General

Now I know..

Well.. Most of the time I see myself as no one. Bukan orang penting. If I’m not exist in this world, perhaps no one miss me anyway. Because I am no one. Dan tidak ada yang peduli dengan ada dan tiadanya kehadiranku di tengah-tengah banyak orang, di tengah-tengah komunitas demi komunitas yang aku masuki.

So.. Seringkali aku memilih untuk menyendiri, memendam semua rasa yang ada karena, toh tidak ada yang pernah benar-benar peduli akan perasaanku anyway.

And then most of the time ended up pity myself.

Dari sanalah kepercayaan terhadap orang-orang disekitarku tidak pernah dibangun. Dari sanalah semua ketakutan muncul. And somehow, some of them turned out to be the fact that I must face: that everybody leaves.

Mungkin aku berharap terlalu banyak akan terlalu banyak hal juga. Tapi apakah salah jika aku berharap akan hal-hal yang aku rindukan? Atau sebenarnya aku memang salah memilih orang untuk diandalkan?

The same thing happened in my work environment. I had this partner, a senior in my division, in my team, that supposed to be guiding me and teach me, but then turned out to harassed me in some way. For a couple of months, I put this thing by myself. I did not share this with anybody. But somehow, aku merasakan beban demi beban memberatkan pundak dan langkah kakiku setiap pagi. Dan selama 8-10 jam aku di kantor, I just could never did my best. I denied, because I thought that it was my job desk that made me so weak, and lazy. But I was wrong. It was my partner.

Konflik demi konflik aku lalui bersama dia, dan aku hanya bisa menyerah. Kesalahan apa pun yang dia perbuat kepadaku, ketika aku berusaha to communicate it to him, he turned me down and all I felt was feeling bad. Seperti yang aku pernah bagikan dalam beberapa post lalu, mengenai bagaimana lingkungan dimana aku ditempatkan ini bukanlah lingkungan yang aku bayangkan aku akan hidupi hari demi hari, bukanlah lingkungan yang aku harapkan aku dapatkan ketika aku memutuskan untuk back for good from overseas.

Ternyata benar seperti yang Tuhan pernah bilang saat itu, bahwa Dia menempatkan aku di suasana dan lingkungan yang aku miliki saat ini, is to teach me something valuable.

So… about the harassment.. aku memberanikan diri untuk approach my supervisor, dan menceritakan segalanya. Batas toleransiku saat itu sudah nol besar, dan aku tidak lagi menghormati seniorku. Sudah berapa kali aku mengkomunikasikan keluhanku pada sikapnya, tapi dia tidak pernah berubah. Dan ternyata, the company took this very seriously, dan dengan segera, my supervisor took action.

So I told what I must tell, but not in detail. And then my supervisor called him, and rebuked him. Funny thing that he was crying. Tapi berhubung toleransiku sudah tidak ada lagi, so I felt nothing for him. Not even the sympathy, or empathy.

Dengan sangat tegas aku menentukan pilihanku dan keberatanku mengenai sikapnya, dan juga working with him.

And my supervisor said that he was shocked, aku yang selama ini diam dan tidak berbicara apa-apa, tidak mengeluh apa-apa, bisa berbicara setegas ini.

And then the next morning, which is today, my senior approached me with the fallen tears and ask for forgiveness from me. I felt nothing. And yet, I still showed my decisiveness.

Dan setelah sekian bulan, sekian tahun, tidak pernah aku melihat, atau bahkan mendengar diri aku sendiri setegas itu.

Well.. Benar kata quote itu: “adalah bahaya ketika orang yang paling ramah, kemudian murka, orang yang paling setia, kemudian dikecewakan, orang yang paling sabar, marah”.

What I am going to tell here is not about the story between me and my senior, and the harassment. Tapi satu hal yang kini aku mengerti mengapa aku diposisikan di tempat yang begitu begitu begitu amat sangat tidak nyaman, dan sangat berharap untuk dapat keluar dari kondisi ini. Bahwa Tuhan memang bertujuan untuk mengembalikan jati diri aku yang telah lama hilang, di curi oleh cinta buta yang tidak peduli aku bertumbuh menjadi seorang wanita kesayanganNya. Bahwa dulu aku begitu tegas akan prinsip-prinsip aku, dan Tuhan mau bahwa aku membangun kembali prinsip-prinsip yang lebih bernilai untuk menjadikan diri aku pribadi berharga. Sekian bulan, sekian tahun aku begitu merasa tidak berharga and nothing, no one. Rela diperlakukan seperti apa pun, tanpa melihat prinsip yang telah aku bangun untuk menjadikanku percaya diri. Dan Tuhan sedih melihat aku sendiri tidak memandang diriku berarti, berharga, sebagaimana Dia melihatku bagaikan mutiara.

And somehow, melalui malam-malam sendu itu, when I was thinking that I am not strong and was going to give all up, I realized, that I am actually quite strong enough. Even my supervisor asked, how can I face the days with this embarrassment thing happen. I just did not have the answer for that. Because lies within me, the strength that God had put for whatever happens in my life, even though I don’t see or feel it.

Well, in some other things, I might be give up. But today I learned something valuable. That I am precious, because God loves me, although He put me in the miserable zone, but He has a reason for it.

I can’t wait to see what other reasons for unanswered questions I have in mind. I believe He always have an illogical answer for that.

The problem has not finished yet, but I only can say one thing: so give me wisdom to face it with Your way. The strength? I believe that I already have it, I just need a wisdom from Him to let it out.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s