IN · Journey of Love · Life Lesson

One slightest chance i never get

Satu kilas kesempatan, yang Tuhan tidak pernah berikan kepadaku.

Well. Bukan seperti itu tepatnya. Ada beberapa masa ketika aku berdoa dalam hati: “Tuhan, jika, jika saja, jika jalan kami satu, berikan aku kesempatan untuk bertemu dengannya hari ini”.

Ada beberapa ruang di hatiku yang isi nya adalah sebuah gelas kosong, yang akan di isi oleh beberapa orang pilihanku: yang aku pedulikan, yang aku cintai. Satu per satu di isi oleh air yang berbeda: keberadaan tanpa bincang, pertemuan singkat, suara yang menenangkan, perbincangan dunia maya di luar pertemuan fisik, dan rangkaian momen-momen berkualitas. Beberapa hari itu, gelas “momen berkualitas” aku kosong. Rindu yang tak terbendung. Menahan diri dengan membangun berbagai macam jenis tembok yang tidak bisa ditembus siapa pun. Mulutku terkatup rapat. Aku tak sanggup untuk mengungkapkan isi hatiku kepada sahabat-sahabatku. Aku pikir tak seorang pun mengerti aku, mengapa aku harus membuang energi lebih untuk aku membuat mereka mengerti aku? Aku berdoa kepada Sang Pemilik Waktu. Dalam sebuah persimpangan aku berdiri, untuk menggenggamnya, atau melepaskannya. Untuk memilikinya di suatu waktu di masa depan, atau untuk menjadikannya sejarah. Aku berdoa, memohon restu Tuhan untuk suatu kesempatan, jika memang Tuhan yang telah memberikanku kesempatan singkat tersebut benar-benar menganugerahiku kesempatan abadi. Aku berdoa pada jalan yang harus aku tempuh. Ah tidak. Bukan maksudku untuk mencobai Tuhan. Aku hanya membutuhkan sebuah kepastian jika memang aku dan dirinya Tuhan pertemukan untuk menjadi sesuatu.

Dan Tuhan kabulkan satu atau dua kali, ketika aku menyayat hatiku dengan segenggam kaca yang sudah pecah kupukul dengan emosi meluap-luap. Aku mengurungkan diriku untuk menoleh dari dirinya. Aku bertanya kepada Tuhan, arti dari pertemuan tak disengaja tersebut, apakah maksudNya adalah untuk tidak menyerah terhadapnya? Ataukah Tuhan terlalu baik kepadaku sehingga tak tega dilihatNya aku yang terluka dan menangis meringkuk bagaikan bayi?

Kuberikan diriku dan dirinya waktu untuk berproses. Lebih tepatnya, dia.

Satu minggu berlalu, mungkin Tuhan memang terlalu baik padaku. Pertemuan-pertemuan tidak disengaja yang membawa gelasku pada sebuah kepenuhan, mungkin bermaksud dari Tuhan untuk menghibur aku. Bukan berarti restu telah Dia turunkan atas kami.

Dan dalam kesunyian aku terus berpikir, mengolah arti demi arti akan pertemuan kami, akan hari demi hari kami yang begitu berarti untuk aku seolah aku dan dirinya merupakan dua jiwa yang terpisah sudah lama kala dan bertemu kembali di belahan dunia ini.

Aku tidak pernah lagi melihat diriku seperti aku melihat diriku sekarang di malam hari sejak tahunan yang lalu ketika hati ini hancur, hancur lebur berkeping-keping karena pintu rumah yang sudah terbuka hendak aku tutup kembali, dan kubuang saja kuncinya jika perlu, biar tak lagi seorang pun dapat memasuki rumahku. Sudah cukup, sudah cukup hati ini diremas oleh genggaman harapan untuk pada akhirnya mendarat di satu pelabuhan saja.

Sunyiku menjadi begitu melelahkan ketika suara tangis terdengar lebih keras daripada nafasku. Dan aku memilih untuk diam dalam kegelapan. Bukan untuk meratapi nasib sebagaimana aku meratapi nasibku dulu, melainkan untuk tidak membiarkan seorang pun mendengar rumitnya suara dalam kepala ini berbicara. Lebih baik mereka tidak melihatku, karena mereka tidak akan mengenalku ketika aku melepaskan topengku. Gelap telah menjadi sahabatku. Sunyi telah menjadi ruang aku berteduh.

Dan aku masih berdoa, masih memberinya kesempatan yang aku lontarkan kepada Tuhan. Ketika kesempatan itu lewat, aku merenungkan maksud Tuhan. Ada begitu banyak kesempatan kilat, tapi Tuhan tidak pernah memberikan satu sepersekian detik pun untuk aku bertemu dengannya lagi. Hanya dalam rangkaian hari dalam minggu itu saja mungkin Tuhan kasihan kepadaku dan memberikanku kesempatan terakhir, untuk aku mengucapkan selamat tinggal kepadanya.

Untuk melepaskannya..

Terus dan terus mencari arti hidup akan kesempatan yang Tuhan bisa berikan namun tidak Dia berikan. Mungkin perbedaan keyakinan kami yang tidak mungkin ada kesempatan untuk bisa bersatu, mungkin perbedaan waktu kami yang menempatkan kami selalu dalam posisi terjepit, mungkin aku tidak sebaik dirinya yang baik untukku. Ah. Selalu. Merasa diri rendah dan tidak berarti bagi pribadi yang baik macam dirinya.

Hilang. Dia hilang. Lupa sudah aku wajahnya. Lupa sudah aku suaranya. Lupa sudah aku hembusan nafasnya yang aku dengar dari balik ceritanya yang tak kunjung putus jika kami bertemu. Tapi setidaknya aku pernah bahagia.

Maafkan aku dunia, yang telah menyaksikan kami sempat bertumbuh di antara kalian, mungkin Tuhan tidak merestui kami. Maafkan aku dunia, doa-doamu tidak terkabul seperti aku pun berdoa yang sama. Maafkan aku dunia, yang sempat bahagia melihatku bersemangat. Maafkan aku dunia, yang berharapan karena melihat harapanku yang pernah patah tumbuh kembali. Namun kini aku jatuh, retak, dan kemudian patah.

Mungkin suatu hari nanti dunia akan melihatku tumbuh kembali.

Yang patah, akan tumbuh. Yang hilang, akan berganti. Yang hancur lebur, akan terobati. Yang sia-sia, akan jadi makna. Dan akan terus berulang suatu saat nanti..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s