IN · Journey of Love

Proper goodbye

Ada alasan yang tepat mengapa pada malam itu Tuhan berbicara langsung dalam hatiku. Karena untuk sekian hari aku bertanya-tanya jika aku akan bertemu denganmu kembali setelah pertemuan tiada henti selama dua minggu terakhir.

Tentang mengapa aku harus terus-terusan bertemu denganmu.

Sesuatu dalam hatiku berbicara bahwa sudah waktunya aku mengucapkan selamat tinggal kepadamu. Selamanya. Menutup buku akan pengetahuan hatiku terhadap dirimu.

Aku percaya itu Tuhan yang berbicara.

Tapi ingatlah selalu, sayangku, bahwa kamu adalah bagian dari diriku. Bahkan mungkin, masih menjadi bagian dari diriku hingga waktu menghembus ingatanku akan dirimu. Dan aku hanya perlu menerima diriku yang mengasihimu sedemikian rupanya.

Mengasihimu yang tidak akan pernah kumiliki kembali.

Senin malam. Aku menghadiri latihan rutin Choir di sudut kota Jakarta bagian barat. Awalnya aku hadir dengan keceriaan. Namun berakhir dengan tangis tak henti yang mengalir di kedua pipiku. Seorang teman Choir memergoki aku yang terus tertunduk menatap lantai seraya bernyanyi. Karena tangis yang turun dan menetes ke lantai dingin ruangan latihan itu, tidak dapat kukendalikan.

Matanya terbelak kejut, “Irene, kamu kenapa?”. Aku? Kenapa? Aku tidak tahu. Aku hanya tahu aku menangis begitu kencangnya. Aku hanya tahu aku merasakan kesedihan yang sangat besar. Dan aku tahu detik itu, bahwa Tuhan sedang duduk di dalam ruang hatiku, berhadapan muka dengan muka dengan sosokku, berbicara denganku, membukakan satu demi satu fakta hati yang tak terungkap, atau bahkan mungkin yang aku sudah lama sangkal.

Aku tahu Tuhan sedang menutup pintu yang pernah terbuka untukku mencintainya. Dan itu menyakitkan. Aku mengerti sekarang mengapa banyak orang mengusikku ketika aku harus melepaskan seseorang yang kucintai. Karena hal yang paling sulit mengenai melepaskanmu adalah menyadari bahwa kenangan-kenangan indah dan manis yang pernah kita rangkai bersama akan terlupakan seiring berjalannya waktu.

Bahkan ketika aku meyakinkan diriku sendiri bahwa tidak apa-apa jika aku tidak melupakan. Tapi aku tahu bahwa waktu akan menghapus segala yang pernah kumiliki bersama dengannya. Dan itu terlalu indah untuk dilupakan. Karena sudah pasti aku tidak akan merasakan perasaan yang sama.

Tentu saja aku tidak akan merasakan perasaan yang sama seperti yang pernah aku rasakan terhadapnya. Karena kemungkinannya hanya 1: merasakan perasaan yang lebih indah dari yang sebelumnya.Β Itulah keajaiban cinta.

Maka dari itu aku harus melepaskanmu. Selamanya. Untuk mendapatkan perasaan yang lebih indah lagi dari yang pernah aku rasakan terhadap dirimu.

Jadi.. Tidak. Aku tidak akan bertemu dengannya lagi. Atau kebetulan bertemu dengannya lagi. Dan kita akan kembali ke titik awal ketika semuanya belum dimulai: aku yang tidak pernah mengingat dirimu, dan kamu yang tidak pernah mempedulikan aku. Tuhan sudah mengenyangkan aku dengan pertemuanku denganmu. Aku pernah merasa begitu kosongnya karena aku begitu merindukanmu. Tuhan terlalu sayang kepadaku sehingga Dia berikan kepadaku kesempatan untuk menutup segala yang masih tersisa tentangmu, termasuk caraku yang terlalu merindukanmu.

Selamat tinggal. Aku tidak akan lagi merindukanmu. Karena malam penuh tangis itu, Tuhan berbicara seraya mengusap kepalaku: “lepaskanlah anakKu, sayang. Karena hatimu terlalu berharga untuk merindukan seseorang yang bukan untukmu”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s