.berdampingan

Ada sebuah alasan mengapa ada ruang sunyi di antara aku dan dirinya ketika kita berjalan di keramaian kota Jakarta sore hari itu. Disinari cahaya matahari yang hendak mengucapkan salam perpisahan, aku dan dirinya berjalan berdampingan melalui sibuknya kendaraan-kendaran di sisi kiri kami mengungkapkan ketidaksabaran mereka melalui bisingnya bunyi klakson yang dibumbui oleh amarah. Tidak ada lagi kata canggung mewarnai hubungan kami. Kami hanya perlu menjalani langkah kami hingga kami tiba di tujuan kami, hingga kami berpisah.

Namun perpisahan itu selalu menjadi perpisahan yang sesungguhnya. Waktu yang aku miliki dengannya selalu hanya terpaut pada satu hari itu saja.

Mungkin aku sendiri adalah seseorang yang terlalu memikirkan hal-hal kecil yang seharusnya tidak perlu kupikirkan. Jika aku hendak bertemu dengannya, pikiranku akan selalu dikuasai oleh seberapa banyak kami akan menghabiskan waktu bersama, atau seberapa lama kami akan ada dalam satu ruang napas. Aku selalu mencari cara agar kami tidak pernah dikunjungi ruang bisu. Karena untukku, kebisuan berarti aku dan siapa pun lawan bicaraku tidak cocok untuk menghabiskan waktu bersama.

Tapi masalahnya adalah justru melalui kesunyian itulah seseorang benar-benar dapat merasakan kehadiran seseorang lainnya. Melalui kesunyian kita lebih dapat menghargai kehadiran seseorang. Keberadaan seseorang pun merupakan bentuk dan kasih sayang yang tidak dapat diungkapkan oleh kata-kata. Waktu yang menjadi saksi bahwa dia ingin bersama denganku daripada dengan seseorang yang lain.

Seperti yang pernah dirinya-yang-telah-berlalu katakan kepadaku: “aku tidak perlu topik pembicaraan, berada bersama denganmu dalam ruang sunyi pun sudah cukup bagiku”. Dan aku mengerti arti semua itu sekarang, bahwa duduk berhadapan dan tenggelam dalam dunia masing-masing, asalkan aku tahu bahwa ada dirinya di hadapanku, seharusnya itu sudah lebih dari cukup.

Dan hubungan yang telah dirajut oleh sekian banyak pengalaman naik gunung, turun ke lembah, berenang pada laut dengan batas tak terhingga, berlari menembus teriknya matahari dan badai hujan, semua itu hanya akan membawa aku dan dirinya ke sebuah titik bahwa aku dan dirinya seolah diciptakan untuk bersama.

Aku heran dengan diriku sendiri ketika aku berjalan dengannya, yang berusaha menyamakan langkahnya yang lebar dengan langkahku yang kecil, heran karena aku tidak lagi kebingungan oleh canggung ketika tidak ada satu pun kata yang keluar dari kedua mulut kami untuk membicarakan sesuatu. Aku hanya tahu sore hari itu aku menikmati perjalanan kami.

Seperti inikah seharusnya perjalanan cinta yang sesungguhnya? Bahwa pada akhirnya sebuah hubungan akan bermuara pada cara masing-masing individu saling menikmati kehadiran satu sama lain. Entahlah, sudah lama sekali nampaknya aku tidak berada pada ruang seperti demikian. Aku sudah lupa.

Tapi yang aku tahu itu indah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s