Blessings in Disguise · IN · Journey of Love · Life Lesson

Pasangan hidup: Tuhan tidak pernah terlambat

Ketika aku dihadapkan dengan sebuah pilihan untuk menempatkan “cari pacar” di salah satu daftar resolusi tahun baru, aku bertanya kepada diriku sendiri: haruskah aku menaruhnya pada salah satu daftar “hal-hal yang harus dicapai di tahun 2017”?. Dan ketika aku melihat beberapa temanku yang mulai kuatir karena 2016 mereka dilalui tanpa menemukan pasangan hidup mereka, ada masa dimana aku sedikit terseret oleh perasaan mereka: panik dan terburu-buru. Tentu saja mencari jodoh jadi salah satu harapanku terbesarku dalam hidup, tetapi aku sadar bahwa mencari jodoh bukan tujuan hidup utamaku. Menemukannya adalah. Dan “menemukan” membutuhkan waktu.

Aku belajar jika aku mencari, berarti aku mengerahkan seluruh kekuatanku untuk mendapatkan apa yang aku inginkan,m. Sedangkan aku belajar bahwa bukan keinginanku semata saja jika aku berharap untuk memiliki seorang pendamping hidup. Apa yang aku butuhkan dalam hidup? Apa tujuan hidupku? Dan bagaimana seseorang yang akan menjadi pendampingku dapat membawaku ke titik dimana Tuhan mau aku berada. Jadi aku belajar untuk membiarkan Tuhan bawa perjalanan hidupku ke jalan dimana tujuan akhirnya adalah bertemu dengan “the one and only”.

It’s a long process hingga aku tiba di satu titik dimana aku memiliki sikap menahan diriku sendiri untuk mencari. Karena aku ingin Tuhan yang bawa jalanku.

“Aku berhenti mencari, dan seketika itu juga Tuhan memberikan yang terbaik, yang tidak pernah aku sangka aku akan dapatkan”, kutip seorang Martin Saba, pelatih Choir di gerejaku yang aku kagumi karena Ayahnya terdahulu adalah pelatihku yang dengan sabar dan setia melatih aku bernyanyi secara pribadi setiap kali aku dan Choir masa SMAku selesai latihan rutin.

Kami semua adalah saksi hidup dari kesaksian yang disampaikan oleh Kak Martin malam itu, mengenai perjalanannya bertemu dengan istrinya. Jauh sebelum Kak Martin bertemu dengan istrinya, hatinya sudah menetapkan diri untuk tunduk kepada suara Tuhan, walaupun pada awalnya dia merasa berada di jalan yang tidak seharusnya dia langkahi, salah satunya adalah: masuk sekolah hukum. Karena ketaatannya, dia tidak pernah menganggap segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya merupakan sebuah kesalahan. Kak Martin bercerita bahwa ada satu malam dimana Tuhan membangunkannya untuk bertemu dengan Tuhan, disanalah dia diperlihatkan mengenai masa depannya, masa depan kehidupan pernikahannya. DitunjukanNya lah juga kepada Kak Martin siapa wanita beruntung itu. DibimbingNya lah juga kepada Kak Martin proses hubungan yang terjadi diantara keduanya, sedari sang wanita masih mempunyai kekasih lain, hingga berakhir dalam sambutan uluran tangan Kak Martin. Dan demikianlah Kak Martin berkata: “aku berhenti mencari, karena Tuhan sudah siapkan yang terbaik untuk aku”. He was that secure..

Seraya aku duduk bersandar pada kursi ruangan, terkagum-kagum aku berpikir dalam hatiku ada kejadian seindah itu ketika Tuhan membimbing seseorang ketika dipertemukan oleh pasangan hidupnya. Dan bukan kali pertama aku mendengarnya, mungkin sudah puluhan kali aku mendengar kisah seperti demikian. Dan campur tangan Tuhan sedekat itu begitu nyata bagaikan cerita dongeng. “Aku ingin mempunyai kisah pertemuan cinta seindah itu, bukan hanya keajaiban cinta yang terjadi, melainkan keajaiban Tuhan”, ungkapku dalam hati.

“Untuk kalian yang masih sendiri, taat dan setia lah kemana Tuhan membawamu pergi”, ujar Kak Martin sebelum pertemuan kami ditutup dalam doa dan kami berpisah ke rumah masing-masing.

Ketika aku membayangkan akan seperti apa cintaku, terlintas dalam benakku bahwa mungkin kami yang memiliki perbedaan kesukaan dan sifat tidak akan bisa bersatu. Dan aku berakhir untuk menutup diriku akan segala kemungkinan yang ada, mencari seorang pribadi yang aku inginkan sebagaimana aku imajinasikan sedemikian sempurnanya. Duniaku sempurna, tapi aku tinggal di dalam dunia yang tidak sempurna. Tidak diketemukannya siapa dia yang aku pikir ada di sekitarku.

Aku mulai bertanya-tanya kepada diriku sendiri, dan bukan kepada Tuhan. “Siapa? Yang mana?”. Dan aku berakhir dalam kelelahan dan mulai menyerah akan cinta. Tapi Tuhan terlalu baik kepadaku, sehingga Dia tidak pernah menyerah mengingatkanku pada bagaimana cinta hadir oleh karena Tuhan yang mengijinkan itu terjadi.

Aku dipertemukan dengan begitu banyak teman yang sudah berkeluarga dengan kehidupan pernikahan yang aku idam-idamkan. Aku bersyukur karenanya Tuhan mengajarkan aku melalui mereka bagaimana kehidupan pernikahan yang seharusnya. Aku tidak dapat belajar dari kedua orang tuaku, karena mereka berpisah sejak aku masih sangat kecil. Tapi Tuhan sangat baik kepadaku sehingga ditempatkannya aku di komunitas yang begitu mendukung kekuranganku. Aku tidak pernah merasa tersesat walaupun ada kalanya aku merasa kosong. Aku menyaksikan bagaimana perbedaan disatukan. Bagaimana dua pribadi yang sangat berbeda pun dapat bersatu dan hidup berbahagia satu sama lain. Maka dari itu aku akan selalu berbahagia mendengarkan cerita cinta kehidupan pernikahan teman-temanku, belajar dari mereka, menjadi saksi hidup mereka.

Perbedaan lah yang menyatukan hati..

Maka aku belajar membuka hatiku akan perbedaan, akan kemungkinan persatuan dari sebuah perbedaan.

Minggu pertama di tahun 2017, aku di sambut “jawaban” dari sebuah pertanyaan semulaku: “HARUSKAH di 2017 ini aku mempunyai kekasih?”. Dan jika memang harus, dimana dan bagaimana aku mencarinya. Pertanyaan tersebut terjawab oleh beberapa kalimat sederhana dari kotbah yang aku dengarkan: “Jika Tuhan ingin kau naik pangkat, Tuhan bisa buat atasanmu melirik kemampuanmu dan mem-promosikan dirimu. Begitu pula jika Tuhan ingin kau bertemu dengan pendamping hidupmu, Tuhan yang akan buat seseorang yang tepat melirik karaktermu, bukan fisikmu, dan jatuh cinta pada keseluruhan dirimu. Karena Tuhan yang punya kuasa terhadap semua itu”.

Aku tidak tahu bagaimana caranya aku bisa tertidur hingga siang hari melewati jam makan siang, dan memaksaku untuk hadir ke ibadah terakhir di gereja yang jam ibadahnya hampir tidak pernah aku hadiri. Dan aku tahu kemudian bahwa Tuhan ingin berbicara mengenai sesuatu denganku melalui kotbah sore itu.

Sama seperti tahun 2016 awal ketika entah bagaimana aku diserang oleh perasaan kesepian yang begitu besar, begitu pula aku di awal tahun 2017 ini aku diberikan kembali perasaan kesepian tersebut. Caraku mengatasi kesepian ini tidak seburuk tahun lalu (walau masih ada sedikit perasaan kesepian yang berangsur berlanjut). Dan dari situ aku melihat diriku sendiri bahwa aku sudah lebih berdamai dengan diriku sendiri, menghargai sebuah kesendirian sebagai cara Tuhan untuk membentuk aku lebih lagi dengan segudang pikiran tak terungkap.

Jadi, jika seseorang bertanya kepadaku apakah aku punya resolusi mengenai pasangan hidup di tahun 2017, aku akan menjawab: tidak. Tidak bukan karena aku takut resolusi tersebut tidak akan tercapai, tetapi tidak karena aku ingin mendengarkan suara Tuhan dan mengikuti kemana Dia membimbing jalanku untuk aku tiba di tujuan akhir dimana aku akan bertemu dengan yang terbaik dari Tuhan. Dan aku tidak tahu kemana Tuhan akan bawa aku. Aku hanya ingin lebih taat lagi akan rencanaNya untuk aku di 2017. Jika tahun 2017 ini adalah tahun dimana aku masih harus dibentuk – dari banyak aspek yang masih menjadi kelemahan terbesar aku, atau tahun dimana aku masih harus menanti – untuk belajar menghargai waktu, atau tahun dimana aku harus belajar lebih lagi mengenai diriku sendiri – karena berpasangan bukan mengenai kita mempelajari orang lain melainkan belajar mengenai siapa diri kita ketika kita dipersatukan dengan pasangan kita, aku akan sabar menanti Tuhan berkata “it is time”.

“Karena Tuhan tidak pernah terlambat. Dia selalu tepat waktu” – Martin Saba

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s