang hatinya. Aku mengerti pedih dan setiap sudut lukanya.

Karena aku melihatnya sendiri.

Hilang harapannya akan senyumnya yang dulu tulus, jujur, dan polos. Ketika dia keluar dan berhadapan dengan dunia, tidak pernah dia lepaskan topengnya dari wajahnya. Hilang harapannya untuk berbahagia.

Dan ketika seseorang sudah kehilangan harapan, jiwanya runtuh, hancur. Harapannya yang hilang membunuh mimpi2nya. Harapannya yang hilang membunuh keyakinannya. Satu kata: HOPE.

Hanya cinta yang bisa menaklukan dendam. Hanya kasih sayang yang tulus yang dapat menyentuh hatinya kembali. Hanya cinta yang bisa mendamaikan benci. Hanya kasih sayang yang tulus yang dapat menembus ruang dan waktu.

Dan setiap tengah malam aku selalu mendengarnya berbicara sendiri. Walau terdengar nyeri, terdengar ada beban yang tidak dapat terukur dari setiap kalimat yang dia keluarkan dari sudut bibirnya, tapi kata2nya tidak pernah aku lupakan. Dengan hati yang terluka dan hancur, namun dengan berani pula dia mengucapkannya, karena dia tahu isi hatinya.

She can’t deny.

“Aku mencintaimu”, ucapnya sambil mengacungkan tangan kanannya ke udara seolah sedang mengelus wajah seseorang.

General

There was a time, when …

Ada saat dimana aku dan dia bertengkar, tetapi itu membuat kita saling mengenal akan kebutuhan masing2.

Ada saat dimana aku dan dia menangis, mengerang bersama, dan membuat kita mengerti untuk saling berempati satu sama lain.

Ada saat dimana aku dan dia bercanda, tertawa bersama, dan membuat kita melepaskan semua duka yang pernah kami rasakan.

Ada saat dimana aku dan dia sama2 gengsi untuk meminta maaf, tetapi itu membuat kita belajar untuk saling merendahkan hati.

Ada saat dimana aku kesal padanya, tetapi itu membuat aku belajar untuk selalu sabar akan kekurangannya.

Ada saat dimana aku dan dia saling mengecewakan, tetapi itu membuat kita belajar untuk saling memaafkan dan hadir kembali untuk mencintai lagi.

Ada saat dimana aku dan dia tidak dapat bertemu, bahkan salling melihat satu sama lain, tetapi itu membuat kita belajar bagaimana rasanya rindu.

Cinta itu mendewasakan dan didewasakan.

Saling menutup kekurangan masing2 pribadi dengan kelebihan satu sama lain.

Tetapi, banyak orang yang menganggapnya remeh.

Mereka kira dengan perbedaan sifat adalah sebuah tanda dari ketidakcocokan.

Dan kemudian, cinta yang katanya hal terindah tersebut, mereka buang seolah tidak ada lagi artinya.

Padahal itulah cara Tuhan menyatukan seorang pria dan seorang wanita yang sangat berbeda.

Menyempurnakan yang tidak sempurna

Dan dari semua yang telah aku alami mengenai perjalanan cinta sepanjang hidupku ini,

Aku belajar bagaimana aku menghargai cinta.

Karena cinta yang tulus itu suci.

Dan dia langka ditemukan.

General

The rationale of people ushing others away

Pushing people away.

Apparently, God has created us in such a way that our brains are very protective to us.

I notice that pushing people away in a relationship is very common in the Western culture. I don’t really know about in the Eastern. But I’ve seen some people done that. And I’ve seen relationships are broken because the partner seems doesn’t understand about this issue. Generally, women often do this, because they are emotional creatures (can refer to my previous post men versus women). While western people are very aware of this action, Easterners tend to find it is a very strange behavior. Don’t judge if you find people who do this. There is always a logic explanation behind why do people change in their attitudes. Now I would like to share about the meaning behind that action and how to deal with the people who has tendency to do that.

This post is NOT something that I made up by my own understanding. I did some research, read some psychology books and few articles regarding the same issue, and this is what I can summarize.

Sometimes when people hurt, they push others away while in fact they need others the most. It’s a counter-intuitive reaction. Most of the time, they push away people who care and love them the most. People who push others away are mostly suffer from some kind of depression. Some of the explanations could be they are afraid in getting more hurt, because they are already hurt. Other thing could be they are on denial, thought that they need no one, and they think that being alone is better. Or they could be punishing themselves. And everything occurs is because they experienced trauma from their past. I understand that being pushed away by someone you really care about and love for is unpleasant. And maybe, you also feel hurt because you are trying to make them better, you are trying to support them, but they are pushing you away. But one thing for sure, people who push others away always feel regret after they do that. They actually never meant to pushing you away, because they need someone.

You also may see, is your loved one is depressed? Maybe they don’t know what they need. When someone is depressed, you can notice from the change of habit, for example is loss of enjoyment of doing something that they used to love. Suffering with depression is incredibly difficult and painful. Imagine if you are being pushed away by someone, you are hurt, moreover they who experience the depression, is a lot heavier.

When someone you care and love push you away, you don’t take it personally. Pushing people away can be considered as rejection. Maybe your loved one have ever experienced of being rejected, so whenever they feel rejected by simple issue, the immediately shut themselves and reject others before they are rejected. But when they reject you, it is not personal. Rejection can also be seen as an act of protection. Your loved one tries to protect something within, either consciously or unconsciously. Everything that is said is a reflection of the depression – the fear, the anxiety, the panic, the pain, the sadness, the anger, the disappointment. It’s a very heavy load. Your loved one is trying to send you a “help” message, but maybe they do it in a wrong way.

When someone is experiencing depression, they experience the inability to be themselves and you feel it permanent. You feel that they can’t change.  The fact is, people can change when others believe that they can change. Your loved one needs your trust that they can change, by that they will feel supported and cope with the depression. When they can’t be themselves with you (be loving with you) it hurts them more and makes the depression feel worse. Depression is not who they are, they are just an individual who is experiencing depression. They are in a relationship with depression that has them captured or held hostage. It can help your loved one to hear that you know that this is not who they are and that you love them.  It is also important for your loved one to know that you love them even though they are not themselves. They might not respond the way you want them to, but deep down beneath all of the numbness, pain, anxiety, fear, your loved one is still there and need to be loved. They need support and empathy.

Sometimes, no matter what you do or say, you find out that you are having difficulties to make your loved ones feel better. Instead of making them better, take the pressure off to fix it by simply being with the person you love, sitting beside them, holding their hand, rubbing their head, validating their feelings, remind them that what they are experiencing is temporary, help them to feel the security that they are not alone in facing the problems, the depression. By being there for them, it will help them get through the suffering.

It is also important that a person who deals with this kind of person must be a person who has spiritual maturity, so they have a strong endurance. I was never believe before that someone whose emotional life is a mess could get in to a relationship. But recently I read some relationship books, that opened up my viewpoint, that it is highly possible. One example is from the book of Joyce Meyer “living beyond feelings”. Joyce Meyer was a very emotional person, and she was helpless. She has tough life in her earlier age. She and her husband had gone through difficult years in their early marriage. But there was one statement that made my heart melt when she was explaining about her waiting regarding for life-partner: “God knew that Dave (the husband) was mature enough to handle the rough years with me, because he was asking to God a woman that need a help by his presence”, and Dave met Joyce, who was a mess.

I can conclude here that, in relationships, we do need equality. We need to be balance. What is the good in being there when good times, but not in bad times. When love combined with respect, mutual trust, support, empathy, communication, sharing, honesty, fairness, intimacy, I believe man and woman can develop together.

General

“Be still, my soul”

“Be still, my soul: the Lord is on thy side
Bear patiently the cross of grief or pain
Leave to thy God to order and provide
In every change, He faithful will remain
Be still, my soul: thy best, thy heavenly Friend
Through thorny ways leads to a joyful end

Be still, my soul: thy God doth undertake
To guide the future, as He has the past
Thy hope, thy confidence let nothing shake
All now mysterious shall be bright at last
Be still, my soul: the waves and winds still know
His voice Who ruled them while He dwelt below

Be still, my soul: when dearest friends depart
And all is darkened in the vale of tears
Then shalt thou better know His love, His heart
Who comes to soothe thy sorrow and thy fears
Be still, my soul: thy Jesus can repay
From His own fullness all He takes away

Be still, my soul: the hour is hastening on
When we shall be forever with the Lord
When disappointment, grief and fear are gone
Sorrow forgot, love’s purest joys restored
Be still, my soul: when change and tears are past
All safe and blessed we shall meet at last

Be still, my soul: begin the song of praise
On earth, believing, to Thy Lord on high
Acknowledge Him in all thy words and ways
So shall He view thee with a well pleased eye
Be still, my soul: the Sun of life divine
Through passing clouds shall but more brightly shine”

General

Him and … past

Cinta datang tanpa paksaan. Dia hanya mengetuk, dan kau membukakan pintu baginya.

—————————————–

Aku pernah mencintai seseorang yang jelas2 bukan tipeku. Bahkan tidak pernah terlintas sejenak pun bahwa aku bisa mencintainya. Sampai2 kalau orang dengar aku mencintainya, mereka hanya bisa mengaga, dan … speechless. Saking aja, it’s impossible for me to love a guy like him. Dia teman baikku, setelah sekian lama kami kenal. Setiap kali kami berinteraksi, pasti selalu saja ada hal2 yang membuat aku jadi kesal akan sikapnya. Tapi kami berteman dengan sangat baik. Isn’t it funny?

Seringkali aku tidak sabar akan sikap2nya yang tidak dewasa, manja, dan kaku. Bohwat, istilah jaman sekarangnya sih. Well, he is basically a good person. And my ex’s childhood-bestfriend. Keluarganya normal, dan simple. But what is my right to judge them? Aku menerima mereka sekeluarga sebagai keluargaku juga kalau aku dan ex-ku mampir ke rumahnya. His parents juga welcome kalau aku mampir. Malahan, aku sering ditawari makan di tempatnya. Dan masakan maminya, berasa sedang makan di restaurant saja (saking enaknya, maksudnya). Aku juga punya hubungan yang sangat baik with his sister. His family is wonderful, and he is a good friend of mine.

I met him at church. Sekembalinya aku dari Singapore setelah aku kuliah 2.5 tahun di sana, aku settled keanggotaanku di gereja mantanku, yaitu di tempat dimana aku dan dia berkenalan, dan kemudian semakin dekatlah hubungan kami berdua. As a friend. As a bestfriend.

He is basically a humorous person. Seringkali juga aku dibuatnya kesal kalau setiap kali aku berusaha untuk berbicara serius dengannya, yang ada balasannya adalah candaan belaka. Cape deeehhhh…………………..

Karena itu, aku bilang di awal, aku tidak akan pernah bisa menyayanginya selain dari sebatas teman semata.

Dasar kemakan omongan sendiri …

Sekian lama aku sudah menjadi sahabat baik. Kita berdua sering sharing akan banyak hal terhadap satu sama lain. Hubungan kita semakin dekat. Orang2 sekitarku bilang kepadaku, “Rin, he likes you”. But I didn’t believe them. Tapi dalam hatiku, sebenarnya aku sudah tahu. Hanya saja, I denied. Karena aku begitu nyamannya terhadap hubunganku dengannya sebagai sahabat, dan aku sangat takut untuk kehilangan sahabat sebaik dia. Aku tipe orang yang susah untuk merasa nyaman terhadap seseorang kalau bukan waktu yang memproses hatiku untuk bisa percaya terhadapnya. Berhubung aku dan dia sudah saling kenal selama 8 tahun saat itu, proses tersebut sudah dilewati oleh hatiku. Dan aku bisa percaya padanya menceritakan hal2 yang tidak bisa aku ceritakan pada teman2 pada umumnya. Dan untuk mengantisipasi dia jatuh cinta terhadap aku, aku bilang kepadanya, “don’t fall for me, ya”. Although he said “I can’t promise you”, but I strongly suggested him “don’t”.

Sampai suatu hari, dia bilang, dia iseng mau menelfonku malam2. Tapi aku jelas2 tolak. Karena aku tidak menyukainya, dan aku tidak akan pernah bisa suka padanya, dan aku takut. And he got upset. Aku yang sering merasa bersalah kalau aku membuat seseorang kecewa, dan terutama lagi ketika dia adalah seseorang yang aku sayangi, dan aku sayang padanya sebagai sahabat, moodku pun jadi turun dan aku merasa bersalah mengecewakannya.

Kemudian, keesokan harinya aku bertanya padanya, straightly: “do you have the intention to regard me more than as a bestfriend?”. And he replied, “I’m sorry, I think I started to fall for you”. Haduh.. The last thing I want is finally happened. Dan disitulah segalanya bermula.

Aku dan dia, I pushed him away berkali2. Aku bilang, “we can never be together, please just move on from me”. Dengan patuhnya dia bilang “ok”. Tapi.. Seolah2 dia tidak bisa lepas dari aku, jadi hubungan kita terus dekat, dan memang dia tidak pernah bisa move on. Dan aku yang terlalu ingin menjaga perasaannya, tidak mau mengecewakannya dengan menyakitinya. Jadi selama dia dekat denganku, aku juga tidak bisa menolaknya habis2an, karena hubungan yang sudah kita bangun terlalu jauh, dan aku tidak mau kehilangan dia sebagai sahabatku, juga tidak mau merusak hubungan selama 8 tahun kita kenal.

One day, he asked me out. “Just once, before I totally move on from you completely”. So I agreed. Just a simple date. Watching “the king speech” and late dinner. Sebelumnya aku berikan rule untuknya: no holding hands, no arms on my shoulder, no caress, make space when we walk side by side.

That night, honestly, I was TRULY enjoy every seconds. Semua rule yang aku berikan padanya, dia patuhi dan lakukan. Dan setibanya aku di rumah, I couldn’t even stop thinking about it. I couldn’t even stop smiling. Tapi ada perasaan takut yang sangat besar menguasai hatiku. Takut kehilangan. Sangat. Karena ternyata, aku sadar bahwa aku mulai mencintainya.

Hubungan persahabatan seharusnya akan lebih bertahan lama daripada hubungan percintaan yang sudah kusadari sedari awal bahwa kami tidak pernah bisa bersatu.

Dan memori2 indah yang ada, menyayat hatiku satu demi satu, perlahan2.

He is definitely not my type. But he is simply wonderful. And I love him so much.

Aku kira dia tidak akan pernah bisa mencintaiku selayaknya seorang wanita ingin dicintai oleh seorang pria: dengan panjang-sabarnya seorang pria terhadap seorang wanita; yang membimbing seorang wanita sebagai pribadi yang terbentuk dari partikel2 emosi; yang membelai mahkota seorang wanita, rambutnya, dengan penuh lemah lembut; yang bisa dipercaya; yang bisa diandalkan; yang mengerti pribadi seorang wanita dan tahu apa yang dia mau; yang menghormati seorang wanita dari luar dan dalam; yang menerima kelemahannya seorang wanita; yang berkomitmen. Seorang pria yang mencintai seorang wanita dengan utuh, siapa yang tidak mau? Walau saat itu dia belum ada pada tahap demikian, it’s okay for me. He still under construction. We can develop together. Yang penting dia sayang sama aku. Dan aku seringkali ragu terhadapnya, bahwa dia bisa sayang sama aku, pada akhirnya, he literally SINCERELY LOVE ME. And he proved his heart. Pelan2 aku pun belajar untuk mencintai dia dengan utuh. Mencintai suatu hal baru dari seorang pria: his simplicty.

Saat itu, aku kesulitan untuk move on dari mantanku. Dan begitu pula dengan mantanku. Dan kami hampir balikan. Tapi kami tidak tahu apakah keputusan kami untuk balikan adalah yang terbaik. Saat itu, dia sudah menyatakan bahwa dia menyayangiku. Dan dia katakan padaku, kalau aku harus memilih untuk balikan dengan mantanku, dia akan merelakannya, karena kebahagiaanku adalah kebahagiaannya.

When I was down, I felt like I did not want to talk with anybody. But he noticed something was very wrong with me, and he asked me. He built my confidence, my trust in him. A few times I lied to him, because I was so afraid to be honest to him, share my burdens to him. I was so afraid to trust him. He said “I won’t judge you, and you can talk about anything with me, you don’t need to worry”. I knew that by lying was wrong. But I just couldn’t truly believe him. He earned my trust. Hingga suatu hari, siang hari, the first lunch with him, ketika pembicaraan kami mulai semakin serius, kemudian aku memberanikan diri untuk sharing hal2 pribadiku. Aku menangis di depannya, dan dengan lembutnya dia berkata “sekarang aku mengerti semuanya. Don’t worry, everything is gonna be okay”, sambil membelai tanganku. Dan kemudian dia lanjutkan dengan candaan2 konyolnya, yang membuatku tertawa kembali dan lupa akan kesedihanku.

Ada saatnya kita tidak bisa bertemu karena waktu yang sangat tidak memungkinkan. Dia kangen. Dan sikap kekanak2annya yang kangen terhadap aku, merengek minta photoku. “I want to see you today”. Tidak peduli dalam kondisi apa pun aku saat itu, walau aku sedang sakit pun, he just want to see me. Tidak peduli aku tanpa make up, and such a mess, he just want to see me. And everytime I sent him my photo, his mood was boosted up. And he said “you always make my day”.

Sewaktu dia begitu inginnya menyampaikan “aku sayang kamu” terhadap aku tapi tidak satupun kata2 yang bisa mewakili perasaannya, dia selalu quote lirik2 lagu, lalu dia post di tempat umum. Pada dasarnya dia bukan orang yang seperti itu, bukan orang yang bisa menyampaikan hal2 romantis. But he found a way to reach my heart. I’m in love with anything about romantic poems, and that is include song lyrics. He made an effort to climb the mountain of my heart-hardness.

Kami berbincang, dan ketika aku bercerita, aku selalu terlalu excited untuk menceritakan sesuatu. Sambil tersenyum, dia selalu terpaku dan berkata, “the way you tell your story makes me fall in love, and I just want sit still to look into your eyes”. And the way he looked at me, from his eyes could tell me how much he loved me.

Saat itu, aku dirawat di rumah sakit. Operasi tulang ekor yang patah. Ketika aku masih sadar, tidak di bawah kuasa obat bius, orang terakhir yang aku lihat adalah dirinya. Dan ketika aku bangun, tersadar dari kuasa obat tidur, sambil masih belum bisa memfungsikan seluruh tubuhku karena lemas, dia ada di sebelahku. Dan menemaniku hingga malam hari. Membelikan aku makanan favoritku, 2 porsi! (lalu sekeluarnya aku dari RS, I gained 2 kgs!)

Me and him, were a perfect match when it comes to the music collaboration. He plays guitar, I sing. I often got too nervous when I do solos. He always right there, bellow the stage, gave me support, “you can do it”. And he said, he always love to hear me sing.

I am so picky to choose what I want to eat. But he always remember the foods I love, since they are very specific.

He always wanted to know how was my day, how was my weekend, what did I do. He always wanted to know what happens in my life. He wanted to be involved for the activities I do when he cannot be involved.

He always wanted to listen to my stories, and he never get bored.

He always read my writings, and he loved them.

He always waited for me when I got something to do.

He always followed me wherever I go when we both were in church.

He always cheered me up whenever I got sad.

He always accompanying me when I needed to go somewhere first before I went back with him.

He always wanted to sit beside me.

He always shared his foods with me, even if I insisted.

He always wanted my presence , and he needed my presence.

He always discussed things with me and I feel involved, wanted.

He always made efforts to speak love.

He always said that he never love a girl like he loved me.

He always wanted to be with me all the time.

I knew that I am loved. I can see that he loved me.

We smile together, we cry together, we prayed together, we dream the same, we hope equally.

Belaiannya, sentuhannya, sederhana dan lembut. Dia membangun duniaku.

2 tahun lalu, segalanya di mulai dengan sangat indah. I don’t understand why people should break up. And now he changed. He is no longer someone that I first knew, I first met 10 years ago. He is no longer someone that I first fell in love, 2 years ago. He just ….. different now..

But I love him. And that doesn’t change.

Meski hari berlalu, meski musim kan berganti, satu yang tak berubah, seutuhnya cinta di hati. Meski bulan memudar, bintang tak lagi berpijar, yang kan tetap bersinar, seutuhnya cinta bagimu. Tak usah kau ragukan cintaku, seutuhnya cintaku – “Seutuhnya Cinta” by Ira Batti ft Andi Rianto

Dan entah mengapa, aku masih percaya, there is always a good thing within him. Iya, aku marah. Iya, aku kecewa. Tapi juga, iya, aku sayang padanya. Aku tidak melihat ada yang salah pada dirinya, kemudian I blame myself. Dan semua kekesalanku, kekecewaanku, kemarahanku yang aku luapkan padanya, malah semakin push him away. Di saat aku ingin dia mendekat, tapi aku malah menjauhkannya!

I am sorry.. If i ever hurt you.

I just don’t know what is so wrong with us, why people should meet and fall in love if in the end they can never be together, why love should come at the first place if in the end love is just ….. gone.

Hangat surya kan lupa tuk bersinar, redup tak berkilau. Denting nada kan berhenti bernyanyi, sepi tak mengalun. Hidup tiada lagi berwarna, putih pun akan menghitam. Bintang yang semula benderang perlahan menghilang. Tak terbayang sepi dan sendiri dunia tanpamu. Hilang semua, diam tak bermakna dunia tanpamu – “Dunia Tanpamu by Annisa Pontjo ft Andi Rianto

Nyanyianku hilang tanpa senyumnya yang menghiasi pagi dan malamku.

I was so sure, and I wanted him. And he was also so sure, and he wanted me. I thought, he will be my last. But, I don’t know. I am still sure until now. I don’t understand what God wants to achieve here. I’m in a midst of confusion. Tapi juga Tuhan berkata: trust Me. Hal tersulit ketika your heart is shattered, semuanya terlihat buram.

Aku pun tidak tahu lagi, apakah dia masih peduli terhadap aku? Seolah semua kepeduliannya yang dulu terlampau indah, sudah hilang ditelan waktu. Dan semuanya kini terkesan hanya mimpi. Mimpikah aku selama 2 tahun kemarin? Does he even exist?

His love was always on fire, even our journey must gone through hardships. I trusted his love. I believed in him. And I still do, although he has changed.

They say that only time heals the broken heart.

I am a broken fallen “Angelina”. How to mend the broken wing?

Apart from everything …..

i miss us.

Dia mengetuk satu kali. I closed my door. Dia mengetuk dua kali. I went away. Dia mengetuk tiga kali. Dengan cintanya, dia mencairkan kekerasan hatiku. Kuberi kesempatan untuk cinta datang dan mendiami sanubariku.

Jika aku sendiri, melangkahkan kakiku di tengah2 keramaian, ditemani dengan alunan lagu yang dari sudut kedua telingaku, aku tersenyum. Tersenyum mengingat sosok tubuhnya, keberadaannya, ketika masa2 lalu aku dan dia sedang bersama. Tersenyum mengingat kata2nya, perlakuan2nya, ketika masa2 lalu aku dan dia habiskan bersama setiap waktu. Tersenyum mengingat betapa bahagianya dan cocoknya kami berdua terhadap satu sama lain.

Semuanya indah..

Dan aku pernah bahagia satu kali.