About Me · IN · Life Lesson

“I grow”

Sudah beberapa minggu terakhir aku dibebani pikiran akan sebuah pertanyaan yang mengusik hatiku, dan tentu saja kondisi emosionalku diguncangnya. Menyadari bahwa seringkali suasana hati dipengaruhi oleh apa yang otak kita pikirkan, aku tahu bahwa aku seharusnya mempunyai kontrol yang lebih kuat terhadap pikiran kita: tidak perlu memikirkan yang tidak perlu kita pikirkan. But how to eliminate those unnecessary thoughts?

Setelah bukuku selesai, walau belum benar-benar final karena masih banyak yang harus aku benahi – tapi setidaknya sudah selesai – seolah memori dan perasaan kasih yang pernah aku rasakan tersebut pun ikut menguap bersamaan dengan jam-jam yang aku habiskan untuk duduk di depan laptop dan menulis perasaanku ke dalam 90 halaman “version 1” of my own book. Aku tahu aku harus kembali mengunjungi draft tersebut, tetapi rasanya berat sekali karena it was painful. Aku takut mengunjungi draft bukuku dan kembali mengingat (atau teringat lebih tepatnya) bahwa aku pernah menaruh harapan pada cinta yang semu. Cinta yang belum benar-benar berevolusi menjadi cinta, namun sudah pada jalan yang tepat untuk mencintai. Aku takut dengan membaca kembali (or we, writers, called it “proofreading”) aku diingatkan akan diriku yang lemah dan rapuh.

Aku takut, dan aku butuh seseorang. Tapi apakah akan ada seseorang yang mengerti bahwa seluruh perasaanku terletak pada apa yang aku tulis? Akankah dunia mengerti bahwa jika aku menulis, aku men-“transfer” kegundahanku pada wadah putih polos ini melalui goresan-goresan hitam? Ataukah malah mereka semua akan berpikir: Irene adalah pribadi yang baper-an?

To be honest, aku tidak suka jika aku sedang menelaah emosiku, mencoba mengertinya, then someone would appear and tell me: “Ih, Irene orangnya baper-an”. Hello, world. It’s not about being baper. It’s about feeling.

Kemudian aku melirik ke sekelilingku, mencari orang yang tepat untuk aku mengutarakan hal paling dalam yang ada di hatiku hanya untuk mendapati bahwa ternyata sahabat-sahabatku yang dulu aku kira mengerti, tidak semengerti itu lagi.

Bahkan tidak ada lagi dukungan yang dulu pernah aku dapatkan regarding “another part of me”.

Lalu aku melemparkan sebuah pertanyaan dalam benakku: “Why the change?”.

Aku kira salah satu di antara kami, atau kedua belah pihak di antara kami, melupakan. Aku kira ada kesalahan yang tidak dapat di tolerir sehingga ada hubungan yang harus diretakkan oleh sebuah konflik, atau perasaan yang tersakiti sehingga masing-masing dari kami harus saling membangun jembatan.

Dan aku kembali merasakan kesepian lagi.

Masalah mengenai kesepian ini memang sudah sering (dan lama) aku rasakan. Again, bukan mengenai berapa teman atau sahabat yang aku kenal atau aku miliki (because I have A LOT, literally, A LOT), melainkan seberapa banyak orang yang mengerti why I feel what I feel. Not many. Or just one perhaps?

Tapi aku melihat duduk permasalahannya bukan mengenai siapa aku dan siapa mereka. But the big picture lies within myself. That I grow. Ada beberapa orang dalam hidup, yang dulunya kita dekat dan dapat membahas topik yang serupa mengenai hidup, berbulan-bulan atau bertahun-tahun kemudian pembicaraan yang serupa tidak lagi relevan dalam pembangunan hidupku secara pribadi. Aku mempertanyakan hal tersebut: Is it me? Or is it them?

Maka dari itu ada pepatah yang berkata: “People come and go”, karena bagian mereka dalam pembangunan hidup kita detik ini sudah selesai. Dan pada suatu titik kita sudah bertumbuh, kehadiran mereka sudah tidak relevan lagi. Memang, ada beberapa yang akan selalu menjadi sahabat kita selamanya dalam banyak wadah, tidak peduli kita ada dalam musim apa pun detik itu. Tapi aku berpikir bahwa orang-orang semacam inilah yang seharusnya kita rangkul dan tidak lepaskan.

A bestfriend came to me when I asked for his opinion mengenai “friendship”. He opened my eyes that I had so many talents to be developed which requires me to jump from one pond to another pond. “Komunitas dan pertemanan dalam komunitas itu bagaikan kolam. Yang dimana jika kita masuk ke dalam satu kolam, di situlah kita dibentuk. Since you have many talents that you are passionate about, you need more than one. If you’ve ever felt that your social live is not relevant anymore to your growth, it is okay to move to the new pond, because you grow. But don’t leave your former or current pond, maintain it”, dia dan kata-kata bijaknya. No wonder aku tiba di satu titik dimana kesepian kembali menyerangku, seolah tidak ada orang yang mengerti aku no matter how hard I try to explain them.

Ah, that is another thing I learned. Jika kamu sudah menemukan dirimu dimana kamu harus menjelaskan sesuatu kepada seseorang hanya untuk memohon pengertiannya, that is the sign that you are growing and you need a new pond to be fulfilled. Stop explaining something that does not need to be explained about.

Dan jika aku mengalami sedih yang tidak jelas, is it okay to take some time to recover, and be surrounded by silence so you will be able to see and listen clearly on what God wants to lead your life to.

“I am pieces of quotes from my favorite books, stitched together by song lyrics, and glued together by midnight conversations, and the sweet taste of coffee, and I have this tendency to fall apart suddenly, and I need you to be okay with this because I am created by the souls who are brave enough to gather my tattered pieces and put me together” – semalam aku menulis ini pada postingan account Instagramku. Aku dibentuk oleh mereka-mereka yang berani berhadapan dengan “keunikan” ku (complexity in a weird way – aku tidak menyebutnya “aneh”, walaupun mungkin “aneh” merupakan kata-kata yang tepat).

Tidak heran pada malam di beberapa minggu lalu Tuhan berbicara kepadaku ketika aku bertanya mengapa Tuhan mengambil orang-orang yang aku pilih untuk aku cintai, Dia menjawab: I want you to be the best of you. Semua perjalanan yang pernah aku lewati hanya akan membawaku kepada orang-orang yang tepat. Jika mereka harus pergi, itu karena Tuhan terlalu sayang kepadaku untuk membiarkan aku terlibat dengan orang-orang yang kurang (bukan tidak) tepat untuk menjadi sebagaimana Tuhan telah rencanakan aku di akhir perjalanan nanti akan menjadi seperti apa.

Pertanyaannya sekarang: “Tuhan mau aku jadi apa?”. But I guess we should not be worried about that now, right? Hanya bisa diketahui jika kita telah tiba di titik itu.

Karena pada akhirnya akan selalu indah daripada permulaannya – Pengkhotbah 7:8

Aku (seharusnya) bersyukur, rasa kehilangan ini karena aku bertumbuh, bukan karena ada kesalahan.

Advertisements

2 thoughts on ““I grow”

  1. I love this part “Jika mereka harus pergi, itu karena Tuhan terlalu sayang kepadaku untuk membiarkan aku terlibat dengan orang-orang yang kurang (bukan tidak) tepat untuk menjadi sebagaimana Tuhan telah rencanakan aku di akhir perjalanan nanti akan menjadi seperti apa.” Why haven’t I thought about it before?
    I finally realized why God wants me to read your post now, like right NOW, because of when I lost something or someone, it happens because I am growing wiser and not because it is a mistake. For mistakes are lessons in disguise.

  2. orang-orang yang tepat untuk kehidupan yang tepat, eve. even though it’s hurt like hell, tapi Tuhan bilang: sayang banget sih ciptaan Gue yang dimana Gue udah siapin amazing life di masa depan nanti, attach dengan orang yang “kurang tepat”. remember, your friends determine who will you be in the future. choose wisely..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s