IN · Journey of Love · Literature

Sahabat Malam

Tahukah kamu mengapa aku bergaul karib dengan malam? Karena hanya melalui malam saja lah aku dapat berbicara dengan Tuhan tanpa gangguan. Melalui malam saja lah aku dapat mendengarkan suara Tuhan dengan lebih jelas. Melalui malam saja lah aku menemukan diriku yang sesungguhnya. Hanya melalui malam saja lah aku mengenal siapa aku dan untuk apa aku ada di dunia ini. Melalui malam saja lah aku mengerti bahwa setiap hal dalam hidup ini tidak mungkin berlalu bagaikan angin. Mereka mempunyai arti khusus yang membangun hidupku, hatiku.

Dan oleh karena malam aku menemukan cinta.

Aku tahu bagi sebagian orang malam terkesan begitu menakutkan oleh karena gelapnya, malam terkesan begitu sepi oleh karena dinginnya, malam terkesan begitu hampa oleh karena sunyinya.

Tapi bagiku, malam merupakan sahabatku.

Aku pernah melewati malam yang dipenuhi rasa sakit, dibanjiri oleh tangis tak henti. Namun aku pun pernah melewati malam yang dipenuhi dengan harapan-harapan baru akan cinta yang pernah pupus untuk tumbuh kembali dan menghidupkan duniaku.

Dalam malam aku patah hati. Dan dalam malam aku jatuh cinta kembali.

Malam mengisi ruang pikiranku, dan hanya malam saja yang mampu menyatukan apa yang ada di pikiran ini dengan apa yang hati ini rasakan terhadap sesuatu. Terhadap seseorang.

Kini aku terduduk di beranda belakang rumahku di perbatasan antara Jakarta dan Bogor. Ya. Sudah hampir seminggu aku ada di sini. Dikuasai sunyi, dipeluk dingin. Seorang diri. Entah apa dan siapa yang sedang memperhatikan kesendirianku, tapi aku bersyukur akan satu kesempatan untuk menghabiskan liburanku sendirian. Karena aku ingin menemukan diriku lebih lagi dari apa yang sudah pernah aku temukan ketika aku menjalani sebuah kisah yang sempat memupuskan harapanku untuk mencinta kembali. Bukankah hal terindah dalam hidup adalah ketika kita menemukan diri kita sendiri. Tentu saja sebelumnya kita harus menemukan Pencipta kita terlebih dahulu.

Temukan Tuhan, temukan dirimu sendiri, lalu temukan cinta.

Ruang sunyiku detik ini ditemani oleh pemandangan indah langit sehabis hujan. Aku pikir langit malam itu hanya akan menggambarkan satu warna hitam pekat. Tapi malam ini aku memandangnya, memandang langit yang memberikan warna baru dalam hidupku, biru, dengan ornamen-ornamen disekitarnya yang berwarna putih: awan. Indah sekali. Seandainya saja aku dapat memandangnya dengan kekasihku disisiku.

Tidak. Aku tidak sedih. Tidak juga sedang menghasihani diriku sendiri. Ada atau tidak ada seseorang disisiku bukan menjadi masalah untukku.

Karena satu hal yang aku yakini adalah aku dan dia berada dalam naungan langit yang sama. Dan mungkin saja sesungguhnya kami sedang memandang ke arah langit yang sama dan sama-sama berdoa dalam hati: “indah sekali malam ini, seandainya ada dia disisiku”. Hingga suatu hari nanti Tuhan tidak lagi membiarkan kami berimajinasi pada langit yang memantulkan cahaya bulan purnama, namun menyatukan kami dalam sebuah pelukan hangat seraya memandang indahnya langit malam dalam ruang yang sama.

Wahai malam. Temukan kami dalam mimpi agar jarak yang terbentang di antara kami ini dapat kami langkahi dalam batas jangkauan tangan yang terulur.

About Me · Blessings in Disguise · EN · Journey of Love · Literature

you

i have never found myself fascinated with a specific person. normally i would see him or her as someone i admire because he or she has become an inspiration to me. but what inspiration do i have when i see you? i don’t even know you, you don’t even know me, and we don’t even introduce ourselves to each other. but why your figure always visit my mind when i am at my weakest hour: the night.

it has always been the night that makes me believe that dreams really do come true..

so if i dream about you, will you allow me to wish it to come true? 

i know you and i believe you know me. but just to a limit of knowing each other that each of us exist somewhere in this city, and once seen somewhere on the corner of the stage that put us together. but no story built between us. 

will it be true? the story?

i told God that i am too afraid of myself, because i have this “unique” capability of falling in love with my own imagination. so if i am imagining you somewhere in the midnight, is it okay if i fear of myself to fall in love with you when i am standing in between the reality and the dream? because there is some fragile hours when i can’t differentiate where i am standing. 

that’s why, it is locked for a reason. i mean .. heart, my heart. because i understand if the world couldn’t understand this. and i always pray, i always ask, for someone to come in here, and understand that i am so vulnerable because i am easy to love. 

i am easy to love because i can accept someone’s weaknesses and love them (the weaknesses) easily. i deeply understand how imperfections can make my world to be so much perfect. 

wait.. is that something that needs to be embrace, or is it wrong? is it wrong to wish for a sun to shine at night, and the moon to light my path in the darkness? 

is it wrong to wish for something that is too impossible, or someone that is too far away? 

no. i never stop asking God for something that is too impossible. 

because i believe in the process. 

the result is just a reward.

i believe in the process, of praying about you, telling God (specifically) your name, even though you are so far away and too impossible, i believe that it will develop my Faith.

and knowing you is just a reward He gives to me 🙂

Blessings in Disguise · Irin Active Journey · Journey of Love · Random Things Found in Daily Life

granted simple wish

Semalam aku bermimpi tentang kamu. Dan aku dapat merasakan mimpi itu seolah kenyataan. Aku dapat merasakan keberadaanmu begitu dekat.

Aku mengerti sekarang bahwa mimpi itu merupakan hasil dari segala sesuatu yang kita pikirkan tepat sebelum kita tertidur. Dan ya, aku memang sempat memikirkan dirimu sore hari, dan malam hari, hingga tepat sebelum tertidur. Terutama setelah kesempatan singkat dan sederhana bertemu denganmu pada tempat dan waktu yang tidak diduga.

Siang itu merupakan siang setelah kebaktian gereja usai, ada satu harapan sederhana di dalam hatiku, “seandainya saja aku dapat dipertemukan dengannya”. Mungkinkah? Atau harapan itu hanya sekedar impian semu belaka? Aku turun ke lantai bawah seraya berpikir restoran mana yang akan kupilih untuk aku menyantap makan siangku yang tertunda dari dua jam yang lalu. Entah bagaimana, ada sesuatu dalam hatiku yang menyarankan untuk mengunjungi restoran dimana aku dan dirinya pertama bertemu. Jadi aku pergi ke sana.

Tentu saja, dia tidak disana.

“Ah mungkin hanya harapan bodohku saja”. Tapi tidak ada satu pun harapan yang terlalu bodoh jika kamu mengubahnya menjadi doa sederhana.

Mungkin tanpa disadari aku ini sebenarnya berdoa kepada Tuhan untuk dipertemukan dengannya. Entah kenapa ada rindu melihat sosoknya, bukan hanya memandangnya dari sosial media yang menyatukan kita.

Aku memilih untuk duduk di sisi luar restoran yang berdampingan dengan jalan umum. Tadinya Ma, yang saat itu sedang bersamaku, memilih untuk duduk di sisi dalam restoran. Tapi entah mengapa, sesuatu dalam hatiku kembali berkata, “ada baiknya kamu duduk di sisi luar”.

“Duduk di luar saja yuk, Mam? Di dalam pengap”. Jadi aku duduk di sebelah lorong restoran tersebut.

Ternyata suara itu bukan sesuatu. Melainkan Seseorang.

Tiga puluh menit kemudian, pandanganku bertemu dengan sosoknya yang sedang berjalan dari hadapanku, menyelusuri lorong sisi luar restoran tempatku makan siang. Aku pikir aku berkhayal. Tapi aku tahu, bahwa itu dia. Dari jauh aku sudah dapat mengenal sosoknya yang belum lama ini baru menarik perhatianku.

Dia selalu mempesona dengan caranya tersendiri 🙂

Detik itu aku mengerti, suara-suara itu merupakan suara Tuhan yang mendengar doaku dan mengabulkan doaku.

Lalu sepanjang sore hingga malam hari aku terus berpikir jika doa dan harapan sederhana yang sempat aku lantunkan itu mempunyai maksud tertentu. Aku bercerita kepada seorang teman baikku mengenai kejadian sederhana yang aku alami itu.

“Tidak ada yang kebetulan, bukan?”, ujarnya.

Mungkin saja. Mungkin saja tidak. Tapi aku selalu menganggap segala sesuatu yang terjadi dalam hidupku mempunyai maksud-maksud khusus yang tersembunyi. Jadi aku bertanya kepada Tuhan jika memang Tuhan ijinkan aku membuka diriku kepadanya.

Tapi pertanyaannya lebih ke: “siapkah aku?”. Siapkah aku terluka lagi, siapkah aku membuka diriku lagi, siapkah aku mencinta lagi?

Ah tidak. Mungkin tidak secepat itu untuk mencinta. Tidak lagi. Tapi tentu saja aku harus membuka diriku akan kesempatan untuk menemukan cinta kembali.

Dan sepanjang tiga hari aku menyendiri di perbatasan kota Jakarta dan Bogor, aku telah merenungkan banyak hal. Bahwa hanya orang berani saja yang bisa mencintai. Mungkin aku harus lebih memberanikan diri, karena jika aku mencintai, artinya aku membuka diriku akan kesempatan untuk terluka kembali.

Aku bangun di pagi hari dengan perasaan heran mengapa aku memimpikanmu begitu dekat, begitu nyata. Apakah pikiranku yang menguasai isi mimpiku? Atau memang alam bawah sadarku mengatakan bahwa sudah saatnya aku kembali membuka diriku? Ataukah mimpi tersebut merupakan caraku menyampaikan doa dan harapan, dan bagaimana Tuhan mengemasnya menjadi sebuah petunjuk?

Aku hanya tahu satu hal: Tuhan mendengar doa dan harapan kecil hati yang merindu.

Percayakah kamu? 🙂

IN · Life Lesson · Literature

.berdampingan

Ada sebuah alasan mengapa ada ruang sunyi di antara aku dan dirinya ketika kita berjalan di keramaian kota Jakarta sore hari itu. Disinari cahaya matahari yang hendak mengucapkan salam perpisahan, aku dan dirinya berjalan berdampingan melalui sibuknya kendaraan-kendaran di sisi kiri kami mengungkapkan ketidaksabaran mereka melalui bisingnya bunyi klakson yang dibumbui oleh amarah. Tidak ada lagi kata canggung mewarnai hubungan kami. Kami hanya perlu menjalani langkah kami hingga kami tiba di tujuan kami, hingga kami berpisah.

Namun perpisahan itu selalu menjadi perpisahan yang sesungguhnya. Waktu yang aku miliki dengannya selalu hanya terpaut pada satu hari itu saja.

Mungkin aku sendiri adalah seseorang yang terlalu memikirkan hal-hal kecil yang seharusnya tidak perlu kupikirkan. Jika aku hendak bertemu dengannya, pikiranku akan selalu dikuasai oleh seberapa banyak kami akan menghabiskan waktu bersama, atau seberapa lama kami akan ada dalam satu ruang napas. Aku selalu mencari cara agar kami tidak pernah dikunjungi ruang bisu. Karena untukku, kebisuan berarti aku dan siapa pun lawan bicaraku tidak cocok untuk menghabiskan waktu bersama.

Tapi masalahnya adalah justru melalui kesunyian itulah seseorang benar-benar dapat merasakan kehadiran seseorang lainnya. Melalui kesunyian kita lebih dapat menghargai kehadiran seseorang. Keberadaan seseorang pun merupakan bentuk dan kasih sayang yang tidak dapat diungkapkan oleh kata-kata. Waktu yang menjadi saksi bahwa dia ingin bersama denganku daripada dengan seseorang yang lain.

Seperti yang pernah dirinya-yang-telah-berlalu katakan kepadaku: “aku tidak perlu topik pembicaraan, berada bersama denganmu dalam ruang sunyi pun sudah cukup bagiku”. Dan aku mengerti arti semua itu sekarang, bahwa duduk berhadapan dan tenggelam dalam dunia masing-masing, asalkan aku tahu bahwa ada dirinya di hadapanku, seharusnya itu sudah lebih dari cukup.

Dan hubungan yang telah dirajut oleh sekian banyak pengalaman naik gunung, turun ke lembah, berenang pada laut dengan batas tak terhingga, berlari menembus teriknya matahari dan badai hujan, semua itu hanya akan membawa aku dan dirinya ke sebuah titik bahwa aku dan dirinya seolah diciptakan untuk bersama.

Aku heran dengan diriku sendiri ketika aku berjalan dengannya, yang berusaha menyamakan langkahnya yang lebar dengan langkahku yang kecil, heran karena aku tidak lagi kebingungan oleh canggung ketika tidak ada satu pun kata yang keluar dari kedua mulut kami untuk membicarakan sesuatu. Aku hanya tahu sore hari itu aku menikmati perjalanan kami.

Seperti inikah seharusnya perjalanan cinta yang sesungguhnya? Bahwa pada akhirnya sebuah hubungan akan bermuara pada cara masing-masing individu saling menikmati kehadiran satu sama lain. Entahlah, sudah lama sekali nampaknya aku tidak berada pada ruang seperti demikian. Aku sudah lupa.

Tapi yang aku tahu itu indah.

IN · Journey of Love · Random Things Found in Daily Life

“Karena aku sudah menemukan kedamaianku”

Jakarta turun hujan lagi malam ini. Apakah aku sedang merindukanmu? Karena masa-masa aku mencintaimu adalah ketika hujan turun untuk menyampaikan kerinduanku kepadamu. Tetapi ketahuilah, bahwa aku sudah menemukan kedamaianku.

Aku pun heran ketika pikiranku tiba-tiba tidak lagi diisi dengan sosoknya ketika aku sedang berkelana di kantorr. Atau di gym. Atau di kantin. Ruang-ruang yang dulu pernah kami isi untuk menghabiskan waktu bersama. Seperti yang malam itu Tuhan katakan kepadaku, bahwa pertemuan super-intensif sepanjang dua minggu bertujuan untukNya “mengenyangkan” kerinduan yang pernah aku sampaikan kepada Tuhan. Sebuah penutup, dengan caraNya meyakinkanku bahwa aku dan dirinya adalah kemustahilan, bukan kemungkinan. Aku tidak lagi bertemu dengannya. Perlahan memori mengenai keberadaannya hilang, disapu angin waktu.

Karena aku sudah menerima dirinya yang telah menjadi bagian dari diriku yang akan kubawa sampai akhir hidupku, walaupun kisah tentangnya akan perlahan terlupakan. Melekat dalam batinku, sudah cukup, tanpa aku harus memandang bayang-bayang dirinya lagi.

Namun hari ini aku bertemu lagi dengan dirinya. Maksudku “bertemu” bukan mengenai bertatap muka dengan muka, atau bertukar pandang. Kehadirannya yang aku ketahui ada di sekitarku: melihat namanya tertulis dalam sebuah lembaran daftar hadir dan memandang pantulan sosoknya dari balik kaca yang membalut seluruh ruang gym.

“Dia lagi”, ujarku kepada sahabat-sahabatku. Mungkin mereka heran mengapa aku harus mempermasalahkan jika kami bertemu.

“Kenalan lagi donk: hai kayak pernah liat di kantor, kamu satu kantor sama aku ya?”, aku tidak dapat menahan tawaku ketika membaca salah satu dari ketiga sahabatku menuliskan pesan melalui WhatsApp group kami. Epic.

Tapi duduk permasalahannya bukan mengenai ada atau tidak ada dia disekitarku. Mungkin kemarin jika aku bertemu dengannya, aku akan dikuasai oleh perasaan sedih yang tak terungkap oleh karena kami sudah menjadi dua orang asing. Namun sekarang aku dapat katakan bahwa pertemuanku dengannya hanya akan membawa hawa canggung yang tidak sanggup aku hadapi. “Bagaimana aku harus bersikap kepadanya?”, tanyaku dalam hati jika ada satu kemungkinan untuk disempatkan berpapasan dengannya.

Aku bertanya kepada langit malam yang memantulkan cahaya merah entah darimana, jika aku sedang merindukannya sehingga haruskah hujan turun malam ini ketika sudah sekian lama Jakarta tidak turun hujan? Tetapi aku memang sudah tidak lagi merindukan dirinya. Bahkan ketika aku sedang berlari seraya bertanya apakah aku dan dia akan berpapasan lagi hari ini dari atas ban berjalan di gym, aku mendengar Tuhan bertanya kepadaku jika aku ingin bertemu dengannya. Dengan yakin aku menjawab: tidak. Karena aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepadanya jika kami harus berpapasan sebegitu dekatnya, dan hanya ada kami berdua di dalam ruangan tersebut. Aku memilih untuk melepaskannya dengan tidak bertemu dengannya kembali.

Mungkin hujan yang mengguyur kota Jakarta malam ini adalah cara alam, cara Tuhan menyampaikan pesan, bahwa hujan bukan lagi caraku bersembunyi dari dunia ketika aku sedang menangisinya, hujan yang pernah menyamarkan tangisku yang membelai kedua sisi pipiku.

Karena aku tidak lagi menangisi kehampaan dirinya.

Aku sudah menemukan kedamaianku 🙂

 

EN

Friday “me” time

The night where I promised myself to enjoy my own time was the weekend night where everybody was going out with their beloved ones. I bumped into several acquaintances and they asked me if I was with someone. “No. I’m all by myself”, I answered them confidently just to make them re-confirm whether they hear what they heard. But they heard correctly. 

“Why?”. Did you ask why, my friends? Because this week I was overwhelmed by interacting with lots of people just to fulfill their needs. But i need to be fulfilled for the same reasons as well. But I answered differently.

“Just to enjoy myself”, said I. I could detect their confusions. But that was just me: sometimes I get lonely, but most of the time I need to be detached with the world. 

So I decided to went for a movie (instead of walking around the mall with no purpose). I chose a theater where I spent the beginning with him. Yes, I did revisit the memories, but I didn’t tell anyone. Because it was too hard to explain, that I just wanted to make peace with the places we were spending time in. 

God had given me the chance to see him one more time. From missing him to overflowing with satisfied feelings. I think it should be enough to let him go, forever.

I arrived at the theatre 30 minutes before the movie started. It was awkward seeing myself in front of the mirror with earphones on, while everybody around me had someone to throw a smile at. But I learned again that night: it is okay to be alone as long as you enjoy yourself. 

As long as you make peace with your greatest fear: loneliness.

 As I walked around the corners, I did smile. Because somehow I could see and feel him by my side while in fact I was completely alone. Especially inside a big dark room when the movie was played. He was there, sitting at my right side. Discussing scene after scene. 

I did miss our quality moments 🙂

But do I wish that to be repeated? I did, and perhaps still do: seeing things work with you would be the best adventure ever. But it’s also okay if things don’t work as I hoped for. 

Because I believe this is God who wanted me to settle with the one from Him. He loves me too much. 

I met you again few times these couple days. Not as intensive as the last two weeks. But I realize now that everytime I go somewhere, I’d prefer to avoid you. It was enough, because you are my past now. A part of me that would never come back, a part of me I will always cherish. The first love that happened to me for the very first time in this beloved City.

And although this residual love is still exist somewhere in my heart, I’d rather accepting it as a part of my current life which one day would be faded away.

The movie was not really that great, but I enjoyed being by myself. I no longer be afraid of being alone: loneliness is a decision – whether to feel lonely or whether to recharge your own self by embracing who you really are that sometimes we need space to grow (especially for an introvert like me :p).

Maybe it is good if we were still together, so we can enjoy our weekend together. But maybe it’ll be greater if we were not be together so each of us can learn a valuable lessons for the future.

IN · Journey of Love

Proper goodbye

Ada alasan yang tepat mengapa pada malam itu Tuhan berbicara langsung dalam hatiku. Karena untuk sekian hari aku bertanya-tanya jika aku akan bertemu denganmu kembali setelah pertemuan tiada henti selama dua minggu terakhir.

Tentang mengapa aku harus terus-terusan bertemu denganmu.

Sesuatu dalam hatiku berbicara bahwa sudah waktunya aku mengucapkan selamat tinggal kepadamu. Selamanya. Menutup buku akan pengetahuan hatiku terhadap dirimu.

Aku percaya itu Tuhan yang berbicara.

Tapi ingatlah selalu, sayangku, bahwa kamu adalah bagian dari diriku. Bahkan mungkin, masih menjadi bagian dari diriku hingga waktu menghembus ingatanku akan dirimu. Dan aku hanya perlu menerima diriku yang mengasihimu sedemikian rupanya.

Mengasihimu yang tidak akan pernah kumiliki kembali.

Senin malam. Aku menghadiri latihan rutin Choir di sudut kota Jakarta bagian barat. Awalnya aku hadir dengan keceriaan. Namun berakhir dengan tangis tak henti yang mengalir di kedua pipiku. Seorang teman Choir memergoki aku yang terus tertunduk menatap lantai seraya bernyanyi. Karena tangis yang turun dan menetes ke lantai dingin ruangan latihan itu, tidak dapat kukendalikan.

Matanya terbelak kejut, “Irene, kamu kenapa?”. Aku? Kenapa? Aku tidak tahu. Aku hanya tahu aku menangis begitu kencangnya. Aku hanya tahu aku merasakan kesedihan yang sangat besar. Dan aku tahu detik itu, bahwa Tuhan sedang duduk di dalam ruang hatiku, berhadapan muka dengan muka dengan sosokku, berbicara denganku, membukakan satu demi satu fakta hati yang tak terungkap, atau bahkan mungkin yang aku sudah lama sangkal.

Aku tahu Tuhan sedang menutup pintu yang pernah terbuka untukku mencintainya. Dan itu menyakitkan. Aku mengerti sekarang mengapa banyak orang mengusikku ketika aku harus melepaskan seseorang yang kucintai. Karena hal yang paling sulit mengenai melepaskanmu adalah menyadari bahwa kenangan-kenangan indah dan manis yang pernah kita rangkai bersama akan terlupakan seiring berjalannya waktu.

Bahkan ketika aku meyakinkan diriku sendiri bahwa tidak apa-apa jika aku tidak melupakan. Tapi aku tahu bahwa waktu akan menghapus segala yang pernah kumiliki bersama dengannya. Dan itu terlalu indah untuk dilupakan. Karena sudah pasti aku tidak akan merasakan perasaan yang sama.

Tentu saja aku tidak akan merasakan perasaan yang sama seperti yang pernah aku rasakan terhadapnya. Karena kemungkinannya hanya 1: merasakan perasaan yang lebih indah dari yang sebelumnya. Itulah keajaiban cinta.

Maka dari itu aku harus melepaskanmu. Selamanya. Untuk mendapatkan perasaan yang lebih indah lagi dari yang pernah aku rasakan terhadap dirimu.

Jadi.. Tidak. Aku tidak akan bertemu dengannya lagi. Atau kebetulan bertemu dengannya lagi. Dan kita akan kembali ke titik awal ketika semuanya belum dimulai: aku yang tidak pernah mengingat dirimu, dan kamu yang tidak pernah mempedulikan aku. Tuhan sudah mengenyangkan aku dengan pertemuanku denganmu. Aku pernah merasa begitu kosongnya karena aku begitu merindukanmu. Tuhan terlalu sayang kepadaku sehingga Dia berikan kepadaku kesempatan untuk menutup segala yang masih tersisa tentangmu, termasuk caraku yang terlalu merindukanmu.

Selamat tinggal. Aku tidak akan lagi merindukanmu. Karena malam penuh tangis itu, Tuhan berbicara seraya mengusap kepalaku: “lepaskanlah anakKu, sayang. Karena hatimu terlalu berharga untuk merindukan seseorang yang bukan untukmu”.