Being vulnerable

“To love is to be vulnerable” – C.S Lewis, The Four Loves.

Aku selalu menemukan diriku begitu sendu jika aku sedang sakit. Apalagi jika sakit parah. Seperti sekarang. Tidak tahu mengapa, aku hanya tahu aku demam tinggi. Di negeri antah berantah. Merindukan rumah, merindukan negaraku, merindukan orang-orang di sekitaranku.

Dan kesenduan ini membawaku ke dalam sebuah ruang dimana berjuta pikiran dan perasaan berkecamuk di dalamnya. Selalu acak. Selalu berantakan. Dan entah bagaimana caraku menyampaikannya pada dunia, karena yang aku tahu dunia tidak dapat memahaminya. Maka aku menemukan caraku untuk menulis untuk mengungkapkan yang tak dapat terungkap oleh kata-kata lidahku.

And this is the fever talking.

Rentan.

Cinta mempunyai banyak arti. Beberapa bulan yang lalu di penghujung akhir tahun 2016, aku menemukan diriku yang sedang “jatuh cinta” kepada teman-temanku, the love-friendship. Aku yang sekian tahun menutup diriku akan kesempatan untuk mempunyai hubungan dengan seseorang (atau beberapa orang), pada akhirnya “terpaksa” untuk belajar membuka diriku. Terpaksa karena orang-orang disekitarku menunjukan sikap pantang menyerah dan memberikan kasih sayang “berlebihan” terhadap aku. Hatiku yang terlalu mudah luluh oleh hal-hal indah semacam cinta, dilunakkan oleh mereka yang tidak kenal lelah memberikan kasih sayangnya terhadap aku. Sehingga seringkali aku berdoa pada Tuhan sambil bertanya: haruskah aku mulai membuka hatiku?.

Dengan memberikan hatiku untuk orang lain, aku membuka diriku terhadap kesempatan untuk disakiti.

Tetapi pada akhirnya aku belajar untuk membuka diriku. Teman-temanku menjadi urutan pada baris pertama. Cerita demi cerita, kisah demi kisah, membawaku menjadi seseorang yang lebih memahami bahwa perbedaan menyatukan, dan yang aku butuhkan adalah perbedaan namun dapat dimengerti. Dan pada akhirnya aku dapat mengerti bahwa tidak ada yang menakutkan dari sebuah perbedaan.

Aku ingat beberapa kali aku diberikan kesempatan untuk bertemu orang-orang yang kemudian mempunyai hubungan dengan aku. Kegagalan demi kegagalan membawa aku terhadap perjalanan trauma berkepanjangan yang aku pendam sendiri dalam hatiku. Bukan mengenai bagaimana aku disakiti, tapi terlebih lagi mengenai aku ketika berhadapan dengan diriku sendiri yang disakiti oleh karena cinta. Aku takut menghadapi diriku sendiri yang kebingungan oleh karena aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat jika hal tersebut berhubungan dengan seseorang yang aku pedulikan.

Seperti sebagaimana aku sekarang, yang sedang ketakutan menghadapi diriku sendiri yang dilanda beragam pikiran dan perasaan, yang kemudian bermanja diri tak beralasan pada orang-orang terdekatku untuk tidak meninggalkan aku, namun menemani aku dalam faseku saat ini. Tapi tentunya tidak semua orang mengerti arti dibalik sikap manjaku ini. Jadi .. ya .. tidak apa..

Sebenarnya aku sedang meminta bantuan terhadap seseorang, tapi aku juga tidak bisa mengungkapkan bantuan apa yang aku butuhkan.

Maybe this is the fever talking.

Kemudian setelahnya, Tuhan memberikan aku kesempatan untuk membuka diriku terhadap seorang yang lain: the love-love. Aku diberikan pengalaman oleh Tuhan untuk mencintai sesuatu yang mustahil. Perjalanan satu tahunku yang baru terasa menenangkan setelah dua tahun aku berusaha lepas dari kekasihku yang sebelumnya, membawaku ke dalam sebuah ruangan dimana begitu banyak penyangkalan diri. Usiaku belum mencapai kepala 3, tapi aku sudah terlalu cepat menentukan persimpangan jalan masa depanku: to seek or not to seek. Tuhan ingin aku melihat sisi lain dari cinta: yang mustahil, namun menerima kemustahilan tersebut sebagai bagian dari kehidupan percintaanku. Dan aku menemukan diriku kembali ketika aku menerima diriku, berani menghadapi diriku yang menangis semalam sendiri, melolong kepada langit lepas bagaikan serigala kepada bulan. Tapi disana aku bertemu kembali dengan harapan yang telah lama pudar, bahwa cinta masih membela hidupku.

Dan aku menemukan rasa berbunga itu kembali ketika aku menerima dan memaafkan diriku.

Dipertemukan oleh Tuhan dengan seseorang yang dapat membangkitkan rasa gairah tersebut: dimana hari-hariku dipenuhi oleh rasa penasaran akan hari esok, karena hari esok merupakan misteri yang tak terungkap di antara aku dengannya. Aku bertanya kepada Tuhan dalam detik demi detikku bersanding dengan dirinya: haruskah aku membuka hatiku padanya?. Karena jika aku membuka hatiku lebih lagi terhadap dirinya, maka aku akan membuka diriku lebih lagi akan kesempatan untuk disakiti, untuk berharap dan kecewa. Dan aku takut, takut jika aku salah menempatkan hatiku ke orang yang salah lagi. Hati ini hanya ingin dijaga, baik-baik, karena dia hanya ada satu..

Tapi begitu banyak pertanyaan dalam pikiranku mengenai: “bukankah seharusnya?”. Dan aku terus mencari jawaban akan kemungkinan-kemungkinan yang ada. Tapi tidak akan aku temui jawabannya jika Tuhan mau aku letakkan keputusan ini di tanganNya: to wait and see, untuk belajar mengisi gelas yang kosong dari sebuah kecukupan akan hari ini, untuk memandang perjalanan cerita baru ini sebagai perjalanan aku-dan-Tuhan dan aku-dan-aku, bukan aku-dan-dia. Tapi tentunya aku tidak dapat menyangkal rasa gelisah yang ada di dalam hatiku.

“Mungkin kamu hanya takut ditinggalkan sendiri lagi”, kata Ma tiba-tiba ketika aku bertanya dan meminta pendapat akan perubahan yang datang dari dia. Dan aku rasa, dia benar.

Terlebih lagi ketika demam menyerangmu, rasanya semua yang ada padaku rentan: hati, pikiran, dan tubuh yang bahkan terlalu lemah untuk berdiri sembari lima menit saja. Kegelisahanku menarikku pada harapan untuk cepat kembali ke negeriku, untuk melihat kesempatan akan aku dan dia di hari esok atau dua hari atau tiga hari lagi atau satu minggu lagi, juga menarikku untuk segera menyelesaikan kondisi fisikku pada para professional.

This is definitely the fever talking.

Ketika aku patah hati, aku menyadari bahwa proses yang kulalui adalah seperti batu yang dipukul berjuta-juta kali hingga hancur. Dari kepingan-kepingan tersebut, aku berlutut memungutnya dari tanah. Merendahkan diriku pada bumi, dan menangis pada langit, seraya aku susun kembali kepingan hati yang sudah tak terbentuk. Melaluinya aku perlahan melihat kembali siapa aku, aku melihat seberapa berharganya aku bagi mereka yang memandang aku berarti bagi mereka. Dan Tuhan yang hatiNya hancur juga melihatku berlutut memungut kepingan yang tersisa, memandangku berarti di mataNya. Karena Tuhan begitu mengasihiku terlebih dahulu, maka hatiNya hancur ketika melihat hatiku hancur.

Ketika aku mengasihi, aku menyadari bahwa proses yang kulalui adalah seperti batu yang perlahan-lahan dikikis oleh air sungai. Yang begitu keras, dan defensif, kemudian diberi kesempatan untuk menjadi lembut agar aku bisa mengasihi dengan sempurna melalui kelemah-lembutan cinta. Tapi aku menyadari dengan kelemah-lembutan tersebut, aku memberikan diriku untuk dikuasai kerentanan, yang akan lebih mudah untuk disakiti atau dikecewakan. Tapi mungkin disinilah titik lemahku yang Tuhan ingin buka, bahwa rasa sakit dan rasa kecewa yang bisa terjadi oleh karena kisah cinta aku dengan seseorang, adalah bagian dari cerita cintaku dengan diriku sendiri: menerimanya dan mencintainya apa adanya, sebagaimana adanya. Dan ketika aku dipertemukan dengan seseorang yang pada akhirnya dapat aku cintai, aku tidak memohon apa-apa lagi selain dari dirinya di hatiku, untuk aku cintai.

The cup will be fulfilled, not by him, but by Him. Aku dicukupkan oleh karena Tuhan mengasihiku terlebih dahulu -John 3:16.

“The greatest love of all is easy to achieve, is to learn to love yourself” – Whitney Houston

Btw, happy valentine, Readers πŸ™‚

The fever is talking..

Aku bukan jomblo, tapi aku single.Β 

whatsapp-image-2017-02-08-at-1-01-24-pm

Advertisements

Author: Irene A.K.A Irin

I am just an ordinary girl who lives in the extraordinary world.. I'm not used with the talking thingy, so I'd prefer to write all my thoughts and my feelings.. I dream a lot, I imagine a lot.. I love to sing, I love to dance, and I love to smile.. It's not a perfect world, but imagination has brought me to enjoy the perfect world.. Know me well from my writings, not my talking.. I speak through fingers, not mouth.. And the most important thing is, the truth that I am my Big Daddy's daughter.. "I am broken and lost, but by God's grace, I have found"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s