hanya sebuah literatur sederhana.

Jumat pagi, sehabis hujan.

Pagi ini matahari tersipu malu, bersembunyi di balik kerumunan awan tebal. Semalam hujan. Aku sempat terbangun sekilas dari tidurku yang lelap untuk menyambut hujan deras yang memeluk kota Jakarta. Suara dentuman air yang jatuh ke tanah menenangkan hatiku yang sempat gelisah karena mimpi buruk mengunjungi malamku. Dengan mata tertutup namun telah tersadar dari dunia awang-awang, aku tersenyum. Dan terlelap kembali dalam hitungan detik.

Aku tinggal di seputaran pusat kota, daerah teriuh sepanjang lima hari dalam satu minggu. Kota ini tidak pernah tertidur. Selalu kudengarkan nyanyian sirene kendaraan bermotor dari kejauhan, walau dunia di dalamnya telah tertidur. Disini lah kami semua bertemu, dalam keramaian kota metropolitan yang tidak pernah tertidur. Disinilah kami semua saling mengenal, ditengah-tengah kesibukan dan kericuhan orang lain yang tidak kami pedulikan. Karena kami hanya peduli, kami, satu sama lain.

Ketika kegelapan telah usai, cahaya meliputi pandanganku, aku menapakkan kakiku keluar. Tanah terasa begitu lembut, harum udara menyegarkan jiwa, oleh karena air telah membasahi bumi semalam. Aku mencintainya, mencintai air. Semua beban tersapu oleh derasnya aliran air yang menyapu tubuhku setiap kali aku berhadapan dengannya. Hatiku aman dalam sentuhan dinginnya pada permukaan kulitku.

Satu, dua langkah, dan seribu langkah selanjutnya aku berjalan maju. Tidak ada lagi hari kemarin yang kusesali. Tidak ada lagi hari kemarin yang menjadi bayanganku. Jika benar jalanku, ‘kan kudapati diriku tiba di tujuan yang seharusnya. Jika salah jalanku, Tuhan akan belokkan langkahku di depan, sehingga tidak lagi aku tersasar dan hilang arah. Seraya aku berkhayal, kudapati diriku sudah berada dalam perjalanan menuju tempat pertemuan aku dengan beberapa teman melalui secangkir kopi dan sepiring roti bakar.

Aku mengambil keputusan yang tepat dengan menyelimuti tubuhku dengan balutan jaket untuk membuatnya hangat. Jumat pagi yang dingin, tapi hatiku terasa hangat, aku menyapa sekelompok pohon yang berjajar rapih untuk menyambutku, diucapkannya selamat pagi kepadaku dengan gesekkan antara dedaunan yang diterpa angin. Aku tersenyum menatap langit. “Putih”, pikirku, dan bukan biru. Teduh. Suci. Dan tulus. Begitu pula hati ini ketika mencintai. Jika aku bisa memberikan hidup ini, ‘kan kuberikan seluruhnya untuk mencintai.

Karena kaulah seluruh duniaku..

Dan jika kita bertemu lagi, akan kupastikan kau mengerti betapa berharga dan berartinya dirimu bagiku.

Dan perasaan itu teryakini lebih dalam lagi ketika aku mengetuk pintu sebuah kafe kecil di sudut pintu masuk lapangan olahraga. “Krincing”, aku tidak menyadari ada sebuah bel kecil berwarna kecil tergantung pada gagang pintu kayu berbingkaikan kaca. Terdiam sejenak menanti sang bunyi ditelan waktu, aku melangkah lebih dalam, ke pusat hatiku dimana terletak rahasia terbesar dalam hidup. Bagaikan anak kecil aku tersenyum bahagia, aku terpana akan kehindahan ruangan dimana aku memasuki keberadaanku. Terpaku aku dibuatnya, seluruh cahaya, setiap sudut, segala asesori yang menghiasi dinding putih yang menjadi dasar warna ruangan itu.

“Selamat pagi”, seseorang menyapaku dari balik meja besar yang menutupi satu bagian ruangan. Dari balik kasir dia mendorong tubuhnya untuk memandangku. “Silahkan, bisa langsung pesan di sini”. Dengan polosnya aku menjawab niat dan usaha baiknya: “Sebentar ya? Aku jatuh cinta”, sambil aku mengeluarkan telefon genggamku dan mengambil gambar ruangan tersebut guna mengingatnya seumur hidupku.

Jika kita jatuh cinta, jangan lupakan cinta. Peluk dan hargai cinta bagaikan dia tidak akan pernah hadir kembali dalam hidupmu. Jangan lupakan perasaannya, dan letakkan dia di tempat yang paling berharga, karena sesuatu yang berharga itu indah. Dan cinta itu indah. Sebagaimana aku melihat keindahan dunia ketika aku mencintaimu. Semustahil apa pun cinta, yang penting dia indah. Karena kau indah.

“Mau duduk dimana?”, seusai aku memilih menu yang akan kusantap. Ah. Bukan menu. Hanya secangkir kopi untuk memulai hariku. Tidak tahu sudut mana yang hendak aku pilih, pandanganku terlempar kesana kemari untuk memberikan keputusan. “Sudut sana”, tunjukku. Sudut. Aku selalu duduk di sudut. Aku selalu berdiam di sudut sebuah ruangan. Tidak bisakah aku berada di tempat semua orang dapat dengan mudah melihatku pada satu lemparan pandangan? Sudut. Perlindunganku ada di sebuah sudut satu ruangan. Aku malu. Aku pemalu. Alangkah baiknya jika aku tidak menjadi pusat perhatian. Tapi ketika aku menjadi pusat perhatian, aku pun tidak menolaknya. Jadi apa sebenarnya aku ini?

Beberapa menit kemudian satu per satu tiba. Menit demi menit, jam demi jam, tidak ada satu pun nafas kami sia-siakan dengan tidak tersenyum, dengan tidak tertawa. Tawa memudakan jiwa. Perbedaan yang kami miliki menyatukan kami. Ragam sifat, latar belakang, sikap yang menjadikan kami unik satu sama lain. Hingga tibalah kami pada penghujung pertemuan. Berpisah satu per satu dengan pelukan hangat senyum mereka yang terlihat bahagia, terlihat segar, bersiap untuk berperang dengan dunia nyata. Beberapa tinggal untuk suatu kebersamaan yang lebih panjang. Aku pun mengikuti jejak mereka yang pergi terlebih dahulu. Menapaki kembali tanah yang disiram air hujan semalam. Melompat dari satu langkah ke langkah lain untuk menghindari genangan air yang ditinggal oleh hujan semalam.

Dan di situlah aku memandangnya yang bersembunyi, tidak biasanya. Matahari, yang tersipu malu, atau matahari yang di sembunyikan oleh awan tebal? Yang jelas, terima kasih telah menerangkan pagi hari..

Mudah-mudahan ada sedikit hujan ringan jatuh kembali nanti sore. Agar kenangan akan rindu ini tersapu oleh angin, dan melalui hujan ditunjukkannya hati yang tulus, tulus mencintaimu..

Aku cinta suara hujan, seperti aku mencintai suaranya yang lembut dan menenangkan..

PS: cantik kan tempat ini? 🙂 #guebanget

img_0416

Advertisements

Author: Irene A.K.A Irin

I am just an ordinary girl who lives in the extraordinary world.. I'm not used with the talking thingy, so I'd prefer to write all my thoughts and my feelings.. I dream a lot, I imagine a lot.. I love to sing, I love to dance, and I love to smile.. It's not a perfect world, but imagination has brought me to enjoy the perfect world.. Know me well from my writings, not my talking.. I speak through fingers, not mouth.. And the most important thing is, the truth that I am my Big Daddy's daughter.. "I am broken and lost, but by God's grace, I have found"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s