di dalam keteduhan

Belum lama saja, aku keluar dari “gua”ku dan kembali berbaur dengan dunia.

Oke. Dunia membutuhkan beberapa penjelasan. Atau bahkan sama sekali tidak. Tapi ada beberapa yang mungkin penasaran dan bertanya-tanya kepada orang yang kurang tepat (maksudku, selain diriku sendiri). Dan tentu saja aku ingin berbagi dengan dunia mengenai apa yang aku alami, apa yang aku dapatkan dari “menarik diri” dengan lingkungan sekitarku.

Aku diberikan kesempatan untuk bertemu dan menjalin sebuah masa pengenalan dengan seorang pria, yang kemudian hanya berlangsung secara singkat hanya untuk mendapati diriku yang harus melepaskannya. Semuanya memang berjalan terlalu cepat, ada visi serupa yang kami pandang dan pertimbangan demi pertimbangan mengenai beberapa perbedaan yang kami miliki sudah kami diskusikan dan cari jalan tengahnya, dan kami tahu kemana kami ingin membawa arah hubungan ini.

Dalam masa penantianku menyambut tahun 2017, di penghujung tahun 2016, ketika semua orang sibuk mencari daftar resolusi mereka tetapi tidak denganku, aku bertanya kepada Tuhan: “apa yang Tuhan mau aku lakukan di tahun 2017”. Aku berhenti sibuk menyusun daftar resolusiku, karena aku ingin 2017-ku di isi oleh rencana Tuhan, dan bukan harapan-harapanku yang semu. Suatu malam Tuhan berkata kepadaku untuk mengurangi gilanya aku berolahraga dan mengikuti berbagai macam pertandingan olahraga yang tidak mempunyai tujuan. Atau lebih tepatnya: mengikuti pertandingan olahraga hanya untuk mendapatkan pengakuan dan pencapaian, hanya untuk ikut-ikutan meramaikan acara dengan teman-teman. Tuhan taruh di dalam hatiku bahwa “olahraga” bukan panggilan hidupku. Lalu Tuhan berkata kepadaku untuk mempersiapkan diriku dalam menyisihkan sebagian waktuku untuk sesuatu yang Tuhan tidak saat itu juga Dia buka kepadaku. Tuhan letakkan hal tersebut di hatiku, untuk melakukan pengorbanan dalam waktu. Tuhan penuh misteri, maka dari itu Dia-lah seorang Pribadi yang layak kita tunduk kepadaNya.

Dalam masa ketika aku hendak mencari tahu apa yang Tuhan maksud mengenai menyisihkan sebagian waktuku untuk sesuatu yang lain selain mencari pencapaian dalam olahraga, aku bertemu dengannya. Aku mengambil kesimpulan, mungkin Tuhan ingin waktuku kuberikan untuk membangun hubungan masa depan dengan seseorang. Memiliki pasangan tentu saja merupakan sebuah pengorbanan besar. Banyak waktu yang harus dikuras, tenaga fisik dan emosional, ego, dan masih banyak lagi pengorbanan demi pengorbanan yang harus dilakukan untuk menyamakan langkah kita. Jadi aku mentitikberatkan setengah waktuku untuk mengenalnya, seraya aku pun tak hentinya bertanya kepada Tuhan jika memang pertemuan kami adalah maksud Tuhan ketika Dia berkata kepadaku malam itu.

Aku menemukan fakta bahwa kami berbeda keyakinan. Namun menemukan titik tengah ketika kami berbincang untuk membawa hubungan ini menjadi sebuah hubungan yang lebih serius untuk mencapai masa depan bersama, bahwa dirinya yang mengerti prinsip utama keyakinanku bahwa aku tidak akan pernah berpaling dari Tuhan, dan aku akan tetap memegang keyakinanku, dan aku yang mendambakan pernikahan yang diberkati di gereja. Dengan penuh keyakinan dia berkata bahwa dia tidak mempunyai masalah mengenai perubahan keyakinan yang akan terjadi dalam hidupnya jika di depan nanti hubungan kami bermuara pada pernikahan. The point is: he is very open to convert to mine.

Kemudian kami memutuskan untuk berkomitmen berjalan bersama-sama, memandang satu titik di masa depan, sambil perlahan kami saling mengenal satu sama lain. Hari itu aku melihat diriku yang membuka ruang toleransi lebih besar lagi, menjelajah dunia yang tidak pernah aku tapaki sebelumnya: perbedaan keyakinan dan perbedaan dunia kami.

Tapi bukan itu yang Tuhan ingin aku jalani. Tuhan yang memberikan, Tuhan juga yang mengambil. Kami harus berpisah di persimpangan oleh karena kami tidak berada pada satu visi yang sama lagi. Satu minggu sebelum kami memutuskan untuk menyudahi segalanya, aku menyendiri dan menarik dari dunia luar dengan keluar dari 90% WhatsApp grup dimana aku bergabung dan tidak berkumpul dengan teman-temanku. Aku benar-benar menyendiri. Dan semua orang terheran-heran mengapa aku harus melakukan hal tersebut.

Aku sempat mempertanyakan perbuatanku sendiri. Tapi aku tahu, itu kebutuhanku. So I kept going without worrying what others might say. Aku butuh waktu untuk diriku sendiri. Bukan untuk mengasihani diriku sendiri dan tenggelam dalam stress, melainkan untuk berpikir. Mengembalikan semua pertanyaan kepada Tuhan guna mencari maksud.

Dan disanalah ketika Tuhan hadir dalam kesepianku, dalam kesunyianku. Aku tidak pernah merasakan Dia begitu dekat sebelum hari-hari itu. Konfirmasi demi konfirmasi, jawaban demi jawaban, pencerahan demi pencerahan, aku mendapatkannya ketika aku meminta semuanya kepada Tuhan. Sedekat ini Dia, tahu setiap sudut pikiran dan perasaan kita.

2017 gerejaku, JPCC, mengambil tema taunan “Alive” – hidup yang lebih hidup, bukan hanya sekedar hidup untuk bernafas saja. Hidup untuk menjadi arti. Dan salah satu sub-tema bulanan Maret-April adalah “hidup dipimpin Roh Kudus”, yang dari dulu aku mempunyai sudut pandang abstrak mengenai hidup dipimpin Roh Kudus itu bagaimana caranya atau rasanya. Aku tidak pernah menyangka bahwa sub-tema tersebut akan begitu berarti dalam aku memproses maksud dari fase patah hatiku ini. Dan tema besar yang diluncurkan pun seolah memberi gambaran besar akan maksud Tuhan dalam hidupku di tahun 2017 ini.

Hening. Roh Kudus bekerja dalam keheningan, merupakan inti sari dari sub-tema tersebut. Ketika kita menyingkirkan semua suara yang dapat mengalihkan kita dari mendengarkan maksud Tuhan bahwa sesuatu yang Dia ijinkan terjadi dan terlihat begitu pedih ini, adalah salah satu bagian dari rencana besar yang baik di depan. “The lesser the noise, the clearer the Voice”. Untuk aku, WhatsApp group merupakan “noise”-ku. Jadi dengan berat hati aku melepaskannya, untuk memberi keputusan apakah hubungan tersebut harus berakhir, atau harus aku perjuangkan kembali. Aku yang harus berjuang. Aku. Bukan dia. Maka dari itu aku putuskan untuk aku lepaskan, sebesar apa pun hatiku ingin berjuang untuknya.

Lalu aku terus mencari jawaban kepada Tuhan, hingga tiga minggu selanjutnya. Aku masih dalam kesendirian, dalam keheningan. Perlahan Tuhan bukakan pengertian demi pengertian.

Learn to let go. Aku belajar untuk tidak lagi memegang kendali di tanganku, aku belajar untuk melepaskan kendali kepada Tuhan. Jika Tuhan ingin aku bersamanya, Tuhan yang akan satukan kami, dan hubungan kami akan berlandaskan oleh kebahagiaan dan kedamaian, bukannya kesulitan demi kesulitan yang perlahan dibukakan. Aku terlahir sebagai anak tunggal dari latar belakang kedua orang tua yang telah berpisah sejak kecil. Keberadaanku tersebut menjadi reaksi otomatisku ketika aku sudah menginginkan sesuatu atau mencintai sesuatu, aku genggam erat dan akan terus berjuang untuk mempertahankannya. Tapi berjalan dipimpin Tuhan bukan seperti itu caranya. Tuhan mau kita percaya bahwa jika Dia mengambil sesuatu dalam hidup kita sebesar apa pun kita mencintainya, He has a better idea in His mind. Hanya waktu yang dapat membukakan ide Tuhan. Kita hanya perlu bersabar, dan percaya bahwa Dia akan menepati janjiNya sesuai dengan apa yang Dia sudah taruh dalam hati kita. Tuhan menaruh satu hal dalam hatiku: memiliki keluarga harmonis yang tidak pernah aku miliki. Maka dari itu, Tuhan ingin aku mendapatkan yang terbaik, bukan hanya sekedar yang menurut aku yang terbaik. Karena manusia sering dibiaskan antara “kemauan” dan bukan “kebutuhan”.

The calling. Pernikahan dengan perbedaan keyakinan bukan merupakan panggilan hidupku. Sahabatku membukakan wawasanku mengenai pernikahan dengan dua keyakinan yang berbeda. Ada yang hidup bahagia, dan ada juga yang berjuang hingga titik darah penghabisan untuk mempertahankannya. Dan kita tidak bisa untuk menghakimi siapa benar atau siapa salah, karena menikah dengan dua keyakinan yang berbeda merupakan sebuah panggilan hidup. Kita tidak bisa menikah dengan dasar harapan bahwa pasangan kita akan pindah ke keyakinan kita suatu hari nanti. Aku tidak bisa menikah dengannya dengan dasar harapan bahwa walaupun dia akan pindah ke keyakinanku jika kita masuk dalam pernikahan, tetapi isi hati hanya Tuhan yang dapat rubahkan. Tentu saja aku mendambakan seorang pendamping hidup yang dapat menjadikanku seseorang dengan pribadi yang lebih baik di dalam Tuhan. If it is your calling to go for an interfaith marriage, then you can survive the whole journey. If it is not, don’t ever go to touch the surface. Karena pernikahan merupakan gerbang penentu akan sebahagia atau setidak-bahagia apa kehidupanmu puluhan tahun ke depan – it is not only have an impact on who you are as an individual, but also who you are as a whole (career, potency, friendship, and many other things).

The strong one. Aku sangat memahami bahwa pernikahan tidaklah mudah, karena pria dan wanita merupakan dua pribadi yang berbeda. Apakah aku ingin menambahnya dengan perbedaan prinsip? Tidak ada yang salah dari agama manapun, tetapi masalah akan timbul ketika masing-masing memegang erat kepercayaan satu sama lain yang pada akhirnya menimbulkan perpecahan. Terutama ketika hal itu merupakan prinsip dasar hidup. Terutama ketika hal itu merupakan kepercayaan seseorang dalam menghadapi sebuah masalah. Dan aku tidak ingin sendiri. Aku tahu bahwa dalam pernikahan dibutuhkan seorang pria yang dapat berada di “ruang perjuangan” yang sama dengan pasangannya. Karena ada banyak hal dalam hidup yang hanya bisa diisi oleh keberadaan kita di dalam “ruang spiritual” yang sama. Jika dia sanggup menghadapi peperangan rohani tersebut sendiri karena perbedaan keyakinan, tidak masalah. Tetapi Tuhan tahu kerinduanku untuk berada bersama di “ruang spiritual” yang sama dengan pasanganku. Seseorang dengan karakter yang kuat di dalam prinsip yang sama. God has a big-big-big plans for me regarding marriage-life, why settle for less?

Wishes. Suatu Minggu sore ketika aku baru saja menyelesaikan sepanjang pagi-siang tugas Choir-ku di bulan Maret untuk bernyanyi di gereja, aku menyaksikan beberapa teman sepelayananku satu per satu dihampiri oleh pasangannya dari bawah panggung. Tersirat dalam hatiku sekilas harapan: “jika dia mempunyai hati untuk berkunjung ke gereja dengan rutin setiap minggu, seperti aku, akan betapa menyenangkannya. Terutama ketika aku menyelesaikan tugasku dan dihampirinya aku dari bawah panggung” – karena ketika kita mengucapkan komitmen kami hari itu, harapan darinya untuk tidak memaksakan dia untuk ke gereja rutin setiap minggu. Lubuk hatiku yang paling dalam sudah mengetahui, bahwa akan ada harapan-harapan kecil yang bertumpuk dan kemudian memiliki potensi untuk bertumbuh sebagai suatu kekecewaan ketika hatinya bukan untuk Tuhan.

A book. Mungkin sudah sekitar tiga hingga lima tahun yang lalu ketika aku mulai mendisiplinkan diriku untuk menulis, Tuhan taruh di dalam hatiku untuk menulis sebuah buku. Aku tahu talentaku di menulis, because I always have a thing with words. Dan aku tahu bahwa passion-ku di menulis. Menulis, buku bertemakan apa saja, asal aku pakai talentaku dengan maksimal. Tapi aku tidak pernah mengambil kesempatan untuk berkomitmen menulis sebuah buku. Semua tulisan yang pernah aku tulis di komputerku (yang bukan di blog) aku tinggalkan berdebu. Tetapi tanpa aku sadari ketika aku bertemu dengannya, aku menuliskan semacam “buku harian” dari hari ke hari mengenai pembelajaranku dalam mengenalnya, dan apa yang aku rasakan hari itu. Dan ketika hubungan kami berakhir, aku tahu bahwa buku harian tersebut dapat kurangkai menjadi sebuah buku. Sudah 13 hari aku menuliskannya untuk menjadi draft buku, dan sudah 17,000 kata aku tenun menjadi sebuah cerita. 50% progress yang aku jalani dalam waktu dua minggu. Pertemuanku dengannya mungkin saja dapat menjadi salah satu cara sebuah permulaanku untuk memulai karirku sebagai penulis, membangun sebuah komitmen untuk mengalokasikan waktuku untuk menulis. Tetapi terlebih lagi ketika melalui proses pembentukan buku ini, aku menemukan diriku yang perlahan bangkit, because writing is one of my healing process 🙂

Me. Aku belajar mengenal “aku” lebih lagi. Aku ini sebenarnya merupakan rangkaian algoritma penuh logika. Tetapi ada masa dimana ketika dunia menuntutku “to feel”, aku akan jatuh terjerembab dikuasai emosi: excitement, sorrow, tension, anxiety. Dan aku kebingungan untuk mengatasinya. Dan disanalah duniaku akan diisi oleh peperangan antara nalar dan emosi. Dengan menyendiri, aku belajar untuk mengatasi duniaku, yang dimana aku selalu merasa takut untuk menghadapinya sendirian. Tetapi aku menemukan bahwa ternyata the more I am alone when I encounter the tides, the more I am able to calm my own. Because it is you alone who can control yourself. Dan sudah dua minggu dari berakhirnya hubunganku dengannya, dan tentu saja aku yang merupakan pribadi penuh rasa, penuh emosi, pada malam-malam tertentu ketika aku sendiri dan dunia terlelap, aku masih menangis, dan ada nyeri di dada ketika aku teringat tentangnya. It is not him that I can’t forget. It is how he made me feels what I felt that hard to forget. Tapi aku belajar untuk menerima diriku yang membutuhkan waktu ketika aku merasakan sesuatu. And that’s okay. Aku harus hadir di dunia bukan untuk menjadi seseorang dengan tuntutan lingkungan sekitar yang mengharapkanku untuk segera cepat beralih, but as a survivor. Seperti yang ditulis dalam ayat favoritku – ada waktu untuk segala sesuatunya, waktu untuk berbahagia, dan bahkan waktu untuk menangis dan bersedih (Pengkotbah 3). Aku hanya perlu memeluk diriku erat, dan berkata: it’s alright if you are sad today, and joyful tomorrow. And it’s alright if you feel sad again for the day after tomorrow, and feel the happiness for the next. Because the most important thing in life is how you learn to accept yourself, and love yourself from there – because the greatest love of all is learning to love yourself (Whitney Houston).

Hari ini aku bisa katakan kepada dunia yang membaca tulisanku ini, bahwa dalam fase patah hati yang aku lewati beberapa minggu terakhir dalam kesunyian menjadi suatu titik temu bahwa aku terlahir di dunia ini untuk suatu tujuan besar, dan Tuhan sebenarnya berusaha menyelamatkan aku dari suatu jalan yang sebenarnya Tuhan tidak ingin aku jalani. Aku percaya jika Tuhan ingin aku berada di jalan ini, Tuhan yang akan menaruh di hatinya keinginan untuk sama-sama berjuang. Di sisi lain Tuhan bukakan sisi lain dalam hidupku yang tertunda dari tahunan yang lalu. Aku tidak bermaksud untuk berkata bahwa dia tidak baik untukku. Dia baik untukku, dan aku pernah memutuskan untuk dapat menjalani hidup bersamanya, embrace his weaknesses, adore his strengths. Tetapi apa yang di anggap manusia baik, belum tentu Tuhan anggap baik. Dan mungkin Tuhan mempunyai sesuatu atau seseorang yang lebih sepadan untuk aku menjalani hidup bersama hingga maut memisahkan. Jika bukan dia untukku, aku harus percaya bahwa Tuhan sudah sediakan. Jika dia untukku, Tuhan yang akan bukakan kembali jalannya di depan nanti. Segala hal yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia, ada di tanganNya.

Dan ketika pada suatu hari aku mempertanyakan kembali kepada Tuhan mengapa Dia memberikan aku suatu pengalaman yang tidak mengenakkan, aku dapat menyimpulkan bahwa cerita ini, cerita aku, cerita kamu, cerita kalian, bukan cerita antara kita dengan seseorang. Tetapi cerita kita dengan Tuhan – it is a love story between me and God, a life journey between me and God. Yang ingin Tuhan bangun adalah hubungan kita denganNya melalui kejadian demi kejadian yang terjadi dalam hidup kita.

Pengalaman ini telah membukakan mataku sedemikian besar cinta Tuhan kepadaku, begitu pedulinya Dia kepadaku sehingga Dia sangat ingin aku to be my best in my life, termasuk menaruh orang-orang yang tepat di dalam hidupku guna mencapainya.

Ini cerita yang Tuhan tulis untuk buku kehidupanku, dan tentunya akan berbeda dari sudut pandang orang lain. Apa yang telah kutulis pada baris-baris sebelumnya merupakan kesimpulan yang aku dapat ketika aku melihat kejadian tersebut dari kacamata Tuhan. Mungkin jika kita melihat dari kacamata manusia, ada banyak hal-hal yang kita bela untuk membenarkan diri kita sendiri, dan berakhir terpuruk. Tapi aku berusaha untuk melihat dari kacamata Tuhan, dan mengerti maksudNya ketika aku bertanya “why, God, why?”. Tidak ada damai sejahtera dari hasil analisa yang aku buat jika hanya sebatas nalar saja aku mencari jawaban. Namun hal-hal yang aku ceritakan pada baris-baris sebelumnya di dukung dari damai yang Tuhan berikan dalam satu per satu pengertian (atau pencerahan) yang Tuhan sampaikan. Aku percaya, it is God Himself who speaks right through my heart – if there is peace within you, then it is God.

Last but not least, one final closing line: the more you are able to calm your own world, the clearer you are able to hear the Voice. And that is true, because I experienced it myself.

“Be still and know that I am God” – Psalm 46:10

Have a blessed life! 🙂

WhatsApp Image 2017-04-02 at 8.04.28 PM

Advertisements

Author: Irene A.K.A Irin

I am just an ordinary girl who lives in the extraordinary world.. I'm not used with the talking thingy, so I'd prefer to write all my thoughts and my feelings.. I dream a lot, I imagine a lot.. I love to sing, I love to dance, and I love to smile.. It's not a perfect world, but imagination has brought me to enjoy the perfect world.. Know me well from my writings, not my talking.. I speak through fingers, not mouth.. And the most important thing is, the truth that I am my Big Daddy's daughter.. "I am broken and lost, but by God's grace, I have found"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s