Being mature is when you realize that you just need yourself

There are so many things to learn when you are grieving. You learn something that you have never learned before, and knowing when to withdraw and take some time alone to clear your head. And the most important moment is when you learn how to appreciate silence. Some people might say that when you grieve, go around to be with people. So at any point, you may gain your strength back and then got cheered up.

But as for me, I would prefer to lock myself up in an empty room, filled with my favorite things, and then let myself just focus on doing the things I love to do when I am alone. From there, I could gain my strength back, my energy back, and be ready for the world on the next day.

But if only I had someone, I would pick up my phone, press the number, and talk and share what’s on my mind.

And perhaps, I might cry to him. I believe our moments will be filled with silence, and my sobbing as the background of our conversation.

That is what I had missed for the past year. That is what I was looking for.

But as for now, being alone is the only option I have, and the only thing I could rely on. Especially when it involves the most sensitive issue in my live.

Some people get too pushy. They insist for me to come to them to wherever they are and whatever they are having a gathering to attend. I thought that it was always the best thing to do when you are grieving. But as I grew up, I started to learn that the more mature you are, the more you actually need some more time alone than being with your friends.

People grow, and growing people, change.

It does not mean that you don’t need your friends. It’s just mean that you need more time alone LONGER than you need time to be with your friends, to be cheered up.

Need more time to think, and analyze the things that will affect your actions afterwards.

I learn, that is how mature people handle their problems by their own.

When I was driving towards some place, I was thinking: “how could I become this silence, this close, and feel too lazy to set up meetings with my friends, whereas when I had problems couple years ago I would rather to go and see my friends than being alone”.

“That is the meaning of being a grown up”, my big brother once answered the same exact question.

You don’t need anybody else to solve the problem, you don’t need your friends to get cheered up, you don’t need other people to accompany you during that darkest moment or to make you feel better with everything they might say, you don’t need to hear solutions to be followed. you don’t need people you trust to make you decide the important thing in your life, you don’t need anything to gain back your energy after the chaos you just experienced.

You just need … you.

Blood is thicker than water, but for him, water wins

Mungkin aku jarang mendengar bagaimana seorang orang tua membuang anaknya ketika dia sudah dewasa. Mengusirnya dan tidak lagi dianggap anak oleh si orang tua. Dalam hati aku, aku berpikir “orang tua gila macam apa itu”, yang tega dan tanpa berperasaan tidak lagi peduli akan nasib anaknya. Karena aku beranggapan bahwa sebagaimana mengecewakannya si anak, tapi orang tua yang seharusnya mengasihi tanpa syarat tersebut, tidak akan pernah membuang anaknya segampang dia membuang barang kesayangannya yang telah usang dan tak layak pakai lagi. Tapi memang, banyak kasus disebabkan oleh karena kesalahan fatal yang si anak buat sehingga si orang tua tidak lagi dapat memberikan toleransi. Well, aku rasa, bukan masalah di anak atau di orang tua. Hanya saja keduanya tidak cukup dewasa untuk saling menyikapi kesalahan dari masing-masing pihak. Dan bahkan mungkin, si orang tua itu sendiri sebenarnya tidak pernah siap untuk menjadi orang tua, terutama ketika si anak beranjak mendekati level orang tuanya, yaitu menjadi semakin tua dengan berbagai macam tuntutan hidup yang harus ditanggung.

Tapi cerita berbeda yang ingin aku catat di lembaran kali ini. Cerita yang seharusnya aku tutupi, namun aku tidak malu untuk membukanya. Dan bagaimana kejadian ini menjadi pembelajaran bagiku, bagaimana bijaknya aku seharusnya jika kelak aku menjadi orang tua.

Terpisahkan belasan tahun oleh ayahku sendiri, karena kesalahan fatal yang dia buat, tidak menghalangiku untuk melakukan rekonsiliasi kembali dengan dirinya. Melalui kekecewaan demi kekecewaan yang aku alami untuk berdampingan dengan sosoknya, tidak pernah aku menyerah untuk melihat dirinya sebagai figur ayah yang membimbing, memimpin, dan melindungi. Walau kenyataannya tidak seperti itu, tapi aku selalu melihat dirinya se-kokoh itu. Karena akhirnya, aku dipertemukan kembali dengan figur ayah yang telah lama hilang meninggalkan aku belasan tahun yang lalu. Cercaan dan hinaan yang aku lalui pada masa pertumbuhanku pun aku ambil sebagai bibit pengembangan mentalitasku untuk menjadi lebih kuat dan tegar. Walau semua membekas dan membentuk aku menjadi pribadi yang tidak pernah merasa aman, tapi berulang kali aku terjatuh dan terbangun kembali untuk mengampuninya, memakluminya, menerimanya, dan tidak pernah menyerah untuk melihat sosok yang kokoh dibalik keberadaannya disampingku.

Tapi adalah sebuah kesalahan memandangnya sebagai figur ayah yang kokoh. Itu semua hanyalah imajinasi yang tidak akan pernah menjadi kenyataan. Karena figur ayah tersebut sudah hancur bersamaan dengan satu demi satu kata-kata pahit yang dia lontarkan.

Dan aku dibuangnya begitu saja..

Pertengkaran terjadi hanya karena perbincangan diskusi sederhana. Namun aku yang keras ini, bersikeras untuk mempertahankan pendapatku di hadapannya, dengan sopan, dengan baik-baik diselingi oleh candaan sederhana. Tapi tanpa melihat adanya potensi badai melanda perbincangan kami, dia mengatakan sesuatu yang sangat menyakitkan hatiku, yang sejujurnya dengan melihat kata-katanya saja, hal tersebut tidak perlu diucapkan. Dan sakit hatiku kemudian membawa aku kepada kata-kata keterbukaan dengan menyinggung dirinya bahwa aku sakit hati dia berkata demikian.

Tapi dia hanyalah dia yang gengsinya terlalu tinggi, yang tidak pernah bisa menghargai perasaan seorang wanita, tidak bisa menerima aku yang sudah mandiri dapat dengan bebas melontarkan pendapatku pribadi.

Dan kemudian, kata demi kata yang lebih tidak pantas lagi di keluarkan oleh dirinya yang tidak lagi aku kenal. Hinaan demi hinaan, dan kemudian dia membuat satu statement tersebut, bahwa aku bukan lagi anaknya, dan aku tidak perlu lagi bertemu dengan dirinya, dan mengancam hendak membakar semua barang aku yang ada di rumahnya. Dan semudah itu dia membuang barang-barang kesayangannya yang sudah usang, semudah itu juga dia membuang anaknya.

Sehari setelahnya, aku menemukan fakta bahwa dia telah menghapus aku dari semua media komunikasi miliknya.

Aku jadi bingung.. Aku ini punya pacar atau punya ayah?

Dan tentu saja aku sangat terpukul, berjam-jam tak henti melihat serpihan dari hatiku hancur tak henti, mengalir bersamaan dengan air mataku yang kunjung mengucur. Kecewa, terluka, marah, sedih, takut, semua bercampur menjadi satu.

Aku melihat hancurnya hatiku sebagaimana ia telah hancur setahun yang lalu dengan seseorang yang aku sangat cintai meninggalkan aku dengan kata-kata pahitnya yang tak kunjung aku lupakan hingga detik ini.

Bekas luka dan memar mungkin bisa hilang seiring berjalannya waktu. Namun bekas ingatan pedih yang melukai hati tidak akan pernah bisa hilang hingga jiwa dan raga ini berhenti berada pada tempatnya sekarang.

Kata-kata yang melukai itu tidak akan pernah tidak terngiang.

Mereka akan membawa perjalanan hatiku pada sebuah pengalaman traumatis yang panjang.

Dan kemudian aku memang berteriak pada Tuhan. Bertanya dengan pedih, mengapa Tuhan tega membiarkan aku merasakan perasaan ini lagi. Bukan hanya hati yang terbelah patah, namun hati yang sudah hancur berkeping-keping, kemudian kepingan itu hancur menjadi kepingan-kepingan yang lebih kecil lagi.

Semua bermula dari bagaimana ayahku yang aku kira sudah menjadi lebih dewasa, memutuskan untuk kembali menikah lagi tanpa sepengetahuan aku beberapa bulan lalu, yang kemudian pada akhirnya aku ketahui dari orang lain yang tidak mempunyai hubungan keluarga dengan aku. Dan sejak itu semuanya terasa lebih gelap, hari-hariku diisi dengan perasaan kesepian yang menguasai hati ini, disertai dengan takut. Aku semakin uring-uringan dari hari ke hari.

Tapi aku tidak pernah jera untuk berharap kepadanya, berharap dia bisa memenuhi harapanku untuk menjadi sosok ayah yang kokoh.

Salah aku berharap, kemudian aku dibanting sendiri dengan harapan palsu yang aku bangun sendiri.

Secara manusiawi aku begitu begitu begitu malu memiliki ayah seperti dia. Ayah yang tidak pernah menghargai perasaan seorang wanita, ayah yang tidak pernah tidak memikirkan dirinya sendiri, ayah yang selalu menyalahkan semua orang yang di sekitarnya akan segala konsekuensi yang harus dia tanggung. Seolah hati ini berkata dalam keterpurukannya, bahwa lebih baik aku tidak pernah mengenal ayahku sendiri daripada pada ujungnya aku harus bergulat dengan argumen hati ini mengenai peperangan aku mencari dan mempercayai seorang pria di luar sana. Aku tidak memiliki teladan yang dapat kupegang, yang dapat kutiru, dan yang dapat kubanggakan.

Dan seringkali aku putus asa melihat masa laluku, dan kemudian mengalihkan pandanganku ke cermin yang merefleksikan diriku, “akankah aku bertemu seorang pria yang tidak seperti ayahku, akankah aku dapat memberikan seluruh kepercayaanku kepada seorang pria?”.

Dan sampai detik ini, atau entah sampai detik entah kapan Tuhan sudah cukup menghukum aku, ayahku tidak merasakan bahwa dia melakukan satu pun kesalahan. Hatinya sudah sekeras itu, sekeras batu. Atau mungkin dia sudah tidak memiliki hati lagi.

Melupakan? Aku tidak akan pernah bisa. Mengampuni? Walau tidak bisa, tapi aku harus.

Mungkin suatu hari nanti…

There is none like him

Sejauh ini aku belum pernah bertemu seseorang seperti dirinya..

Yang melengkapiku begitu sempurna,

Mengisi setiap celah-celah kosong yang ada dalam hidupku,

Menjadikan tawaku begitu tulus dan sempurna mendengar semua candaannya,

Memenuhi kerinduan jiwa yang sudah lama terpendam,

Menjawab semua pertanyaan yang terlontar pada malam hari dalam kesunyian,

Memulihkan luka demi luka akan satu per satu kegagalan kisah kasih di masa lalu,

Memberikan satu titik cerah melalui harapan akan memiliki masa depan yang indah bersama dengannya.

Hingga pada detik di malam itu, di bawah bintang yang menerangi setiap langkah dan tawa kami, aku berkata dalam hatiku: “i just had the BEST night ever… with you”. Dan seperti itulah aku memulai perjalanan drama romansa bersama dengannya. Mengasihinya dengan utuh hati ini bisa mengasihinya, karena aku hanya manusia biasa, yang memohon pada Tuhan untuk diberikan kelancaran pada setiap langkah kami menuju impian kami berdua.

Dan baru pertama kali ini, luka yang tergores karena satu kegagalan lagi, belum juga terpulihkan hingga detik ini. Dan terlepas dari orang-orang baru yang aku temui, aku masih mencintainya. Masih menginginkannya kembali. Karena tidak seorang pun dapat begitu melengkapi jiwa ini sebagaimana ia telah melengkapinya.

Beberapa saat yang lalu aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, bagaimana bisa Tuhan tidak memberikanku kesempatan untuk bertemu dengan seseorang yang dapat melengkapiku sebagaimana dia melengkapiku, bagaimana bisa Tuhan tidak mengirimkan aku seseorang untuk menjadi tumpuan pundak ketika aku menangis karena banyak hal belakangan ini yang telah menghancurkan hatiku, bagaimana bisa Tuhan tidak mendengarkan kerinduanku yang setiap malam aku semaikan dalam sisipan perbincanganku denganNya.

Dan tentu, Tuhan tahu serindu apa aku, sebutuh apa aku akan seseorang yang aku percaya untuk menyediakan telinga dan meminjamkan pundak kokohnya. Tapi aku, benar-benar terasingkan dari semua harapan itu. Sendiri tanpa jawaban yang jelas untuk pencapaian impian tersebut.

Jadi aku menyerah. Aku bangkit untuk menyerah kembali.

“Kalau Tuhan ingin aku sendiri selamanya, ya sudah …”

Semakin jauh aku mendorong orang-orang terdekat aku, membangun sebuah kubah sehingga tak satu pun orang dapat menembusnya dan mengetahui sesungguhnya aku, dan kemudian aku berkata dalam hatiku kepada mereka: “they will eventually leave me again when they know the truth about me”.

And that’s how I lose my faith about having another relationship.

Karena aku tahu, aku tidak akan pernah merasakan dan mengalami apa yang aku rasakan maupun alami bersama dengannya. Semuanya akan menjadi begitu berbeda, and to be honest, I am so afraid for that to happen.

Bahkan hingga saat ini, memori demi memori terlintas, dan aku hanya bisa berkata dalam hatiku: “aku ingin merasakannya cinta yang aku rasakan bersamanya kembali, aku ingin mengalami semua hal manis yang aku alami bersamanya kembali, aku ingin melangkahi jalan yang kulalui bersamanya kembali”.

Dan tidak kutemui sosok orang seperti dirinya.

Dengan banyak kekurangan yang aku lihat darinya, tapi aku menerimanya, terlalu menerimanya, hingga terlalu mencintainya.

Dan kemudian aku menjadi ragu, akankah aku sebahagia dulu seperti aku bahagia ketika bersama dengannya?

Yang aku percaya adalah bahwa cinta itu datang bukan hanya semerta-merta dia hadir, mengetuk pintu hati, dan kemudian kita membuka pintu baginya. Tapi kita sebagai pribadi yang memutuskan who comes, and who goes. Jadi ketika aku dihadapkan dengan banyak pilihan baru di depanku, I have to make a choice. A choice to love a guy, seperti yang aku tulis di post lalu: “membuka hati”.

Tapi bagaimana jika dari semua pilihan yang ada, aku tidak melihat adanya potensi dari dirinya untuk melengkapi aku? Dan bagaimana jika aku membuat kesalahan lagi, salah memilih seseorang untuk dicintai sehingga bukan hanya kegagagaln lagi yang aku hadapi, namun rasa sakit itu, rasa sakit yang membutuhkan waktu terlalu lama untuk pulih.

Dan berkali-kali aku berkata kepada Tuhan, “there is none like him”.

Terdengar klise, bahwa jangan membandingkan cinta yang baru dengan cinta yang lama. Tapi juga tidak memungkiri bahwa cinta yang lama itu terlalu sakit untuk di akhiri kenangan-kenangan terindahnya yang pernah ada.

Begitu takutnya aku jatuh cinta pada begitu banyak perbedaan. Karena aku sadar bahwa aku memiliki ruang toleransi yang sangat luas, dan aku takut bahwa ternyata cinta disamarkan oleh toleransi yang memiliki batas, dan bukannya ketulusan.

Dan aku takut bahwa aku tidak pernah sadar bahwa itu bukan cinta, namun toleransi semata.

Tapi bersama dengannya, aku tahu itu cinta. Dan karena cinta yang dalam, maka toleransi itu tidak lagi memiliki batas.

Now I know..

Well.. Most of the time I see myself as no one. Bukan orang penting. If I’m not exist in this world, perhaps no one miss me anyway. Because I am no one. Dan tidak ada yang peduli dengan ada dan tiadanya kehadiranku di tengah-tengah banyak orang, di tengah-tengah komunitas demi komunitas yang aku masuki.

So.. Seringkali aku memilih untuk menyendiri, memendam semua rasa yang ada karena, toh tidak ada yang pernah benar-benar peduli akan perasaanku anyway.

And then most of the time ended up pity myself.

Dari sanalah kepercayaan terhadap orang-orang disekitarku tidak pernah dibangun. Dari sanalah semua ketakutan muncul. And somehow, some of them turned out to be the fact that I must face: that everybody leaves.

Mungkin aku berharap terlalu banyak akan terlalu banyak hal juga. Tapi apakah salah jika aku berharap akan hal-hal yang aku rindukan? Atau sebenarnya aku memang salah memilih orang untuk diandalkan?

The same thing happened in my work environment. I had this partner, a senior in my division, in my team, that supposed to be guiding me and teach me, but then turned out to harassed me in some way. For a couple of months, I put this thing by myself. I did not share this with anybody. But somehow, aku merasakan beban demi beban memberatkan pundak dan langkah kakiku setiap pagi. Dan selama 8-10 jam aku di kantor, I just could never did my best. I denied, because I thought that it was my job desk that made me so weak, and lazy. But I was wrong. It was my partner.

Konflik demi konflik aku lalui bersama dia, dan aku hanya bisa menyerah. Kesalahan apa pun yang dia perbuat kepadaku, ketika aku berusaha to communicate it to him, he turned me down and all I felt was feeling bad. Seperti yang aku pernah bagikan dalam beberapa post lalu, mengenai bagaimana lingkungan dimana aku ditempatkan ini bukanlah lingkungan yang aku bayangkan aku akan hidupi hari demi hari, bukanlah lingkungan yang aku harapkan aku dapatkan ketika aku memutuskan untuk back for good from overseas.

Ternyata benar seperti yang Tuhan pernah bilang saat itu, bahwa Dia menempatkan aku di suasana dan lingkungan yang aku miliki saat ini, is to teach me something valuable.

So… about the harassment.. aku memberanikan diri untuk approach my supervisor, dan menceritakan segalanya. Batas toleransiku saat itu sudah nol besar, dan aku tidak lagi menghormati seniorku. Sudah berapa kali aku mengkomunikasikan keluhanku pada sikapnya, tapi dia tidak pernah berubah. Dan ternyata, the company took this very seriously, dan dengan segera, my supervisor took action.

So I told what I must tell, but not in detail. And then my supervisor called him, and rebuked him. Funny thing that he was crying. Tapi berhubung toleransiku sudah tidak ada lagi, so I felt nothing for him. Not even the sympathy, or empathy.

Dengan sangat tegas aku menentukan pilihanku dan keberatanku mengenai sikapnya, dan juga working with him.

And my supervisor said that he was shocked, aku yang selama ini diam dan tidak berbicara apa-apa, tidak mengeluh apa-apa, bisa berbicara setegas ini.

And then the next morning, which is today, my senior approached me with the fallen tears and ask for forgiveness from me. I felt nothing. And yet, I still showed my decisiveness.

Dan setelah sekian bulan, sekian tahun, tidak pernah aku melihat, atau bahkan mendengar diri aku sendiri setegas itu.

Well.. Benar kata quote itu: “adalah bahaya ketika orang yang paling ramah, kemudian murka, orang yang paling setia, kemudian dikecewakan, orang yang paling sabar, marah”.

What I am going to tell here is not about the story between me and my senior, and the harassment. Tapi satu hal yang kini aku mengerti mengapa aku diposisikan di tempat yang begitu begitu begitu amat sangat tidak nyaman, dan sangat berharap untuk dapat keluar dari kondisi ini. Bahwa Tuhan memang bertujuan untuk mengembalikan jati diri aku yang telah lama hilang, di curi oleh cinta buta yang tidak peduli aku bertumbuh menjadi seorang wanita kesayanganNya. Bahwa dulu aku begitu tegas akan prinsip-prinsip aku, dan Tuhan mau bahwa aku membangun kembali prinsip-prinsip yang lebih bernilai untuk menjadikan diri aku pribadi berharga. Sekian bulan, sekian tahun aku begitu merasa tidak berharga and nothing, no one. Rela diperlakukan seperti apa pun, tanpa melihat prinsip yang telah aku bangun untuk menjadikanku percaya diri. Dan Tuhan sedih melihat aku sendiri tidak memandang diriku berarti, berharga, sebagaimana Dia melihatku bagaikan mutiara.

And somehow, melalui malam-malam sendu itu, when I was thinking that I am not strong and was going to give all up, I realized, that I am actually quite strong enough. Even my supervisor asked, how can I face the days with this embarrassment thing happen. I just did not have the answer for that. Because lies within me, the strength that God had put for whatever happens in my life, even though I don’t see or feel it.

Well, in some other things, I might be give up. But today I learned something valuable. That I am precious, because God loves me, although He put me in the miserable zone, but He has a reason for it.

I can’t wait to see what other reasons for unanswered questions I have in mind. I believe He always have an illogical answer for that.

The problem has not finished yet, but I only can say one thing: so give me wisdom to face it with Your way. The strength? I believe that I already have it, I just need a wisdom from Him to let it out.

When grief yield creativity

It is funny..

I once told that if I made my tears fall, the world will also feel the same feeling I am feeling. And then, the rain will fall, because the angels cry with me.

Some people, who just never really care for me, will hear this as a childhood joke. But for some who cares for me, will see this as unique thing to find out the truth. Well, for any unexplainable reasons, somehow, somewhere, like how a fairy tale tells its story, it becomes true. Anyway, I am not writing this to make everybody believes this story.

So, today.. was a gloomy Sunday. For the whole day, the city never stopped raining, from the moment I woke up, even until the night falls.

I was depressed, yes I was in pain, as yesterday something hit my feelings and I was stricken by tremendous confusion. And it was related to the recent emotional state I am struggling with.

The moment I swallowed my anger, was the moment when the hard wind came and blew the city.

The moment I held my tears, was the moment when the drizzle fell.

The moment I cried and felt that pain, was the moment when the heavy rain wet the city.

After almost one week the city never rained, it was really strange that it rained through these two days. Dark weather and thick clouds covering each corner of it.

So I just assumed that perhaps … the angels were expressed what my heart felt, just like I was told a long time ago.

This weekend, Ma was here, in the city. Visiting me as I did not feel like I want to come with Da to go with his car community. So she accompanied me, stayed in the residence I currently rent.  I thought that I wanted to be alone, just enjoying myself to explore the city alone. But when Ma insisted, what can I say? I just accepted her goodwill. But God knew what will really happened. And He actually sent Ma to calm me down, and be there for me, because He knew, I could never face this all by myself. Even by the time Ma went back, and as I reached back to residence, I burst into tears.

But the funny part was that my grief brought creativity, and I reorder my room while crying …

The new look

 

 

 

 

 

I sent the above picture to Ma. She laughed and appraised me for what I’ve done. “Look how tidy your work is. You turned the room into even more comfortable than it already was”, she said (Sorry.. I don’t have the previous picture of the room). And I replied: “well, I did not even realize that I had this idea if I was not in a really bad emotional condition like I am in this two days. I did this to vent my emotional feelings”.

Well, being upset yield creativity evidently.

And then I went to the gym after reordering the room.

And then I felt better.

And then the rain stopped.

Mulai membuka hati

Berpikir mengenai sebuah tema crucial bagi mereka yang masih sendiri selama ini …..

Dan masih terus berada dalam penantian yang belum kunjung tiba..

Lebih tepatnya untuk aku..

Seperti yang sudah pernah aku bagikan dalam satu atau dua post sebelum-sebelumnya, bagaimana aku, sebagai individu yang masih sendiri dan masih terus berada pada lingkaran penantian untuk bertemu dengan pasangan hidupku, begitu merindukan dia segera hadir dan mengisi hariku. Membawa warna melalui canda dan tawa yang aku lalui bersamanya. Mengeluarkan seluruh isi hatiku padanya karena aku percaya pada dirinya. Dan begitu rindu aku membuka mulut ini dan keluar dari kotak bisu yang selama ini aku hidupi. Hari demi hari aku lewati dengan memandang ke kiri dan ke kanan, mencari dia yang mungkin tersangkut atau bahkan terhambat karena sesuatu sehingga dia belum menemukan sosok aku yang akan menjadi penolong hidupnya. Malam demi malam aku lewati dengan terduduk diam di dalam suasana gelap dan dingin, berdoa, berteriak pada Tuhan: “kemana dia pergi, Tuhan?”. Dan kemudian aku terjatuh, dan terjatuh lagi pada satu lubang besar yang sama, lubang masa lalu yang membawa aku kembali pada cinta lamaku. Dan kemudian hati ini menjadi terasa dingin karena dia adalah dia dari masa lalu. Dan merindukan dirinya adalah suatu kesalahan besar, apalagi mengharapkannya kembali.

Karena aku, adalah aku dari masa lalunya.

Kemudian siang ini aku berbagi cerita pada kawan kerjaku yang hendak menikah pada penghujung tahun ini. Dengan segala pertimbangan dan pergumulan yang aku hadapi belakangan ini, memendam semua rasa sendiri, aku memulai pembicaraan baru dengannya. Dan dia berbagi segala pengalamannya, yang sebenarnya bukan tujuanku untuk bercerita atau mendapatkan apa-apa darinya. Aku hanya ingin tahu cerita kasih dia. Mungkin itu bisa membuat aku sedikit terbangun dan kembali berjuang mencari cinta yang masih terhilang.

Beberapa bulan ini, aku menemukan beberapa orang di sekitarku yang mempertimbangkan aku untuk menjadi sandingan hidupnya. Namun apa daya hati ini tidak setegar dulu, aku mengundurkan diri perlahan, dan satu demi satu pun menghilang. Namun mereka tidak pernah benar-benar hilang, karena keberadaan mereka yang pergi, selalu tergantikan dengan seorang lain yang baru. Aku tidak peduli akan keberadaan mereka, karena dalam hati nurani terpendam rasa: “aku tidak ingin mereka”. Dan aku bersikap masa bodoh dengan segala sifat dan sikap yang aku pelajari dari satu demi satu lelaki yang kutemui. Dan kemudian, aku menutup hatiku. Sekeras apa pun aku memaksa pikiranku untuk berkata bahwa aku membuka hatiku untuk siapa saja lelaki yang aku temui, tapi ternyata aku sebenarnya masih menutup hatiku.

Namun kini, aku tiba pada satu masa, pada satu titik, dimana seolah ada suara berkata: “kini saatnya kamu membuka hatimu”.

Aku mulai menemukan fakta bahwa aku menutup hatiku. Aku mulai menemukan fakta di balik hati ini menutup pintunya adalah karena sebenarnya aku begitu takut, takut untuk kembali tersakiti dan kepercayaannya yang dikhianati, takut untuk memulai sesuatu dari semula lagi, takut ketika aku memulai sesuatu kemudian harus berakhir karena di antara kami tidak bisa satu jalan lagi, takut untuk mempercayai seseorang, dan takut untuk dia mengetahui seluruh cerita hidupku – namun dia atau bahkan keluarganya tidak bisa menerima aku apa adanya.

Dan aku hanya bisa meneteskan air mata ketika semua ketakutan itu aku sadari ada dalam hatiku. Bahkan mataku berkaca-kaca dan terasa panas, tenggorokanku tercekik dan mengeluarkan getaran suara hendak memecahkan rasa sakit di dada ini.

Dan setiap kali aku berbagi cerita ini kepada seseorang, tangisku rasanya hendak meledak sampai ke ubun-ubun.

Namun aku ya aku .. yang hanya bisa menahan dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Hanya bisa mencurahkannya melalui goresan-goresan dalam kertas putih ini.

Ketika aku mendengarkan rekan kerjaku menceritakan pengalamannya bersama tunangannya, yang ditambahkan dengan sedikit kisah cinta masa lalunya, seolah apa yang hati ini dengar, diyakinkan oleh kata demi kata yang dia sampaikan kepadaku.

Bahwa antara cinta masa lalu dan cinta selanjutnya yang akan menjadi titik pencarian akhir, diwarnai oleh berbagai macam perbedaan.

Bahwa apa yang aku rasakan dan jalani dengan cinta masa laluku, tidak akan terjadi untuk yang kedua kalinya ketika aku dipertemukan dengan cinta selanjutnya.

Bahwa dua kata “moving forward” bukan berarti kita harus melupakannya, namun hanya harus menerima apa adanya.

Bahwa dia yang terindah, tidak akan pernah bisa terlupakan selamanya, dan kata-kata manis akan selalu keluar dari dalam hati kita ketika kita menceritakan tentang dirinya ~walau akhirnya bernada pahit.

Bahwa untuk sama sekali tidak berkomunikasi dengannya adalah yang terbaik, dan walau berat dan sakit, namun itu merupakan hal terbijak yang harus dilakukan (sebagaimana seharusnya tidak aku balas ucapan dan doa yang dia sampaikan padaku beberapa minggu yang lalu).

Bahwa hubungan selanjutnya, would be totally the oppossite than the previous one.

Entah mengapa hati ini seolah masih terikat padanya, terutama ketika beberapa bulan ini aku ada dalam masa-masa gelap mengingat kepedihan dan luka yang aku rasakan demi kebahagiaan seseorang yang sangat aku peduli, aku membutuhkannya. Dan mengingat bahwa dialah yang paling mengerti yang aku rasakan, sebagaimana dia mengetahui kisah cerita mengenai seseorang tersebut dan hubungan aku dengannya, aku begitu rindu berbagi pada dirinya.

Belakangan ini juga seolah begitu banyak pertanda berkata: “do not give up”, ketika aku menyangkali diriku bahwa aku sebenarnya sudah menyerah dan sudah tidak mau lagi mencari atau bahkan berhubungan dengan siapa pun. Seolah berpikir bahwa hidup sendiri lebih aman, tanpa rasa sakit, terutama sakit karena ditinggalkan. Namun aku tahu, penyangkalan diriku ini sebenarnya hanya karena aku sudah terlalu menyerah.

Dan kini aku ada di titik dimana aku tergerak untuk mulai membuka hati, terutama pada mereka yang ada di sekitarku, memberikan perhatian dan memberikan yang terbaik dari yang mereka punya untuk aku, dimana sebelumnya … ??? aku tidak pernah peduli akan hal ini..

Satu tahun sudah berlalu, namun seolah tidak ada apa pun yang terjadi. Hendak bersyukur, ya, aku bersyukur akan segala hal yang ada dalam hidupku, namun rasanya begitu berat menjalani hari demi hari tanpa siapa pun bisa dijadikan teman berbagi terutama ketika begitu berat aku menghadapi my own dad dan begitu butuhnya aku berbagi perasaanku.

Walau orang bilang untuk jangan berharap apa pun dari siapa pun, tapi bagaimana sebuah mimpi dapat tercapai tanpa ada harapan?

Bisu

Kadang..
Aku bingung harus berkata apa.
Aku bingung harus berucap apa.
Ketika mata ini harus terpejam sejenak,
Berbincang dengan yang Maha Kuasa dalam sekilas menit.
Di kala hati terlalu gelisah,
Dan pikiran dipenuhi oleh hiruk pikuk suara yang tak kunjung henti,
Memejamkan mata pun aku sudah tak mampu.
Memejamkan mata pun aku tak rela.
Seolah yang hati ini butuhkan hanyalah seseorang.
Seorang penolong yang tak kunjung tiba.
Yang katanya masih dalam perjalan.
Namun berapa lama lagi aku harus menanti?
Berapa lama lagi aku harus merana?
Berapa lama lagi sakit di dada ini terbayarkan dengan detak jantung oleh senyum bahagia,
Yang berkata: “ini dia”.
Mendera angin hembusan ombak,
Hatiku terseret oleh sapuan dinginnya malam.
Semakin aku termenung,
Dan berpikir,
Mengasah otak,
Semakin aku menggali kubur untuk diriku sendiri.
Semakin aku mengorek luka makin dalam dari yang sudah ada.
Seolah doaku tak di dengar olehNya,
Di situlah titik terang sebuah harapan mulai pudar.
Dan kemudian siang berganti malam.