General

Sebuah harapan

Natal…

Seharusnya ada damai, seharusnya ada sukacita, dan seharusnya ada kehangatan dalam hati.. Namun, malam ini aku merasa sepi, dingin, dan kosong.. Kenapa ya, Tuhan?

Baru saja aku kembali dari ibadah malam Natal di gerejaku di kota asalku, dan pesan yang disampaikan disana adalah bagaimana makna Natal seharusnya direnungkan, bagaimana Natal seharusnya disambut, bagaimana Natal seharusnya dirayakan..

Bagaimana hati kita seharusnya terfokus dalam menyambut Natal..

Tapi hatiku teralihkan pada sesuatu yang lain, sesuatu yang belum sepenuhnya usai, sesuatu yang masih melekat walau tak lagi seerat dahulu..

Sesuatu yang sudah tidak berharga lagi..

Bahkan, sesuatu yang Tuhan sudah ambil dengan tanganNya sendiri dari hidupku, dari hatiku..

Teringat dua tahun yang lalu semuanya tidak seperti ini.. Selalu ada sesuatu yang membuatku selalu menanti-nanti suatu masa khusus dimana hati ini bisa merasakan degupan jantung yang begitu bahagia.. Sesuatu yang membuatku menjadi semangat ketika pagi hari aku terbangun, karena ada impianku menanti diseberang genggamanku.. Dan ketika aku melihat sekitarku dari tempat duduk di gerejaku, sekilas aku teringat akan sosok kami berdua yang saling berdekatan, berbincang, dan hangat ditengah-tengah serbuan masalah yang berdiri dibelakang bayangan kami..

Dan air mata membendung di dalam hati ini.. Tercurahkan ketika aku seorang diri, ketika tak seorangpun dapat memandangku, ketika aku bersembunyi dari balik kegelapan, memandang kilauan cahaya kecil dari genggaman jemariku saat disenandungkannya lagu tema nata, the silent night..

Ah, aku lesu begini..

Tapi aku tahu bahwa cahaya kecil itu adalah sebuah harapan.. Aku telah melewati masa-masa kegelapan tersebut, masa dimana aku tidak dapat berbuat hal lain selain menghukum diriku sendiri dengan segala hal yang tidak pantas dilakukan.. Masa dimana aku terlalu putus asa untuk menjalani apa pun yang harus aku jalani.. Di tengah-tengah kemarahanku, kekecewaanku, kepedihanku, kepahitanku, ternyata hatiku masih menyimpan sebuah harapan yang aku kira aku sudah buang ketika aku berjalan ditengah kegelapan hidupku..

Bahwa Tuhan selalu berbicara dengan lembut langsung ke lubuk hatiku..

Tuhan tidak pernah tertidur.. Dia masih dan selalu hadir..

Kemudian aku berdoa dalam masa hening yang diberikan.. Berdoa meminta sebuah kebahagiaan akan cinta kasih ketika aku melihat sepasang pria dan wanita saling berpelukan saat pendeta gerejaku berdoa untuk kami semua secara umum.. Kerinduanku, harapanku, dan impianku, dicintai dengan layak.. Bukan lagi mencintai karena memohon penghormatan.. Biar aku dicintai lebih dari aku mencintai dengan orang-orang yang lebih layak lagi untuk aku cintai..

Dan segalanya telah berubah dalam waktu yang begitu singkat..

Tuhan, maaf jika Natal kali ini aku masih menangis sedih, masih merasa kesepian, padahal Engkau lahir dan hadir merasakan segala hal yang manusia rasakan.. Tapi terima kasih juga, Tuhan, karena Tuhan selalu mendengar, selalu melihat, dan selalu mengerti segala hal yang aku rasakan, segala tangis yang aku tumpahkan ke dalam cawanMu..

Mungkin kini aku belum pulih seutuhnya.. Momen terbahagia bagi umat Kristiani, aku sambut dengan datar, bahkan pada suatu masa tertentu, terasa begitu sendunya.. Tapi suatu hari nanti, kebahagiaanku akan menjadi sempurna ketika Tuhan memulihkan hatiku secara utuh..

Itulah harapan yang aku terima dalam Natal tahun ini, untuk menanti kesempatan berikutnya..

 

“A thrill of hope, the weary world rejoices.. For yonder breaks, a new and glorious morn” – O Holy Night

 

~ Merry Christmas everybody. May the joy of His born filled your hearts and always be with you whenever you go

General

Learn to let go

Siang itu, aku meneteskan air mata.. Sekeping, dua keping….. Ahh.. Mengapa tetesanku aku sebut “kepingan”? Karena harga air mata yang keluar dari dalam lubuk hati terpendam tiada bandingannya..

Tiada bandingannya karena ia keluar berdasarkan ketulusan dari dalam hati..

Namun aku tersenyum, dan tertawa, dan menjadi diriku yang semua orang pertama kenal..

Yang ceria..

Kini topeng tersebut ada dalam genggamanku kembali.. Sandiwara kehidupan sudah berakhir, hanya sandiwara hatilah yang tertinggal di sudut ruang waktu..

Kemudian aku menoleh kebelakang, seperti yang aku lakukan beberapa bulan lalu ketika aku menggenggam piagam hasil peperangan dengan darah dan cucuk duri di hatiku.. Waktu telah berlalu.. Dan waktu berjalan maju, satu arah, satu garis.. Bagaikan garis cakrawala membelah bumi, seperti langit dan bumi terpisahkan, namun ia tetap ada di sana, dengan setia dan teguh bertahan..

Ia adalah cinta..

Terisak aku berlutut, aku gemetar.. Aku menangis sedih, namun duka yang kurasakan bukanlah duka kepedihan..

Dan aku berteriak pada Sang Kuasa, yang menyaksikan dan merasakan, juga terlibat dalam segala emosi, perasaan, dan pikiranku: “aku merindukannya”.. Dia mengabulkan doa terpendamku, yang entah sudah berapa juta kali aku sangkal..

Namun.. Terkejutlah aku dibuat oleh saat sejenak tersebut.. Tidak lagi aku membayang-bayangkan maupun mengingat masa singkat tersebut.. Tidak lagi aku dibuatnya lepas kendali dan mengikuti emosiku yang bodoh.. Tidak lagi aku dibuatnya gelisah oleh segala kemungkinan yang ada..

Mengapa?

Ah.. Aku tahu..

Because I have learned to let go..

Dan dengan senyum aku menggambarkan emosiku di secarik kertas putih kosong..

>>>>>>> 🙂