enough

jika matahari terbenam terlalu cepat, dan malam terasa begitu sunyi, aku tahu itu jam-jam kritisku. seperti seseorang yang koma dan ada diperbatasan antara hidup dan mati, aku memandang diriku dari balik cermin yang terbentang lebar pada dinding kamarku, dan melihat sosok yang menyedihkan. karena dia berurai air mata. 

seringkali aku memilih untuk tidak bertemu dengan siapa-siapa agar aku tidak perlu mengungkapkan apa-apa. karena jika telinga ini mendengar dari mulutku sendiri mengenai diriku sendiri, aku hanya akan mendapati diriku yang rentan. 

terutama rentan akan cinta.

seorang sahabat bertanya kepadaku apa yang menjadi pertimbanganku untuk memutuskan sesuatu. memutuskan untuk menggapainya. “kenapa kamu harus banyak berpikir mengenai apa yang hendak atau harus kamu lakukan untuk menggapainya?”, tanyanya. kenapa aku harus memikirkan kemungkinan apa yang akan terjadi jika dia sudah dihadapanku? sesungguhnya itu semua hanya akan melelahkan jiwaku.

“karena aku ini takut”, ujarku. aku ini takut akan apa yang diriku sendiri bisa lakukan jika sedang mencintai. aku ini takut akan diriku sendiri. maka dari itu ada dinding tebal yang mengelilingi duniaku ketika aku berjalan membaur dengan dunia ini. 

salahkah?

apa yang sesungguhnya harus aku pinta dariMu, Tuhan? untuk diberikan kesempatan untuk menggapainya, ataukah kesempatan untuk melupakannya? karena sesungguhnya aku tidak mengerti mengapa Engkau memberikanku namanya di malam hari untuk kudoakan dengan tekun. mulai dari dengan raungan dan lolongan panjang dengan hingga detak jantung bahagia yang tak beralasan, aku tidak pernah luput untuk tidak membawa namanya dalam doaku. 

jika Engkau ingin melatih kesabaranku, cukuplah sudah Tuhan. karena sesungguhnya aku ini sudah ingin menyerah. 

mustahil.. terlalu mustahil. jangan jadikan impian semu ini untuk kuharapkan terjadi, Tuhanku.. 

dua jam aku berhadapan dengan sahabatku sambil aku menahan air mata yang sudah siap jatuh ke pipiku. aku hanya bisa menutupnya dengan tawa canda selingan agar mereka tidak jadi jatuh, dan tidak seorang pun harus melihat aku yang rentan. 

sebagaimana ketika siang tadi, aku berada di atas panggung yang memberi kesan warna kuning tua pada lampu sorotnya, aku meneteskan satu atau dua tetes saja dan menyembunyikannya dengan menundukkan kepalaku ke lantai kayu yang kuinjak. 

karena sesungguhnya hati ini sudah lelah.. 

lelah jika harus berjuang, lelah jika harus bertahan, lelah jika harus menunggu, lelah jika harus bertahan, lelah jika harus berharap. 

lelah jika harus sakit.

“jangan putus pengharapan, karena semua orang memerlukan sebuah harapan untuk hidup”, ujarnya. tapi tidak bisakah jika aku hidup hanya untuk menjalani yang harus aku jalani? walau memang akan terasa menjemukan. 

walaupun begitu, aku heran. heran karena aku tidak putus2nya mendoakan namamu. 

tolong yakinkan raguku, Tuhan.. walau aku siap melangkah, namun sesungguhnya hatiku tidak siap terluka. 

Advertisements

Author: Irene A.K.A Irin

I am just an ordinary girl who lives in the extraordinary world.. I'm not used with the talking thingy, so I'd prefer to write all my thoughts and my feelings.. I dream a lot, I imagine a lot.. I love to sing, I love to dance, and I love to smile.. It's not a perfect world, but imagination has brought me to enjoy the perfect world.. Know me well from my writings, not my talking.. I speak through fingers, not mouth.. And the most important thing is, the truth that I am my Big Daddy's daughter.. "I am broken and lost, but by God's grace, I have found"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s