Storiette — 1

Katanya, kalau malam tiba, waktunya setiap manusia berwaspada. Menjaga hati dan pikiran dengan segala kewaspadaan, supaya kamu selamat ketika hadir kembali menjajakan kaki di duniamu dan menyambut terang di keesokan hari.

Babak belur. Mungkin itu satu kalimat pendek yang bisa mewakili hatinya yang terluka. Dari balik punggungnya, aku melihat dia terduduk di sudut ranjangnya, menatap lurus ke arah jendela kamarnya yang menggambarkan pemandangan kota dengan lampu kerlap kerlip di setiap permukaan gedung yang ada di hadapannya. Aku kira dia hanya sedang menikmati pemandangan kota yang sibuk itu. Tapi dari balik punggungnya, raut wajahnya bukanlah raut wajah yang aku kenal selalu menyambutku dengan senyumnya yang lebar. Berkerut. Sambil memeluk kedua kakinya, aku melihat dua garis yang bermuara di kedua matanya menapak di kedua sisi pipinya. Dia menangis tersedu2 dengan kepedihan yang sangat dalam tergambar dari tatapannya. Satu demi satu butir, jatuh ke tubuhnya yang bergetar. Tidak peduli sudah berapa banyak air mata yang jatuh, dia tahu air matanya tidak pernah kering. Dan dari suaranya pun aku sudah bisa mendengar, ada luka yang sama sekali tidak bisa di jangkau oleh siapa pun.

“Tolong aku”, ucapnya sambil bergetar.

Aku ingin memeluknya, tapi dia mengelak. Tapi aku tahu, bahwa dia membutuhkan sebuah pelukan hangat yang erat, yang bisa mengirimkan pesan kepadanya: “hey, everything is going to be allright”, dan meyakinkan dia bahwa dia tidak pernah sendiri. Dan aku begitu ingin membiarkannya menangis sepuasnya dipelukanku. Tapi justru sebuah pelukan yang seperti itu akan membuat dia mengeluarkan segala emosinya sehingga dia terlihat lemah. Dia akan menangis seolah dunianya runtuh, seolah hidupnya berakhir. Dan dia tidak mau terlihat lemah. Orang lain kira, dia kuat. Selalu menghindari di sentuh atau di peluk oleh orang2 sekitarnya. Padahal sebenarnya itulah yang paling dia butuhkan. Tapi dia takut. Mungkin takut, jika dia mengeluarkan segala emosinya melalui tangisannya yang tidak dapat mengucapkan sepatah kata tersebut di depan orang lain, nanti orang tersebut malah mengkhianatinya seperti cintanya dikhianati. Mungkin suatu saat nanti, entah kapan, akan datang masanya untuk dia bisa kembali membangun seluruh kepercayaannya.

Tak kuasa aku melihat dirinya setiap malam seperti demikian.

Aku hanya bisa memandangnya, memandang kedua matanya, dan berusaha untuk masuk ke lubuk hatinya. Mencoba mengerti lubuk hatinya, mencoba melihat seberapa hancur dirinya tertekuk di sudut dinding lubuk hatinya. Babak belur. Di dalam ruang hatinya sana, aku melihat dia seorang diri dalam kegelapan, meringkuk dan mengerang. Aku berjalan mendekatinya, dan aku melihat sekujur tubuhnya penuh goresan luka. Bahkan jika aku bisa gambarkan, dia tenggelam dalam darah tubuhnya sendiri. Hancur hatiku melihatnya. Maka aku mengerti mengapa dia tidak memilih untuk dipeluk. Ketika kedua lengan dan tubuhku menyentuh tubuhnya, dan kehangatan tubuhku menyelimuti dinginnya hatinya, dia akan kesakitan. Bayangkan saja seluruh tubuh seseorang yang mengalami luka bakar dipeluk orang, dan kulitnya bersentuhan dengan kulit orang lain. Ufh, that must be very painful. Dan itu yang aku lihat pada dirinya. Seterluka itu dirinya. Gosh!

Pada sudut lain ruang hatinya, aku melihat ada sosok Cinta yang mengenakan pakaian putih tergantung. Di sekitarnya aku melihat tiga sosok Benci, Marah, dan Kecewa sedang memukulinya. Si Cinta yang sakit mengerang dipukuli, dan si Benci, Marah, dan Kecewa yang berteriak menghina dan meremehkan Cinta. Setiap hari dia diam, tinggal, melihat, dan mendengar pemandangan tersebut pada ruang yang sama. Aku mengerti sebagaimana lelahnya dia.

Aku mengerti ketika dari balik tubuhnya aku melihat dia berdiri di sudut jendela dengan pandangan kosong ke bawah, ke tanah, siap terbang, padahal dia tahu bahwa dia tidak punya sayap untuk terbang kembali ke atas. Aku mengerti panasnya hawa kepahitan yang selama ini menguasai atmosphere ruang hatinya. Aku mengerti pedih dan setiap sudut lukanya.

Karena aku melihatnya sendiri.

Hilang harapannya akan senyumnya yang dulu tulus, jujur, dan polos. Ketika dia keluar dan berhadapan dengan dunia, tidak pernah dia lepaskan topengnya dari wajahnya. Hilang harapannya untuk berbahagia.

Dan ketika seseorang sudah kehilangan harapan, jiwanya runtuh, hancur. Harapannya yang hilang membunuh mimpi2nya. Harapannya yang hilang membunuh keyakinannya. Satu kata: HOPE.

Hanya cinta yang bisa menaklukan dendam. Hanya kasih sayang yang tulus yang dapat menyentuh hatinya kembali. Hanya cinta yang bisa mendamaikan benci. Hanya kasih sayang yang tulus yang dapat menembus ruang dan waktu.

Dan setiap tengah malam aku selalu mendengarnya berbicara sendiri. Walau terdengar nyeri, terdengar ada beban yang tidak dapat terukur dari setiap kalimat yang dia keluarkan dari sudut bibirnya, tapi kata2nya tidak pernah aku lupakan. Dengan hati yang terluka dan hancur, namun dengan berani pula dia mengucapkannya, karena dia tahu isi hatinya.

She can’t deny.

“Aku mencintaimu”, ucapnya sambil mengacungkan tangan kanannya ke udara seolah sedang mengelus wajah seseorang.

Advertisements

Author: Irene A.K.A Irin

I am just an ordinary girl who lives in the extraordinary world.. I'm not used with the talking thingy, so I'd prefer to write all my thoughts and my feelings.. I dream a lot, I imagine a lot.. I love to sing, I love to dance, and I love to smile.. It's not a perfect world, but imagination has brought me to enjoy the perfect world.. Know me well from my writings, not my talking.. I speak through fingers, not mouth.. And the most important thing is, the truth that I am my Big Daddy's daughter.. "I am broken and lost, but by God's grace, I have found"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s