granted (hidden) wish

I met you again this afternoon.

Ada banyak hari ketika aku bertanya kepada Tuhan: “Mengapa aku sering dipertemukan dengannya tanpa sengaja ketika kami saling memiliki, namun kini tidak lagi aku dipertemukan dengannya walaupun aku bertaruh dengan waktu untuk menanti satu pertemuan denganmu di suatu tempat?”.

Aku tahu saat itu adalah ketika aku sedang merindukanmu. Aku begitu merindukanmu sehingga setiap hari aku berseru kepada Tuhan: “Aku ingin bertemu dengannya”.

Tetapi aku tidak tahu bagaimana aku harus menyikapi diriku ketika aku bertemu denganmu.

Dua hari yang lalu aku memandangmu dari kejauhan. Lima meter dari tempat kamu terduduk membelakangiku, aku menghentikan langkahku dan mengambil nafas panjang. Aku tidak dapat mengingkari jantungku yang hendak melompat dari sangkarnya karena kita bertemu, walaupun kita tidak benar-benar saling bertatapan. Aku melewati hadapanmu tanpa menoleh menyapa atau memberi salam kepadamu.

Karena aku tidak tahu bagaimana aku harus menyikapi diriku ketika aku bertemu denganmu, maka aku memilih untuk tidak bertatapan denganmu.

Walau sebenarnya aku sangat merindukanmu. Terutama pembicaraan kecil kita yang terkesan tidak berarti, namun memberikan kesan tersendiri bagiku.

Dan aku penasaran mengapa aku merindukanmu sedemikan rupa. Padahal aku telah melepasmu pergi.

Kemarin aku berpapasan denganmu, ketika aku benar-benar ingin seorang diri karena aku tidak dapat menguasai kerinduanku padamu, dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tidak dapat meraihmu lagi. Dirimu bersanding dengan diriku. Bertegur sapa melalui satu kata “hai”, tanpa mengucapkan kata-kata yang lain lagi.

Karena kita sudah menjadi dua orang asing kembali.

Aku hanya bisa menangis ketika berhadapan denganmu. Masih terasa menyakitkan, terutama ketika menyadari bahwa kita bukan lagi dua orang yang sama.

Mungkin pedihku ini karena sebenarnya aku (pernah) mencintaimu (atau masih).

Dan hari ini aku bertemu denganmu. Sekian kali kita bertukar pandang, tapi tidak satu pun senyum kita saling lemparkan terhadap masing-masing.

Dan ketika kamu tidak melihatku, diam-diam aku mencuri pandang terhadap sosokmu yang terduduk dengan dua sahabatmu di sisi kiri meja tempat aku tergabung dengan teman-temanku.

Tetapi kenapa tidak lagi sesakit kemarin? Kenapa tidak lagi aku menangis?

Mungkin aku sudah cukup menangis.

Bahkan ketika aku memandangmu dari kejauhan, tidak lagi aku merasakan kepedihan yang sama.

Aku hanya bisa tersenyum kecil dari kejauhan ketika aku menunduk setelah menatapmu: “Aku tahu dia baik-baik saja, dan itu cukup bagiku”.

Maybe this is what everybody calls “love”.

Mungkin Tuhan sebenarnya terlalu sayang denganku sehingga tidak rela Dia melihatku bersedih karena terlalu merindukan sosokmu. Maka diberikanNya kesempatan untuk aku berpapasan denganmu.

“This is what you wanted. This is what I can give”, said God, “Even though I hurt seeing you hurt”.

I knew He loves me too much :’)

 

Advertisements

Author: Irene A.K.A Irin

I am just an ordinary girl who lives in the extraordinary world.. I'm not used with the talking thingy, so I'd prefer to write all my thoughts and my feelings.. I dream a lot, I imagine a lot.. I love to sing, I love to dance, and I love to smile.. It's not a perfect world, but imagination has brought me to enjoy the perfect world.. Know me well from my writings, not my talking.. I speak through fingers, not mouth.. And the most important thing is, the truth that I am my Big Daddy's daughter.. "I am broken and lost, but by God's grace, I have found"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s