Blessings in Disguise · IN · Life Lesson

Pertemuan dan perpisahan

Aku selalu percaya Tuhan mempertemukan aku dengan seseorang untuk suatu tujuan. Dan jika Tuhan yang mengijinkan sebuah pertemuan, maka Tuhan juga yang kemudian mengijinkan sebuah perpisahan. Pertemuan yang diiringi dengan sebuah perpisahan merupakan satu bagian dari rancangan besar yang sudah Tuhan susun dengan baik sedari awal. Jika hari ini Tuhan ijinkan aku bertemu dengan seseorang, maka Tuhan pun tahu di masa depan nanti apakah akan ada perpisahan atau hubungan dengan waktu tanpa batas.

Maka dari itu, aku akan sangat menghargai waktu-waktuku dengan siapa pun dia karena aku tidak akan pernah tahu seberapa banyak waktu yang aku miliki untuk bersamanya. Seberapa lama Tuhan ijinkan aku untuk bersama dengannya.

Bukan. Ini bukan hanya berbicara mengenai aku dan kisah cintaku. Aku berbicara mengenai sudut pandang sebuah pertemuan secara umum. Dengan teman-teman sekitarku, dengan keluarga, dengan orang-orang asing yang kutemui secara acak dalam kilas waktu.

Pertemuan seringkali diisi oleh tawa dan senyum. Ada salam hangat yang hadir di antara jabatan tangan ketika kita pertama kali bertemu dengan seseorang. Ada canda dan senyum yang mengisi setiap baris pembicaraan. Seiring berjalannya waktu, sebuah hubungan perkenalan bertumbuh menjadi pertemanan, dari pertemanan menjadi persahabatan. Proses. Bahkan hubungan persahabatan pun membutuhkan sebuah proses yang hanya dapat dibentuk melalui waktu. Aku dibentuk melalui proses tersebut. Dibentuk dari caraku belajar mengenai karakter seseorang. Ruang hatiku semakin diperluas untuk aku dapat menyamakan langkahku dengannya. Jika ada hubungan baik yang dibangun melalui pertemuan kami, membawa sebuah cerita indah yang akan terus berlangsung hingga waktu tak terbatas. Namun jika ada hubungan yang tidak baik terjadi berjalan dalam proses pengenalan kami, kujadikan sebagai bentuk pembelajaran terhadap berbagai macam karakter seseorang, dan tentang apa yang bisa dan tidak bisa aku tolerir. Terlebih lagi tentang siapa aku ketika aku besosialisasi dengan orang lain.

Aku didewasakan dengan cara memperluas ruang hatiku untuk mengerti mengapa seseorang melakukan suatu perbuatan seperti yang dia lakukan. Jika aku tidak menyukai perbuatannya, aku belajar untuk tidak melakukan apa yang aku tidak sukai terhadap orang lain, karena aku mengerti rasa tidak nyaman karena perbuatan tersebut. Jika perbuatan itu baik adanya, aku belajar untuk bersikap demikian sesuai dengan kebutuhan orang lain terhadap sebuah perlakuan.

Tapi aku sadar bahwa siapa pun yang aku temui dan masuk ke ruang hatiku, selalu mengkontribusikan suatu perubahan dalam hidupku. Perasaan yang dibangun melalui pertemuan demi pertemuan menjadi caraku untuk merenungi maksud Tuhan mempertemukan aku dengan mereka. Jika Tuhan tahu aku akan berpisah dengannya, mengapa Tuhan ambil dari hidupku? Karena aku tidak pernah merelakan sebuah perpisahan. Mungkin hanya bagian dari sisi kanak-kanakku yang masih ingin merasakan kebersamaan dengan mereka, masih ingin berbagi cerita hidupku dengan mereka. Tetapi hari-hari perpisahan yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidupku, menjadi cara Tuhan berkata kepadaku: “waktumu dengannya sudah habis”. Bagian mereka dalam hidupku sudah selesai.

Karena yang Tuhan ingin sampaikan kepadaku adalah bukan siapa mereka dalam hidupku, melainkan proses yang Tuhan mau aku jalani agar aku dapat semakin dibentuk melalui kehadiran masing-masing dari mereka.

Terutama ketika proses yang dimaksud adalah proses pembentukan hubungan antara diriku dengan Tuhan sendiri.

Pada akhirnya, Tuhan hanya peduli proses yang kita lewati, hasil akhir hanyalah sebuah hadiah dari perjalanan senang dan sedih yang telah kita tempuh dalam proses. Sama hal nya dalam mengikuti sebuah pertandingan Marathon. Empat bulan kita berlatih, ketahanan tubuh kita dibentuk, dan pada harinya kita melewati rute yang harus kita tempuh, kemudian berakhir di garis akhir pertandingan setelah 42 km kita berlari, kita akan melihat kembali ke belakang ketika semuanya baru dimulai, dan bersyukur bahwa ada proses yang diijinkan terjadi. Tangis haru yang turun dari kedua sudut mata kita adalah tangis rasa syukur karena kita telah di proses menjadi pribadi yang lebih kuat. Hasil akhir hanyalah hadiah dari ketekunan yang kita tempuh untuk bertahan dalam suatu hubungan, pertemanan, persahabatan, kekeluargaan, maupun percintaan.

Dan jika pada suatu malam yang sunyi aku kembali bertanya kepada Tuhan mengapa seseorang harus pergi dalam hidupku, Tuhan kembali mengingatkan kepadaku bahwa mereka-mereka yang pernah mengisi hidupku tidak pernah pergi dari hatiku sejauh apa pun aku terpisah dengan mereka, sejauh apa pun jarak terbentang di antara aku dan mereka.

Mereka selalu ada di hatiku. Karena mereka membawa perubahan dalam hidupku. Masing-masing dari mereka mendewasakan aku, hatiku, dan cara berpikirku tentang dunia dan isinya.

Pembelajaran mengenai cinta, pembelajaran mengenai penerimaan terhadap diriku sendiri, pembelajaran mengenai sebuah kepercayaan, pembelajaran mengenai banyak hal di dunia mengenai hidup, pembelajaran mengenai yang salah dan benar, semua kudapati dari proses yang aku jalani dengan seseorang yang Tuhan ijinkan aku bertemu. Apa lagi yang bisa aku minta dari Tuhan untuk suatu pembelajaran mengenai kedewasaan?

Tuhan sudah berikan sumbernya: orang-orang yang Dia ijinkan aku untuk bertemu.

“Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya manusia” – Amsal 27:17

IN · Journey of Love · Literature

Hantaran hujan

WhatsApp Image 2017-03-15 at 11.28.12 AM

Sudah seminggu terakhir ini tanah di Jakarta di basahi oleh hujan yang datang ketika kegelapan mewarnai langit. Dan dia, hujan, terus berlanjut hingga keesokan pagi, meninggalkan warna abu-abu pada pantulan genangan yang tertinggal di sudut trotoar jalanan. Matahari hanya menampakkan cerahnya pada siang hari, ketika dia ada di titik tertinggi angkasa. Menghapus genangan yang tertinggal dari pagi hari. Aku tidak pernah menyangka bahwa hujan akan turun kembali minggu ini. Aku tidak pernah menyangka bahwa hujan akan memberikanku pesan singkat dan sederhana mengenai sebuah perpisahan. Padahal, sebelumnya minggu-minggu kota Jakarta terasa begitu panas karena teriknya matahari yang bersinar sedari pagi hingga sore, hingga ia mengindahkan langit senja.

Malam-malam dalam beberapa hari ini ketika aku hendak membungkus tubuhku dengan selimut, tidak luput aku mendengar ketukan sentuhan hujan di jendela kamarku. Aku merangkak ke atas tempat tidurku bagaikan anak kecil yang baru saja kehilangan boneka kesayangannya. Dan tangisku pecah ketika aku memeluk salah satu boneka yang kususun di atas bantal tidurku. Kusembunyikan ringisanku ke balik selimut dan kemudian terlelap.

Tidak lama yang lalu, malamku terasa begitu hangat. Aku dapat mendengar suara dan tawamu sebesar apa pun hujan yang turun ketika malam hadir. Tapi kini, malamku tidak lagi diisi dengan senyum. Karena senyumku lahir ketika ada dirimu di sisiku. Walau jarak memisahkan kita, dan waktu membatasi ruang gerak kita, tapi aku tahu hadirmu di seberang sana memberi hidupku arti, menceriakan hari-hariku. Seperti ketika matahari bersinar dengan teriknya pada titik tertinggi, menceriakan dunia yang sedang terbangun.

Karena kamulah ceriaku..

Tapi kepergianmu memberikan kesunyian dalam hidupku. Malamku tidak lagi dipenuhi oleh senyum. Hanya lantunan lagu gemulai dan lirik-liriknya yang memberi hidupku arti. Dan hujan terdengar begitu kerasnya. Terdengar begitu ribut.

Seraya berbincang dengan diriku sendiri, dan Tuhan: “apa yang harus kulakukan selanjutnya?”. Karena hidup bagaikan putaran roda, yang terus berjalan tanpa memberikan kita kesempatan untuk terdiam sejenak.

Suatu hari di masa lampau, Da pernah berucap: “jangan menangis, nak, nanti malaikat di surga turut menangis untukmu dan nanti hujan turun”. Aku bertanya kepadanya apa hubungannya malaikat dengan aku. Dan dia menjawabku: “karena kamulah malaikat yang jatuh ke bumi”. Aku malaikat di mata Da.

Pedihku tidak dapat kuungkapkan dengan kata-kata. Dan mungkin Tuhan tahu itu. Hanya hujan yang dapat menceritakannya. Bukan hanya cerita mengenai kisah kita ketika aku dan kau berjalan berdampingan menerobos hujan yang di warnai dengan tawa dan senyum ketika kita bertukar cerita hidup, melainkan juga sebuah cerita mengenai sebuah perpisahan hati yang pernah berharap tentang kemungkinan kisah masa depan yang dapat di rajut suatu hari nanti. Cerita perjalanan pengetahuanku tentang dirimu yang kini harus aku hapus, karena aku bukan hanya sekedar mengenal namamu. Aku sudah mulai mengerti dirimu.

Dalam masa-masa sunyi yang kau biarkan aku tinggal, aku mengirimkan pesanku kepada hembusan angin dingin, bahwa aku merindukan berbincang denganmu. Dan hujan turun seketika ketika aku berucap pada langit: “aku merindukannya, dan masa-masa pembelajaran mengenai dirinya”. Hujan bukan hanya pernah menghantarkan rinduku kepadamu. Hujan juga menjadi caraku menghantarkan kepergianmu dari hidupku. Genangan yang tertinggal di tanah menjadi tuangan terhadap memori demi memori yang pernah aku ukir sepanjang aku bersamamu. Dan biarlah genangan tersebut suatu hari nanti ‘kan dihapus oleh teriknya matahari ketika dia bersinar kembali sepanjang hari, sepanjang minggu.

“Pernah”. Kamu pernah mengisi hatiku. Biarlah genangan yang di tinggal oleh derasnya hujan yang turun sepanjang malam tersebut suatu hari nanti ‘kan dihapus oleh teriknya matahari ketika dia bersinar kembali sepanjang hari, sepanjang minggu.

Dan ketika matahari bersinar sepanjang hari, aku percaya, indahnya warna senja yang membuat seluruh dunia jatuh hati akan kembali mewarnai hamparan langit yang luas, seluas hatiku ketika aku mencintai seseorang..

IN · Journey of Love · Literature

melupakan rasa

Sepanjang minggu terakhir Jakarta tidak diguyur hujan yang sebelumnya sempat menggemparkan beberapa daerah. Panas. Pengap. Tiba-tiba udara terasa begitu menyesakkan.

Seperti hatiku yang terasa sesak oleh karena beban yang kupikul di hatiku.

Matahari bersinar seolah menantang penduduk kota ini. Dan tidak sedikit aku mendengar keluhan orang-orang sekitarku berkata: “panas, panas, panas”. Tapi minggu ini aku bernaung di dalam ruangan kantorku. Dilindungi oleh dinginnya AC. Aku tidak menapakkan kakiku keluar. Aku hanya mengurung diriku di depan laptop dan menulis satu demi satu baris sepanjang dua belas hari terakhir.

Aku hanya ingin sendiri dan membiarkan kesendirianku di isi oleh kata-kata dari Tuhan, bukan manusia.

Mencurahkan isi hati kepada pribadi yang tidak pernah membalas setiap kata yang aku ungkap: tulisan. Bisunya menjadi caranya untuk memberi pesan kepadaku bahwa walau dunia tidak mengerti aku, dia mengerti. Aku hanya perlu di dengar. Di mengerti.

Ada satu perjalanan akan sebuah cerita perjuangan yang terlalu singkat untuk di ceritakan kepada dunia. Namun bagi duniaku, perjalanan singkat tersebut menjadi begitu berkesan sehingga aku menuliskannya di dalam buku kehidupanku. Dan mungkin, suatu saat nanti akan kembali kuceritakan di masa tuaku.

Perjalanan waktuku adalah detik. Mungkin perjalanan waktunya adalah hari. Atau bulan. Setiap detik menjadi caraku untuk mendoakannya.

Waktu yang ada pada duniaku dan duniaku tidak berjalan berdampingan. Ruang waktu kami berbeda.

Perhentian harus kami lewati, dan di sanalah kami berpisah. Mengucapkan selamat tinggal akan satu pandangan yang pernah kita sama-sama pegang.

Kita beranjak ke arah yang berbeda.

Matahari belum terbangun, alarmku belum berbunyi. Aku sudah terbangun. Pada jam dimana aku selalu terbangun ketika aku memikirkannya, merindukannya, kehilangannya.

3.00 pagi. Ketika seluruh dunia sedang begitu lelapnya, sesuatu membangunkanku. Dan pikiran mengenai dirinya yang pertama menghampiriku.

Sudah dua minggu terakhir kesunyian pukul 3.00 pagi menjadi sahabatku. Aku hanya ingin tidur. Dengan lelap. Sepanjang malam.

Sadarku kuletakan di antara dua dunia: mimpi dan realita. Dan satu setengah jam kemudian aku kembali terbangun, dan memutuskan untuk menyapa pohon-pohon yang berbaris rapih di luar sana. Mereka telah menjadi sahabatku yang melindungiku dari panasnya udara yang mencekik ketika aku berlari. Dan lelahnya jantungku berdegup telah ditelan oleh kesejukan sentuhan pepohonan ketika menari dengan angin yang berhembus.

Tapak kakiku pertama kali menghirup udara kota Jakarta, aku menemukan tanah di basahi oleh hujan yang sudah lama di nanti oleh penghuninya. “Mungkin malaikat di surga berduka melihat dukaku”, jadi aku tidak akan pernah merasa sendiri.

Aku berlari menembus hujan. Dan perlahan kenangan demi kenangan akan waktu kebersamaan singkat yang pernah dirajut muncul kembali bagaikan sebuah tontonan sebuah pertunjukan. Dalam langkah lariku, aku menyaksikannya melewati bayang memoriku.

Ya. Biar waktu saja yang menghapusnya. Untuk aku melupakannya.

Hujan pagi ini entah kenapa terasa seperti butiran-butiran batu kerikil yang memukul kulitku, menampar wajahku. Padahal hanya sebatas gerimis kecil. Aku menengadah ke atas, dan melihat butiran-butiran air yang jatuh dari langit terlihat besar.

Lanjutku aku berlari menembus jalanan-jalanan yang biasa kulewati ketika aku berlari pagi. Minggu ini aku sudah terlalu sering melewati jalur yang sama. Minggu ini sudah terlalu banyak aku berlari. Untuk berpikir.

Tiga puluh menit kemudian aku dipaksa berhenti oleh hujan yang kian deras.

Dan aku kembali tertidur, dengan harap akan melupakan satu per satu kejadian yang pernah kami alami, aku alami.

Tapi “lupa” itu bukan mengenai tidak mengingat setiap detil kejadian yang terjadi. Melainkan mengenai rasa yang pernah timbul ketika aku bersanding dengannya, ketika aku berbincang dengannya, walau hanya satu menit kami berpapasan, walau hanya satu atau dua kalimat terucap dari bibir ini. Cangkirku terisi, tidak lagi kosong.

Lupa. Aku harus melupakan rasa tersebut. Rasa nyaman, rasa aman, yang memulai segalanya.

Maafkan aku, hati, aku mengecewakanmu lagi.

Aku yang akan membantumu untuk menyusun bentukmu kembali. Dan percayalah, hati, waktu saja yang mempunyai otoritas untuk menghapusnya.

Dan sementara itu berlangsung, aku akan menanti dengan sabar agar kau pulih kembali.

Ini janjiku. Bersabar..

IN · Journey of Love · Literature

4,060,800 detik

Pada mulanya aku tidak pernah memandangmu sebagai apa-apa, juga tidak melihat dirimu sebagai suatu cerita baru, karena aku sedang menyerah pada kesempatan untuk bisa mencintai lagi.

Kehilangan harapan oleh sebab luka masa lalu.

Melihat suatu kesempatan untuk bisa melangkah lebih jauh, sudah kuurungkan jauh-jauh hari.

Aku, pada titik dimana aku tidak percaya lagi pada cinta, empat tahun lamanya, dan menyerah untuk bertemu dengan rasa itu lagi.

Tetapi hadirmu membawa kembali satu kesempatan yang pernah hilang tersebut.

Satu kesempatan dimana suatu hari nanti aku akan bertemu dengan cinta yang dapat kuberikan kepadamu.

Membukakan mata hati yang selalu tertutup ketika aku bertemu dengan beberapa orang di sekitarku.

Tidak sering hatiku merasakan rasa nyaman yang saat itu aku rasakan, ketika pertama kalinya aku terduduk di hadapanmu menggenggam secangkir kopi dan memandangmu seraya berbincang hal-hal umum yang bisa di perbincangkan pada pertemuan pertama, dibalik penolakanku untuk bertemu denganmu. Namun hatiku ingin mencoba.

Pertemuan pertama dimana aku bisa menjadi aku tanpa topeng, membuka diriku apa adanya tanpa bersandiwara.

Seolah aku sudah mengenalmu sejak jauh hari.

Aku ingin mengenalmu lebih lagi.

“Aku tahu aku bisa percaya kepadanya”, ungkapku dalam hati, “suatu hari nanti”, lanjutku. Tanda hatiku yang pernah terkunci pada akhirnya menemukan celah untuk terbuka kembali.

Aku tahu hatiku tidak pernah salah. Karena dia yang selalu membimbing setiap keputusanku: hatiku.

Hari-hariku pernah terasa begitu singkat ketika aku bersama denganmu, ketika aku merajut detik demi detik, menit demi menit,  jam demi jam, akan pengenalan tentang dirimu, tentang hatimu.

Sederhana dan singkat, namun entah kenapa terasa berkesan. Dan aku menuliskannya satu per satu baris dalam buku kehidupanku, menjadi sebuah rangkaian cerita ketika aku kembali membacanya.

Waktu. Kubiarkan waktu mengisi ruang dan jarak di antara kita dalam proses.

Aku bersabar..

Karena hanya waktu yang dapat mengajarkan masing-masing dari kita bertumbuh.

Aku tidak lagi merasakan sunyi di dalam batinku, aku tidak lagi tersesat ketika aku bersama denganmu, merasakan hadirmu dari seberang sana.

Aku tidak lagi merasakan jenuh karena rutinitas yang aku jalani sehari-hari.

Karena ada hadirmu dalam hari-hariku. Ada penantian untuk bertemu dan berbincang denganmu dalam detik jam berjalan.

Yang aku tahu, aku pernah merasakan hari-hari yang diisi dengan rasa penasaran disertai rasa kegirangan, akan pengalaman baru apa yang akan kau bawa untukku.

Akan kejutan apa yang akan kau bawa dalam hidupku di kemudian hari.

Keberadaanmu menjadi arti setiap pagi aku terbangun dari tidurku, menjadi ceriaku di siang hari ketika aku bertatapan dengan sinar matahari dan panasnya yang menyengat, menjadi senyumku ketika malam tiba menghantarkan seluruh rangkaian kejadian sepanjang hari.

Tangisku menjadi tangis rasa takut yang sudah kugenggam terlalu lama, dan hendak aku buang jauh-jauh. Karena aku ingin belajar untuk mempercayaimu perlahan.

Kemudian aku lepaskan rasa takut tersebut dan memberi hatiku kesempatan kembali.

Dunia berkata kepadaku untuk mengenggammu, untuk berjuang. Sudah lama aku tidak melihat dunia begitu mendukungku. Sudah lama aku tidak merasakan dukungan dari dunia yang pada akhirnya membawaku menjadi pribadi yang lebih kuat untuk menjalani sesuatu yang rapuh kembali.

Karena untuk mencintai adalah untuk menjadi rentan.

Sudah lama aku tidak melihat dunia turut bahagia memandang senyumku ketika namamu terucap.

Dunia begitu bersyukur akan kesempatanku bertemu denganmu yang kemudian membawaku pada kesempatan untuk membuka pintu hati ini.

Aku belajar untuk membagi ruang-ruang waktu yang pernah terisi oleh begitu banyak kegiatan tak terbatas, dan menyisihkan satu ruang untuk diisi oleh waktu untuk mengenalmu lebih lagi.

Aku belajar untuk membangun ruang pengorbanan kepada satu orang lagi, kamu, dimana isinya akan dihiasi oleh ego-ego yang akan kusisihkan untuk menyamakan langkahku denganmu.

Aku belajar untuk membuka kardus-kardus berisi toleransi yang tidak pernah aku buka sebelumnya.

Bahagiaku ketika kita bersatu pandang memandang satu titik di depan. Aku pikir aku bermimpi di siang bolong.

Dan jika Tuhan perkenankan aku bersamamu, aku bersamamu untuk menuntun, bukan menuntut.

Tapi aku tidak pernah tahu bahwa mengenalmu akan menjadi sesingkat ini.

Waktu yang singkat, namun pemahaman akan dirimu yang seolah sudah kukenal dari tahunan yang lalu, seolah teman lama yang sudah lama tak bertemu dan melepas rindu.

Kau bagai bintang yang jauh dan menjauh dan terus menjauh dari anganku.

Kau sejauh langit, atau kau sedekat langit-langit?

Kisah kita ini, kisah tanpa cerita.

Hanya untaian sehelai benang yang pernah terjulur dari satu sudut ke sudut lainnya. Tapi tidak pernah menjadi sebuah tenunan kain yang indah.

Bahkan jika matahari harus menyingsing dari sudut utara, dan jika salju turun di kota ini, aku pun akan percaya saja.

Malamku pernah dipenuhi senyum, senjaku pernah menjadi bait-bait puisi, dan hujan yang turun yang membasah-kuyupi aku pernah mengantarkan kerinduan.

Jarak terjauh kita adalah waktu.

Tabungan terindah aku adalah rindu yang sudah lama tidak pernah kurasakan terhadap seseorang. Hari-hari dan minggu-minggu kosong tersebut pernah menjadi angin dingin yang berhembus hingga menusuk tulang belulangku.

Langkah ini pernah tertuju kepadamu, namun harus kutinggal kembali untuk melupakan dirimu yang pernah mengisi salah satu ruang di hatiku.

Kehadiranmu pernah menjadi bintang di kelip malam yang hitam dan gelap, dan dingin.

Setidaknya aku pernah menantimu untuk menghubungiku. Dengan bersabar.

Setidaknya aku pernah bertaruh dengan waktu untuk berpapasan denganmu.

Setidaknya aku pernah menanti detik demi detik ketika hanya ada aku dan kamu hendak pergi ke suatu tempat untuk menghabiskan siang atau malam.

Biarlah semuanya menjadi kenangan untuk saat ini, walau berat untukku karena aku pernah sangat nyaman dan merasa aman ketika aku bersama denganmu.

Dan aku percaya, jika memang Tuhan ijinkan aku dan kau menjadi satu, Tuhan yang akan pertemukan kita kembali dan memulai segalanya dari awal lagi. Hanya itu yang menjadi peganganku saat ini.

Dan waktu, biar waktu saja, yang menghapus rasa duka akan kehilangan dirimu yang pernah mendiami salah satu ruang di hatiku.

Dan waktu, biar waktu saja, yang menjadi sahabatku untuk aku memungut puing-puing hati yang terjatuh ke tanah.

Dan waktu, biar waktu saja, yang memulihkan segala luka karena jatuh terjerembabku.

Empat Juta Enam Puluh Ribu Delapan Ratus detik aku pernah mengenalmu dan menantimu.

Jika kau memang untukku, sejauh apa pun kakimu membawamu berlari, jalan yang kau tempuh hanya akan membawamu kembali kepadaku, kepada “kita”.

Dan seperti inilah rasa peduliku kepadamu walau belum mencintai dengan utuh: you are matter..

Maybe this is the beauty of a goodbye: so we know how much a person means to us..

Thanks for being a part of my heart once, Mr.J.. :’)

About Me · EN · Journey of Love · Life Lesson

when i met her

The day was bright, and she dressed like a princess. It was noon, and the sun at his highest. After a short moment with my friends, I met her on her way back to her place (and mine). I was thinking to catch up a little bit of her after our last meeting last week, when she was at her lowest. Approached her classy walk, and greeted her.

“Hi. Something to talk about?”, without further ado I asked her because I knew her well that she hid her uttermost feelings when she walks alone.

And she knew she could be open to me. I knew she would talk about all the things in the world to me without any hesitations. I knew she trusted me.

She looked at me with a deep stare. Her looks had already said the word.

“I think I’m a little afraid”, as she walked side by side with me.

“Of?, I asked her back.

She stood tighter by my side, wrapped around her little arm into my arm. As she bowed down, she sighed, a long one, showing the burden she carries in her heart, the one that no one in this world could see, and understand. But somehow I could understand her deeply.

We might rarely see each other, but I think this is the gift God gave me of being “sensitive” : someone who could understand others that deep. Maybe that kind of depth I have: connection.

She answered unhesitatingly..

“I’ve given so much to men. The wrong ones. And like the good stuff – you know – the loyalty, the care, the nurturing, the love, and sacrifices – the things you are supposed to give in a relationship. And I guess I’m a little afraid that when the right man comes along I’m gonna be reluctant to give that stuffs again. And then, I’m gonna be wasting a good thing because of it”.

I smiled when I looked at her bowing head, looking at the pavement to keep her pace.

To love is to be vulnerable. She is in the state whereas she’s being overly sensitive because she softens her heart to give another chance to her love. There were times when she gave up on love and she was so firm that she wouldn’t find love anymore. But God is too kind to her, and God gave her the opportunity to fall in love once again. God was trying to tell her that love is not giving up on her, why should she? But I don’t understand what was in God’s mind when He gave her the hard love to fill in her heart.

As once she chose to love, she will walk on it and committed to it. Most of the times it was the love that let her down. And crushed her into pieces. Just like how I see her now. I couldn’t stand seeing her to be that broken. What can I do to make her feel better?

I thought for a second and I turned to her.

“But you know what? The right guy is going to understand where you were coming from. And he’s gonna cherish you. He’s going to have all the patience in the world for you. He will take his time and go at your pace. He’ll work with you instead of going against you. He’ll come into your life and make things easier for you instead of harder. Because that’s what the right guys do. So don’t worry..”, I turn my arm around her shoulder, “..you’re gonna be just fine”.

The tears that clogged in the corner of her eyes were slowly fading away.

Under the blazing sun, her face was glowing as her skin glows.

I think the statements I tried to deliver to her were also the ones that made me believe that the right guy does not mean to be perfect, but he will make your world perfect even with his flaws and weaknesses.

And this is what I will love: his weakness, his flaws, his mistakes, his fears, and his wounds. Because loving someone at his good is easy. But loving someone at his worst is remarkable.

We were separated as I entered my office’s gate. She was gone when I reflected on my own words.

Well.. See you when I see you…

EN · Journey of Love · Life Lesson

trust

It’s 8.40pm and i just got back from the office. After series of workouts (run and gym) and short dinner meeting with Porkies, i got home soaked. It was raining for the whole afternoon until the evening.

Tuesday afternoon is a regular iRunners group run. I rarely join them, but this afternoon i had the need of going for an afternoon run. So i joined on the track late, just about the rain was going to start at 6pm. I ran so fast and didn’t even realized that i was going to lose my breath. I was so distracted.

I stopped at the 3rd K as it started raining.

One of my iRunners fellas called me and told me that they will be waiting for me at the gym’s office. But i just wanted to be alone. It was a tiring day. Thinking to skip meeting them, but they were waiting for me. They expected me to visit them. With the remaining emotional energy i had, i visited them. For few minutes only. Too many people inside the room. They absorb what i had left.

I left and was going to the gym next door while waiting for the rain to stop and bring Aaron back home, but the thought of gambling the opportunity came up. Been missing him for the day, but i promised myself, and him, to give him space he needs. Space is good, for the things need to grow, grow. Or for the things need to be thought of, being well thought. So it doesn’t be blinded.

I saw my colleague sitting alone at the lobby while waiting for the rain to stop. I sat beside her and talk. Talking about life while the other side of me kept thinking (and praying): if maybe i could meet him for a while, and walk him to the next door where he parks his car?

I knew God loves me.

Moments when my colleague went for home, i didn’t see him. I had no reason to stay. Took my helmet and was going to the gym. As i stood, i saw him among the crowds. Just the right moment when i thought that the last minute of the day won’t come as special as it was. Just like my prayer, i got the chance to walk him back home (well not literally).

Went to the gym to do few exercise before Porkies asked me to join them in a dinner. Chose to leave my series of weight trainings and rushing to meet them under the heavy rain. Few hugs, few tears, to release the emotions i held for the day. And few talks that being listened very well by my closest people.

The rain had not stopped when we asked for the bill. It did not even get lighter. I stucked in the options to bring back home Aaron under the rain or just go back home leaving Aaron alone in the basement. I chose to get Aaron. Cannot leave him alone in the basement full of dust because of the local mosque construction.

Water has always been my bestfriend. I love when it touches my skin and i can see the light reflection on top of my tanned skin.

It was a 2.8k distance ride back home, but i was soaked. The cold wind gave me a chance to think of myself, that i need to change (in a good way), as the people around me keep telling me: learn to trust someone. Trust. It’s all about the fear i had of being left behind. And that need to change. Because relationship takes trust to last.

Trusting him when he is not around.

Trusting him when he is gone silence.

Trusting him when he needs space.

And you know what, i guess you are the one that brings changes in my life. In a good way. That changes make me grow.

Healing process is painful. Like how the raindrops hit my face when i ride under the downpour with full speed, it hurt me.

But when i talk to God and ask myself: “are you willing to learn?”

Just like how i told him in the quality lunch yesterday during “the talk”: “i am a working in progress. And i am willing to learn”.

This is how i can tell him that i care about him..