IN · Journey of Love · Literature

Hantaran hujan

WhatsApp Image 2017-03-15 at 11.28.12 AM

Sudah seminggu terakhir ini tanah di Jakarta di basahi oleh hujan yang datang ketika kegelapan mewarnai langit. Dan dia, hujan, terus berlanjut hingga keesokan pagi, meninggalkan warna abu-abu pada pantulan genangan yang tertinggal di sudut trotoar jalanan. Matahari hanya menampakkan cerahnya pada siang hari, ketika dia ada di titik tertinggi angkasa. Menghapus genangan yang tertinggal dari pagi hari. Aku tidak pernah menyangka bahwa hujan akan turun kembali minggu ini. Aku tidak pernah menyangka bahwa hujan akan memberikanku pesan singkat dan sederhana mengenai sebuah perpisahan. Padahal, sebelumnya minggu-minggu kota Jakarta terasa begitu panas karena teriknya matahari yang bersinar sedari pagi hingga sore, hingga ia mengindahkan langit senja.

Malam-malam dalam beberapa hari ini ketika aku hendak membungkus tubuhku dengan selimut, tidak luput aku mendengar ketukan sentuhan hujan di jendela kamarku. Aku merangkak ke atas tempat tidurku bagaikan anak kecil yang baru saja kehilangan boneka kesayangannya. Dan tangisku pecah ketika aku memeluk salah satu boneka yang kususun di atas bantal tidurku. Kusembunyikan ringisanku ke balik selimut dan kemudian terlelap.

Tidak lama yang lalu, malamku terasa begitu hangat. Aku dapat mendengar suara dan tawamu sebesar apa pun hujan yang turun ketika malam hadir. Tapi kini, malamku tidak lagi diisi dengan senyum. Karena senyumku lahir ketika ada dirimu di sisiku. Walau jarak memisahkan kita, dan waktu membatasi ruang gerak kita, tapi aku tahu hadirmu di seberang sana memberi hidupku arti, menceriakan hari-hariku. Seperti ketika matahari bersinar dengan teriknya pada titik tertinggi, menceriakan dunia yang sedang terbangun.

Karena kamulah ceriaku..

Tapi kepergianmu memberikan kesunyian dalam hidupku. Malamku tidak lagi dipenuhi oleh senyum. Hanya lantunan lagu gemulai dan lirik-liriknya yang memberi hidupku arti. Dan hujan terdengar begitu kerasnya. Terdengar begitu ribut.

Seraya berbincang dengan diriku sendiri, dan Tuhan: “apa yang harus kulakukan selanjutnya?”. Karena hidup bagaikan putaran roda, yang terus berjalan tanpa memberikan kita kesempatan untuk terdiam sejenak.

Suatu hari di masa lampau, Da pernah berucap: “jangan menangis, nak, nanti malaikat di surga turut menangis untukmu dan nanti hujan turun”. Aku bertanya kepadanya apa hubungannya malaikat dengan aku. Dan dia menjawabku: “karena kamulah malaikat yang jatuh ke bumi”. Aku malaikat di mata Da.

Pedihku tidak dapat kuungkapkan dengan kata-kata. Dan mungkin Tuhan tahu itu. Hanya hujan yang dapat menceritakannya. Bukan hanya cerita mengenai kisah kita ketika aku dan kau berjalan berdampingan menerobos hujan yang di warnai dengan tawa dan senyum ketika kita bertukar cerita hidup, melainkan juga sebuah cerita mengenai sebuah perpisahan hati yang pernah berharap tentang kemungkinan kisah masa depan yang dapat di rajut suatu hari nanti. Cerita perjalanan pengetahuanku tentang dirimu yang kini harus aku hapus, karena aku bukan hanya sekedar mengenal namamu. Aku sudah mulai mengerti dirimu.

Dalam masa-masa sunyi yang kau biarkan aku tinggal, aku mengirimkan pesanku kepada hembusan angin dingin, bahwa aku merindukan berbincang denganmu. Dan hujan turun seketika ketika aku berucap pada langit: “aku merindukannya, dan masa-masa pembelajaran mengenai dirinya”. Hujan bukan hanya pernah menghantarkan rinduku kepadamu. Hujan juga menjadi caraku menghantarkan kepergianmu dari hidupku. Genangan yang tertinggal di tanah menjadi tuangan terhadap memori demi memori yang pernah aku ukir sepanjang aku bersamamu. Dan biarlah genangan tersebut suatu hari nanti ‘kan dihapus oleh teriknya matahari ketika dia bersinar kembali sepanjang hari, sepanjang minggu.

“Pernah”. Kamu pernah mengisi hatiku. Biarlah genangan yang di tinggal oleh derasnya hujan yang turun sepanjang malam tersebut suatu hari nanti ‘kan dihapus oleh teriknya matahari ketika dia bersinar kembali sepanjang hari, sepanjang minggu.

Dan ketika matahari bersinar sepanjang hari, aku percaya, indahnya warna senja yang membuat seluruh dunia jatuh hati akan kembali mewarnai hamparan langit yang luas, seluas hatiku ketika aku mencintai seseorang..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s