Mengenai aku dan sebuah perpisahan

Ketika kita diberikan kesempatan untuk bertemu dan mengenal seseorang, dan menjadikannya bagian dari hidup kita, kita juga harus mempersiapkan diri kita untuk kehilangan dia. Sama seperti ketika aku belajar bahwa jika kita mencintai seseorang, kita juga membuka diri kita kesempatan untuk terluka.

Belakangan ini aku di kelilingi oleh beberapa orang di sekitarku yang kehilangan orang-orang yang mereka kasihi. Maksudku “kehilangan” adalah mereka dipanggil pulang oleh Yang Maha Kuasa. Dan dua hari yang lalu aku mendapat kabar bahwa salah satu sahabatku kehilangan keluarga terdekatnya. Kebingungan harus menyampaikan kata duka semacam apa untuk melegakan hatinya (walaupun aku tahu dia dan keluarganya pasti dikuasai oleh suasana duka), aku mengungkapkannya dengan “terlibat” dalam beberapa aktifitas urus-mengurus acara pemakaman melalui pertanyaan-pertanyaan sederhana “sedang apa sekarang?” atau “bagaimana rencana selanjutnya?”.

Ketika aku dihadapkan oleh sebuah ungkapan “tidak ada yang abadi di dunia ini”, aku mengacu pada bagaimana semua pertemuan pada akhirnya akan tiba pada perhentian terakhir di “sebuah perpisahan”. Hanya ironis saja jika kita sebagai manusia yang “memisahkan” sebuah pertemuan yang tidak boleh dipisahkan sebelum Tuhan berkata: “aku panggil salah satu ya?”. Itu sudah berbicara mengenai hal lain lagi tentunya, yang tidak akan aku bahas dalam tulisanku kali ini.

Pada usiaku menginjak usia dewasa muda, aku menemukan diriku tidak merespon baik pada sebuah perpisahan. Aku ingat aku tidak pernah kesulitan melontarkan kata-kata yang membangun jika seseorang datang padaku dan meminta saran akan beberapa pendapat yang mereka lontarkan padaku. Tapi ketika seseorang datang dengan tangis, berduka, aku menemukan diriku membisu karena aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Karena bahasa kasihku adalah “quality time”, jadi yang bisa aku berikan kepadanya hanyalah keberadaanku di sisinya walau tidak bersirat banyak kata. Sama hal nya dengan perpisahan. Aku akan menemukan diriku bagaikan tersesat, kebingungan tidak tahu harus bersedih atau berbahagia karena seseorang yang berpisah dariku berada di tempat yang lebih baik (entah dia pulang ke rumah Bapa di surga atau pun berpindah tempat). Jadi aku menemukan satu bahasa “diam”, untuk mengungkapkan kebingungan hatiku.

Mungkin karena itu kedukaanku tidak akan kuungkapkan dari bagaimana aku bersikap. Aku akan tetap menjadi aku dari luar, namun di balik layar panggung dunia, aku akan mendapati diriku mencari sudut tersepi dan merenungi memori-memori yang aku pernah punya dengan seseorang yang dimana aku kehilangannya.

Aku jadi teringat ketika GranMa Tuhan panggil pulang. Aku tidak menangis. Aku tidak menunjukkan kesedihanku seperti bagaimana Ma menunjukkannya. Aku ingat, aku hanya berdiri terpaku, diam seribu bahasa.

Tapi aku tidak pernah lupa bagaimana GranMa menghembuskan nafasnya yang terakhir di depan mataku, dipeluk Ma, di kamarnya di sudut rumahku di Bandung. Mulai dari detik-detik ketika aku pertama mengenal siapa dia, menghabiskan ratusan juta menit bersama dia, dan detik-detik akhir hidupnya – kenangan akan dirinya selalu melekat dalam hatiku.

Bahkan mungkin banyak orang akan memandangku tidak kehilangan GranMa, atau tidak sedih ketika dia sudah tidak ada, karena sebenarnya kami terlalu banyak bersitegang karena perbedaan sudut pandang yang terlalu jauh karena dipisahkan oleh umur. Tapi pada kenyataannya adalah aku tidak pernah melupakannya hingga detik ini. Setiap sudut rumah, setiap barang-barang kesayangan GranMa, di benakku selalu tersirat: “it’s her favourite” atau “it’s her corner”.

I don’t know how to behave, because I’m just not good with farewells.

Berusaha menunjukkan pada dunia bahwa aku kuat tanpa siapa-siapa – “I’m okay”.

But I’m just not good with farewells.

Begitu pula ketika aku kehilangan teman-teman terdekatku. Seperti yang aku pernah tulis di beberapa post sebelumnya bahwa ketika aku memutuskan untuk mencintai seseorang (as lover, or as best friends, or as friends), aku akan memberikan sepenuh hatiku untuknya. Jadi perpisahan tentunya akan menghancurkan hatiku. Sebagian duniaku akan kuberikan padanya, akan kuajak dia, mereka, untuk mengenal seperti apa duniaku. Aku belajar bahwa mencintai seseorang itu merupakan sebuah keputusan. Aku memutuskan mencintai dia sebagai kekasihku, aku memutuskan mencintai mereka sebagai sahabat-sahabatku, aku memutuskan mencintai mereka sebagai teman-teman baikku.

But because I’m not good with farewells …

… ketika satu per satu “mengkhianati” keputusanku pada masa mudaku, duniaku pun dibawanya oleh mereka. Dan perlahan lampu pijarku redup. Aku pikir, lebih baik aku sendiri karena melalui kesendirian tidak ada rasa sakit yang akan aku rasakan dari sebuah perpisahan. Jadi ketika aku beranjak dewasa, aku belajar menikmati diriku dengan kesendirian. Aku belajar mengatasi kesepianku dan terlena olehnya.

Tapi itu berarti aku menyangkal kenyataan bahwa people come and go..

Aku harus belajar menerima bahwa perpisahan adalah bagian dari hidup kita, dan tidak ada seorang pun yang benar-benar tinggal – melainkan mereka yang tinggal, akan tinggal di hati kita.

Seiring berjalannya waktu, aku melihat bahwa seseorang akan selalu hadir dan pergi dalam hidup kita. Ketika seseorang hilang dari lembaran cerita buku hidup kita, Tuhan kirimkan seseorang lain yang akan memiliki arti lain dalam hidup kita. Dan ketika seseorang dikirimkan dalam hidup kita, kita sendiri bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baru lagi hari demi hari melalui interaksi kita dengannya, dengan mereka yang baru hadir.

My brother once said when I asked him “why do people leave so soon?”: “waktunya dalam hidupmu hanya sampai pada batas waktu dimana dia harus pergi dari hidupmu”. And he’s right.

Ada kawan yang hadir dalam hidup kita hanya untuk menambah daftar kenalan dalam hidup kita. Ada juga kawan yang hadir dalam hidup kita untuk kita lebih mengenal diri kita sendiri, dan Tuhan punya tujuan mengapa kita saling dipertemukan, dipersatukan dalam satu ikatan persahabatan. Mereka hadir bagaikan cermin yang dimana ketika kita melihat mereka kita akan melihat dan menyadari kekurangan kita – so we can grow more, dan kelebihan kita – bring us to our best.

Jadi aku belajar untuk lebih menghargai sebuah perpisahan daripada sebuah pertemuan. Karena kita semakin mengerti seberapa penting seseorang untuk kita ketika dia sudah tidak ada di sisi kita.

I’m not good with farewells, because that means “changes”.

Dibalik sebuah pertemuan ada rasa takut bergema dalam hatiku jika suatu hari aku berpisah dengannya dan hatiku akan merasa sangat kehilangan, aku tidak tahu bagaimana aku bisa mengungkapkan kehilangan tersebut. Dan ungkapan terpendam tersebut akan hadir dalam hatiku sebagai bentuk ketidaknyamanan jika mengunjungi sudut-sudut kenangan antara aku dan siapa pun dia.

Because I’m just not good with farewells, moving on will be a very long journey.

Aku melihat diriku dari bagaimana aku mengatasi diriku dari perpisahanku dengan kekasih-kekasihku terdahulu. Perjalanan yang sangat panjang dan lama. Tapi pada akhirnya memang Sang Waktu itu sendiri yang akan memberikan kita kesempatan untuk pulih. “Time heals”, it indeed is. Jadi jika aku harus dikuasai oleh perasaan sedih oleh karena perpisahan, aku harus belajar menanti bahwa hanya waktulah yang akan memulihkan.

But that’s okay, because there is a time for everything – my most favorite Bible verse “Ecclesiastes 3”.

And I learned when people get into my life, I must treasured every moments with them – treasure them when they are around. Because we never know when will they leave.

Setidaknya sudah ada banyak – dan bukan hanya satu atau dua – kisah dan kenangan yang melekat di satu ruang lubuk batinku, tempat bagi mereka yang berarti bagi kehidupanku.

Jadi jika aku membisu, jangan kuatir ya? Karena diam merupakan salah satu bahasa aku, untuk mengungkapkan yang tak terungkap: perpisahan.

Because I’m just not good with farewells..

Advertisements

Author: Irene A.K.A Irin

I am just an ordinary girl who lives in the extraordinary world.. I'm not used with the talking thingy, so I'd prefer to write all my thoughts and my feelings.. I dream a lot, I imagine a lot.. I love to sing, I love to dance, and I love to smile.. It's not a perfect world, but imagination has brought me to enjoy the perfect world.. Know me well from my writings, not my talking.. I speak through fingers, not mouth.. And the most important thing is, the truth that I am my Big Daddy's daughter.. "I am broken and lost, but by God's grace, I have found"

2 thoughts on “Mengenai aku dan sebuah perpisahan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s