General

Mulai membuka hati

Berpikir mengenai sebuah tema crucial bagi mereka yang masih sendiri selama ini …..

Dan masih terus berada dalam penantian yang belum kunjung tiba..

Lebih tepatnya untuk aku..

Seperti yang sudah pernah aku bagikan dalam satu atau dua post sebelum-sebelumnya, bagaimana aku, sebagai individu yang masih sendiri dan masih terus berada pada lingkaran penantian untuk bertemu dengan pasangan hidupku, begitu merindukan dia segera hadir dan mengisi hariku. Membawa warna melalui canda dan tawa yang aku lalui bersamanya. Mengeluarkan seluruh isi hatiku padanya karena aku percaya pada dirinya. Dan begitu rindu aku membuka mulut ini dan keluar dari kotak bisu yang selama ini aku hidupi. Hari demi hari aku lewati dengan memandang ke kiri dan ke kanan, mencari dia yang mungkin tersangkut atau bahkan terhambat karena sesuatu sehingga dia belum menemukan sosok aku yang akan menjadi penolong hidupnya. Malam demi malam aku lewati dengan terduduk diam di dalam suasana gelap dan dingin, berdoa, berteriak pada Tuhan: “kemana dia pergi, Tuhan?”. Dan kemudian aku terjatuh, dan terjatuh lagi pada satu lubang besar yang sama, lubang masa lalu yang membawa aku kembali pada cinta lamaku. Dan kemudian hati ini menjadi terasa dingin karena dia adalah dia dari masa lalu. Dan merindukan dirinya adalah suatu kesalahan besar, apalagi mengharapkannya kembali.

Karena aku, adalah aku dari masa lalunya.

Kemudian siang ini aku berbagi cerita pada kawan kerjaku yang hendak menikah pada penghujung tahun ini. Dengan segala pertimbangan dan pergumulan yang aku hadapi belakangan ini, memendam semua rasa sendiri, aku memulai pembicaraan baru dengannya. Dan dia berbagi segala pengalamannya, yang sebenarnya bukan tujuanku untuk bercerita atau mendapatkan apa-apa darinya. Aku hanya ingin tahu cerita kasih dia. Mungkin itu bisa membuat aku sedikit terbangun dan kembali berjuang mencari cinta yang masih terhilang.

Beberapa bulan ini, aku menemukan beberapa orang di sekitarku yang mempertimbangkan aku untuk menjadi sandingan hidupnya. Namun apa daya hati ini tidak setegar dulu, aku mengundurkan diri perlahan, dan satu demi satu pun menghilang. Namun mereka tidak pernah benar-benar hilang, karena keberadaan mereka yang pergi, selalu tergantikan dengan seorang lain yang baru. Aku tidak peduli akan keberadaan mereka, karena dalam hati nurani terpendam rasa: “aku tidak ingin mereka”. Dan aku bersikap masa bodoh dengan segala sifat dan sikap yang aku pelajari dari satu demi satu lelaki yang kutemui. Dan kemudian, aku menutup hatiku. Sekeras apa pun aku memaksa pikiranku untuk berkata bahwa aku membuka hatiku untuk siapa saja lelaki yang aku temui, tapi ternyata aku sebenarnya masih menutup hatiku.

Namun kini, aku tiba pada satu masa, pada satu titik, dimana seolah ada suara berkata: “kini saatnya kamu membuka hatimu”.

Aku mulai menemukan fakta bahwa aku menutup hatiku. Aku mulai menemukan fakta di balik hati ini menutup pintunya adalah karena sebenarnya aku begitu takut, takut untuk kembali tersakiti dan kepercayaannya yang dikhianati, takut untuk memulai sesuatu dari semula lagi, takut ketika aku memulai sesuatu kemudian harus berakhir karena di antara kami tidak bisa satu jalan lagi, takut untuk mempercayai seseorang, dan takut untuk dia mengetahui seluruh cerita hidupku – namun dia atau bahkan keluarganya tidak bisa menerima aku apa adanya.

Dan aku hanya bisa meneteskan air mata ketika semua ketakutan itu aku sadari ada dalam hatiku. Bahkan mataku berkaca-kaca dan terasa panas, tenggorokanku tercekik dan mengeluarkan getaran suara hendak memecahkan rasa sakit di dada ini.

Dan setiap kali aku berbagi cerita ini kepada seseorang, tangisku rasanya hendak meledak sampai ke ubun-ubun.

Namun aku ya aku .. yang hanya bisa menahan dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Hanya bisa mencurahkannya melalui goresan-goresan dalam kertas putih ini.

Ketika aku mendengarkan rekan kerjaku menceritakan pengalamannya bersama tunangannya, yang ditambahkan dengan sedikit kisah cinta masa lalunya, seolah apa yang hati ini dengar, diyakinkan oleh kata demi kata yang dia sampaikan kepadaku.

Bahwa antara cinta masa lalu dan cinta selanjutnya yang akan menjadi titik pencarian akhir, diwarnai oleh berbagai macam perbedaan.

Bahwa apa yang aku rasakan dan jalani dengan cinta masa laluku, tidak akan terjadi untuk yang kedua kalinya ketika aku dipertemukan dengan cinta selanjutnya.

Bahwa dua kata “moving forward” bukan berarti kita harus melupakannya, namun hanya harus menerima apa adanya.

Bahwa dia yang terindah, tidak akan pernah bisa terlupakan selamanya, dan kata-kata manis akan selalu keluar dari dalam hati kita ketika kita menceritakan tentang dirinya ~walau akhirnya bernada pahit.

Bahwa untuk sama sekali tidak berkomunikasi dengannya adalah yang terbaik, dan walau berat dan sakit, namun itu merupakan hal terbijak yang harus dilakukan (sebagaimana seharusnya tidak aku balas ucapan dan doa yang dia sampaikan padaku beberapa minggu yang lalu).

Bahwa hubungan selanjutnya, would be totally the oppossite than the previous one.

Entah mengapa hati ini seolah masih terikat padanya, terutama ketika beberapa bulan ini aku ada dalam masa-masa gelap mengingat kepedihan dan luka yang aku rasakan demi kebahagiaan seseorang yang sangat aku peduli, aku membutuhkannya. Dan mengingat bahwa dialah yang paling mengerti yang aku rasakan, sebagaimana dia mengetahui kisah cerita mengenai seseorang tersebut dan hubungan aku dengannya, aku begitu rindu berbagi pada dirinya.

Belakangan ini juga seolah begitu banyak pertanda berkata: “do not give up”, ketika aku menyangkali diriku bahwa aku sebenarnya sudah menyerah dan sudah tidak mau lagi mencari atau bahkan berhubungan dengan siapa pun. Seolah berpikir bahwa hidup sendiri lebih aman, tanpa rasa sakit, terutama sakit karena ditinggalkan. Namun aku tahu, penyangkalan diriku ini sebenarnya hanya karena aku sudah terlalu menyerah.

Dan kini aku ada di titik dimana aku tergerak untuk mulai membuka hati, terutama pada mereka yang ada di sekitarku, memberikan perhatian dan memberikan yang terbaik dari yang mereka punya untuk aku, dimana sebelumnya … ??? aku tidak pernah peduli akan hal ini..

Satu tahun sudah berlalu, namun seolah tidak ada apa pun yang terjadi. Hendak bersyukur, ya, aku bersyukur akan segala hal yang ada dalam hidupku, namun rasanya begitu berat menjalani hari demi hari tanpa siapa pun bisa dijadikan teman berbagi terutama ketika begitu berat aku menghadapi my own dad dan begitu butuhnya aku berbagi perasaanku.

Walau orang bilang untuk jangan berharap apa pun dari siapa pun, tapi bagaimana sebuah mimpi dapat tercapai tanpa ada harapan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s