About Me · IN · Life Lesson

And that’s okay, that’s okay..

7:30 PM. Aku tiba di lokasi tepat pada jam dimana acara hendak dimulai. Malam itu adalah malam perayaan JPCC Worship Christmas Celebration, dimana semua pelayan panggung berkumpul untuk merayakan Natal bersama. Diawali dengan acara makan-makan prasmanan yang terpampang di lobby depan ruangan acara, aku tiba satu jam setelah rekan-rekan sepelayanan menyantap makanan yang telah disediakan oleh para panitia. Begitu aku menapakkan kakiku pada anak tangga terakhir di lobby ruangan acara, aku terkejut. Begitu banyak orang duduk “melantai” di seputaran dinding ruangan lobby, sehingga aku pun kesulitan untuk berjalan melewati mereka untuk menghampiri meja makanan, mencari sesuatu yang bisa kusantap (unfortunately it had finished :p)

Kebingungan aku harus bagaimana, naluriku berbicara untuk mencari sudut tersepi. Tapi tidak ada sudut tanpa manusia yang sedang berbincang dengan tawa. Segera aku mencari pertolongan pertama dengan berkumpul dengan kawanan Choir satu suaraku (Alto). Aku mendapati diriku kepanikan.

Dengan canggung aku menepuk satu-satu bahu mereka sambil menyapa sederhana sebuah kata “hi”, dan aku duduk berdampingan di sudut barisan mereka duduk.

Masih dengan canggung, aku menggenggam Sean (btw, Sean is the name of my phone :p) dan mengalihkan perasaan canggungku kepadanya. Kemudian aku berpikir, haruskah selalu seperti ini? Haruskah aku selalu merasa canggung jika aku berada pada satu grup besar, seperti yang kualami malam itu, 150 – 200 orang berada pada satu ruangan? Haruskah aku merasakan kepanikan akan apa yang aku buat jika aku berada pada kumpulan banyak orang, kuatir mereka akan menghakimi gerak-gerikku yang aneh?

Aku tidak belajar untuk menjadi percaya diri malam itu. Aku belajar untuk menerima diriku. Aku belajar membongkar dinding yang ada di sekitarku.

“Hey. I am an introvert, and that’s okay. That’s okay if I feel awkward or uncomfortable being around that bunch of strangers or new people. That’s okay, that’s okay, Irene. Because I am more comfortable being around myself or couples best friends, and that is not my weakness. That is my strength, because I am an introvert. That’s what introverts do at best”.

Kemudian aku meletakkan Sean ke dalam tas punggungku, dan berusaha menjadikan diriku sebagai penyimak diantara kumpulan 20 orang teman-teman Choirku. Tidak apa jika aku tidak bisa mengikuti pembicaraan mereka, aku berada di sana untuk menjadi pendengar, dan seharusnya itu sudah cukup.

Sudah cukup karena yang aku perlukan adalah merasa nyaman dengan diriku sendiri,

Sudah cukup karena yang aku perlukan adalah merasa aman dengan diriku sendiri,

Sudah cukup karena yang aku perlukan adalah menjadi diriku sendiri,

Aku adalah aku dengan duniaku sendiri, dan tidak ada yang salah dengannya.

Aku hanya perlu menerima diriku sendiri yang mudah canggung dan kebingungan berada dalam kumpulan besar agar aku merasa nyaman dan aman dalam dunianya orang lain.

And that’s okay. That’s okay..

Kemudian pada akhir acara, aku menemukan diriku merasa lebih nyaman dan aman membawa diriku pulang menuruni 10 lantai tangga. Kakiku bagaikan menari kegirangan, jantungku berdegup gempita, dan hatiku ceria, tanpa rasa takut jika aku berhadapan dengan kebanyakan mereka yang extrovert.

Tapi terlebih dari semuanya, I am blessed to be the part of the team 🙂

whatsapp-image-2016-12-21-at-9-31-57-am

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s