melupakan rasa

Sepanjang minggu terakhir Jakarta tidak diguyur hujan yang sebelumnya sempat menggemparkan beberapa daerah. Panas. Pengap. Tiba-tiba udara terasa begitu menyesakkan.

Seperti hatiku yang terasa sesak oleh karena beban yang kupikul di hatiku.

Matahari bersinar seolah menantang penduduk kota ini. Dan tidak sedikit aku mendengar keluhan orang-orang sekitarku berkata: “panas, panas, panas”. Tapi minggu ini aku bernaung di dalam ruangan kantorku. Dilindungi oleh dinginnya AC. Aku tidak menapakkan kakiku keluar. Aku hanya mengurung diriku di depan laptop dan menulis satu demi satu baris sepanjang dua belas hari terakhir.

Aku hanya ingin sendiri dan membiarkan kesendirianku di isi oleh kata-kata dari Tuhan, bukan manusia.

Mencurahkan isi hati kepada pribadi yang tidak pernah membalas setiap kata yang aku ungkap: tulisan. Bisunya menjadi caranya untuk memberi pesan kepadaku bahwa walau dunia tidak mengerti aku, dia mengerti. Aku hanya perlu di dengar. Di mengerti.

Ada satu perjalanan akan sebuah cerita perjuangan yang terlalu singkat untuk di ceritakan kepada dunia. Namun bagi duniaku, perjalanan singkat tersebut menjadi begitu berkesan sehingga aku menuliskannya di dalam buku kehidupanku. Dan mungkin, suatu saat nanti akan kembali kuceritakan di masa tuaku.

Perjalanan waktuku adalah detik. Mungkin perjalanan waktunya adalah hari. Atau bulan. Setiap detik menjadi caraku untuk mendoakannya.

Waktu yang ada pada duniaku dan duniaku tidak berjalan berdampingan. Ruang waktu kami berbeda.

Perhentian harus kami lewati, dan di sanalah kami berpisah. Mengucapkan selamat tinggal akan satu pandangan yang pernah kita sama-sama pegang.

Kita beranjak ke arah yang berbeda.

Matahari belum terbangun, alarmku belum berbunyi. Aku sudah terbangun. Pada jam dimana aku selalu terbangun ketika aku memikirkannya, merindukannya, kehilangannya.

3.00 pagi. Ketika seluruh dunia sedang begitu lelapnya, sesuatu membangunkanku. Dan pikiran mengenai dirinya yang pertama menghampiriku.

Sudah dua minggu terakhir kesunyian pukul 3.00 pagi menjadi sahabatku. Aku hanya ingin tidur. Dengan lelap. Sepanjang malam.

Sadarku kuletakan di antara dua dunia: mimpi dan realita. Dan satu setengah jam kemudian aku kembali terbangun, dan memutuskan untuk menyapa pohon-pohon yang berbaris rapih di luar sana. Mereka telah menjadi sahabatku yang melindungiku dari panasnya udara yang mencekik ketika aku berlari. Dan lelahnya jantungku berdegup telah ditelan oleh kesejukan sentuhan pepohonan ketika menari dengan angin yang berhembus.

Tapak kakiku pertama kali menghirup udara kota Jakarta, aku menemukan tanah di basahi oleh hujan yang sudah lama di nanti oleh penghuninya. “Mungkin malaikat di surga berduka melihat dukaku”, jadi aku tidak akan pernah merasa sendiri.

Aku berlari menembus hujan. Dan perlahan kenangan demi kenangan akan waktu kebersamaan singkat yang pernah dirajut muncul kembali bagaikan sebuah tontonan sebuah pertunjukan. Dalam langkah lariku, aku menyaksikannya melewati bayang memoriku.

Ya. Biar waktu saja yang menghapusnya. Untuk aku melupakannya.

Hujan pagi ini entah kenapa terasa seperti butiran-butiran batu kerikil yang memukul kulitku, menampar wajahku. Padahal hanya sebatas gerimis kecil. Aku menengadah ke atas, dan melihat butiran-butiran air yang jatuh dari langit terlihat besar.

Lanjutku aku berlari menembus jalanan-jalanan yang biasa kulewati ketika aku berlari pagi. Minggu ini aku sudah terlalu sering melewati jalur yang sama. Minggu ini sudah terlalu banyak aku berlari. Untuk berpikir.

Tiga puluh menit kemudian aku dipaksa berhenti oleh hujan yang kian deras.

Dan aku kembali tertidur, dengan harap akan melupakan satu per satu kejadian yang pernah kami alami, aku alami.

Tapi “lupa” itu bukan mengenai tidak mengingat setiap detil kejadian yang terjadi. Melainkan mengenai rasa yang pernah timbul ketika aku bersanding dengannya, ketika aku berbincang dengannya, walau hanya satu menit kami berpapasan, walau hanya satu atau dua kalimat terucap dari bibir ini. Cangkirku terisi, tidak lagi kosong.

Lupa. Aku harus melupakan rasa tersebut. Rasa nyaman, rasa aman, yang memulai segalanya.

Maafkan aku, hati, aku mengecewakanmu lagi.

Aku yang akan membantumu untuk menyusun bentukmu kembali. Dan percayalah, hati, waktu saja yang mempunyai otoritas untuk menghapusnya.

Dan sementara itu berlangsung, aku akan menanti dengan sabar agar kau pulih kembali.

Ini janjiku. Bersabar..

Advertisements

Author: Irene A.K.A Irin

I am just an ordinary girl who lives in the extraordinary world.. I'm not used with the talking thingy, so I'd prefer to write all my thoughts and my feelings.. I dream a lot, I imagine a lot.. I love to sing, I love to dance, and I love to smile.. It's not a perfect world, but imagination has brought me to enjoy the perfect world.. Know me well from my writings, not my talking.. I speak through fingers, not mouth.. And the most important thing is, the truth that I am my Big Daddy's daughter.. "I am broken and lost, but by God's grace, I have found"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s