General

The extrovert and the introvert part of me

I remember when I’m being extrovert a few years back. It was the time when what i need is to gather with my friends instead of being alone. And yes, i do have a lot of friends. And every week, most of the days i spent to meet with them. Either going out to watch a movie together or just hanging out in a cozy cafe. I do remember how it feels. When what i do is smile and laugh. And what my heart is full of excitement every day. But since that severe broke up and broken heart i experienced with the person i truly love, i truly trust, i’ve changed. To be more introvert. And then, what i need is a “stand-alone” moments most of the hours for a day. I prefer to sit and listen to the calm and mellow music, drawn into my own world, and just … Imagining things. Dream. (and of course do my own thing by my own). And i do most withdrawal when it comes to interact with people, with strangers. Suddenly i became so fragile and so protective to my own heart, as i am afraid to get hurt again. It’s like: “better to be alone so no one could hurt you, or bother you”. But isn’t it painful of being alone? Indeed it is. But it is a lot more painful if someone you care so much hurt you. It’s like that you actually hurting yourself. Most of the times i feel lonely, i realize not because that i am lonely. Maybe a part of me from the past keep chasing me: “why are you being so different?”. Or maybe another part of me is just too desperate to get on board again, to the boat where it sails towards the rising sun.

General

Aku rindu…

“Daddy.. Mengapa handphone ku begitu sepi? Bergema dalam kesunyian, dan dia hanya terbaring diam, sudah berjuta-juta masa dilaluinya”.

Bagaikan seorang anak kecil yang masih polos menanyakan sesuatu yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya kepada ayahnya, begitupula hatiku seolah hilang ingatan tak mengerti mengapa dia begitu kehilangan sesuatu di dalam hatinya. Hari demi hari masih mencari dengan berlari tak kenal lelah, namun telah jenuh, sesuatu yang dapat mengisi rasa kehilangan yang teramat dalam tak terselami. Hanya Tuhan yang tahu sejauh mana aku mencoba berlari, namun tak pernah sampai tujuan. Bahkan tempat mana yang hendak aku tuju, aku tidak pernah tahu. Hanya berlari, dan berlari, itu saja yang selalu aku lakukan.

Aku harus berhenti berlari. Aku harus berhenti mencari. Iya. Aku sadar kok. Aku sadar bahwa berlari tidak menyelesaikan masalah. Aku sadar dengan menarik diriku dari dunia pun tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Tapi maksud melindungi hati, ternyata terlalu mengekangnya hingga ia ciut ketakutan.

Kemana hai kamu yang berani, berani menantang dunia?

Sekian lama aku tidak menulis di blog ini, padahal aku sangat mencintai menulis. Semua terpendam di benak ini. Bahkan ketika kata demi kata keluar di imajinasiku, aku pendam mereka. Aku kubur mereka. Menutup diri dari sesuatu yang aku cintai. Hingga kata-kata terakhir menjelang tahun baru 2014 dengan segala marah dan kepedihan yang tercurah di dalamnya mengenai pengalaman terpahit aku, sudah aku hapus juga. Tidak seharusnya aku berhenti menulis, namun sudah seharusnya aku berhenti berlari. Disibukkan dengan berbagai macam aktifitas yang mengangkat canda dan tawaku kembali, namun ketika aku terhenti dan duduk di tengah-tengah ruang segi-empat seorang diri, tangis kepedihan dan emosi amarah membanjiriku kembali. Dan aku hanya punya Tuhan. Namun disana kami bertemu :’)

Tapi tidak aku sangkal juga betapa aku rindu, aku rindu, Tuhan. Rindu untuk merasakan kegembiraan yang dulu selalu aku nanti dan membuat hari-hariku begitu berwarna. Rindu benda yang kunamai Leslie ini berdering dengan agresif tak sabar menanti aku menyentuhnya, dan bertemu dengan senyum kebahagiaanku di seberang sana. Rindu memiliki wadah tempat aku dapat menaruh seluruh kepercayaanku lagi. Rindu memiliki sosok. People come and go, banyak yang datang, namun tak satu pun aku lanjuti. Satu per satu datang selama sekitar 8 bulan terakhir. Tapi aku sadar, bahwa aku sendiri belum siap. Aku rindu, namun aku belum siap. Tuhan tahu isi hatiku ini, maka Dia memang belum memuaskan kerinduanku ini.