Blessings in Disguise · Journey of Love · Life Lesson

tentang aku pencari cinta.

Ketika semua orang sibuk untuk menyusun resolusi tahun 2017, aku sibuk merenungkan 2016 yang telah kulewati. Mengenai perubahan apa saja yang di dalam hidupku setahun kebelakang, mengenai apa saja yang aku pelajari sepanjang tahun, mengenai bagaimana aku pribadi bertumbuh (dan pertumbuhan apa yang aku alami), maupun mengenai berkat Tuhan.

Berbicara mengenai berkat. Aku jadi teringat ketika di penghujung tahun 2015 aku mendapatkan beberapa pertanyaan dari teman-teman sekitarku: “apakah resolusimu termasuk mendapatkan pacar?”. Jujur saja, tidak terlintas satu detik pun bahwa di tahun 2016 ini aku HARUS punya pacar. Mungkin saat itu aku sedang berada pada titik paling nyaman dan aman sejauh yang bisa aku ingat. Walau jika aku mengingat kembali ke belakang, banyak cerita “kesepian” yang aku punya sepanjang dua tahun terakhir. Jadi ketika aku dihujani pertanyaan demikian, aku menjawab: “bukan memiliki pacar yang menjadi resolusi tahun 2016-ku, melainkan bertemu dengan seseorang yang akan merubah hidupku ke depan”.

Dan ya, tentu saja aku bertemu dengan beberapa pribadi yang mengubah hari-hariku to be something magical.

Perubahan yang dimaksud bisa berbentuk macam-macam, bukan? Mungkin dia akan menjadi calon pacarku, mungkin dia adalah seorang sahabat yang akan merubah cara pandang mengenai kehidupan ke depanku.

Dan pertanyaan tentu saja tidak berhenti sampai situ saja. “Kenapa tidak minta pacar?”, tanya mereka satu persatu dengan lain waktu (lucunya..).

Bukan berarti aku tidak pernah minta pada Tuhan. Tapi permintaanku tidak semerta-merta minta pasangan. Aku tahu bertemu dengan pasangan hidup itu bukan seperti kita sedang memilih buah di supermarket (alpukat contohnya, yang di luar tampak sempurna, dalamnya ternyata sudah hampir busuk dan tempat sampah menjadi tujuan berikutnya – maaf, saya pecinta alpukat :p). Yang aku mohon pada Tuhan adalah bimbinganNya pada jalan yang bertujuan akhir bertemu dengan si “dia” yang misterius. Mengapa misterius? Karena aku tidak tahu sosok macam bagaimana yang aku perlukan untuk menjadi seorang suamiku nanti.

Pada satu waktu Tuhan berbicara dalam hatiku, bahwa tahun 2016 ini akan menjadi tahun perubahan bagi kehidupan cintaku. Aku berasumsi saja bahwa MUNGKIN Tuhan akan mempertemukan aku dengan si calon di tahun 2016 ini.

Tapi tentunya hingga detik ini aku belum menemukannya. Dan tidak. Aku tidak kecewa. Aku mengerti sekarang apa kata Tuhan setahun yang lalu ketika aku berdoa di malam pergantian tahun.

Hari Minggu lalu ketika aku beribadah di kebaktian pertama JPCC (yang pertama kalinya aku hadiri kebaktian pertama sebagai jemaat), aku bertanya kepada Tuhan mengenai apa yang harus kurencanakan di tahun 2017 seraya melihat pengumuman lisan di layar depanku mengenai jadwal ibadah Natal JPCC. Di situ aku merasakan seolah berhadapan dengan Tuhan, memberikan ide-ide yang kurangkumkan sebagai jawaban Dia mengenai doa yang kulantunkan setahun yang lalu.

Perjalanan 2016-ku ini bukan mengenai menemukan seseorang untuk dijadikan pasangan hidupku. Perjalananku setahun ini mengenai aku menemukan diriku sendiri yang mengerti apa kebutuhan pribadiku akan seorang pendamping. Aku bersyukur dengan memiliki teman-teman dekat yang sudah menikah di usia muda mereka, sehingga aku bisa belajar banyak hal mengenai kehidupan pernikahan sebelum aku terjun ke dalamnya. Aku belajar bahwa kita harus benar-benar tahu apa tujuan kita menikah bukan sekedar dua menjadi satu. Marriage is scary if we are not prepared to get into it. Sedangkan aku sendiri masih belum mengetahui apa yang sebenarnya aku butuhkan untuk mencari seorang pasangan hidup. Apakah pria tampan? Apakah pria mapan? Apakah pria dewasa? Apakah pria cerdas? Masing-masing memiliki kategori ketampanan, kemapanan, kedewasaan, dan kecerdasan tersendiri. Apakah kita harus sama? Atau apakah kita harus berbeda? Aku tidak punya jawabannya terhadap diriku sendiri. Jika aku ditanyakan oleh teman-temanku akan tipe pria yang aku cari, terus terang saja aku tidak bisa memberikan jawaban yang jelas. “Aku perlu dia cerdas secara intelektual”. Yeah.. Macam bagaimana? Aku pun kesulitan memberikan jawaban “cerdas intelektual” itu seperti apa.

Tapi melalui pertemuanku dengan beberapa sahabat baru setahun ini, melalui pembelajaran yang Tuhan ijinkan aku jalani, aku mengerti mengenai diriku sendiri lebih lagi dan bagaimana aku bisa mencari seseorang yang sepadan denganku.

“Cancer loves having deep and meaningful conversations with their best friends”.

Entah bagaimana itu dimulai, aku mulai mempelajari lebih dalam lagi mengenai karakter manusia. The 16 personalities, the introverts and extroverts, Riso-Hudson Enneagram personalities, dan kemudian iseng-iseng googling mengenai siapa itu Cancer dalam zodiac. Bukan berarti aku percaya ramalan zodiac yang ada, aku hanya tertarik bagaimana setiap zodiac menjelaskan karakter setiap individu, dan bagaimana karakter-karakter yang dituliskan dalam zodiac bisa dihubungkan dengan karakter yang ilmu psikologi paparkan.

“I am starving for deep, rich, authentic, stimulating, intellectual, and spiritual conversations”.

Aku menemukan diriku begitu nyamannya dan aku menjadi AKU ketika berada di dalam pertemuan kelompok kecil, saling membicarakan hal-hal yang berarti dalam hidup. Pembahasan yang begitu dalamnya dimana aku bisa belajar dari mereka, dan aku pun bisa belajar dari diriku sendiri ketika aku berucap kata-kata positif menyikapi perbincangan kami. Ya, pembicaraan tersebut bisa menjadi sangat serius, dan emosional, tapi aku bisa berbincang berjam-jam tanpa bosan atau lelah. Dan seperti demikianlah seseorang yang aku cari, yang dapat memuaskan kebutuhanku untuk terus belajar melalui perbincangan akan arti dan tujuan hidup.

Tidak aneh jika aku berharap untuk dekat dan bersahabat dengan seseorang yang dimana aku paling sering menghabiskan waktu bersamanya.

Aku belajar beberapa sahabat di sekitarku sekarang bagaimana mereka dengan pasangan mereka adalah dua pribadi yang sangat bertolak belakang, namun tidaklah mustahil untuk memiliki hubungan pernikahan yang kasih tidak kunjung padam ditunjukkan. Aku bersyukur Tuhan SELALU menempatkan aku di lingkungan orang-orang yang sudah berkeluarga karena melaluinya aku bisa belajar lebih jauh lagi mengenai kehidupan pernikahan selayaknya. Aku tidak pernah mendapatkannya dari keluargaku sendiri. Ya aku tahu itu salah satu “kecacatan” dalam hidupku, tapi aku melihatnya sebagai cara Tuhan merubah masa depan keluargaku. Aku memilih untuk mencari pasangan hidup dengan perlahan agar aku mendapatkan yang terbaik dari Tuhan melalui pembelajaran-pembelajaran yang aku dapatkan tahun demi tahun aku dipertemukan dengan sahabat-sahabat baru yang sudah menikah. It enriches my knowledge.

Bukannya tidak ada pria yang aku temui setahun ini. Tapi saking banyaknya aku bertemu dengan mereka, aku semakin mengerti karakter pria pada umumnya sehingga memudahkanku untuk memilah-milah lebih lagi untuk dijadikan pasangan hidup. Ketika aku muda dan tidak tahu apa-apa, Tuhan memberikanku kemudahan menemukan cinta. Tapi aku sadar bahwa Tuhan mempertemukanku dengan mereka untuk aku belajar melalui kegagalan dan pahitnya patah hati. Belajar mencintai seseorang dengan sepenuh hati, belajar memahami cinta yang dalam, belajar mengenai diriku sendiri bahwa jika aku mencinta, aku membungkusnya dengan komitmen, maka dari itu tidak sembarang orang boleh dengan mudah menyentuhnya karena hati ini terlalu berharga.

Aku belajar, sangat banyak mengenai cinta tahun 2016 ini. Terlalu banyak dan berlimpah. Dan itu anugerah bagiku. Berkat dan kebaikan apa lagi yang bisa aku dapatkan dariNya? Melirik setahun lalu, aku tidak bisa berkata banyak mengenai pria macam bagaimana yang aku cari, pada detik ini aku dapat berkata pria macam bagaimana yang aku cari dalam kehidupanku.

Usiaku kini 29 tahun. Dan 2017 nanti usiaku menginjak 30. Tapi aku belajar mengenai diriku sendiri, bahwa aku tidak takut. Aku hanya tahu aku ingin menunggu Tuhan, waktunya Tuhan. Bukannya aku tidak menemukan cinta. Tapi Tuhan masih memutar jamNya. Aku dan dia, masih Tuhan olah untuk menjadi sempurna bagi satu sama lain. Dan Tuhan masih punya rencana untuk mengasah kita berdua hingga akhirnya Tuhan bilang: “it is time”. It is time, and all is well..

Aku masih tidak tahu resolusi cintaku di tahun 2017. Tapi yang pasti, aku tahu bahwa itu harus dari Tuhan. Karena jika Tuhan yang memberi, pasti indah pada akhirnya.

“For everything there is a season. A time to every purpose under the heaven. And He hath made everything beautiful in His time” – Ecclesiastes 3 (KJV)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s