The day

Today is my birthday..

And I just reached back to Jakarta, drove for about 5 hours (what a heavy jam), and now am waiting for the dinner my greatest friend – my greatest big brother will take me to.

And I would like to recalled what I was feeling few days before today, and earlier today.

Beberapa hari, atau bisa dikatakan tepat seminggu sebelum hari ini, sudah banyak pertimbangan dan pemikiran yang muncul. Bagaimana aku sebenarnya tidak ingin menyambut hari ini, bagaimana aku sebenarnya tidak mengharapkan hari ini datang dalam masa-masa seperti ini, bagaimana semua kenangan akan masa satu tahun yang lalu, dan bahkan terutama dua tahun yang lalu pelan-pelan muncul kembali.

Bagaimana aku memiliki seseorang special untuk membuka dan menutup hari ulang tahun aku, namun tahun ini tidak lagi.

Dan bahkan sempat terlintas dalam pikiranku: “akankah dia datang untuk mengucapkan “selamat ulang tahun” kepadaku?”.

Kemudian aku melindungi dan menutup hatiku kembali. Takut disakiti, aku melindunginya dengan tembok untuk tidak berharap apa-apa, bahkan berusaha keras untuk tidak memikirkan apa yang akan dia lakukan di hari ulang tahunku. Dan bahkan … berkata diriku sendiri “he won’t do that”.

Jadi.. Aku melewati hariku dengan sedatar mungkin. Aku tidak merayakannya. Bahkan aku ambil cuti replacement di kantor dengan alasan sebenarnya bahwa aku tidak ingin diucapkan “happy birthday” oleh siapa pun. Aku tidak mau berhadapan dengan siapa pun, menjabat tanganku dengan mereka yang mengucapkannya kepadaku. Karena aku tidak mau berhadapan dengan diriku sendiri yang masih memiliki rasa harapan untuk mendapatkan ucapan yang special darinya, namun sudah tidak mungkin lagi seperti dua ulang tahun yang lalu.

Jadi lebih baik aku menghindarinya.

What a foolish heart, masih berharap sesuatu yang sudah tidak dapat diharapkan. Mengharapkan sesuatu yang sudah tidak layak untuk diharapkan kembali. Bahkan seharusnya sudah tidak lagi aku mengharapkan apa-apa mengenai dirinya.

Dia hanya masa lalu, karena aku … merupakan masa lalu darinya.

Aku pikir dengan berakhirnya hubungan aku dengan dia karena Tuhan punya rencana untuk aku ketika aku menjelang umur 27 tahun. But nothing happened, and I still have no idea what God wants in me, what God has planned for me. And I haven’t seen anything will happen.

Tapi aku tetap menunggu, dan menanti, berharap bahwa Tuhan tidak lupa akan sendunya hati ini dalam kesendirian yang mendominasi hari-hariku.

“Tahun ini, aku tidak ingin merayakannya, karena aku masih berduka”, begitu kataku sepanjang hari.

Yes. Loneliness is painful.

—————————————————————————————————————————————————————————————–

11.58 PM

He greeted me through email.

Advertisements

Author: Irene A.K.A Irin

I am just an ordinary girl who lives in the extraordinary world.. I'm not used with the talking thingy, so I'd prefer to write all my thoughts and my feelings.. I dream a lot, I imagine a lot.. I love to sing, I love to dance, and I love to smile.. It's not a perfect world, but imagination has brought me to enjoy the perfect world.. Know me well from my writings, not my talking.. I speak through fingers, not mouth.. And the most important thing is, the truth that I am my Big Daddy's daughter.. "I am broken and lost, but by God's grace, I have found"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s