Him and … past

Cinta datang tanpa paksaan. Dia hanya mengetuk, dan kau membukakan pintu baginya.

—————————————–

Aku pernah mencintai seseorang yang jelas2 bukan tipeku. Bahkan tidak pernah terlintas sejenak pun bahwa aku bisa mencintainya. Sampai2 kalau orang dengar aku mencintainya, mereka hanya bisa mengaga, dan … speechless. Saking aja, it’s impossible for me to love a guy like him. Dia teman baikku, setelah sekian lama kami kenal. Setiap kali kami berinteraksi, pasti selalu saja ada hal2 yang membuat aku jadi kesal akan sikapnya. Tapi kami berteman dengan sangat baik. Isn’t it funny?

Seringkali aku tidak sabar akan sikap2nya yang tidak dewasa, manja, dan kaku. Bohwat, istilah jaman sekarangnya sih. Well, he is basically a good person. And my ex’s childhood-bestfriend. Keluarganya normal, dan simple. But what is my right to judge them? Aku menerima mereka sekeluarga sebagai keluargaku juga kalau aku dan ex-ku mampir ke rumahnya. His parents juga welcome kalau aku mampir. Malahan, aku sering ditawari makan di tempatnya. Dan masakan maminya, berasa sedang makan di restaurant saja (saking enaknya, maksudnya). Aku juga punya hubungan yang sangat baik with his sister. His family is wonderful, and he is a good friend of mine.

I met him at church. Sekembalinya aku dari Singapore setelah aku kuliah 2.5 tahun di sana, aku settled keanggotaanku di gereja mantanku, yaitu di tempat dimana aku dan dia berkenalan, dan kemudian semakin dekatlah hubungan kami berdua. As a friend. As a bestfriend.

He is basically a humorous person. Seringkali juga aku dibuatnya kesal kalau setiap kali aku berusaha untuk berbicara serius dengannya, yang ada balasannya adalah candaan belaka. Cape deeehhhh…………………..

Karena itu, aku bilang di awal, aku tidak akan pernah bisa menyayanginya selain dari sebatas teman semata.

Dasar kemakan omongan sendiri …

Sekian lama aku sudah menjadi sahabat baik. Kita berdua sering sharing akan banyak hal terhadap satu sama lain. Hubungan kita semakin dekat. Orang2 sekitarku bilang kepadaku, “Rin, he likes you”. But I didn’t believe them. Tapi dalam hatiku, sebenarnya aku sudah tahu. Hanya saja, I denied. Karena aku begitu nyamannya terhadap hubunganku dengannya sebagai sahabat, dan aku sangat takut untuk kehilangan sahabat sebaik dia. Aku tipe orang yang susah untuk merasa nyaman terhadap seseorang kalau bukan waktu yang memproses hatiku untuk bisa percaya terhadapnya. Berhubung aku dan dia sudah saling kenal selama 8 tahun saat itu, proses tersebut sudah dilewati oleh hatiku. Dan aku bisa percaya padanya menceritakan hal2 yang tidak bisa aku ceritakan pada teman2 pada umumnya. Dan untuk mengantisipasi dia jatuh cinta terhadap aku, aku bilang kepadanya, “don’t fall for me, ya”. Although he said “I can’t promise you”, but I strongly suggested him “don’t”.

Sampai suatu hari, dia bilang, dia iseng mau menelfonku malam2. Tapi aku jelas2 tolak. Karena aku tidak menyukainya, dan aku tidak akan pernah bisa suka padanya, dan aku takut. And he got upset. Aku yang sering merasa bersalah kalau aku membuat seseorang kecewa, dan terutama lagi ketika dia adalah seseorang yang aku sayangi, dan aku sayang padanya sebagai sahabat, moodku pun jadi turun dan aku merasa bersalah mengecewakannya.

Kemudian, keesokan harinya aku bertanya padanya, straightly: “do you have the intention to regard me more than as a bestfriend?”. And he replied, “I’m sorry, I think I started to fall for you”. Haduh.. The last thing I want is finally happened. Dan disitulah segalanya bermula.

Aku dan dia, I pushed him away berkali2. Aku bilang, “we can never be together, please just move on from me”. Dengan patuhnya dia bilang “ok”. Tapi.. Seolah2 dia tidak bisa lepas dari aku, jadi hubungan kita terus dekat, dan memang dia tidak pernah bisa move on. Dan aku yang terlalu ingin menjaga perasaannya, tidak mau mengecewakannya dengan menyakitinya. Jadi selama dia dekat denganku, aku juga tidak bisa menolaknya habis2an, karena hubungan yang sudah kita bangun terlalu jauh, dan aku tidak mau kehilangan dia sebagai sahabatku, juga tidak mau merusak hubungan selama 8 tahun kita kenal.

One day, he asked me out. “Just once, before I totally move on from you completely”. So I agreed. Just a simple date. Watching “the king speech” and late dinner. Sebelumnya aku berikan rule untuknya: no holding hands, no arms on my shoulder, no caress, make space when we walk side by side.

That night, honestly, I was TRULY enjoy every seconds. Semua rule yang aku berikan padanya, dia patuhi dan lakukan. Dan setibanya aku di rumah, I couldn’t even stop thinking about it. I couldn’t even stop smiling. Tapi ada perasaan takut yang sangat besar menguasai hatiku. Takut kehilangan. Sangat. Karena ternyata, aku sadar bahwa aku mulai mencintainya.

Hubungan persahabatan seharusnya akan lebih bertahan lama daripada hubungan percintaan yang sudah kusadari sedari awal bahwa kami tidak pernah bisa bersatu.

Dan memori2 indah yang ada, menyayat hatiku satu demi satu, perlahan2.

He is definitely not my type. But he is simply wonderful. And I love him so much.

Aku kira dia tidak akan pernah bisa mencintaiku selayaknya seorang wanita ingin dicintai oleh seorang pria: dengan panjang-sabarnya seorang pria terhadap seorang wanita; yang membimbing seorang wanita sebagai pribadi yang terbentuk dari partikel2 emosi; yang membelai mahkota seorang wanita, rambutnya, dengan penuh lemah lembut; yang bisa dipercaya; yang bisa diandalkan; yang mengerti pribadi seorang wanita dan tahu apa yang dia mau; yang menghormati seorang wanita dari luar dan dalam; yang menerima kelemahannya seorang wanita; yang berkomitmen. Seorang pria yang mencintai seorang wanita dengan utuh, siapa yang tidak mau? Walau saat itu dia belum ada pada tahap demikian, it’s okay for me. He still under construction. We can develop together. Yang penting dia sayang sama aku. Dan aku seringkali ragu terhadapnya, bahwa dia bisa sayang sama aku, pada akhirnya, he literally SINCERELY LOVE ME. And he proved his heart. Pelan2 aku pun belajar untuk mencintai dia dengan utuh. Mencintai suatu hal baru dari seorang pria: his simplicty.

Saat itu, aku kesulitan untuk move on dari mantanku. Dan begitu pula dengan mantanku. Dan kami hampir balikan. Tapi kami tidak tahu apakah keputusan kami untuk balikan adalah yang terbaik. Saat itu, dia sudah menyatakan bahwa dia menyayangiku. Dan dia katakan padaku, kalau aku harus memilih untuk balikan dengan mantanku, dia akan merelakannya, karena kebahagiaanku adalah kebahagiaannya.

When I was down, I felt like I did not want to talk with anybody. But he noticed something was very wrong with me, and he asked me. He built my confidence, my trust in him. A few times I lied to him, because I was so afraid to be honest to him, share my burdens to him. I was so afraid to trust him. He said “I won’t judge you, and you can talk about anything with me, you don’t need to worry”. I knew that by lying was wrong. But I just couldn’t truly believe him. He earned my trust. Hingga suatu hari, siang hari, the first lunch with him, ketika pembicaraan kami mulai semakin serius, kemudian aku memberanikan diri untuk sharing hal2 pribadiku. Aku menangis di depannya, dan dengan lembutnya dia berkata “sekarang aku mengerti semuanya. Don’t worry, everything is gonna be okay”, sambil membelai tanganku. Dan kemudian dia lanjutkan dengan candaan2 konyolnya, yang membuatku tertawa kembali dan lupa akan kesedihanku.

Ada saatnya kita tidak bisa bertemu karena waktu yang sangat tidak memungkinkan. Dia kangen. Dan sikap kekanak2annya yang kangen terhadap aku, merengek minta photoku. “I want to see you today”. Tidak peduli dalam kondisi apa pun aku saat itu, walau aku sedang sakit pun, he just want to see me. Tidak peduli aku tanpa make up, and such a mess, he just want to see me. And everytime I sent him my photo, his mood was boosted up. And he said “you always make my day”.

Sewaktu dia begitu inginnya menyampaikan “aku sayang kamu” terhadap aku tapi tidak satupun kata2 yang bisa mewakili perasaannya, dia selalu quote lirik2 lagu, lalu dia post di tempat umum. Pada dasarnya dia bukan orang yang seperti itu, bukan orang yang bisa menyampaikan hal2 romantis. But he found a way to reach my heart. I’m in love with anything about romantic poems, and that is include song lyrics. He made an effort to climb the mountain of my heart-hardness.

Kami berbincang, dan ketika aku bercerita, aku selalu terlalu excited untuk menceritakan sesuatu. Sambil tersenyum, dia selalu terpaku dan berkata, “the way you tell your story makes me fall in love, and I just want sit still to look into your eyes”. And the way he looked at me, from his eyes could tell me how much he loved me.

Saat itu, aku dirawat di rumah sakit. Operasi tulang ekor yang patah. Ketika aku masih sadar, tidak di bawah kuasa obat bius, orang terakhir yang aku lihat adalah dirinya. Dan ketika aku bangun, tersadar dari kuasa obat tidur, sambil masih belum bisa memfungsikan seluruh tubuhku karena lemas, dia ada di sebelahku. Dan menemaniku hingga malam hari. Membelikan aku makanan favoritku, 2 porsi! (lalu sekeluarnya aku dari RS, I gained 2 kgs!)

Me and him, were a perfect match when it comes to the music collaboration. He plays guitar, I sing. I often got too nervous when I do solos. He always right there, bellow the stage, gave me support, “you can do it”. And he said, he always love to hear me sing.

I am so picky to choose what I want to eat. But he always remember the foods I love, since they are very specific.

He always wanted to know how was my day, how was my weekend, what did I do. He always wanted to know what happens in my life. He wanted to be involved for the activities I do when he cannot be involved.

He always wanted to listen to my stories, and he never get bored.

He always read my writings, and he loved them.

He always waited for me when I got something to do.

He always followed me wherever I go when we both were in church.

He always cheered me up whenever I got sad.

He always accompanying me when I needed to go somewhere first before I went back with him.

He always wanted to sit beside me.

He always shared his foods with me, even if I insisted.

He always wanted my presence , and he needed my presence.

He always discussed things with me and I feel involved, wanted.

He always made efforts to speak love.

He always said that he never love a girl like he loved me.

He always wanted to be with me all the time.

I knew that I am loved. I can see that he loved me.

We smile together, we cry together, we prayed together, we dream the same, we hope equally.

Belaiannya, sentuhannya, sederhana dan lembut. Dia membangun duniaku.

2 tahun lalu, segalanya di mulai dengan sangat indah. I don’t understand why people should break up. And now he changed. He is no longer someone that I first knew, I first met 10 years ago. He is no longer someone that I first fell in love, 2 years ago. He just ….. different now..

But I love him. And that doesn’t change.

Meski hari berlalu, meski musim kan berganti, satu yang tak berubah, seutuhnya cinta di hati. Meski bulan memudar, bintang tak lagi berpijar, yang kan tetap bersinar, seutuhnya cinta bagimu. Tak usah kau ragukan cintaku, seutuhnya cintaku – “Seutuhnya Cinta” by Ira Batti ft Andi Rianto

Dan entah mengapa, aku masih percaya, there is always a good thing within him. Iya, aku marah. Iya, aku kecewa. Tapi juga, iya, aku sayang padanya. Aku tidak melihat ada yang salah pada dirinya, kemudian I blame myself. Dan semua kekesalanku, kekecewaanku, kemarahanku yang aku luapkan padanya, malah semakin push him away. Di saat aku ingin dia mendekat, tapi aku malah menjauhkannya!

I am sorry.. If i ever hurt you.

I just don’t know what is so wrong with us, why people should meet and fall in love if in the end they can never be together, why love should come at the first place if in the end love is just ….. gone.

Hangat surya kan lupa tuk bersinar, redup tak berkilau. Denting nada kan berhenti bernyanyi, sepi tak mengalun. Hidup tiada lagi berwarna, putih pun akan menghitam. Bintang yang semula benderang perlahan menghilang. Tak terbayang sepi dan sendiri dunia tanpamu. Hilang semua, diam tak bermakna dunia tanpamu – “Dunia Tanpamu by Annisa Pontjo ft Andi Rianto

Nyanyianku hilang tanpa senyumnya yang menghiasi pagi dan malamku.

I was so sure, and I wanted him. And he was also so sure, and he wanted me. I thought, he will be my last. But, I don’t know. I am still sure until now. I don’t understand what God wants to achieve here. I’m in a midst of confusion. Tapi juga Tuhan berkata: trust Me. Hal tersulit ketika your heart is shattered, semuanya terlihat buram.

Aku pun tidak tahu lagi, apakah dia masih peduli terhadap aku? Seolah semua kepeduliannya yang dulu terlampau indah, sudah hilang ditelan waktu. Dan semuanya kini terkesan hanya mimpi. Mimpikah aku selama 2 tahun kemarin? Does he even exist?

His love was always on fire, even our journey must gone through hardships. I trusted his love. I believed in him. And I still do, although he has changed.

They say that only time heals the broken heart.

I am a broken fallen “Angelina”. How to mend the broken wing?

Apart from everything …..

i miss us.

Dia mengetuk satu kali. I closed my door. Dia mengetuk dua kali. I went away. Dia mengetuk tiga kali. Dengan cintanya, dia mencairkan kekerasan hatiku. Kuberi kesempatan untuk cinta datang dan mendiami sanubariku.

Jika aku sendiri, melangkahkan kakiku di tengah2 keramaian, ditemani dengan alunan lagu yang dari sudut kedua telingaku, aku tersenyum. Tersenyum mengingat sosok tubuhnya, keberadaannya, ketika masa2 lalu aku dan dia sedang bersama. Tersenyum mengingat kata2nya, perlakuan2nya, ketika masa2 lalu aku dan dia habiskan bersama setiap waktu. Tersenyum mengingat betapa bahagianya dan cocoknya kami berdua terhadap satu sama lain.

Semuanya indah..

Dan aku pernah bahagia satu kali.

Advertisements

Author: Irene A.K.A Irin

I am just an ordinary girl who lives in the extraordinary world.. I'm not used with the talking thingy, so I'd prefer to write all my thoughts and my feelings.. I dream a lot, I imagine a lot.. I love to sing, I love to dance, and I love to smile.. It's not a perfect world, but imagination has brought me to enjoy the perfect world.. Know me well from my writings, not my talking.. I speak through fingers, not mouth.. And the most important thing is, the truth that I am my Big Daddy's daughter.. "I am broken and lost, but by God's grace, I have found"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s