General

There is none like him

Sejauh ini aku belum pernah bertemu seseorang seperti dirinya..

Yang melengkapiku begitu sempurna,

Mengisi setiap celah-celah kosong yang ada dalam hidupku,

Menjadikan tawaku begitu tulus dan sempurna mendengar semua candaannya,

Memenuhi kerinduan jiwa yang sudah lama terpendam,

Menjawab semua pertanyaan yang terlontar pada malam hari dalam kesunyian,

Memulihkan luka demi luka akan satu per satu kegagalan kisah kasih di masa lalu,

Memberikan satu titik cerah melalui harapan akan memiliki masa depan yang indah bersama dengannya.

Hingga pada detik di malam itu, di bawah bintang yang menerangi setiap langkah dan tawa kami, aku berkata dalam hatiku: “i just had the BEST night ever… with you”. Dan seperti itulah aku memulai perjalanan drama romansa bersama dengannya. Mengasihinya dengan utuh hati ini bisa mengasihinya, karena aku hanya manusia biasa, yang memohon pada Tuhan untuk diberikan kelancaran pada setiap langkah kami menuju impian kami berdua.

Dan baru pertama kali ini, luka yang tergores karena satu kegagalan lagi, belum juga terpulihkan hingga detik ini. Dan terlepas dari orang-orang baru yang aku temui, aku masih mencintainya. Masih menginginkannya kembali. Karena tidak seorang pun dapat begitu melengkapi jiwa ini sebagaimana ia telah melengkapinya.

Beberapa saat yang lalu aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, bagaimana bisa Tuhan tidak memberikanku kesempatan untuk bertemu dengan seseorang yang dapat melengkapiku sebagaimana dia melengkapiku, bagaimana bisa Tuhan tidak mengirimkan aku seseorang untuk menjadi tumpuan pundak ketika aku menangis karena banyak hal belakangan ini yang telah menghancurkan hatiku, bagaimana bisa Tuhan tidak mendengarkan kerinduanku yang setiap malam aku semaikan dalam sisipan perbincanganku denganNya.

Dan tentu, Tuhan tahu serindu apa aku, sebutuh apa aku akan seseorang yang aku percaya untuk menyediakan telinga dan meminjamkan pundak kokohnya. Tapi aku, benar-benar terasingkan dari semua harapan itu. Sendiri tanpa jawaban yang jelas untuk pencapaian impian tersebut.

Jadi aku menyerah. Aku bangkit untuk menyerah kembali.

“Kalau Tuhan ingin aku sendiri selamanya, ya sudah …”

Semakin jauh aku mendorong orang-orang terdekat aku, membangun sebuah kubah sehingga tak satu pun orang dapat menembusnya dan mengetahui sesungguhnya aku, dan kemudian aku berkata dalam hatiku kepada mereka: “they will eventually leave me again when they know the truth about me”.

And that’s how I lose my faith about having another relationship.

Karena aku tahu, aku tidak akan pernah merasakan dan mengalami apa yang aku rasakan maupun alami bersama dengannya. Semuanya akan menjadi begitu berbeda, and to be honest, I am so afraid for that to happen.

Bahkan hingga saat ini, memori demi memori terlintas, dan aku hanya bisa berkata dalam hatiku: “aku ingin merasakannya cinta yang aku rasakan bersamanya kembali, aku ingin mengalami semua hal manis yang aku alami bersamanya kembali, aku ingin melangkahi jalan yang kulalui bersamanya kembali”.

Dan tidak kutemui sosok orang seperti dirinya.

Dengan banyak kekurangan yang aku lihat darinya, tapi aku menerimanya, terlalu menerimanya, hingga terlalu mencintainya.

Dan kemudian aku menjadi ragu, akankah aku sebahagia dulu seperti aku bahagia ketika bersama dengannya?

Yang aku percaya adalah bahwa cinta itu datang bukan hanya semerta-merta dia hadir, mengetuk pintu hati, dan kemudian kita membuka pintu baginya. Tapi kita sebagai pribadi yang memutuskan who comes, and who goes. Jadi ketika aku dihadapkan dengan banyak pilihan baru di depanku, I have to make a choice. A choice to love a guy, seperti yang aku tulis di post lalu: “membuka hati”.

Tapi bagaimana jika dari semua pilihan yang ada, aku tidak melihat adanya potensi dari dirinya untuk melengkapi aku? Dan bagaimana jika aku membuat kesalahan lagi, salah memilih seseorang untuk dicintai sehingga bukan hanya kegagagaln lagi yang aku hadapi, namun rasa sakit itu, rasa sakit yang membutuhkan waktu terlalu lama untuk pulih.

Dan berkali-kali aku berkata kepada Tuhan, “there is none like him”.

Terdengar klise, bahwa jangan membandingkan cinta yang baru dengan cinta yang lama. Tapi juga tidak memungkiri bahwa cinta yang lama itu terlalu sakit untuk di akhiri kenangan-kenangan terindahnya yang pernah ada.

Begitu takutnya aku jatuh cinta pada begitu banyak perbedaan. Karena aku sadar bahwa aku memiliki ruang toleransi yang sangat luas, dan aku takut bahwa ternyata cinta disamarkan oleh toleransi yang memiliki batas, dan bukannya ketulusan.

Dan aku takut bahwa aku tidak pernah sadar bahwa itu bukan cinta, namun toleransi semata.

Tapi bersama dengannya, aku tahu itu cinta. Dan karena cinta yang dalam, maka toleransi itu tidak lagi memiliki batas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s