General

Blood is thicker than water, but for him, water wins

Mungkin aku jarang mendengar bagaimana seorang orang tua membuang anaknya ketika dia sudah dewasa. Mengusirnya dan tidak lagi dianggap anak oleh si orang tua. Dalam hati aku, aku berpikir “orang tua gila macam apa itu”, yang tega dan tanpa berperasaan tidak lagi peduli akan nasib anaknya. Karena aku beranggapan bahwa sebagaimana mengecewakannya si anak, tapi orang tua yang seharusnya mengasihi tanpa syarat tersebut, tidak akan pernah membuang anaknya segampang dia membuang barang kesayangannya yang telah usang dan tak layak pakai lagi. Tapi memang, banyak kasus disebabkan oleh karena kesalahan fatal yang si anak buat sehingga si orang tua tidak lagi dapat memberikan toleransi. Well, aku rasa, bukan masalah di anak atau di orang tua. Hanya saja keduanya tidak cukup dewasa untuk saling menyikapi kesalahan dari masing-masing pihak. Dan bahkan mungkin, si orang tua itu sendiri sebenarnya tidak pernah siap untuk menjadi orang tua, terutama ketika si anak beranjak mendekati level orang tuanya, yaitu menjadi semakin tua dengan berbagai macam tuntutan hidup yang harus ditanggung.

Tapi cerita berbeda yang ingin aku catat di lembaran kali ini. Cerita yang seharusnya aku tutupi, namun aku tidak malu untuk membukanya. Dan bagaimana kejadian ini menjadi pembelajaran bagiku, bagaimana bijaknya aku seharusnya jika kelak aku menjadi orang tua.

Terpisahkan belasan tahun oleh ayahku sendiri, karena kesalahan fatal yang dia buat, tidak menghalangiku untuk melakukan rekonsiliasi kembali dengan dirinya. Melalui kekecewaan demi kekecewaan yang aku alami untuk berdampingan dengan sosoknya, tidak pernah aku menyerah untuk melihat dirinya sebagai figur ayah yang membimbing, memimpin, dan melindungi. Walau kenyataannya tidak seperti itu, tapi aku selalu melihat dirinya se-kokoh itu. Karena akhirnya, aku dipertemukan kembali dengan figur ayah yang telah lama hilang meninggalkan aku belasan tahun yang lalu. Cercaan dan hinaan yang aku lalui pada masa pertumbuhanku pun aku ambil sebagai bibit pengembangan mentalitasku untuk menjadi lebih kuat dan tegar. Walau semua membekas dan membentuk aku menjadi pribadi yang tidak pernah merasa aman, tapi berulang kali aku terjatuh dan terbangun kembali untuk mengampuninya, memakluminya, menerimanya, dan tidak pernah menyerah untuk melihat sosok yang kokoh dibalik keberadaannya disampingku.

Tapi adalah sebuah kesalahan memandangnya sebagai figur ayah yang kokoh. Itu semua hanyalah imajinasi yang tidak akan pernah menjadi kenyataan. Karena figur ayah tersebut sudah hancur bersamaan dengan satu demi satu kata-kata pahit yang dia lontarkan.

Dan aku dibuangnya begitu saja..

Pertengkaran terjadi hanya karena perbincangan diskusi sederhana. Namun aku yang keras ini, bersikeras untuk mempertahankan pendapatku di hadapannya, dengan sopan, dengan baik-baik diselingi oleh candaan sederhana. Tapi tanpa melihat adanya potensi badai melanda perbincangan kami, dia mengatakan sesuatu yang sangat menyakitkan hatiku, yang sejujurnya dengan melihat kata-katanya saja, hal tersebut tidak perlu diucapkan. Dan sakit hatiku kemudian membawa aku kepada kata-kata keterbukaan dengan menyinggung dirinya bahwa aku sakit hati dia berkata demikian.

Tapi dia hanyalah dia yang gengsinya terlalu tinggi, yang tidak pernah bisa menghargai perasaan seorang wanita, tidak bisa menerima aku yang sudah mandiri dapat dengan bebas melontarkan pendapatku pribadi.

Dan kemudian, kata demi kata yang lebih tidak pantas lagi di keluarkan oleh dirinya yang tidak lagi aku kenal. Hinaan demi hinaan, dan kemudian dia membuat satu statement tersebut, bahwa aku bukan lagi anaknya, dan aku tidak perlu lagi bertemu dengan dirinya, dan mengancam hendak membakar semua barang aku yang ada di rumahnya. Dan semudah itu dia membuang barang-barang kesayangannya yang sudah usang, semudah itu juga dia membuang anaknya.

Sehari setelahnya, aku menemukan fakta bahwa dia telah menghapus aku dari semua media komunikasi miliknya.

Aku jadi bingung.. Aku ini punya pacar atau punya ayah?

Dan tentu saja aku sangat terpukul, berjam-jam tak henti melihat serpihan dari hatiku hancur tak henti, mengalir bersamaan dengan air mataku yang kunjung mengucur. Kecewa, terluka, marah, sedih, takut, semua bercampur menjadi satu.

Aku melihat hancurnya hatiku sebagaimana ia telah hancur setahun yang lalu dengan seseorang yang aku sangat cintai meninggalkan aku dengan kata-kata pahitnya yang tak kunjung aku lupakan hingga detik ini.

Bekas luka dan memar mungkin bisa hilang seiring berjalannya waktu. Namun bekas ingatan pedih yang melukai hati tidak akan pernah bisa hilang hingga jiwa dan raga ini berhenti berada pada tempatnya sekarang.

Kata-kata yang melukai itu tidak akan pernah tidak terngiang.

Mereka akan membawa perjalanan hatiku pada sebuah pengalaman traumatis yang panjang.

Dan kemudian aku memang berteriak pada Tuhan. Bertanya dengan pedih, mengapa Tuhan tega membiarkan aku merasakan perasaan ini lagi. Bukan hanya hati yang terbelah patah, namun hati yang sudah hancur berkeping-keping, kemudian kepingan itu hancur menjadi kepingan-kepingan yang lebih kecil lagi.

Semua bermula dari bagaimana ayahku yang aku kira sudah menjadi lebih dewasa, memutuskan untuk kembali menikah lagi tanpa sepengetahuan aku beberapa bulan lalu, yang kemudian pada akhirnya aku ketahui dari orang lain yang tidak mempunyai hubungan keluarga dengan aku. Dan sejak itu semuanya terasa lebih gelap, hari-hariku diisi dengan perasaan kesepian yang menguasai hati ini, disertai dengan takut. Aku semakin uring-uringan dari hari ke hari.

Tapi aku tidak pernah jera untuk berharap kepadanya, berharap dia bisa memenuhi harapanku untuk menjadi sosok ayah yang kokoh.

Salah aku berharap, kemudian aku dibanting sendiri dengan harapan palsu yang aku bangun sendiri.

Secara manusiawi aku begitu begitu begitu malu memiliki ayah seperti dia. Ayah yang tidak pernah menghargai perasaan seorang wanita, ayah yang tidak pernah tidak memikirkan dirinya sendiri, ayah yang selalu menyalahkan semua orang yang di sekitarnya akan segala konsekuensi yang harus dia tanggung. Seolah hati ini berkata dalam keterpurukannya, bahwa lebih baik aku tidak pernah mengenal ayahku sendiri daripada pada ujungnya aku harus bergulat dengan argumen hati ini mengenai peperangan aku mencari dan mempercayai seorang pria di luar sana. Aku tidak memiliki teladan yang dapat kupegang, yang dapat kutiru, dan yang dapat kubanggakan.

Dan seringkali aku putus asa melihat masa laluku, dan kemudian mengalihkan pandanganku ke cermin yang merefleksikan diriku, “akankah aku bertemu seorang pria yang tidak seperti ayahku, akankah aku dapat memberikan seluruh kepercayaanku kepada seorang pria?”.

Dan sampai detik ini, atau entah sampai detik entah kapan Tuhan sudah cukup menghukum aku, ayahku tidak merasakan bahwa dia melakukan satu pun kesalahan. Hatinya sudah sekeras itu, sekeras batu. Atau mungkin dia sudah tidak memiliki hati lagi.

Melupakan? Aku tidak akan pernah bisa. Mengampuni? Walau tidak bisa, tapi aku harus.

Mungkin suatu hari nanti…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s