Untuk cinta yang tak pernah tinggal

Aku belajar cara mencintai yang sesungguhnya melalui caranya mencintai orang lain. Tapi tidak satu pun ruang di hatinya tersedia untuk aku tinggal. Mungkin aku pernah singgah, satu atau dua kali. Tapi aku tidak pernah beristirahat dalam kehangatan hatinya, berlindung dalam kuat gagah lengan kokohnya.

Satu, atau dua kali, atau tiga, dan empat, kemudian lima, dan enam, hingga tak terhitung lagi, aku memberikannya kesempatan jika ia membuka mata hatinya untuk seorang aku. Tapi kesempatan tersebut selalu dilewatkannya dan aku dibekali perasaan kecewa yang tidak pernah berakhir. Namun cinta selalu menemukan cara untuk memulihkan kekecewaan tersebut dan selalu memberinya kesempatan. 

Seringkali dia datang dengan senyum manisnya, membawa perasaannya untuk wanita lain. Aku terbuai dengan cerita-cerita kebahagiaannya. Dan ketika dia tersakiti, aku ada untuk menghapus air matanya, menghangatkan kembali hatinya yang dingin karena pedihnya di patahkan cinta. 

Aku tahu rasanya.. 

Aku tidak pernah menyerah menghiburnya. Aku tidak pernah menyerah mendengarkan kisah kasihnya yang penuh drama. Aku tidak pernah menyerah mendukungnya. 

Hingga suatu kali, perasaan ini sudah terlampau beku. Yang aku tahu aku hadir untuk menjadi bagian dalam hidupnya. Namun bukan untuk menjadi penopang hidupnya.

Banyak detik dalam hidupku hari ini, aku mempertanyakan arti cinta dalam hidupku. Arti masa depan cinta dalam hidupku. Nasib kisah kasih aku. Memandangnya, mendengarkannya, membuatku kembali percaya akan cinta. Percaya akan cinta pun pasti hadir untuk aku suatu hari nanti. Melalui mata hati ini aku semakin dikenalkan dan didekatkan akan arti cinta sesungguhnya, oleh dirinya yang tidak pernah pergi dari hidupku.

Aku tidak mau menyerah walaupun aku sudah menyerah. 

Satu kali aku terjatuh dan menyerah, seribu kali aku akan bangkit dan melanjutkan perjalanan percayaku.

Tuhan masih menganugerahiku kekuatan untuk percaya akan cinta. Bahwa yang aku dapat lakukan hanyalah menanti. Aku tidak diberikanNya kesempatan untuk memilih.

Aku dipoles oleh Tuhan melalui kesempatan untuk mendengar dan melihat cerita cinta di sekelilingku. Supaya aku belajar lebih dalam dan lebih dalam lagi, hingga pada inti pusat terdalam mengenai arti cinta yang sesungguhnya.

Bermeditasi di pegunungan

Batu, Malang. July 2016. Ketika aku diberikan kesempatan untuk dapat berkunjung ke kota kecil di belahan timur pulau Jawa, ternyata menjadi momen dimana aku menemukan suatu pembelajaran berharga.

Aku menghabiskan waktuku di sebuah vila yang dibangun dari kayu, bertingkat, dan menghadap ke hamparan pegunungan Bromo, Tengger, dan Semeru. Aku tidak memerlukan musikku ketika aku sedang membaca buku di beranda vila. Aku tidak perlu menyalakan radio ketika aku sedang beraktifitas di dalam vila, entah mencuci piring, memasak, atau membersihkan sudut-sudut yang kotor. Kicauan burung di pagi hari, dan nyanyian jangkrik di malam hari sudah cukup untuk menjadi hiburan telingaku sepanjang hari. Terutama ketika suara jatuhnya air dari air terjun kecil buatan kompleks vila tersebut menghantam dasar kolam. Aku tidak membutuhkan yang lain lagi selain ribuan detik kuhabiskan untuk berdiam di dalam vila tersebut seraya dihempas oleh angin sejuk dan menyegarkan kota Batu.

Aku berangkat ketika hatiku sedang ada dalam posisi yang sangat lemah untuk menghadapi begitu banyak masalah yang mengelilingi kehidupan keseharianku. Dua hari sebelum keberangkatanku, aku jatuh sakit kembali, yang mengharuskan aku tidak dapat beraktifitas berat apa pun untuk sementara waktu dulu. Aku harus istirahat total jika aku ingin kembali menjadi aku yang aktif dan ceria, yang tanpa kenal rasa lelah. Tapi aku sudah tidak berlari selama tiga minggu sehabis aku keluar dari rumah sakit, dan aku masih harus beristirahat lagi untuk satu atau dua minggu ke depan. And it broke my heart. Karena tujuan aku berlari adalah untuk melampiaskan begitu banyak kemarahan terpendam, masalah-masalah yang tak dapat di selesaikan, dan emosi-emosi yang tak dapat terungkapkan. Tapi aku tidak dapat melakukannya. And it broke my heart.

Tapi aku bersyukur aku memaksakan diri untuk berangkat ke Malang, dan pergi ke Batu.

Aku ber-refleksi dalam keheningan alam, tentang hidup, tentang apa yang menjadi pusat kemarahanku dan bagaimana aku bersusah-payah memendamnya sehingga itu menjadi bom waktu dalam diriku. Ternyata, ada begitu banyak hal yang membuat aku kesal, marah, dan kecewa. Bagaimana aku suka dan tidak suka diperlakukan demikian. Bagamana hal-hal yang aku tidak suka tersebut lama kelamaan menjadi kekesalan terpendamku dan kemarahanku. Awal mulanya api itu tersulut menjadi cahaya kecil, dan kemudian dia berkembang menjadi api besar yang mampu menghanguskan jati diriku dari dalam. Melalui waktu yang Tuhan berikan melalui kesendirianku di 1,000 meter above sea level, aku mendapatkan 10 hal sederhana tentang hidup..

1. Untuk tidak mengacungkan jariku kepada orang lain, karena aku tidak suka diacungkan jari oleh orang lain (nunjuk depan muka) : kesopanan.

2. Untuk tidak pernah datang terlambat dalam sebuah acara / kalau janjian dengan orang lain, karena aku tidak suka orang lain datang terlambat dari waktu yang telah dijanjikan. Aku memilih untuk datang lebih cepat daripada terlambat : menghargai.

3. Untuk selalu berhati-hati mengucapkan kata-kata, baik itu hanya candaan belaka, karena kata-kata yang keluar dari mulutmu adalah doamu dan aku tahu rasanya dihina melalui candaan-candaan tidak bermutu : say NO to verbal bullying.

4. Untuk selalu berinisiatif menawarkan bantuan ketika seseorang membutuhkannya walau mereka tidak memintanya, karena aku tahu rasanya ketika aku meminta bantuan namun tidak seorang pun mau menolong : simpati.

5. Untuk selalu menahan diri untuk berbicara ketika aku melihat di depanku ada seseorang yang sedang berbicara tak henti. Di situ aku mengerti bahwa mereka sedang membutuhkan seseorang yang pasif untuk menjadi pendengar, karena aku tahu rasanya ketika aku membutuhkan seseorang untuk menjadi pendengar, mereka hadir menjadi pembicara dalam sesiku : pendengar yang baik.

6. Untuk selalu menempatkan aku di posisi seseorang, karena aku tahu rasanya tidak dimengerti : empati.

7. Untuk tidak pernah menyepelekan atau meremehkan siapa pun terhadap hal sekecil apa pun, karena aku tahu rasanya diremehkan dan dianggap tidak mampu melakukan apa pun : menghormati.

8. Untuk tidak pernah menghakimi seseorang dalam kondisi apa pun, karena aku tahu rasanya dihakimi tanpa dia tahu dan mengerti cerita di balik sebuah kejadian : pengertian.

9. Untuk selalu bersabar dan memilih tidak membela diri atas hal-hal sepele yang tidak perlu dipermasalahkan, karena aku tahu rasanya dimaki-maki atas ketidaksabaran seseorang, dan aku memilih untuk tidak menjadi seperti mereka : kesabaran.

10. Untuk memilih berdiam diri, karena sudah terlalu banyak orang egois dan arogan di luar sana, dan dunia lebih membutuhkan satu orang saja untuk suatu perubahan besar daripada 1,000 orang egois dan arogan : kerendahan hati.

In conclusion: aku belajar bahwa jika kita ingin dihargai, maka kita harus menghargai terlebih dahulu. Jika kita ingin diperlakukan sebagaimana kita berharap diperlakukan, kita harus melakukannya terlebih dahulu sebelum berharap orang lain melakukannya terhadap kita.

Setiap perbuatan kita merupakan hasil sebuah pilihan. Keputusan yang diambil untuk menjadi orang baik dan menyebarkan energi positif, atau menjadi orang tidak baik dan menyebarkan energi negatif, akan menjadi cerminan masa depan hidup kita, mau seperti apa dunia memandang kita ketika kita sudah tiada.

Aku sering mendengar kata-kata: “pencapaian terbesar dalam hidup manusia bukan dari sebanyak apa seseorang mendapatkan sekian banyak penghargaan atau kemenangan dalam pertandingan-pertandingan yang diikuti, melainkan bagaimana dunia mengenangmu ketika kamu sudah tiada. Apakah hanya sekedar nama, atau segala sesuatu yang pernah kamu lakukan terhadap orang lain?”.

Aku sering mendapatkan perlakuan tidak adil dari banyak orang di sekitarku. Tapi aku tidak menjadikannya sebagai sebuah senjata untuk membalas perlakuan tidak adil tersebut kepada orang lain. Ya, mungkin aku terlampau sensitif. Mungkin aku terlampau emosional. Tapi juga bukan berarti orang lain boleh memanfaatkannya. Yang pasti, yang aku tahu, aku tetap harus berbuat baik walaupun orang lain tidak berbuat baik kepadaku.

And the biggest challenge is when you need to be extremely strong to survive that. All I could do is just pray for God to give me extra strengths.