About Me · IN · Life Lesson

the downpour..

Hujan selalu memberiku arti tersendiri untuk menulis. Genangan air yang tertinggal di tanah selalu memantulkan kenangan yang tertinggal. Hujan pagi ini tak lebih dari amukan langit kepada bumi. Terlalu deras untuk ditembus. Ketika aku masih kanak-kanak, Da selalu berkata, jika hujan turun tanda malaikat di surga menangis karena ada salah satu malaikat di bumi berduka. Aku malaikat di matanya Da. Bisa dikatakan ungkapan tersebut merupakan salah satu dari sekian sedikit ungkapan darinya yang selalu aku ingat hingga detik ini. Aku kehilangan memori sekian tahun masa kanak-kanakku, entah mengapa..

Aku terbangun 15 menit lebih awal daripada jam aku memasang alarm pukul 4.45 pagi. Niatanku untuk menghabiskan energy yang tersisa tekurung oleh karena hujan deras yang tak kunjung reda sedari semalam. Maka aku kembali membungkus tubuhku dengan selimut hangat. Meringkuk, dan kembali terlelap, hingga pada akhirnya aku tenggelam dalam dunia mimpi sebelum pada akhirnya aku benar-benar terbangun satu jam kemudian untuk memulai hariku.

Aku beranjak keluar rumah dengan bertudungkan payung hitam. Hujan masih sangat deras. Aku baru sadar bahwa hari ini aku mengenakan atribut hitam dari atas sampai bawah – baju, sepatu, tas. Merah warna favoritku, tapi hitam menjadi warna pakaian favoritku sehari-hari, hingga pada akhirnya aku jatuh cinta kepadanya, kepada warna hitam. Dia menjadi warna favoritku kedua setelah merah. Mungkin kehadiran warna hitam dalam keseharianku berguna untuk melindungiku dari rasa tidak aman yang sering aku pendam ketika aku menghadapi dunia.

Sehari-hari aku menempuh perjalanan ke dan dari kantor dengan transportasi umum busway dan berjalan kaki. Cerah, sejuk, panas, mendung, hujan, tidak menghalangiku untuk tidak menggunakan transportasi umum dan berjalan kaki. Begitu pula dengan hujan deras yang mengguyur Jakarta pagi ini, tidak menghalangiku untuk memanjat jembatan penyebrangan busway, dan berjalan menembus rintik hujan yang terpantul dari tanah ke kedua kakiku. Pantulannya kemudian membasahi sepatuku. Aku dapat merasakan dingin yang disebabkan oleh air yang menumpuk di sudut sepatuku. “Ah, seharusnya aku mengenakan sepatu boots”, pikirku menyesal, kuatir seharian akan hujan dan tidak mengeringkan basahnya sepatuku.

Aku tiba 30 menit kemudian dari keberangkatanku menuju kantor, dan waktu menunjukan pukul 7.40 pagi. Setibanya aku di meja kerjaku yang ruangannya begitu dingin, aku dikejutkan dengan ruangan kantor yang masih begitu sepi. Aku orang ketiga yang tiba di ruanganku. Tidak biasanya. Tentunya karena hujan deras ini. Akses di beberapa daerah di Jakarta terjebak oleh genangan banjir.

Dalam kesunyian ruangan kantor, aku membuka halaman blogku dan memulai menulis paragraf ini. Mataku masih terasa begitu berat akibat semalam. Aku membuka beberapa draft tulisan yang belum aku publish yang kusimpan di dalam blog ini. Menyadari ada salah satu draft lama yang dulunya ingin aku publish, namun kini sudah tidak berlaku lagi dan hendak aku hapus, bertuliskan demikian: “moving on is the phase where we all get broken in pieces”. Ada banyak hal di dunia ini dimana kita mengalami fase untuk menerima sesuatu yang tidak bisa kita kontrol, dan menerimanya merupakan perjuangan besar. Dan perjuangan tersebut seringkali menghancurkan hati kita. Perjuangan akan rasa sakit yang tak terungkapkan. Ada kalanya karena Tuhan memang tidak memberi restu akan apa yang kita harapkan, ada kalanya karena Tuhan punya sesuatu yang lebih baik untuk kita miliki. Yang kita butuhkan hanya sepercik iman untuk yakin bahwa Tuhan pegang kendali. Proses tersebut mungkin menghancurkan hati, tapi aku menyadari hatiku yang berubah oleh karena kehancuran tersebut: memandang dunia bukan lagi dengan kekerasan hati, namun kelembutan hati. Bukan pada manusia saja hati kita harus berlemah lembut, namun pada segala elemen yang ada di dalam dunia ini.

Dan jika seseorang menuduhku untuk menjadi terlalu sensitif, biarlah mereka berkata apa yang hendak mereka kata. Karena aku pikir menjadi pribadi yang sensitif tidak melulu berarti mudah tersinggung, melainkan dapat merasakan segala sesuatu yang tidak semua orang dianugerahkan perasaan ini.

Satu jam berlalu dan teman-teman kantorku sudah mulai berdatangan. Waktunya aku memulai hariku di kantor dengan seuntaian agenda meeting dan paperwork yang menumpuk dalam list “daily tracker” aku.

Hujan mulai berhenti, dan Jakarta mulai menunjukkan cahayanya melalui celah angin kelabu yang sempat menutupi kota ini sepanjang malam. Sorotan matahari mulai menyinari tanah yang basah, dan perlahan segalanya terlihat lebih ceria..

Satu senyum dapat menyembuhkan beribu luka..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s