4,060,800 detik

Pada mulanya aku tidak pernah memandangmu sebagai apa-apa, juga tidak melihat dirimu sebagai suatu cerita baru, karena aku sedang menyerah pada kesempatan untuk bisa mencintai lagi.

Kehilangan harapan oleh sebab luka masa lalu.

Melihat suatu kesempatan untuk bisa melangkah lebih jauh, sudah kuurungkan jauh-jauh hari.

Aku, pada titik dimana aku tidak percaya lagi pada cinta, empat tahun lamanya, dan menyerah untuk bertemu dengan rasa itu lagi.

Tetapi hadirmu membawa kembali satu kesempatan yang pernah hilang tersebut.

Satu kesempatan dimana suatu hari nanti aku akan bertemu dengan cinta yang dapat kuberikan kepadamu.

Membukakan mata hati yang selalu tertutup ketika aku bertemu dengan beberapa orang di sekitarku.

Tidak sering hatiku merasakan rasa nyaman yang saat itu aku rasakan, ketika pertama kalinya aku terduduk di hadapanmu menggenggam secangkir kopi dan memandangmu seraya berbincang hal-hal umum yang bisa di perbincangkan pada pertemuan pertama, dibalik penolakanku untuk bertemu denganmu. Namun hatiku ingin mencoba.

Pertemuan pertama dimana aku bisa menjadi aku tanpa topeng, membuka diriku apa adanya tanpa bersandiwara.

Seolah aku sudah mengenalmu sejak jauh hari.

Aku ingin mengenalmu lebih lagi.

“Aku tahu aku bisa percaya kepadanya”, ungkapku dalam hati, “suatu hari nanti”, lanjutku. Tanda hatiku yang pernah terkunci pada akhirnya menemukan celah untuk terbuka kembali.

Aku tahu hatiku tidak pernah salah. Karena dia yang selalu membimbing setiap keputusanku: hatiku.

Hari-hariku pernah terasa begitu singkat ketika aku bersama denganmu, ketika aku merajut detik demi detik, menit demi menit,  jam demi jam, akan pengenalan tentang dirimu, tentang hatimu.

Sederhana dan singkat, namun entah kenapa terasa berkesan. Dan aku menuliskannya satu per satu baris dalam buku kehidupanku, menjadi sebuah rangkaian cerita ketika aku kembali membacanya.

Waktu. Kubiarkan waktu mengisi ruang dan jarak di antara kita dalam proses.

Aku bersabar..

Karena hanya waktu yang dapat mengajarkan masing-masing dari kita bertumbuh.

Aku tidak lagi merasakan sunyi di dalam batinku, aku tidak lagi tersesat ketika aku bersama denganmu, merasakan hadirmu dari seberang sana.

Aku tidak lagi merasakan jenuh karena rutinitas yang aku jalani sehari-hari.

Karena ada hadirmu dalam hari-hariku. Ada penantian untuk bertemu dan berbincang denganmu dalam detik jam berjalan.

Yang aku tahu, aku pernah merasakan hari-hari yang diisi dengan rasa penasaran disertai rasa kegirangan, akan pengalaman baru apa yang akan kau bawa untukku.

Akan kejutan apa yang akan kau bawa dalam hidupku di kemudian hari.

Keberadaanmu menjadi arti setiap pagi aku terbangun dari tidurku, menjadi ceriaku di siang hari ketika aku bertatapan dengan sinar matahari dan panasnya yang menyengat, menjadi senyumku ketika malam tiba menghantarkan seluruh rangkaian kejadian sepanjang hari.

Tangisku menjadi tangis rasa takut yang sudah kugenggam terlalu lama, dan hendak aku buang jauh-jauh. Karena aku ingin belajar untuk mempercayaimu perlahan.

Kemudian aku lepaskan rasa takut tersebut dan memberi hatiku kesempatan kembali.

Dunia berkata kepadaku untuk mengenggammu, untuk berjuang. Sudah lama aku tidak melihat dunia begitu mendukungku. Sudah lama aku tidak merasakan dukungan dari dunia yang pada akhirnya membawaku menjadi pribadi yang lebih kuat untuk menjalani sesuatu yang rapuh kembali.

Karena untuk mencintai adalah untuk menjadi rentan.

Sudah lama aku tidak melihat dunia turut bahagia memandang senyumku ketika namamu terucap.

Dunia begitu bersyukur akan kesempatanku bertemu denganmu yang kemudian membawaku pada kesempatan untuk membuka pintu hati ini.

Aku belajar untuk membagi ruang-ruang waktu yang pernah terisi oleh begitu banyak kegiatan tak terbatas, dan menyisihkan satu ruang untuk diisi oleh waktu untuk mengenalmu lebih lagi.

Aku belajar untuk membangun ruang pengorbanan kepada satu orang lagi, kamu, dimana isinya akan dihiasi oleh ego-ego yang akan kusisihkan untuk menyamakan langkahku denganmu.

Aku belajar untuk membuka kardus-kardus berisi toleransi yang tidak pernah aku buka sebelumnya.

Bahagiaku ketika kita bersatu pandang memandang satu titik di depan. Aku pikir aku bermimpi di siang bolong.

Dan jika Tuhan perkenankan aku bersamamu, aku bersamamu untuk menuntun, bukan menuntut.

Tapi aku tidak pernah tahu bahwa mengenalmu akan menjadi sesingkat ini.

Waktu yang singkat, namun pemahaman akan dirimu yang seolah sudah kukenal dari tahunan yang lalu, seolah teman lama yang sudah lama tak bertemu dan melepas rindu.

Kau bagai bintang yang jauh dan menjauh dan terus menjauh dari anganku.

Kau sejauh langit, atau kau sedekat langit-langit?

Kisah kita ini, kisah tanpa cerita.

Hanya untaian sehelai benang yang pernah terjulur dari satu sudut ke sudut lainnya. Tapi tidak pernah menjadi sebuah tenunan kain yang indah.

Bahkan jika matahari harus menyingsing dari sudut utara, dan jika salju turun di kota ini, aku pun akan percaya saja.

Malamku pernah dipenuhi senyum, senjaku pernah menjadi bait-bait puisi, dan hujan yang turun yang membasah-kuyupi aku pernah mengantarkan kerinduan.

Jarak terjauh kita adalah waktu.

Tabungan terindah aku adalah rindu yang sudah lama tidak pernah kurasakan terhadap seseorang. Hari-hari dan minggu-minggu kosong tersebut pernah menjadi angin dingin yang berhembus hingga menusuk tulang belulangku.

Langkah ini pernah tertuju kepadamu, namun harus kutinggal kembali untuk melupakan dirimu yang pernah mengisi salah satu ruang di hatiku.

Kehadiranmu pernah menjadi bintang di kelip malam yang hitam dan gelap, dan dingin.

Setidaknya aku pernah menantimu untuk menghubungiku. Dengan bersabar.

Setidaknya aku pernah bertaruh dengan waktu untuk berpapasan denganmu.

Setidaknya aku pernah menanti detik demi detik ketika hanya ada aku dan kamu hendak pergi ke suatu tempat untuk menghabiskan siang atau malam.

Biarlah semuanya menjadi kenangan untuk saat ini, walau berat untukku karena aku pernah sangat nyaman dan merasa aman ketika aku bersama denganmu.

Dan aku percaya, jika memang Tuhan ijinkan aku dan kau menjadi satu, Tuhan yang akan pertemukan kita kembali dan memulai segalanya dari awal lagi. Hanya itu yang menjadi peganganku saat ini.

Dan waktu, biar waktu saja, yang menghapus rasa duka akan kehilangan dirimu yang pernah mendiami salah satu ruang di hatiku.

Dan waktu, biar waktu saja, yang menjadi sahabatku untuk aku memungut puing-puing hati yang terjatuh ke tanah.

Dan waktu, biar waktu saja, yang memulihkan segala luka karena jatuh terjerembabku.

Empat Juta Enam Puluh Ribu Delapan Ratus detik aku pernah mengenalmu dan menantimu.

Jika kau memang untukku, sejauh apa pun kakimu membawamu berlari, jalan yang kau tempuh hanya akan membawamu kembali kepadaku, kepada “kita”.

Dan seperti inilah rasa peduliku kepadamu walau belum mencintai dengan utuh: you are matter..

Maybe this is the beauty of a goodbye: so we know how much a person means to us..

Thanks for being a part of my heart once, Mr.J.. :’)

Advertisements

Author: Irene A.K.A Irin

I am just an ordinary girl who lives in the extraordinary world.. I'm not used with the talking thingy, so I'd prefer to write all my thoughts and my feelings.. I dream a lot, I imagine a lot.. I love to sing, I love to dance, and I love to smile.. It's not a perfect world, but imagination has brought me to enjoy the perfect world.. Know me well from my writings, not my talking.. I speak through fingers, not mouth.. And the most important thing is, the truth that I am my Big Daddy's daughter.. "I am broken and lost, but by God's grace, I have found"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s