Sebuah literatur tentang bintang di langit

Mungkin bintang diciptakan Tuhan sebagai tanda kehadiranmu yang tidak bisa kusentuh, karena kau bagaikan bintang yang jauh, dan menjauh dari angan bayangku..

—————————————————————

Suatu sore yang cerah, aku dalam perjalananku menuju suatu tempat dengan jarak yang tidak lebih dari 5 kilometer dari kantorku. Aku terjebak di tengah kemacetan kota. Berusaha untuk mengusir rasa bosan, aku menatap langit hanya untuk mendapatinya kosong. Warna biru yang dihasilkan darinya begitu jernih. “Jika aku memandang laut, birunya pasti tidak akan terlupakan”, ujarku dalam hati mengingat kerinduanku pada laut. Biru yang tak bersuara, biru yang tak bernada, biru yang tak berbentuk, membentang dari sudut satu pandanganku ke sudut yang lain. Aku meraba pandanganku terhadap langit, namun tak kudapati sosok apa pun dalam bayanganku. Aku sendiri sore ini, dan hanya ditemani oleh segores senyum kecil di wajahku yang kulihat dari sudut kaca spion kendaraan yang aku tumpangi.

Dalam perjalananku, aku mendapati diriku beristirahat. Damai.. Pikiranku kali ini tidak seramai biasanya, tidak sesibuk biasanya. Seperti laut tenang aku berlayar diatas ombaknya, seperti demikianlah pikiranku ketika aku di kelilingi oleh suara klakson kendaraan yang saling bersahutan. Seraya aku mendengarkan bisikan angin, memberi pengertian kepada hatiku yang bergegas untuk berlayar, aku melihat kilas balik ketika semuanya pertama dimulai.

Bukan berarti aku melupakannya.. Mungkin aku hanya beranjak dewasa.. Mengerti mengenai sesuatu yang seharusnya tidak aku miliki, harus aku lepaskan. Bukan mengenai kerelaan hati. Hanya saja, dia bukan milikku.

Aku belajar dari kisah kasihku yang terdahulu tentang bagaimana Tuhan memberikan kesempatan untuk mencintai jika pada akhirnya Tuhan tidak ijinkan untuk bersatu. Aku belajar bahwa melepaskan merupakan salah satu bentuk dalam mencintai. Tidak ada yang salah dengan patah hati karena harus melepaskan seseorang yang kita cintai.

Dalam kesunyian aku menelusuri setiap baris rak-rak yang tersusun rapih dalam sebuah toko kesukaanku: supermarket 😀 – berusaha mencari ide akan kreasi yang akan kukerjakan di dapur, terkagum akan warna-warna yang melekat erat pada lapisan buah dan sayur segar dalam lemari pendingin, terbuai akan ragam barang unik yang menanti untuk dipilih dan diraih, membuatku untuk terdiam sejenak memandang mereka dalam satu dan dua menit hanya untuk memutuskan: “will you be the one?”.

Ada saatnya aku memilih untuk mencintai. Ada saatnya juga cinta itu datang dalam rupa kejutan, tidak diundang, dan tidak dipillih.

Aku memang selalu kebingungan jika aku berbelanja di supermarket, karena terlalu banyak keputusan yang harus aku pertimbangkan.

Aku melangkahkan kakiku ke arah meja kasir seraya memeluk barang-barang yang sudah kupilih dan yang kemudian akan menjadi kreasiku di dapur. Seseorang menghampiriku dan berkata: “boleh saya bantu dengan membawa keranjang untuk anda, bu?”. Semakin erat aku memeluk barang-barang tersebut dan menjawabnya: “ah, terima kasih. Hanya ini saja kok yang aku perlukan saat ini”. Dengan senyum ramahnya dia berjalan mundur dengan sopan dan memberiku ruang untuk aku berjalan menyelesaikan tujuanku.

Jika suatu hari nanti kita bertemu kembali, wahai cinta, aku berjanji untuk tidak akan melepaskanmu lagi. Dan semoga kali ini Tuhan merestuinya..

Aku beranjak keluar, kembali berdiri pada naungan kubah langit yang kosong hendak melanjutkan kembali perjalananku dalam kesunyian di tengah kegelapan malam, menjadi saksi bisunya pepohonan yang hendak berbincang dengan angin. Hari sudah gelap. Langit yang biru telah memudar dan warna hitam telah menjadi warna yang dominan. Malam kembali mengancam rasa amanku. Terduduk kembali aku dalam perjalanan pulangku, tanpa bumi menghembuskan nafasnya. Hilangnya angin pada malam ini menggambarkan hilangnya dirimu dari hatiku ketika aku bersiap untuk berlayar dengan kapalku. Apalah arti kehadiranku jika dunia tanpamu, cinta?

Dalam perjalananku, aku menatap jauh ke atas langit, dan kutemukan satu-satunya yang memandangku dari kejauhan bagai satu titik putih di latar belakang sendunya hati ini yang kehilanganmu, kehilangan cinta: bintang di langit malam.

fullsizerender

Wahai bintang di langit.. Jangan lepaskan pandanganmu dariku.

Karena keberadaanmu pada malam itu, harapanku yang telah memudar kembali memiliki arti.

Advertisements

Author: Irene A.K.A Irin

I am just an ordinary girl who lives in the extraordinary world.. I'm not used with the talking thingy, so I'd prefer to write all my thoughts and my feelings.. I dream a lot, I imagine a lot.. I love to sing, I love to dance, and I love to smile.. It's not a perfect world, but imagination has brought me to enjoy the perfect world.. Know me well from my writings, not my talking.. I speak through fingers, not mouth.. And the most important thing is, the truth that I am my Big Daddy's daughter.. "I am broken and lost, but by God's grace, I have found"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s