IN · Journey of Love · Life Lesson

One slightest chance i never get

Satu kilas kesempatan, yang Tuhan tidak pernah berikan kepadaku.

Well. Bukan seperti itu tepatnya. Ada beberapa masa ketika aku berdoa dalam hati: “Tuhan, jika, jika saja, jika jalan kami satu, berikan aku kesempatan untuk bertemu dengannya hari ini”.

Ada beberapa ruang di hatiku yang isi nya adalah sebuah gelas kosong, yang akan di isi oleh beberapa orang pilihanku: yang aku pedulikan, yang aku cintai. Satu per satu di isi oleh air yang berbeda: keberadaan tanpa bincang, pertemuan singkat, suara yang menenangkan, perbincangan dunia maya di luar pertemuan fisik, dan rangkaian momen-momen berkualitas. Beberapa hari itu, gelas “momen berkualitas” aku kosong. Rindu yang tak terbendung. Menahan diri dengan membangun berbagai macam jenis tembok yang tidak bisa ditembus siapa pun. Mulutku terkatup rapat. Aku tak sanggup untuk mengungkapkan isi hatiku kepada sahabat-sahabatku. Aku pikir tak seorang pun mengerti aku, mengapa aku harus membuang energi lebih untuk aku membuat mereka mengerti aku? Aku berdoa kepada Sang Pemilik Waktu. Dalam sebuah persimpangan aku berdiri, untuk menggenggamnya, atau melepaskannya. Untuk memilikinya di suatu waktu di masa depan, atau untuk menjadikannya sejarah. Aku berdoa, memohon restu Tuhan untuk suatu kesempatan, jika memang Tuhan yang telah memberikanku kesempatan singkat tersebut benar-benar menganugerahiku kesempatan abadi. Aku berdoa pada jalan yang harus aku tempuh. Ah tidak. Bukan maksudku untuk mencobai Tuhan. Aku hanya membutuhkan sebuah kepastian jika memang aku dan dirinya Tuhan pertemukan untuk menjadi sesuatu.

Dan Tuhan kabulkan satu atau dua kali, ketika aku menyayat hatiku dengan segenggam kaca yang sudah pecah kupukul dengan emosi meluap-luap. Aku mengurungkan diriku untuk menoleh dari dirinya. Aku bertanya kepada Tuhan, arti dari pertemuan tak disengaja tersebut, apakah maksudNya adalah untuk tidak menyerah terhadapnya? Ataukah Tuhan terlalu baik kepadaku sehingga tak tega dilihatNya aku yang terluka dan menangis meringkuk bagaikan bayi?

Kuberikan diriku dan dirinya waktu untuk berproses. Lebih tepatnya, dia.

Satu minggu berlalu, mungkin Tuhan memang terlalu baik padaku. Pertemuan-pertemuan tidak disengaja yang membawa gelasku pada sebuah kepenuhan, mungkin bermaksud dari Tuhan untuk menghibur aku. Bukan berarti restu telah Dia turunkan atas kami.

Dan dalam kesunyian aku terus berpikir, mengolah arti demi arti akan pertemuan kami, akan hari demi hari kami yang begitu berarti untuk aku seolah aku dan dirinya merupakan dua jiwa yang terpisah sudah lama kala dan bertemu kembali di belahan dunia ini.

Aku tidak pernah lagi melihat diriku seperti aku melihat diriku sekarang di malam hari sejak tahunan yang lalu ketika hati ini hancur, hancur lebur berkeping-keping karena pintu rumah yang sudah terbuka hendak aku tutup kembali, dan kubuang saja kuncinya jika perlu, biar tak lagi seorang pun dapat memasuki rumahku. Sudah cukup, sudah cukup hati ini diremas oleh genggaman harapan untuk pada akhirnya mendarat di satu pelabuhan saja.

Sunyiku menjadi begitu melelahkan ketika suara tangis terdengar lebih keras daripada nafasku. Dan aku memilih untuk diam dalam kegelapan. Bukan untuk meratapi nasib sebagaimana aku meratapi nasibku dulu, melainkan untuk tidak membiarkan seorang pun mendengar rumitnya suara dalam kepala ini berbicara. Lebih baik mereka tidak melihatku, karena mereka tidak akan mengenalku ketika aku melepaskan topengku. Gelap telah menjadi sahabatku. Sunyi telah menjadi ruang aku berteduh.

Dan aku masih berdoa, masih memberinya kesempatan yang aku lontarkan kepada Tuhan. Ketika kesempatan itu lewat, aku merenungkan maksud Tuhan. Ada begitu banyak kesempatan kilat, tapi Tuhan tidak pernah memberikan satu sepersekian detik pun untuk aku bertemu dengannya lagi. Hanya dalam rangkaian hari dalam minggu itu saja mungkin Tuhan kasihan kepadaku dan memberikanku kesempatan terakhir, untuk aku mengucapkan selamat tinggal kepadanya.

Untuk melepaskannya..

Terus dan terus mencari arti hidup akan kesempatan yang Tuhan bisa berikan namun tidak Dia berikan. Mungkin perbedaan keyakinan kami yang tidak mungkin ada kesempatan untuk bisa bersatu, mungkin perbedaan waktu kami yang menempatkan kami selalu dalam posisi terjepit, mungkin aku tidak sebaik dirinya yang baik untukku. Ah. Selalu. Merasa diri rendah dan tidak berarti bagi pribadi yang baik macam dirinya.

Hilang. Dia hilang. Lupa sudah aku wajahnya. Lupa sudah aku suaranya. Lupa sudah aku hembusan nafasnya yang aku dengar dari balik ceritanya yang tak kunjung putus jika kami bertemu. Tapi setidaknya aku pernah bahagia.

Maafkan aku dunia, yang telah menyaksikan kami sempat bertumbuh di antara kalian, mungkin Tuhan tidak merestui kami. Maafkan aku dunia, doa-doamu tidak terkabul seperti aku pun berdoa yang sama. Maafkan aku dunia, yang sempat bahagia melihatku bersemangat. Maafkan aku dunia, yang berharapan karena melihat harapanku yang pernah patah tumbuh kembali. Namun kini aku jatuh, retak, dan kemudian patah.

Mungkin suatu hari nanti dunia akan melihatku tumbuh kembali.

Yang patah, akan tumbuh. Yang hilang, akan berganti. Yang hancur lebur, akan terobati. Yang sia-sia, akan jadi makna. Dan akan terus berulang suatu saat nanti..

About Me · IN · Life Lesson

the downpour..

Hujan selalu memberiku arti tersendiri untuk menulis. Genangan air yang tertinggal di tanah selalu memantulkan kenangan yang tertinggal. Hujan pagi ini tak lebih dari amukan langit kepada bumi. Terlalu deras untuk ditembus. Ketika aku masih kanak-kanak, Da selalu berkata, jika hujan turun tanda malaikat di surga menangis karena ada salah satu malaikat di bumi berduka. Aku malaikat di matanya Da. Bisa dikatakan ungkapan tersebut merupakan salah satu dari sekian sedikit ungkapan darinya yang selalu aku ingat hingga detik ini. Aku kehilangan memori sekian tahun masa kanak-kanakku, entah mengapa..

Aku terbangun 15 menit lebih awal daripada jam aku memasang alarm pukul 4.45 pagi. Niatanku untuk menghabiskan energy yang tersisa tekurung oleh karena hujan deras yang tak kunjung reda sedari semalam. Maka aku kembali membungkus tubuhku dengan selimut hangat. Meringkuk, dan kembali terlelap, hingga pada akhirnya aku tenggelam dalam dunia mimpi sebelum pada akhirnya aku benar-benar terbangun satu jam kemudian untuk memulai hariku.

Aku beranjak keluar rumah dengan bertudungkan payung hitam. Hujan masih sangat deras. Aku baru sadar bahwa hari ini aku mengenakan atribut hitam dari atas sampai bawah – baju, sepatu, tas. Merah warna favoritku, tapi hitam menjadi warna pakaian favoritku sehari-hari, hingga pada akhirnya aku jatuh cinta kepadanya, kepada warna hitam. Dia menjadi warna favoritku kedua setelah merah. Mungkin kehadiran warna hitam dalam keseharianku berguna untuk melindungiku dari rasa tidak aman yang sering aku pendam ketika aku menghadapi dunia.

Sehari-hari aku menempuh perjalanan ke dan dari kantor dengan transportasi umum busway dan berjalan kaki. Cerah, sejuk, panas, mendung, hujan, tidak menghalangiku untuk tidak menggunakan transportasi umum dan berjalan kaki. Begitu pula dengan hujan deras yang mengguyur Jakarta pagi ini, tidak menghalangiku untuk memanjat jembatan penyebrangan busway, dan berjalan menembus rintik hujan yang terpantul dari tanah ke kedua kakiku. Pantulannya kemudian membasahi sepatuku. Aku dapat merasakan dingin yang disebabkan oleh air yang menumpuk di sudut sepatuku. “Ah, seharusnya aku mengenakan sepatu boots”, pikirku menyesal, kuatir seharian akan hujan dan tidak mengeringkan basahnya sepatuku.

Aku tiba 30 menit kemudian dari keberangkatanku menuju kantor, dan waktu menunjukan pukul 7.40 pagi. Setibanya aku di meja kerjaku yang ruangannya begitu dingin, aku dikejutkan dengan ruangan kantor yang masih begitu sepi. Aku orang ketiga yang tiba di ruanganku. Tidak biasanya. Tentunya karena hujan deras ini. Akses di beberapa daerah di Jakarta terjebak oleh genangan banjir.

Dalam kesunyian ruangan kantor, aku membuka halaman blogku dan memulai menulis paragraf ini. Mataku masih terasa begitu berat akibat semalam. Aku membuka beberapa draft tulisan yang belum aku publish yang kusimpan di dalam blog ini. Menyadari ada salah satu draft lama yang dulunya ingin aku publish, namun kini sudah tidak berlaku lagi dan hendak aku hapus, bertuliskan demikian: “moving on is the phase where we all get broken in pieces”. Ada banyak hal di dunia ini dimana kita mengalami fase untuk menerima sesuatu yang tidak bisa kita kontrol, dan menerimanya merupakan perjuangan besar. Dan perjuangan tersebut seringkali menghancurkan hati kita. Perjuangan akan rasa sakit yang tak terungkapkan. Ada kalanya karena Tuhan memang tidak memberi restu akan apa yang kita harapkan, ada kalanya karena Tuhan punya sesuatu yang lebih baik untuk kita miliki. Yang kita butuhkan hanya sepercik iman untuk yakin bahwa Tuhan pegang kendali. Proses tersebut mungkin menghancurkan hati, tapi aku menyadari hatiku yang berubah oleh karena kehancuran tersebut: memandang dunia bukan lagi dengan kekerasan hati, namun kelembutan hati. Bukan pada manusia saja hati kita harus berlemah lembut, namun pada segala elemen yang ada di dalam dunia ini.

Dan jika seseorang menuduhku untuk menjadi terlalu sensitif, biarlah mereka berkata apa yang hendak mereka kata. Karena aku pikir menjadi pribadi yang sensitif tidak melulu berarti mudah tersinggung, melainkan dapat merasakan segala sesuatu yang tidak semua orang dianugerahkan perasaan ini.

Satu jam berlalu dan teman-teman kantorku sudah mulai berdatangan. Waktunya aku memulai hariku di kantor dengan seuntaian agenda meeting dan paperwork yang menumpuk dalam list “daily tracker” aku.

Hujan mulai berhenti, dan Jakarta mulai menunjukkan cahayanya melalui celah angin kelabu yang sempat menutupi kota ini sepanjang malam. Sorotan matahari mulai menyinari tanah yang basah, dan perlahan segalanya terlihat lebih ceria..

Satu senyum dapat menyembuhkan beribu luka..

Blessings in Disguise · EN · Irin Active Journey · Life Lesson

Journey of becoming a Duathlete

It always seems impossible until it is done, until you are crossing the finish line.

I was so nervous when the day of Powerman Duathlon race is approaching. After i finished my first Aquathlon race in Singapore last week, i caught a flu, a heavy one, left me so helpless and weak. Can’t sleep for most of the nights as i suffered from endlessly cough, i ended up to pay those lack of sleep by sleeping early and waking up late. So, no trainings. Until the D-day.

My last training of running was about two weeks ago, while it was three weeks ago for the cycling as Jakarta was filled with heavy rain in the morning. So yeah, lack of trainings of moments before the Duathlon event. I was so worried i couldn’t be strong enough to finish the course because my weakness was the bike.

Anyway, i joined this Duathlon race because it is a part of training plan before my first 70.3 event in April. I chose long distance course because i need to know how my body would react after certain distance.

Every long distance races is not merely a physical game. It is a mental game.

I ran my first 10k at my own usual pace. I knew it would be too fast at the beginning, but i couldn’t keep my feet slower. I guess i had so much energy inside of me during the one week resting of recovering from the flu.

I will normally put earphones during long distance courses, to keep me distracted from the bored that will attack me. As i got an announcement that no earphones during the race, i left myself off of them, making me more nervous because i was afraid that i would get bored and slowing down.

But it turned out that i enjoy my first 2 laps of 5k running. My big brother told me what will he do during his Full Marathon races if he gets boring: take out your list of prayers, and start praying for them. I did that (while i was thinking, what will i do during the bike and the last run).

I started to pray about him, who came into my life with some reasons. I explored myself, what i feel about him. I asked God if i don’t understand what i found, what’s the meaning of it. I confessed to God what i felt about him if i understand the kind of feelings i feel for him. No denying, i just tried to be honest with God, and myself. So i remember of my (other) brother told me: at the end of the day, it is the story between you and God, and you and you, not you and him. He is right. I told God, if this meant to happen, if me and him meant to happen, it will happen eventually. But not forgetting the boundaries: take care of my heart so i don’t step in into the area i shouldn’t touch before You give me the green light – love. Then i was lighten up, how the journey between me and him is giving me the chance to talk to God often. Maybe this is the meaning of what my brother once told me.

I kept telling God the feeling i found out during the first running, while i told myself: don’t be influenced by other people’s pace, embrace your pace, your own speed.

You define yourself not by what other people are saying or put the perspective into.

As i approached the transition area in few hundred meters, my heart was pounding really fast, how i was worried for doing a 60k bike (with no earphones as well). It was raining heavily. I was soaked, my shoes were too. And another worry came, running with wet shoes.

I wasn’t fast, but i managed to maintain my speed. I did not know that BSD would be that beautiful. So i just enjoyed the scenery while fighting with the wind. The course was flat. It made a little bit harder to do recovery from the free-wheeling. We must keep pedalling to stay on the speed.

The bike leg was my very moment to seek what was within me, about life, about dream, about wishes, about everything. Even though every 10k i kept looking at my watch, wishing the bike session will be finishing soon. Then i was thinking about process. Even process takes time, could be long, could be short. Embrace time, because it is the place where changes could occur, or even a miracle. Don’t rush anything.

I dismounted my bike at the entrance of transition area, and found myself barely could stand. I walked slowly towards the bike rack. Did a little stretching before i do my last run laps. I thank God i had regular few brick sessions for two months, so i managed to get my legs muscles switch easily: from bike to run (but never tried doing brick from run to bike). Now i know the important thing about brick training. Your legs get easily used to do multiple sports in one time.

When i was out from the transition area to running laps, i met my friend. He screamed from afar: go Irene, keep going!. I replied to him: finally it’s one more!. I think my injured calf was going to have cramps.

I still had my energy inside of me to run with my first running pace. But i chose to slowing down because, yes, i can feel the cramps attacked my injured right calf, going up to the right knee. But i managed to keep going without taking a walk. “Go slow, Irene, your own pace, embrace your pace”. I looked down to the pavement so i won’t get dragged with the faster runner. I embraced my own steps. 
That was when i was thinking about the post i wrote last night: about how love needs time and space. I wondered (and still now) why he is different from the others i had known before. And so many questions right in my mind. But i kept telling myself to give him time and space. Because love may grow between those phase. Give him a time to think, and a space to process. And let God process him too. I teach myself to be patience, because love is (patience). 

It was 200 meters away to the finish line, i can see my friends were waiting for me. As i entered the finish line, they opened their arms widely to welcome me, and hugged me tightly, with so much warm and congratulations in order. Among them, i was the only female taking long distance course. I say this not to be proud, but to proof myself that i am capable of something bigger than i thought. Most of the times it was fears that brought my confidence down. I should’ve trusted myself better than the others.

You define yourself, not by other people.

I finished within 4 hours 39 minutes 45 seconds.

And almost could not believe myself that God had given me the opportunity to win the prize as a second winner in my age category: 18-29 years old. It was God’s favor, to win a prize for a long distance course such this. I couldn’t thank God enough for the blessing He gave upon me.

God had granted us the cloudy (and rainy) day for the race, so all of us won’t suffer the heat as most of us finish between 9.30 am-11.30 am range of time. Can’t imagine how hard this will be if it was sunny.

I thought that i wont’t survive the race. But i was wrong, i finished and i survived, i am a survivor, a hero to myself. It’s not about the prize. Prize was just a reward. It’s about the process i had gone through along the way. They made me stronger.

This race was not about me and my physical ability. But through that 4:39:45 hours, was my best moment with God.

General

Love is .. time and space

Cinta itu sabar

Cinta itu penuh pengertian

Cinta itu tidak memaksakan kehendak

Cinta itu mendukung sepenuhnya

Cinta itu selalu berada di sisi nya

Cinta itu memberi perhatian yang dia butuhkan

Cinta itu menjadikan hal-hal sederhana berharga dan indah

Cinta itu selalu ingin belajar tentangnya

Cinta itu selalu merasa cukup

Cinta itu tidak pernah menuntut balik

Cinta itu selalu memberi yang terbaik

Cinta itu penuh kehangatan 

Cinta itu lemah lembut

Cinta itu memberi ruang 

Cinta itu memberi waktu

Ya..

Cinta memberi ruang dan waktu

Untuk menjalani sebuah proses

Untuk mengerti sebuah arti

Untuk merenung

Untuk mempertimbangkan

Untuk memberi keputusan

Untuk bertumbuh

Agar dia tumbuh tanpa dipaksakan

Melainkan kebutuhan untuk bersama

Agar rinduku atau rindumu tidak pernah pudar

Melainkan menjadi bara api akan pertemuan kita di lain waktu

#merindukanmunamunmemberimuruangdanwaktu

EN · Journey of Love · Life Lesson

Process

Each of us is going through different process in life..

Some would take a very long time to adapt on changes, months to years.. While some others would take few weeks or couple months to adapt and get on board again..

Some would need a very long time to consider a big life-decision, while some others would need couple moments to decide what he’s going to do forward..

Some would need some time alone without anybody bothering him but his own mind to listen to himself, to his needs.. While some others would need trusted people to be around her and helping her to understand from other’s point of view but herself..

Some would talk to close friends, hoping the love-friendship she gets would suffice the empty cup she carries.. While some others would stay close with his close friends..

Some would need distractions, while some others would need to weep all day long for weeks..

Some would need to stay in dark, while some others need to implicitly speak behind words.. Lots one..

And i guess, that is where space exists. To think carefully on what we really need, so we don’t make wrong decisions.. To understand the meaning of these all, so we don’t grieve for too long.. To accept the things we can’t accept, so we can move on..

A space where we can cry, where we can be angry, where we can pour out the disappointments, where we can write down on an empty wall one by one unanswered questions, the ones that have been bothering us every day.

Some could experience a very long time to process what he needs to process at this stage of relationship, while some others could experience through feelings.

And maybe, there are some people that think things going too fast would take a sudden brake and pause the ongoing play for a while.. While some other people who thinks that it is okay to go on with the fast-moving phase as long as we skip the little unimportant things to the most important things..

Maybe that is where space is needed..

Space where there is time to break, and a time to heal.. A time to feel the excitement, and a time to feel the loss.. A time to die, and a time to grow.. A time to questioned, and a time to understand: that even two people is going through different processes..

And if the timing is right, even if it’s just one slight second, maybe that is the time where all of us can meet again in the garden of mind.. with peace..

If you are processing, i am too..

We both are, and just going through different processes..

About Me · IN · Journey of Love · Life Lesson

Being vulnerable

“To love is to be vulnerable” – C.S Lewis, The Four Loves.

Aku selalu menemukan diriku begitu sendu jika aku sedang sakit. Apalagi jika sakit parah. Seperti sekarang. Tidak tahu mengapa, aku hanya tahu aku demam tinggi. Di negeri antah berantah. Merindukan rumah, merindukan negaraku, merindukan orang-orang di sekitaranku.

Dan kesenduan ini membawaku ke dalam sebuah ruang dimana berjuta pikiran dan perasaan berkecamuk di dalamnya. Selalu acak. Selalu berantakan. Dan entah bagaimana caraku menyampaikannya pada dunia, karena yang aku tahu dunia tidak dapat memahaminya. Maka aku menemukan caraku untuk menulis untuk mengungkapkan yang tak dapat terungkap oleh kata-kata lidahku.

And this is the fever talking.

Rentan.

Cinta mempunyai banyak arti. Beberapa bulan yang lalu di penghujung akhir tahun 2016, aku menemukan diriku yang sedang “jatuh cinta” kepada teman-temanku, the love-friendship. Aku yang sekian tahun menutup diriku akan kesempatan untuk mempunyai hubungan dengan seseorang (atau beberapa orang), pada akhirnya “terpaksa” untuk belajar membuka diriku. Terpaksa karena orang-orang disekitarku menunjukan sikap pantang menyerah dan memberikan kasih sayang “berlebihan” terhadap aku. Hatiku yang terlalu mudah luluh oleh hal-hal indah semacam cinta, dilunakkan oleh mereka yang tidak kenal lelah memberikan kasih sayangnya terhadap aku. Sehingga seringkali aku berdoa pada Tuhan sambil bertanya: haruskah aku mulai membuka hatiku?.

Dengan memberikan hatiku untuk orang lain, aku membuka diriku terhadap kesempatan untuk disakiti.

Tetapi pada akhirnya aku belajar untuk membuka diriku. Teman-temanku menjadi urutan pada baris pertama. Cerita demi cerita, kisah demi kisah, membawaku menjadi seseorang yang lebih memahami bahwa perbedaan menyatukan, dan yang aku butuhkan adalah perbedaan namun dapat dimengerti. Dan pada akhirnya aku dapat mengerti bahwa tidak ada yang menakutkan dari sebuah perbedaan.

Aku ingat beberapa kali aku diberikan kesempatan untuk bertemu orang-orang yang kemudian mempunyai hubungan dengan aku. Kegagalan demi kegagalan membawa aku terhadap perjalanan trauma berkepanjangan yang aku pendam sendiri dalam hatiku. Bukan mengenai bagaimana aku disakiti, tapi terlebih lagi mengenai aku ketika berhadapan dengan diriku sendiri yang disakiti oleh karena cinta. Aku takut menghadapi diriku sendiri yang kebingungan oleh karena aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat jika hal tersebut berhubungan dengan seseorang yang aku pedulikan.

Seperti sebagaimana aku sekarang, yang sedang ketakutan menghadapi diriku sendiri yang dilanda beragam pikiran dan perasaan, yang kemudian bermanja diri tak beralasan pada orang-orang terdekatku untuk tidak meninggalkan aku, namun menemani aku dalam faseku saat ini. Tapi tentunya tidak semua orang mengerti arti dibalik sikap manjaku ini. Jadi .. ya .. tidak apa..

Sebenarnya aku sedang meminta bantuan terhadap seseorang, tapi aku juga tidak bisa mengungkapkan bantuan apa yang aku butuhkan.

Maybe this is the fever talking.

Kemudian setelahnya, Tuhan memberikan aku kesempatan untuk membuka diriku terhadap seorang yang lain: the love-love. Aku diberikan pengalaman oleh Tuhan untuk mencintai sesuatu yang mustahil. Perjalanan satu tahunku yang baru terasa menenangkan setelah dua tahun aku berusaha lepas dari kekasihku yang sebelumnya, membawaku ke dalam sebuah ruangan dimana begitu banyak penyangkalan diri. Usiaku belum mencapai kepala 3, tapi aku sudah terlalu cepat menentukan persimpangan jalan masa depanku: to seek or not to seek. Tuhan ingin aku melihat sisi lain dari cinta: yang mustahil, namun menerima kemustahilan tersebut sebagai bagian dari kehidupan percintaanku. Dan aku menemukan diriku kembali ketika aku menerima diriku, berani menghadapi diriku yang menangis semalam sendiri, melolong kepada langit lepas bagaikan serigala kepada bulan. Tapi disana aku bertemu kembali dengan harapan yang telah lama pudar, bahwa cinta masih membela hidupku.

Dan aku menemukan rasa berbunga itu kembali ketika aku menerima dan memaafkan diriku.

Dipertemukan oleh Tuhan dengan seseorang yang dapat membangkitkan rasa gairah tersebut: dimana hari-hariku dipenuhi oleh rasa penasaran akan hari esok, karena hari esok merupakan misteri yang tak terungkap di antara aku dengannya. Aku bertanya kepada Tuhan dalam detik demi detikku bersanding dengan dirinya: haruskah aku membuka hatiku padanya?. Karena jika aku membuka hatiku lebih lagi terhadap dirinya, maka aku akan membuka diriku lebih lagi akan kesempatan untuk disakiti, untuk berharap dan kecewa. Dan aku takut, takut jika aku salah menempatkan hatiku ke orang yang salah lagi. Hati ini hanya ingin dijaga, baik-baik, karena dia hanya ada satu..

Tapi begitu banyak pertanyaan dalam pikiranku mengenai: “bukankah seharusnya?”. Dan aku terus mencari jawaban akan kemungkinan-kemungkinan yang ada. Tapi tidak akan aku temui jawabannya jika Tuhan mau aku letakkan keputusan ini di tanganNya: to wait and see, untuk belajar mengisi gelas yang kosong dari sebuah kecukupan akan hari ini, untuk memandang perjalanan cerita baru ini sebagai perjalanan aku-dan-Tuhan dan aku-dan-aku, bukan aku-dan-dia. Tapi tentunya aku tidak dapat menyangkal rasa gelisah yang ada di dalam hatiku.

“Mungkin kamu hanya takut ditinggalkan sendiri lagi”, kata Ma tiba-tiba ketika aku bertanya dan meminta pendapat akan perubahan yang datang dari dia. Dan aku rasa, dia benar.

Terlebih lagi ketika demam menyerangmu, rasanya semua yang ada padaku rentan: hati, pikiran, dan tubuh yang bahkan terlalu lemah untuk berdiri sembari lima menit saja. Kegelisahanku menarikku pada harapan untuk cepat kembali ke negeriku, untuk melihat kesempatan akan aku dan dia di hari esok atau dua hari atau tiga hari lagi atau satu minggu lagi, juga menarikku untuk segera menyelesaikan kondisi fisikku pada para professional.

This is definitely the fever talking.

Ketika aku patah hati, aku menyadari bahwa proses yang kulalui adalah seperti batu yang dipukul berjuta-juta kali hingga hancur. Dari kepingan-kepingan tersebut, aku berlutut memungutnya dari tanah. Merendahkan diriku pada bumi, dan menangis pada langit, seraya aku susun kembali kepingan hati yang sudah tak terbentuk. Melaluinya aku perlahan melihat kembali siapa aku, aku melihat seberapa berharganya aku bagi mereka yang memandang aku berarti bagi mereka. Dan Tuhan yang hatiNya hancur juga melihatku berlutut memungut kepingan yang tersisa, memandangku berarti di mataNya. Karena Tuhan begitu mengasihiku terlebih dahulu, maka hatiNya hancur ketika melihat hatiku hancur.

Ketika aku mengasihi, aku menyadari bahwa proses yang kulalui adalah seperti batu yang perlahan-lahan dikikis oleh air sungai. Yang begitu keras, dan defensif, kemudian diberi kesempatan untuk menjadi lembut agar aku bisa mengasihi dengan sempurna melalui kelemah-lembutan cinta. Tapi aku menyadari dengan kelemah-lembutan tersebut, aku memberikan diriku untuk dikuasai kerentanan, yang akan lebih mudah untuk disakiti atau dikecewakan. Tapi mungkin disinilah titik lemahku yang Tuhan ingin buka, bahwa rasa sakit dan rasa kecewa yang bisa terjadi oleh karena kisah cinta aku dengan seseorang, adalah bagian dari cerita cintaku dengan diriku sendiri: menerimanya dan mencintainya apa adanya, sebagaimana adanya. Dan ketika aku dipertemukan dengan seseorang yang pada akhirnya dapat aku cintai, aku tidak memohon apa-apa lagi selain dari dirinya di hatiku, untuk aku cintai.

The cup will be fulfilled, not by him, but by Him. Aku dicukupkan oleh karena Tuhan mengasihiku terlebih dahulu -John 3:16.

“The greatest love of all is easy to achieve, is to learn to love yourself” – Whitney Houston

Btw, happy valentine, Readers 🙂

The fever is talking..

Aku bukan jomblo, tapi aku single. 

whatsapp-image-2017-02-08-at-1-01-24-pm

EN · Irin Active Journey · Journey of Love

Journey of becoming an Aquathlete

It was early at night, compared to my previous nights when i went to sleep late. I crawled to bed with troubled feelings and crowded mind. A day before my first Aquathlon race, i was so confused having the thought of him for the rest of the day, and can’t even tell anyone about it (because it was stupid and childish). Beside it, i found myself to be so nervous of having an open water race in few more hours. I’m a swimmer, but i still have some concerns of being in the open water if i hadn’t swum it for a long time. I chose to play the list on Sean, wishing that it may help me to sleep soundly, so i may rest well.

The time had shown 3.30am, local time. I was somehow awakened by the sound of the wave, and found out that the sound was coming from a song i listened through my earphone. It was Banda Neira song, titled “Langit dan Laut”:

Dan dengarkan ombak yang datang menerjang kuatmu

Dan dengarkan arus yang datang nyatakan lemahmu

Langit dan laut dan hal-hal yang tak kita bicarakan

Biar jadi rahasia menyublim ke udara

Hirup dan sesalkan jiwa-jiwa

I listened to the whole song until i finally fell asleep again, and woke up as the alarm i set rang at 5.00am local time. The song was somehow comforting, and when i fell asleep, i dreamed about him, i dreamed about the race and how i conquered the ocean.

As i travelled to the race venue, i found the city was still covered in darkness. It was 6.00am in the morning, and yet, the sun had not risen up, so different from the country i live in. I sat in the bus and put the earphones on, listening to the song list of Banda Neira, and one of them was the next song came in titled “Re: Langit dan Laut”:

Biarkan saja alam yang membahasa

Biarlah saja

Takkan ubahnya yang ada

Dengarkan saja pasang gelombang yang bersahutan

Rasakan getar dari kedalamam samudra

Di ambang gelap dan terang

Di batas indah dan perih

Ada, ada.. sunyi..

I smiled because i realized that only God can reveal the mistery of life, i shall not be fear or worry. I kept telling myself while i prayed to God: only You understand what the ocean’s trying to say, therefore only You can understand the silence moments between the twos.

The melodies of those two songs had brought me into the world where i had never explored before. The one that is scary yet exciting at the same time.

I reached the race venue one hour later just right when the sun rose, at 7.00am, and the sky was suddenly filled with the bright blue color, showing its beauty when it blended with the white color of the hanging clouds. “It’s gonna be bright”, said i.

I walked towards the sands, where all were going to start, and found myself was filled with a huge feelings of tension. I ignored all the signs that written “Metasprint Aquathlon 2017, go here” and just walked towards the crowds. I just wanted it starts as soon as possible and finish quickly.

Collected the race pack, took-off my clothes left swimsuit only, setting up transition number 1540, dropped my bag, got both of my arms tattooed, and waited for my wave to start at 8.40am. Everything seemed well settled. While waiting, i saw some people did a short warm-up swim at the side of the ocean-pond. I followed them, to try the water. As i jumped into the water, i swam and swam, for 200m away, and i felt nothing other than excitement. Those tensions i felt earlier were gone. I blended with the water. It was dark i could not see anything below the water (but that’s okay), the temperature was just fine, the wave was so friendly, and it was not too salty compares to Bali ocean. I felt so calm after i tested the water. Took off from the water, i watched the four waves before my wave competed in the water.

Few moments later, i found myself queueing behind the start line, waiting for the alarm goes off. And when it did, i ran into the water, fighting with few participants to move forward. It was a battle ground. Everyone started to kick, or slap, and they did not care whom they hurt. What a competitive swim race i had. I kept changing my stroke from freestyle to breaststroke to freestyle once i saw an open space and then another breaststroke once it was too crowded, and freestyle, and breaststroke, and then finish the last lane with freestyle and ran to the transition area to change clothes into running apparel. A little bit of accident in the transition, when i was ready to run, my BIB number fell off. Now i know i need a BIB belt during multisport races.

And so i ran, and ran, and ran, passing one after one running ladies. Somehow o felt fast. Looked into my watch and on the pace column was written 5:xx. I wondered why i felt so great for the run. Maybe because i took two days rest from the fever attack since thursday evening, i’ve got so many energies inside of me. But i was so surprised when the next waves were following my wave (or the previous ones) ran – oh, it was male categories by the way. I can even hear their breathing since 10m away behind me. They were so so so fast (mostly were westerners, by the way).

Entered the finish line when the host called my name: “Irene Angelina from Indonesia just enter the finish line!”. Yay.. Finally i finished the course with no feeling other than excitement and relief, and i think i have the strength to run some more distance – nah, tomorrow will do just fine.

I collected my live result, and surprisingly with the cough i had, i managed to finish within the targetted time: swim – 20 mins and run – 30 mins.

750m swim in 19:36 mins and 5k run in 29:16 mins. I tried to fulfill myself with the result i had, because if you don’t, you will never feel enough. And perfection is when you feel enough. We all should be proud of ourselves, because many of us losing their ways because they set a standard as other people’but not themselves. I fell once, but won’t come out as an individual who falls twice into the same mistake. Each of us has an unique way to achieve something great. Mine, was being an inspiration to the outsiders, who haven’t felt the kind of excitement of crossing the finish line. And that should be enough for me, that should be enough. I am enough for myself..

Thinking about me going for two 70.3 events, i was wondering whether i can do it or not. But i guess i just need to take the risk to prepare those events. Not that kind of “carelessly-risk”, but stay committed, keep practicing, and stay humble (for sure). And when i think about the kind of risk i should take as well in the journey of love, i think it will be worth to take. I always remember what my brother told me: “at the end of the day, it’s the story of between you and God, and, you and you”. Not the final result, but the process God wants to put between both of us. “Why God gave such thing if He doesn’t mean something along the way (or at the end of it)?”. Explore. I dare myself to explore.

And i guess space is good, and understandable. A time to think, a time to feel, a time to consider, a time to understand, a time to grow. For both of us. And if the cup feels empty, i teach myself to feel enough with something small as a simple “HI”. Start with being enough, and be fulfilled from it.

I unlocked my title as “A Marathoner” in 2016. And the new journey of 2017 has begun: An Aquathlete, A Duathlete (next week), and An (Half) Ironman (next few months). I wonder what other great things will come next.. 

Love-Birds, maybe? 😉

PS: overall, the event was so great, i was enjoying it. The fears i had earlier were just my worries. I wished to come again next year!

Cheers,