Blessings in Disguise · IN · Life Lesson

The Christmas Eve

Tengah malam. Aku diberikan kesempatan untuk melihat kumpulan orang-orang dari atas. Atas panggung. Memandang satu per satu jemaat yang hadir malam itu. Ya. Aku berdiri di atas panggung sebagai bagian dari salah satu penyanyi paduan suara masa aku di Bandung dahulu.

Malam Natal.

Dan ibadah malam Natal di gerejaku di Bandung selalu dilaksanakan pada jam 23.00 malam, dan berakhir setelah hari berganti tanggal.

Karena aku mempunyai kesempatan demikian, aku jadi mulai memandang satu per satu jemaat yang terduduk dengan manis menunggu ibadah di mulai. Wajah mereka terlihat ceria. Masih terlihat segar. Sudah banyak orang yang tiba 60 hingga 45 menit sebelum ibadah di mulai, berharap kursi yang mereka akan duduki mendapat titik terbaik untuk dapat menikmati acara.

Kemudian aku mulai tersenyum pada satu per satu orang yang datang dan duduk pada kursi yang telah mereka pilih. “Ah, sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan mereka”, pikirku. Sudah lama sekali bahkan aku tidak berdiri dari atas panggung untuk menjadi pelayan penyanyi di gereja ini.

Ketika si pemimpin paduan suara menawarkan untuk ikut terlibat dalam acara malam Natal, awalnya aku menerima tawarannya karena memang aku akan pulang ke kampung halamanku Bandung menjelang Natal. Tapi menjelang hari, aku sempat membatalkannya karena tidak sempatnya aku mengikuti detik-detik latihan terakhir mereka. Singkat cerita, satu per satu bertemu denganku dan memintaku untuk ikut terlibat, dan aku kembali pada rencana awalku untuk terlibat.

Kesempatan ini membuat aku untuk terpaksa menulis. “Terpaksa”, maksudku. Karena dari penglihatan dan pengalamanku dari depan panggung ini memberikan aku kesempatan untuk merenungkan banyak hal dan menyumbangkan begitu banyak ide akan kata-kata yang harus dilimpahkan melalui tulisan ini.

1. Hatiku tersenyum kecil ketika melihat beberapa orang di kursi jemaat mulai tertidur sambil bernyanyi. Aku juga mengantuk, jam 23.00 sudah jauh melewati batas jam tidurku biasanya. Tapi berada di depan panggung memaksa aku untuk tetap terjaga. Pemandangan ini membuatku berpikir bagaimana mereka membuat diri mereka untuk hadir di kebaktian malam Natal tengah malam walau mereka tahu kantuk akan mengetuk dan mengunjungi mereka. Tapi tidak menghalangi mereka hadir karena mereka tahu siapa yang akan mereka temui. Mereka tahu “ulang tahun” siapa yang akan mereka rayakan. Mereka ingin menjadi yang pertama untuk mengucapkan: Happy Birthday, Jesus. Aku juga 🙂

2. Ketika aku berada di depan panggung, pikiranku tidak luput dari tujuan aku memberanikan diriku bernyanyi tanpa dilengkapi dengan latihan yang rutin. Saat aku ditawarkan untuk terlibat dalam acara malam Natal tersebut, tentu saja aku memikirkannya berulang kali karena aku tahu bahwa aku tidak dapat berkomitmen untuk datang ke Bandung dan mengikuti jadwal latihan yang sudah ditentukan. Tapi ketika aku memegang partitur dan bernyanyi mengikuti alunan lembut piano di samping kananku. Aku hampir lupa bahwa aku mencintai musik lebih dari aku mencintai lari atau olahraga lainnya. Dan aku bersyukur aku dapat menjadi bagian dari grup nyanyi mana pun: JPCC Choir, Cantate Domino, atau yang lainnya. Pertemuanku dengan Tuhan adalah melalui musik dan nyanyian.

3. Seorang calon pendeta muda berdiri dari barisan kursi paling depan. Dengan mic headset yang melekat pada sisi sebelah kanan wajahnya, dia mulai berdialog. “Setiap Natal aku selalu merayakannya dengan baju baru, kue-kue lezat, hiasan Natal yang indah. Begitu manis rasanya di hati. Tapi mengapa rasanya ada yang kurang?”. Seorang pendeta yang lebih senior menghampirinya, dan menepuk bahunya: “Bro, Natal bukan hanya sekedar kemewahan seperti yang kau jabarkan”. Melalui dua pendeta yang berdialog pesan Natal disampaikan. Sederhana saja. Bahwa Tuhan hadir di tempat yang begitu sederhana, tapi yang teristimewa adalah bahwa Tuhan hadir di dalam hati kita. Dia rela menjadikan diriNya begitu sederhana, supaya kita menjadi kaya di dalam Dia: kaya akan perasaan damai, kaya akan perasaan sukacita, kaya akan sebuah harapan, kaya akan perasaan kasih kita terhadap orang-orang sekeliling kita.

Berbicara mengenai damai, dan sukacita. Sudah berapa tahun ya aku tidak merasakan kedamaian dan sukacita di hari Natal. Tapi mengingat begitu banyak berkat dan perubahan dalam hidupku setahun kebelakang, aku begitu bersyukur di tahun 2016 ini akhirnya aku terlahir kembali menjadi pribadi yang baru – bersambung di tulisanku menjelang tahun baru ya? 🙂 . Perayaan kelahiran Tuhan di tahun ini adalah wujud bahwa aku telah lahir kembali: the peace, the joy, the hope, the love.

Walau aku terbentuk dari begitu banyaknya pikiran-pikiran yang seringkali memaksaku untuk jatuh dan berduka, tapi kehadiran Tuhan lebih nyata dari semua masalah yang aku hadapi, yang kamu hadapi, Readers..

1:30am, I went back home, driving by myself and thinking: just simple thoughts when I was on stage that night. But so much peace I received, so much joy I felt 🙂

Merry Christmas, everyone.. May this Christmas brings you peace and joy just as I experienced..

PS: picture of moments during stage trial

fullsizerender-1

And with the ladies 😀

img_9883

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s