General

bahagia dalam kesendirian

Hari itu aku berpikir keras. Mengenai arti bahagia yang sesungguhnya. Yang kata orang bahagia adalah sebuah keputusan, sebuah pilihan. Yang menurut orang menjadi kaya akan materi adalah cara untuk menikmati hidup. Yang pandangan orang dengan dikenal dan dikerumuni banyak orang adalah tanda bahwa kita merupakan orang yang berbahagia. Itu kata dunia, dan kita berusaha sekeras mungkin untuk menjadi serupa dengan apa kata dunia. Mencari kebahagiaan.

Pertempuran sesungguhnya bukan ada di luar sana, mengenai apa kata orang di sisi kiri, dan apa kata orang di sisi kanan. Pertempuran sesungguhnya ada di dalam sini, ketika kita berhadapan dengan cermin dan kita menatap diri kita sendiri, seraya bertanya: “mirror, mirror on the wall, who is the happiest person in the world?”. Dan dia menjawabmu: “bukan kamu”. Bukan saya.

Jadi aku dipusingkan untuk mencari cara keluar dari peperangan batin. Mencari cara untuk menang. Namun tidak ada jawaban dibalik sebuah pertanyaan: “aku harus apa agar aku bahagia?”.

Suatu malam ketika aku sendiri di kamarku, aku merenungkan keputusanku. Bahwa dunia kita masa kini sebenarnya ada pada batas genggaman tangan. Dan melaluinya manusia mudah diperdaya, mudah dipengaruhi. Perkenalan menjadi pertemanan, dan pertemanan menjadi persabatan oleh karena si mungil berlayar biru yang kita selalu ada di sisi kita. Selalu di sisi kita. Dari kita bangun tidur, beraktifitas, dan hingga kita terlelap kembali dalam dekapan gelapnya malam. Sedangkan kehidupan nyata yang sebenarnya sedang berlangsung ada di depan cermin sejauh kita dapat berdiri dan menyentuhnya.

Aku tahu bahwa aku sedang sendirian. Hari demi hari. Malam demi malam. Tidak ada persahabatan lain yang aku miliki selain dari pada apa yang melalui genggamanku itu. Aku merasa terisolasi dan sangat sendiri. Dan aku begitu terfokusnya pada kehidupan fana sehingga perlahan-lahan dia merusak dan mempengaruhi fokusku pada kehidupanku. Pada hatiku. Pada pikiranku. Aku akan selalu hidup menyesali diri dan merasa diri tidak berarti atau tidak berharga jika aku memutuskan bahwa kehidupanku di dasari dari apa kata orang lain.

Manusia akan selalu memandang sebuah pencapaian bukan sebuah pencapaian akhir, karena manusia tidak pernah merasa puas.

Hari Sabtu lalu aku terlibat dalam salah satu event besar di gerejaku yang menampilkan pertunjukan drama musikal tahunan. Aku hadir sebagai salah satu yang bernyanyi bersama dengan teman-teman choir ku. Begitu sibuknya aku sehingga aku tidak lagi memikirkan hal lain selain berlatih dan menampilkan yang terbaik untuk acara tersebut. Tanpa niatan tersembunyi, aku hanya ingin bernyanyi yang terbaik because musical drama is my greatest passion, and God has granted me my wish: to be able to sing in a musical drama in 2016! (dreams do come true, God hears prayers :))

Long story short, aku pulang dengan tubuh yang lelah karena kondisi kesehatanku sedang menurun, disertai batuk dengan rasa pengap di dada (asthma-ku kambuh ketika batuk). Tapi hatiku bahagia. Sangat berbahagia. Aku merasa hidup. Detik itu aku kembali menyadari bahwa memang selama aku hidup kebahagiaanku bersumber pada bernyanyi. Sedari dulu aku menekuni musik, memang ketika bernyanyilah sebenarnya aku menemukan kebahagiaanku.

Sepanjang akhir pekan aku merenungkan arti kebahagiaan yang aku rasakan seusai pertunjukan drama musikal tersebut. Ada hikmah yang dapat aku ambil dengan sakit seperti ini: aku belajar berdiam diri dan mendengarkan suara hatiku lebih lagi.

Ma pernah berkata padaku: gunakan kesempatan kamu yang menyendiri ini untuk mendengarkan suara Tuhan lebih lagi. Suara Tuhan yang bergema menjadi suara hatiku.

Adalah suatu berkat untuk aku bahwa aku tumbuh menjadi pribadi yang overly sensitive, karena melaluinya aku dapat benar-benar mendengarkan suara Tuhan di tengah kesibukan dan hiruk pikuk keramaian sekitarku.

Setiap kali aku merasa kesepian, aku merenungkan kata-kata Ma untuk menghirup nafas sedalam-dalamnya dan berkata: “Tuhan, apa yang mau Kau aku dengarkan ketika kondisi emosionalku sedang menurun? Berbicaralah, aku siap mendengarkan.”

Dan aku menemukan kedamaian satu demi satu dari begitu banyaknya pikiran dan benang kusut dalam batinku.

Ketika kedamaian menyelimuti batinku, aku dapat merasakan arti bahagia yang sempat hilang selama beberapa bulan terakhir. Senyum dan candaan bukanlah arti kebahagiaan seseorang. Kebahagiaan sesungguhnya ada dan dapat di rasakan dari dalam hati, dan bukan pada apa yang terlihat.

Aku mendapatkan arti sendirian: nonton sendirian, doing groceries sendirian, jalan-jalan sendirian, makan atau ngafe sendirian; menjadi satu waktu dan kesempatan dimana setiap dari kita embrace ourselves. Banyak orang masa kini yang hingga setengah abad usia dijalani tidak mengetahui apa tujuan hidupnya. Tidak tahu apa arti hidup yang sebenarnya. “Ya dijalani saja, yang penting gue hidup untuk hari ini”, yes that’s true. Tapi apa sebenarnya tujuan kamu ada di dunia ini? Apa tujuan kamu diciptakan dan ditempatkan di tempat kamu berada detik ini? And many wouldn’t have answers for that. Neither have I. Tapi seperempat (lebih dikit :p) abad hidupku kini, dan aku tidak mau hidup dikenal hanya sebagai seorang “Irin”. Aku mau hidup jadi inspirasi untuk orang lain.Walau aku ada di dunia ini sebagai seseorang yang “tersembunyi”, kebaikanku dan segala pencapaianku bukanlah untuk dipertontonkan, namun untuk dirasakan dan dialami mereka-mereka yang specifically need those kind of supports.

Mungkin ketika beberapa orang membaca post ini, beberapa dari kalian akan berpikir: “bagaimana dengan kesempatan untuk mencari atau mendapatkan pasangan jika kamu terlalu banyak menghabiskan waktu sendirian, terutama jika kamu sudah terlalu nyaman dan bahagia di dalam kesendirianmu?”. I do think of that as well. But again, when I release my worries about how am I going to meet my mate, God gave me peace and talk through my heart, bahwa Tuhan yang akan tunjuk jalannya kemana aku akan bertemu dengan siapa pun dia. I guess I just need to stick to that kind of faith, bahwa Tuhan saja mendengar doa sederhanaku setahun yang lalu ketika aku berkata dari kursi penonton: “Tuhan, tahun depan aku mau ikut terlibat, bernyanyi, dalam drama musikal JPCC”. Dia kabulkan doa yang hanya sekali saja aku lantunkan sepanjang tahun. Apalagi ketika aku memohon berkali-kali pasangan hidup yang terbaik dariNya.

But most of all, before I build a peaceful relationship with someone else, I have to make peace with myself first.

Lately, aku sedang mempelajari “the introvert” inside of me by reading Quiet and watching to few TED talks about The Introverts. Yang hanya segelintir orang mengerti aku yang sebenarnya: bagaimana secara emosionalku bagaikan rollercoaster yang naik turun dengan cepat, bagaimana aku bereaksi terhadap beberapa kejadian, bagaimana pola pikiranku, bagaimana karakter aku ketika aku sedang dalam beberapa stages of life. Dan seringkali aku berpikir bahwa aku dilupakan orang. Seringkali aku berpikir bahwa aku tidak dianggap oleh orang. Ada masa dimana aku merasa begitu terpuruk, kelelahan mencoba memanggil mereka untuk memandangku. Tapi aku sadar, the introvert inside of me will always feel exhausted, karena itu bukan siapa aku.

Seharusnya aku merasa cukup dengan apa yang aku kerjakan dalam kegelapan, dan menyadari bahwa jika hanya Tuhan yang melihatnya, seharusnya sudah lebih cukup. Karena di situ lah aku merasakan kedamaian, kebahagiaan: ketika aku sendiri.

Aku mendengarkan kebutuhanku (bukan apa mauku) ketika aku sendiri, duduk terdiam dan biarkan the little girl inside of me talking to her Father in heaven. Ada satu, dan dua, dan tiga, dan lebih banyak lagi hal-hal luar biasa yang tidak pernah ada sebelumnya, ada, ketika aku belajar berdiam diri. Dan hal-hal baru tersebut membuat hatiku berbahagia. Membuat hatiku menjadi tenang.

The Introverts make success when they are alone – inti sari dari satu/dua bagian pada buku Quiet – karena disana mereka menemukan ideas that are never exist in the first place. Introverts make success when they accept who they are, and embrace themselves in silence.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s