Tentang Iman..

Aku belajar perihal Iman.

Aku kira, menjadi seorang penganut agamaku yang taat sudah menjadikan aku seseorang yang beriman. Tapi aku melihat bahwa sebenarnya menjadi seorang yang beriman itu tidak hanya di nilai dari seberapa taat kita terhadap perintah Tuhan.

Aku sudah bertemu dengan banyak orang dari berbagai macam kalangan yang dari luar terlihat begitu taat dengan Tuhan, tapi jika menyangkut masalah hidup dan mati, masa sekarang dan masa depan, iman mereka disandarkan kepada asumsi dan pengertian mereka pribadi.

Beberapa tahun masa pertumbuhan aku menjadi seorang wanita dewasa, aku dihadapkan dengan banyaknya pilihan untuk menjadi kuatir akan gagalnya rencana-rencana yang sudah aku susun sedemikian rupa. Ketika aku mendengar beberapa nasihat orang-orang bijak untuk jangan kuatir dan tetaplah percaya bahwa ada “Higher Force” pegang keberhasilan seseorang, aku tidak sungguh-sungguh tahu bagaimana caranya untuk menjadi tenang dan percaya bahwa jika sesuatu memang sudah disiapkan oleh Tuhan untuk terjadi, maka terjadilah. Aku pegang kendali akan pikiran dan otakku otomatis memetak-metakkan beberapa alternatif rencana lain jika rencana yang sudah aku susun dengan begitu sempurna nya tidak ditakdirkan untuk terjadi.

Begitupula dengan pasangan hidup. Aku selalu meyakinkan diriku bahwa jika aku sudah memilih seseorang untuk menjadi pasangan hidupku, maka dia akan menjadi yang terbaik untuk hidupku.

Dua – tiga tahun yang lalu aku masih berada pada titik dimana aku yang mempunyai pandangan begitu ketat mengenai hal kerohanian, ternyata memiliki iman yang sangat lemah. Putusnya aku dari kekasihku tiga tahun yang lalu membuatku berpikir, jika bukan dia pribadi yang akan menjadi pasangan hidupku, maka orang lain tidak ada lagi yang bisa. Proses penerimaan putusnya hubungan kami membawaku pada keputus-asaan, berpikir bahwa jika aku menjalin hubungan lagi, akan menghabiskan waktu yang sangat, sangat, sangat panjang sebelum hubungan tersebut berakhir pada sebuah pernikahan.

Aku terburu-buru ingin segera mendapatkan pengganti yang tepat.

Menargetkan satu tahun untuk move on, satu tahun mendapatkan pengganti, dan tiga tahun untuk kemudian memulai kehidupan “dua menjadi satu”.

Tapi Tuhan tidak ijinkan itu terjadi. Ketika aku dipertemukan dengan satu, dua, tiga, dan beberapa pria lainnya yang aku kira akan menjadi “calon” pasangan hidupku, harapanku dipupuskanNya dengan segala macam fakta-fakta pahit mengenai masing-masing mereka. Hingga akhirnya aku berkata: “tidak ada satu pun dari mereka yang akan menjadi siapa-siapa aku”. Lalu aku mengutuk diriku sendiri, seraya berkata: “mungkin selamanya aku ditakdirkan untuk hidup sendiri”.

Tapi Tuhan tidak pernah menyerah. Dia selalu menunjukan bahwa Tuhan akan memberkati aku dengan tujuan akhir hidupku: memiliki keluarga yang harmonis, bersama dengan suami, dan anak-anakku, sebagaimana aku tidak pernah mendapatkannya sepanjang hidupku. Tuhan selalu mengingatkan aku bahwa berkat datangnya dari Dia, seberapa keraspun aku mengutuk diriku sendiri, tapi jika Tuhan berkenan untuk memberkati, maka Dia akan mematahkan segala kutuk.

Usiaku 29 tahun, dan aku anak satu-satunya dari keluarga kecilku yang hilang 25 tahun yang lalu. Banyak anggota dari keluarga besarku sangat menanti masa aku melepas masa lajangku. Pertanyaan pun datang dari kiri dan kananku, mulai dari bertanya yang paling sopan, hingga menghina melalui kata-kata yang paling buruk, kapan aku menjadi seorang Nyonya. Sebelum imanku diteguhkan, aku akan merubah kata-kata dari lingkunganku menjadi sebuah tekanan yang membuatku untuk berfokus mencari seorang kekasih daripada mencari seorang sahabat untuk hidup. Masa-masa kesendirianku menjadi sebuah momen yang Tuhan berikan untuk membentuk imanku. Imanku tidak dibangun dari gereja-gereja besar yang aku datangi, bukan dari hamba-hamba Tuhan yang Tuhan pertemukan, bukan juga dari pengalaman-pengalaman baik maupun buruk yang aku alami. Imanku dibangun dari masa-masa dimana Tuhan sendiri yang datang ke hadapanku, menjadikan masa-masa kesendirian dan hari-hari kesepianku waktu untuk aku mengerti, bahwa berdamai dengan diri sendiri merupakan hubungan terbaik di dunia dibandingkan dengan hubungan antar sesama manusia. Dari situ aku dapat berangkat untuk memberikan kehidupanku untuk orang lain.

Jadi, jika seseorang begitu pedulinya memperhatikan kehidupan masa lajangku, dengan damai hatiku berkata: “jika Tuhan mau mempertemukan aku dengan dia, tidak ada satu orang pun di dunia yang dapat menghalanginya”. Aku berhenti kuatir mengenai bertambahnya umurku, dan fakta bahwa belum ada satu orang pun yang aku lihat untuk hidup masa depanku bersamanya. Aku berhenti memutuskan siapa yang akan menjadi suamiku, aku memulai berharap dan berdoa untuk Tuhan yang bawa aku ke satu demi satu tempat dimana aku kemudian akan bertemu dengan “the one and only”.

Jadi.. Jika aku bisa rangkaikan sederetan daftar mengenai terobosan iman yang aku alami selama satu – dua tahun terakhir, aku melihat beberapa poin yang aku sadar mengalami perubahan …

  • Jodoh. Tuhan tidak menurunkan jodoh dari langit. Tapi Dia akan mengarahkan aku pada jalan dimana tujuan akhirnya adalah pertemuan aku dengan pria dari Tuhan di depan altar.
  • Hidup dan mati. Aku tidak lagi takut mati karena Tuhan yang pegang waktu, Dia juga yang akan pegang kapan aku masih harus tinggal di dunia, dan kapan aku harus pulang.
  • Karir. Aku menerima kabar yang kurang baik mengenai karirku di pekerjaan yang sekarang. Ketika pertama aku tergabung di sini, aku berspekulasi akan ketidak-aman-an status karirku. Tapi aku belajar bahwa jika Tuhan sudah membawaku sampai pada titik ini, Tuhan  juga yang akan membukakan jalanNya untuk tetap membawaku berada pada posisi yang baik untuk hidupku.
  • Kegiatan sehari-hari. Aku terbentuk menjadi seseorang yang perfeksionis. Tidak ada yang bisa luput dari mataku mengenai “kesempurnaan”. Tapi aku hidup di dunia yang tidak sempurna. Karena prinsip kesempurnaan yang aku pegang teguh ini menjadikan aku seseorang yang sangat ter-rencana, aku membenci segala yang menyangkut hal-hal yang tidak direncanakan. Melalui beberapa kegagalan akan rencana-rencana yang sudah ada di benakku, aku dapat berdamai dengan diri sendiri dan berkata: “mungkin bukan itu yang Tuhan mau”. Kemudian aku menjalankan hidupku kembali tanpa memikirkan rencana-rencana yang gagal kemarin.
  • Meyakini bahwa semua yang terjadi di dunia ini bukan sebuah “kebetulan”. Akan ada campur tangan dari “kekuatan yang lebih tinggi” yang mengontrol kehidupan keseharian kita, walaupun kita diberikan kebebasan untuk memilih olehNya. Jika keputusan salah kita buat, menjadikan kita belajar bahwa manusia adalah makhluk penuh kesalahan, maka dari itu kita tidak dibentuk untuk menjadi sombong. Jika keputusan benar kita buat, menjadikan kita mengerti bahwa keputusan yang kita buat tersebut merupakan salah satu bagian dari rencana besarnya Tuhan.

Dan melalu iman, aku belajar untuk lebih mendengarkan suara hati, yang aku tahu di dalamnya terdapat suara Tuhan, untuk membimbingku menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Aku tidak lagi terburu-buru untuk melakukan sesuatu, karena aku ingin dunia melihat perbuatanku merupakan cerminan isi hatiku (imanku).

Pemulihan datang dari penerimaan akan suatu kondisi atau kejadian, penerimaan di dapat dari kemenangan akan pertempuran batiniah mengenai benar dan salah. Hidup bukan didasari dari yang baik dan yang jahat, melainkan dari apa yang benar dan salah.

Kalau bukan Tuhan yang mengisi hatimu, bagaimana kamu akan hidup?

“What good is it if faith with no deeds?” – James 2:14-26

Advertisements

Author: Irene A.K.A Irin

I am just an ordinary girl who lives in the extraordinary world.. I'm not used with the talking thingy, so I'd prefer to write all my thoughts and my feelings.. I dream a lot, I imagine a lot.. I love to sing, I love to dance, and I love to smile.. It's not a perfect world, but imagination has brought me to enjoy the perfect world.. Know me well from my writings, not my talking.. I speak through fingers, not mouth.. And the most important thing is, the truth that I am my Big Daddy's daughter.. "I am broken and lost, but by God's grace, I have found"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s