HE wants to teach me a lesson

Beberapa bulan lalu, aku memutuskan untuk kembali ke tanah air, tempat segalanya bermula. Aku bertekad mencari keberuntungan hati yang lebih baik. Banyak harapan ditanamkan ketika keputusan itu keluar dari dalam hatiku. Banyak hal aku nantikan ketika hari dimana aku hendak memulai lembaran baru di sini kian mendekat. Dan seolah aku berkata: “Oh, I can’t wait to see what is going to happen in the next few days, weeks, or months”. Berharap sesuatu akan terjadi dalam waktu sesingkat itu, namun ternyata aku tenggelam dalam karya imajinasi hati yang pernah terluka, namun belum terpulihkan.

Bermimpilah ketika kamu waras, jangan ketika niatmu hanya keluar dan lari dari masalah. Jangan bermimpi ketika hatimu terluka, akan ada banyak harapan yang kemudian di kecewakan kembali karena semua itu adalah semu.

Aku menerima begitu banyak berkat dari Tuhan di awal perjalanan lembaran baruku ini. Sebelum aku di wisuda, aku sudah mendapat panggilan kerja di tempat yang aku impikan, tanpa susah dan jerih payah. Kemudian aku diterima, dan segalanya berjalan dengan lancar. Segalanya terlihat begitu menyenangkan, hingga aku dengan percaya diri dapat berkata: “Aku bahagia di sini”. Dan saat itu, aku percaya bahwa aku bisa bahagia. Aku diberkati dengan lingkungan kerja dan tugas harian di kantor yang begitu menyenangkan, dimana setiap aku bangun pagi, aku selalu bisa berkata: “I love to go to work”. Aku mendapatkan tempat tinggal yang terbaik, dan kisah pencarian tempat tinggalku itu pun penuh dengan kejutan dari Tuhan. Accidentally passing by the place, the best place in terms of location and its environment. Aku diberkati dengan kotbah mingguan yang selalu tepat mengena sesuai kebutuhanku. Aku diberkati dengan segala fasilitas yang ada di kota yang banyak orang bilang: kota dimana perjuangan tidak pernah berakhir.

Dari kebahagiaan duniawi yang semu, aku kemudian membangun satu demi satu harapan. Dan segalanya diruntuhkan olehNya.

Aku pikir Tuhan menempatkanku di situasi dan tempat seperti yang aku jelaskan di atas dengan tujuan memang di sini lah letak kebahagiaanku, di sini lah akhirnya apa yang aku dambakan dan impikan, Tuhan berikan. Ternyata … tidak. Nampaknya bukan itu yang Tuhan maksudkan, meletakkan aku dalam segala kondisi yang aku pikir sudah sempurna.

Kehidupan itu memang tidak pernah sempurna.

Semuanya perlahan-lahan berputar arah menjadi suatu kondisi dimana canda dan tawa berubah menjadi hari-hari penuh kebisuan dan tangis. Tekadku, membuat semua orang mengerti diriku. Membuat semua orang tahu siapa aku. Dan membuat semua orang menerima aku apa adanya. Tapi kenyataan berkata lain. Mereka berbalik menyerang aku. Atau setidaknya, keaadaan tidak sesuai dengan yang aku kira pada mulanya..

Dan aku terus bergumul, dan bertanya pada Tuhan. The “why” of everything that happen.

Lalu Tuhan menjawab: “you are here not to get what you are dreamed about, but you are here because I want to teach you a lesson, I want to form you to be who I want you to be”.

A precious lesson yang aku belum tentu bisa dapatkan dimana pun dan kapan pun kalau bukan waktunya memang Tuhan yang berikan. Bahwa harapan-harapan yang aku bangun ini, harapan-harapan yang aku miliki selama ini, tidak bisa dibangun dengan landasan yang lemah, yaitu manusia. Tapi aku harus mengubah fokusku pada Tuhan, yang BERJANJI untuk menyediakan hal yang indah di balik semua situasi pahit yang ada.

Sebuah pelajaran dimana kehidupan yang berbahagia ada ketika pandangan kita sepenuhnya berpaku pada Tuhan terlepas dari siapa pun dan apa pun yang ada di dalam hidup kita. Dan pelajaran tersebut bukan bertujuan untuk menghukumku, namun untuk membentuk aku menjadi seorang pribadi yang Dia inginkan aku menjadi. Seorang pribadi yang sudah Dia rencanakan dari semula.

My big brother always say whenever I am down: “do not look God as a Figure that gives you punishment, because He does not punish you, and He will never punish you”.

“Rest in Him, and you will find peace. For He has the future, as He has the past”.

Dan ketika aku berada di jalanan berbatu, tersandung dan terjatuh, aku mengingatkan diriku: “you better live with no one than you live without Him. Focus your mind and your soul to Him alone”.

Dan kemudian aku berjalan dengan tegak kembali sambil tersenyum.

Detik itu, adalah detik dimana aku berdamai dengan kesendirianku.

Advertisements

Author: Irene A.K.A Irin

I am just an ordinary girl who lives in the extraordinary world.. I'm not used with the talking thingy, so I'd prefer to write all my thoughts and my feelings.. I dream a lot, I imagine a lot.. I love to sing, I love to dance, and I love to smile.. It's not a perfect world, but imagination has brought me to enjoy the perfect world.. Know me well from my writings, not my talking.. I speak through fingers, not mouth.. And the most important thing is, the truth that I am my Big Daddy's daughter.. "I am broken and lost, but by God's grace, I have found"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s