Blessings in Disguise · IN · Journey of Love · Literature

the fog

Dalam gelap aku terbangun dari tidurku, siap menyambut hari baru. Dengan terhuyung-huyung aku menapakkan kakiku ke tanah, merasakan dinginnya lantai kamarku oleh karena sapuan angin semalam. Seraya mengumpulkan nyawaku, aku berpangku tangan pada sudut ranjang, tersenyum mengingat kehadiranmu dalam mimpiku. Ada satu orang lagi hadir dalam mimpiku, dalam doaku.

Bergegas aku merangkul tasku hendak melangkah ke tempat aku akan bertemu dengan sebagian teman-teman wanitaku sepanjang akhir pekan ini. Namun hujan turun membasahi langit gelap pagi ini. Aku membuka kemasan payungku dan berjalan menembus angin kencang disertai air yang membelai kedua kakiku. Melalui pantulannya yang mendarat di tanah, ia menyapa pagiku.

Melalui perjalanan singkat aku mengenangnya.. Mengenang siang kami, mengenang malam kami.. Seperti ketika aku berjalan melangkah ke depan dan meninggalkan tapak kaki terdahulu di belakangku. Masa lalu, yang tidak akan aku kunjungi lagi, kenangan hanya tinggal memori. Kuletak dalam sebuah kotak terkunci rapat di sudut ruangan memori.

Hujan. Menyapu jejak langkah yang kutinggalkan pada tanah, seperti angin yang berhembus membawa daun melewati sisi telingaku, demikianlah hati ini dibawanya pergi terbang ke langit biru. Memang sudah selayaknya dia terbang bebas sebagaimana indahnya kepakan sayap burung yang menembus awan di langit.

Dan aku melambai dengan senyum, karena aku tidak akan bertemu dengannya lagi.

Hanya satu kali dalam hidup, ketika suatu malam yang sunyi aku merangkak ke atas tempat tidurku dan meringkuk seraya bercucuran air mata, berdoa pada Tuhan: “berikan hati ini kepada orang yang tepat, Tuhan, berikan cinta ini kepada orang yang tepat”.

Untuk kata yang tak pernah terucap, untuk uluran tangan yang tak pernah menggapai, untuk pandangan yang tak pernah tertidur, untuk jiwa yang pernah tersesat, untuk harapan yang diketemukan kembali, untuk rindu yang tak pernah pudar, untuk hati yang tak pernah terungkap, hanya catatan yang bisa tertuang dibalik untaian rasa yang tak terungkap.

Di tengah dentuman hujan yang semakin keras di lapangan terbuka, aku berkendara dengan empat orang teman lainnya. Tetapi tetap tidak mengalahkan tawa dan canda kami dari balik kendaraan yang kami tumpangi. Dalam hitungan menit, kami telah menembus kabut yang tebal, mengaburkan pandangan kami. Aku bertemu dengannya dari sela-sela kabut yang semakin tebal seiring kami berjalan mendekat. Berbincang dengan Tuhan, menyebutkan satu garis namanya, untuk mengetahui maksud dan tujuan Tuhan yang memberikan cerita baru setelah aku melepas kepergiannya.

Setelah sekian lama akhirnya aku bertemu kembali dengan kabut yang merindukan tanah. Sudah terlalu lama dia berada di puncak awan sana dan tidak bisa menjauh lebih lama lagi dari bumi yang ia cintai. Hanya rasa lelah karena sudah terlalu lama dia mengambang.

Rasa takut oleh karena pandangan yang begitu tak jelas akan apa yang ada di balik kabut. Haruskah Tuhan, haruskah hati ini kuberikan? Benarkah Tuhan, benarkah dia orang yang tepat? Mungkinkah Tuhan, mungkinkah kami bersatu? Karena doa yang aku lantunkan malam aku bercucuran air mata adalah malam kemarin ketika Tuhan memberikan aku jawaban pada pagi selanjutnya.

Dan menyadari bahwa sebuah perjalanan cinta yang mustahil tersebut yang telah membawaku kepada pengalaman indah dimana aku dapat bertemu kembali dengan Tuhan, bertemu kembali dengan jati diriku, bertemu dengan diriku sendiri untuk mengetahui apa yang kubutuhkan dalam hidupku dan bukan sekedar apa yang kuingini dalam hidup. Ada berkat dan maksud yang begitu indah yang Tuhan ingin berikan kepadaku di balik begitu banyaknya pertanyaan dalam benakku. Ada maksud yang begitu berkesan yang Tuhan ingin aku kenang selamanya di balik hari-hari sendu yang aku jalani. Ada makna yang begitu dalam yang Tuhan ingin aku mengerti di balik pengalaman asing ini. Pada akhirnya semuanya mengenai cerita aku dan Tuhan, bukan cerita aku dan seseorang.

Kabut yang kami tembus bukanlah sebuah cerita menyeramkan dimana terdapat banyak kejutan dalam setiap langkah kami menembusnya. Walau tak pasti, namun kabut menjadi caraku untuk mempercayakan kehidupanku sepenuhnya kepada Tuhan, karena aku tidak tahu ada apa dan apa yang terjadi di depan nanti, tapi aku hanya tahu bahwa Tuhan pimpin jalanku, langkahku, tidak mungkin aku dibawaNya tersesat.

Aku telah melepaskannya. Dan kini aku siap menyambut yang baru..

Hanya rasa syukur yang dapat kuungkapkan. Melepaskannya adalah berkat Tuhan terbaik yang aku dapatkan.

Ini, merupakan garisan tangan terakhir tentangnya. Nanti, akan menjadi garisan tangan tentang kisah yang baru 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s