“Karena aku sudah menemukan kedamaianku”

Jakarta turun hujan lagi malam ini. Apakah aku sedang merindukanmu? Karena masa-masa aku mencintaimu adalah ketika hujan turun untuk menyampaikan kerinduanku kepadamu. Tetapi ketahuilah, bahwa aku sudah menemukan kedamaianku.

Aku pun heran ketika pikiranku tiba-tiba tidak lagi diisi dengan sosoknya ketika aku sedang berkelana di kantorr. Atau di gym. Atau di kantin. Ruang-ruang yang dulu pernah kami isi untuk menghabiskan waktu bersama. Seperti yang malam itu Tuhan katakan kepadaku, bahwa pertemuan super-intensif sepanjang dua minggu bertujuan untukNya “mengenyangkan” kerinduan yang pernah aku sampaikan kepada Tuhan. Sebuah penutup, dengan caraNya meyakinkanku bahwa aku dan dirinya adalah kemustahilan, bukan kemungkinan. Aku tidak lagi bertemu dengannya. Perlahan memori mengenai keberadaannya hilang, disapu angin waktu.

Karena aku sudah menerima dirinya yang telah menjadi bagian dari diriku yang akan kubawa sampai akhir hidupku, walaupun kisah tentangnya akan perlahan terlupakan. Melekat dalam batinku, sudah cukup, tanpa aku harus memandang bayang-bayang dirinya lagi.

Namun hari ini aku bertemu lagi dengan dirinya. Maksudku “bertemu” bukan mengenai bertatap muka dengan muka, atau bertukar pandang. Kehadirannya yang aku ketahui ada di sekitarku: melihat namanya tertulis dalam sebuah lembaran daftar hadir dan memandang pantulan sosoknya dari balik kaca yang membalut seluruh ruang gym.

“Dia lagi”, ujarku kepada sahabat-sahabatku. Mungkin mereka heran mengapa aku harus mempermasalahkan jika kami bertemu.

“Kenalan lagi donk: hai kayak pernah liat di kantor, kamu satu kantor sama aku ya?”, aku tidak dapat menahan tawaku ketika membaca salah satu dari ketiga sahabatku menuliskan pesan melalui WhatsApp group kami. Epic.

Tapi duduk permasalahannya bukan mengenai ada atau tidak ada dia disekitarku. Mungkin kemarin jika aku bertemu dengannya, aku akan dikuasai oleh perasaan sedih yang tak terungkap oleh karena kami sudah menjadi dua orang asing. Namun sekarang aku dapat katakan bahwa pertemuanku dengannya hanya akan membawa hawa canggung yang tidak sanggup aku hadapi. “Bagaimana aku harus bersikap kepadanya?”, tanyaku dalam hati jika ada satu kemungkinan untuk disempatkan berpapasan dengannya.

Aku bertanya kepada langit malam yang memantulkan cahaya merah entah darimana, jika aku sedang merindukannya sehingga haruskah hujan turun malam ini ketika sudah sekian lama Jakarta tidak turun hujan? Tetapi aku memang sudah tidak lagi merindukan dirinya. Bahkan ketika aku sedang berlari seraya bertanya apakah aku dan dia akan berpapasan lagi hari ini dari atas ban berjalan di gym, aku mendengar Tuhan bertanya kepadaku jika aku ingin bertemu dengannya. Dengan yakin aku menjawab: tidak. Karena aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepadanya jika kami harus berpapasan sebegitu dekatnya, dan hanya ada kami berdua di dalam ruangan tersebut. Aku memilih untuk melepaskannya dengan tidak bertemu dengannya kembali.

Mungkin hujan yang mengguyur kota Jakarta malam ini adalah cara alam, cara Tuhan menyampaikan pesan, bahwa hujan bukan lagi caraku bersembunyi dari dunia ketika aku sedang menangisinya, hujan yang pernah menyamarkan tangisku yang membelai kedua sisi pipiku.

Karena aku tidak lagi menangisi kehampaan dirinya.

Aku sudah menemukan kedamaianku 🙂

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s