“I grow”

Sudah beberapa minggu terakhir aku dibebani pikiran akan sebuah pertanyaan yang mengusik hatiku, dan tentu saja kondisi emosionalku diguncangnya. Menyadari bahwa seringkali suasana hati dipengaruhi oleh apa yang otak kita pikirkan, aku tahu bahwa aku seharusnya mempunyai kontrol yang lebih kuat terhadap pikiran kita: tidak perlu memikirkan yang tidak perlu kita pikirkan. But how to eliminate those unnecessary thoughts?

Setelah bukuku selesai, walau belum benar-benar final karena masih banyak yang harus aku benahi – tapi setidaknya sudah selesai – seolah memori dan perasaan kasih yang pernah aku rasakan tersebut pun ikut menguap bersamaan dengan jam-jam yang aku habiskan untuk duduk di depan laptop dan menulis perasaanku ke dalam 90 halaman “version 1” of my own book. Aku tahu aku harus kembali mengunjungi draft tersebut, tetapi rasanya berat sekali karena it was painful. Aku takut mengunjungi draft bukuku dan kembali mengingat (atau teringat lebih tepatnya) bahwa aku pernah menaruh harapan pada cinta yang semu. Cinta yang belum benar-benar berevolusi menjadi cinta, namun sudah pada jalan yang tepat untuk mencintai. Aku takut dengan membaca kembali (or we, writers, called it “proofreading”) aku diingatkan akan diriku yang lemah dan rapuh.

Aku takut, dan aku butuh seseorang. Tapi apakah akan ada seseorang yang mengerti bahwa seluruh perasaanku terletak pada apa yang aku tulis? Akankah dunia mengerti bahwa jika aku menulis, aku men-“transfer” kegundahanku pada wadah putih polos ini melalui goresan-goresan hitam? Ataukah malah mereka semua akan berpikir: Irene adalah pribadi yang baper-an?

To be honest, aku tidak suka jika aku sedang menelaah emosiku, mencoba mengertinya, then someone would appear and tell me: “Ih, Irene orangnya baper-an”. Hello, world. It’s not about being baper. It’s about feeling.

Kemudian aku melirik ke sekelilingku, mencari orang yang tepat untuk aku mengutarakan hal paling dalam yang ada di hatiku hanya untuk mendapati bahwa ternyata sahabat-sahabatku yang dulu aku kira mengerti, tidak semengerti itu lagi.

Bahkan tidak ada lagi dukungan yang dulu pernah aku dapatkan regarding “another part of me”.

Lalu aku melemparkan sebuah pertanyaan dalam benakku: “Why the change?”.

Aku kira salah satu di antara kami, atau kedua belah pihak di antara kami, melupakan. Aku kira ada kesalahan yang tidak dapat di tolerir sehingga ada hubungan yang harus diretakkan oleh sebuah konflik, atau perasaan yang tersakiti sehingga masing-masing dari kami harus saling membangun jembatan.

Dan aku kembali merasakan kesepian lagi.

Masalah mengenai kesepian ini memang sudah sering (dan lama) aku rasakan. Again, bukan mengenai berapa teman atau sahabat yang aku kenal atau aku miliki (because I have A LOT, literally, A LOT), melainkan seberapa banyak orang yang mengerti why I feel what I feel. Not many. Or just one perhaps?

Tapi aku melihat duduk permasalahannya bukan mengenai siapa aku dan siapa mereka. But the big picture lies within myself. That I grow. Ada beberapa orang dalam hidup, yang dulunya kita dekat dan dapat membahas topik yang serupa mengenai hidup, berbulan-bulan atau bertahun-tahun kemudian pembicaraan yang serupa tidak lagi relevan dalam pembangunan hidupku secara pribadi. Aku mempertanyakan hal tersebut: Is it me? Or is it them?

Maka dari itu ada pepatah yang berkata: “People come and go”, karena bagian mereka dalam pembangunan hidup kita detik ini sudah selesai. Dan pada suatu titik kita sudah bertumbuh, kehadiran mereka sudah tidak relevan lagi. Memang, ada beberapa yang akan selalu menjadi sahabat kita selamanya dalam banyak wadah, tidak peduli kita ada dalam musim apa pun detik itu. Tapi aku berpikir bahwa orang-orang semacam inilah yang seharusnya kita rangkul dan tidak lepaskan.

A bestfriend came to me when I asked for his opinion mengenai “friendship”. He opened my eyes that I had so many talents to be developed which requires me to jump from one pond to another pond. “Komunitas dan pertemanan dalam komunitas itu bagaikan kolam. Yang dimana jika kita masuk ke dalam satu kolam, di situlah kita dibentuk. Since you have many talents that you are passionate about, you need more than one. If you’ve ever felt that your social live is not relevant anymore to your growth, it is okay to move to the new pond, because you grow. But don’t leave your former or current pond, maintain it”, dia dan kata-kata bijaknya. No wonder aku tiba di satu titik dimana kesepian kembali menyerangku, seolah tidak ada orang yang mengerti aku no matter how hard I try to explain them.

Ah, that is another thing I learned. Jika kamu sudah menemukan dirimu dimana kamu harus menjelaskan sesuatu kepada seseorang hanya untuk memohon pengertiannya, that is the sign that you are growing and you need a new pond to be fulfilled. Stop explaining something that does not need to be explained about.

Dan jika aku mengalami sedih yang tidak jelas, is it okay to take some time to recover, and be surrounded by silence so you will be able to see and listen clearly on what God wants to lead your life to.

“I am pieces of quotes from my favorite books, stitched together by song lyrics, and glued together by midnight conversations, and the sweet taste of coffee, and I have this tendency to fall apart suddenly, and I need you to be okay with this because I am created by the souls who are brave enough to gather my tattered pieces and put me together” – semalam aku menulis ini pada postingan account Instagramku. Aku dibentuk oleh mereka-mereka yang berani berhadapan dengan “keunikan” ku (complexity in a weird way – aku tidak menyebutnya “aneh”, walaupun mungkin “aneh” merupakan kata-kata yang tepat).

Tidak heran pada malam di beberapa minggu lalu Tuhan berbicara kepadaku ketika aku bertanya mengapa Tuhan mengambil orang-orang yang aku pilih untuk aku cintai, Dia menjawab: I want you to be the best of you. Semua perjalanan yang pernah aku lewati hanya akan membawaku kepada orang-orang yang tepat. Jika mereka harus pergi, itu karena Tuhan terlalu sayang kepadaku untuk membiarkan aku terlibat dengan orang-orang yang kurang (bukan tidak) tepat untuk menjadi sebagaimana Tuhan telah rencanakan aku di akhir perjalanan nanti akan menjadi seperti apa.

Pertanyaannya sekarang: “Tuhan mau aku jadi apa?”. But I guess we should not be worried about that now, right? Hanya bisa diketahui jika kita telah tiba di titik itu.

Karena pada akhirnya akan selalu indah daripada permulaannya – Pengkhotbah 7:8

Aku (seharusnya) bersyukur, rasa kehilangan ini karena aku bertumbuh, bukan karena ada kesalahan.

when i met her

The day was bright, and she dressed like a princess. It was noon, and the sun at his highest. After a short moment with my friends, I met her on her way back to her place (and mine). I was thinking to catch up a little bit of her after our last meeting last week, when she was at her lowest. Approached her classy walk, and greeted her.

“Hi. Something to talk about?”, without further ado I asked her because I knew her well that she hid her uttermost feelings when she walks alone.

And she knew she could be open to me. I knew she would talk about all the things in the world to me without any hesitations. I knew she trusted me.

She looked at me with a deep stare. Her looks had already said the word.

“I think I’m a little afraid”, as she walked side by side with me.

“Of?, I asked her back.

She stood tighter by my side, wrapped around her little arm into my arm. As she bowed down, she sighed, a long one, showing the burden she carries in her heart, the one that no one in this world could see, and understand. But somehow I could understand her deeply.

We might rarely see each other, but I think this is the gift God gave me of being “sensitive” : someone who could understand others that deep. Maybe that kind of depth I have: connection.

She answered unhesitatingly..

“I’ve given so much to men. The wrong ones. And like the good stuff – you know – the loyalty, the care, the nurturing, the love, and sacrifices – the things you are supposed to give in a relationship. And I guess I’m a little afraid that when the right man comes along I’m gonna be reluctant to give that stuffs again. And then, I’m gonna be wasting a good thing because of it”.

I smiled when I looked at her bowing head, looking at the pavement to keep her pace.

To love is to be vulnerable. She is in the state whereas she’s being overly sensitive because she softens her heart to give another chance to her love. There were times when she gave up on love and she was so firm that she wouldn’t find love anymore. But God is too kind to her, and God gave her the opportunity to fall in love once again. God was trying to tell her that love is not giving up on her, why should she? But I don’t understand what was in God’s mind when He gave her the hard love to fill in her heart.

As once she chose to love, she will walk on it and committed to it. Most of the times it was the love that let her down. And crushed her into pieces. Just like how I see her now. I couldn’t stand seeing her to be that broken. What can I do to make her feel better?

I thought for a second and I turned to her.

“But you know what? The right guy is going to understand where you were coming from. And he’s gonna cherish you. He’s going to have all the patience in the world for you. He will take his time and go at your pace. He’ll work with you instead of going against you. He’ll come into your life and make things easier for you instead of harder. Because that’s what the right guys do. So don’t worry..”, I turn my arm around her shoulder, “..you’re gonna be just fine”.

The tears that clogged in the corner of her eyes were slowly fading away.

Under the blazing sun, her face was glowing as her skin glows.

I think the statements I tried to deliver to her were also the ones that made me believe that the right guy does not mean to be perfect, but he will make your world perfect even with his flaws and weaknesses.

And this is what I will love: his weakness, his flaws, his mistakes, his fears, and his wounds. Because loving someone at his good is easy. But loving someone at his worst is remarkable.

We were separated as I entered my office’s gate. She was gone when I reflected on my own words.

Well.. See you when I see you…

the downpour..

Hujan selalu memberiku arti tersendiri untuk menulis. Genangan air yang tertinggal di tanah selalu memantulkan kenangan yang tertinggal. Hujan pagi ini tak lebih dari amukan langit kepada bumi. Terlalu deras untuk ditembus. Ketika aku masih kanak-kanak, Da selalu berkata, jika hujan turun tanda malaikat di surga menangis karena ada salah satu malaikat di bumi berduka. Aku malaikat di matanya Da. Bisa dikatakan ungkapan tersebut merupakan salah satu dari sekian sedikit ungkapan darinya yang selalu aku ingat hingga detik ini. Aku kehilangan memori sekian tahun masa kanak-kanakku, entah mengapa..

Aku terbangun 15 menit lebih awal daripada jam aku memasang alarm pukul 4.45 pagi. Niatanku untuk menghabiskan energy yang tersisa tekurung oleh karena hujan deras yang tak kunjung reda sedari semalam. Maka aku kembali membungkus tubuhku dengan selimut hangat. Meringkuk, dan kembali terlelap, hingga pada akhirnya aku tenggelam dalam dunia mimpi sebelum pada akhirnya aku benar-benar terbangun satu jam kemudian untuk memulai hariku.

Aku beranjak keluar rumah dengan bertudungkan payung hitam. Hujan masih sangat deras. Aku baru sadar bahwa hari ini aku mengenakan atribut hitam dari atas sampai bawah – baju, sepatu, tas. Merah warna favoritku, tapi hitam menjadi warna pakaian favoritku sehari-hari, hingga pada akhirnya aku jatuh cinta kepadanya, kepada warna hitam. Dia menjadi warna favoritku kedua setelah merah. Mungkin kehadiran warna hitam dalam keseharianku berguna untuk melindungiku dari rasa tidak aman yang sering aku pendam ketika aku menghadapi dunia.

Sehari-hari aku menempuh perjalanan ke dan dari kantor dengan transportasi umum busway dan berjalan kaki. Cerah, sejuk, panas, mendung, hujan, tidak menghalangiku untuk tidak menggunakan transportasi umum dan berjalan kaki. Begitu pula dengan hujan deras yang mengguyur Jakarta pagi ini, tidak menghalangiku untuk memanjat jembatan penyebrangan busway, dan berjalan menembus rintik hujan yang terpantul dari tanah ke kedua kakiku. Pantulannya kemudian membasahi sepatuku. Aku dapat merasakan dingin yang disebabkan oleh air yang menumpuk di sudut sepatuku. “Ah, seharusnya aku mengenakan sepatu boots”, pikirku menyesal, kuatir seharian akan hujan dan tidak mengeringkan basahnya sepatuku.

Aku tiba 30 menit kemudian dari keberangkatanku menuju kantor, dan waktu menunjukan pukul 7.40 pagi. Setibanya aku di meja kerjaku yang ruangannya begitu dingin, aku dikejutkan dengan ruangan kantor yang masih begitu sepi. Aku orang ketiga yang tiba di ruanganku. Tidak biasanya. Tentunya karena hujan deras ini. Akses di beberapa daerah di Jakarta terjebak oleh genangan banjir.

Dalam kesunyian ruangan kantor, aku membuka halaman blogku dan memulai menulis paragraf ini. Mataku masih terasa begitu berat akibat semalam. Aku membuka beberapa draft tulisan yang belum aku publish yang kusimpan di dalam blog ini. Menyadari ada salah satu draft lama yang dulunya ingin aku publish, namun kini sudah tidak berlaku lagi dan hendak aku hapus, bertuliskan demikian: “moving on is the phase where we all get broken in pieces”. Ada banyak hal di dunia ini dimana kita mengalami fase untuk menerima sesuatu yang tidak bisa kita kontrol, dan menerimanya merupakan perjuangan besar. Dan perjuangan tersebut seringkali menghancurkan hati kita. Perjuangan akan rasa sakit yang tak terungkapkan. Ada kalanya karena Tuhan memang tidak memberi restu akan apa yang kita harapkan, ada kalanya karena Tuhan punya sesuatu yang lebih baik untuk kita miliki. Yang kita butuhkan hanya sepercik iman untuk yakin bahwa Tuhan pegang kendali. Proses tersebut mungkin menghancurkan hati, tapi aku menyadari hatiku yang berubah oleh karena kehancuran tersebut: memandang dunia bukan lagi dengan kekerasan hati, namun kelembutan hati. Bukan pada manusia saja hati kita harus berlemah lembut, namun pada segala elemen yang ada di dalam dunia ini.

Dan jika seseorang menuduhku untuk menjadi terlalu sensitif, biarlah mereka berkata apa yang hendak mereka kata. Karena aku pikir menjadi pribadi yang sensitif tidak melulu berarti mudah tersinggung, melainkan dapat merasakan segala sesuatu yang tidak semua orang dianugerahkan perasaan ini.

Satu jam berlalu dan teman-teman kantorku sudah mulai berdatangan. Waktunya aku memulai hariku di kantor dengan seuntaian agenda meeting dan paperwork yang menumpuk dalam list “daily tracker” aku.

Hujan mulai berhenti, dan Jakarta mulai menunjukkan cahayanya melalui celah angin kelabu yang sempat menutupi kota ini sepanjang malam. Sorotan matahari mulai menyinari tanah yang basah, dan perlahan segalanya terlihat lebih ceria..

Satu senyum dapat menyembuhkan beribu luka..

Being vulnerable

“To love is to be vulnerable” – C.S Lewis, The Four Loves.

Aku selalu menemukan diriku begitu sendu jika aku sedang sakit. Apalagi jika sakit parah. Seperti sekarang. Tidak tahu mengapa, aku hanya tahu aku demam tinggi. Di negeri antah berantah. Merindukan rumah, merindukan negaraku, merindukan orang-orang di sekitaranku.

Dan kesenduan ini membawaku ke dalam sebuah ruang dimana berjuta pikiran dan perasaan berkecamuk di dalamnya. Selalu acak. Selalu berantakan. Dan entah bagaimana caraku menyampaikannya pada dunia, karena yang aku tahu dunia tidak dapat memahaminya. Maka aku menemukan caraku untuk menulis untuk mengungkapkan yang tak dapat terungkap oleh kata-kata lidahku.

And this is the fever talking.

Rentan.

Cinta mempunyai banyak arti. Beberapa bulan yang lalu di penghujung akhir tahun 2016, aku menemukan diriku yang sedang “jatuh cinta” kepada teman-temanku, the love-friendship. Aku yang sekian tahun menutup diriku akan kesempatan untuk mempunyai hubungan dengan seseorang (atau beberapa orang), pada akhirnya “terpaksa” untuk belajar membuka diriku. Terpaksa karena orang-orang disekitarku menunjukan sikap pantang menyerah dan memberikan kasih sayang “berlebihan” terhadap aku. Hatiku yang terlalu mudah luluh oleh hal-hal indah semacam cinta, dilunakkan oleh mereka yang tidak kenal lelah memberikan kasih sayangnya terhadap aku. Sehingga seringkali aku berdoa pada Tuhan sambil bertanya: haruskah aku mulai membuka hatiku?.

Dengan memberikan hatiku untuk orang lain, aku membuka diriku terhadap kesempatan untuk disakiti.

Tetapi pada akhirnya aku belajar untuk membuka diriku. Teman-temanku menjadi urutan pada baris pertama. Cerita demi cerita, kisah demi kisah, membawaku menjadi seseorang yang lebih memahami bahwa perbedaan menyatukan, dan yang aku butuhkan adalah perbedaan namun dapat dimengerti. Dan pada akhirnya aku dapat mengerti bahwa tidak ada yang menakutkan dari sebuah perbedaan.

Aku ingat beberapa kali aku diberikan kesempatan untuk bertemu orang-orang yang kemudian mempunyai hubungan dengan aku. Kegagalan demi kegagalan membawa aku terhadap perjalanan trauma berkepanjangan yang aku pendam sendiri dalam hatiku. Bukan mengenai bagaimana aku disakiti, tapi terlebih lagi mengenai aku ketika berhadapan dengan diriku sendiri yang disakiti oleh karena cinta. Aku takut menghadapi diriku sendiri yang kebingungan oleh karena aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat jika hal tersebut berhubungan dengan seseorang yang aku pedulikan.

Seperti sebagaimana aku sekarang, yang sedang ketakutan menghadapi diriku sendiri yang dilanda beragam pikiran dan perasaan, yang kemudian bermanja diri tak beralasan pada orang-orang terdekatku untuk tidak meninggalkan aku, namun menemani aku dalam faseku saat ini. Tapi tentunya tidak semua orang mengerti arti dibalik sikap manjaku ini. Jadi .. ya .. tidak apa..

Sebenarnya aku sedang meminta bantuan terhadap seseorang, tapi aku juga tidak bisa mengungkapkan bantuan apa yang aku butuhkan.

Maybe this is the fever talking.

Kemudian setelahnya, Tuhan memberikan aku kesempatan untuk membuka diriku terhadap seorang yang lain: the love-love. Aku diberikan pengalaman oleh Tuhan untuk mencintai sesuatu yang mustahil. Perjalanan satu tahunku yang baru terasa menenangkan setelah dua tahun aku berusaha lepas dari kekasihku yang sebelumnya, membawaku ke dalam sebuah ruangan dimana begitu banyak penyangkalan diri. Usiaku belum mencapai kepala 3, tapi aku sudah terlalu cepat menentukan persimpangan jalan masa depanku: to seek or not to seek. Tuhan ingin aku melihat sisi lain dari cinta: yang mustahil, namun menerima kemustahilan tersebut sebagai bagian dari kehidupan percintaanku. Dan aku menemukan diriku kembali ketika aku menerima diriku, berani menghadapi diriku yang menangis semalam sendiri, melolong kepada langit lepas bagaikan serigala kepada bulan. Tapi disana aku bertemu kembali dengan harapan yang telah lama pudar, bahwa cinta masih membela hidupku.

Dan aku menemukan rasa berbunga itu kembali ketika aku menerima dan memaafkan diriku.

Dipertemukan oleh Tuhan dengan seseorang yang dapat membangkitkan rasa gairah tersebut: dimana hari-hariku dipenuhi oleh rasa penasaran akan hari esok, karena hari esok merupakan misteri yang tak terungkap di antara aku dengannya. Aku bertanya kepada Tuhan dalam detik demi detikku bersanding dengan dirinya: haruskah aku membuka hatiku padanya?. Karena jika aku membuka hatiku lebih lagi terhadap dirinya, maka aku akan membuka diriku lebih lagi akan kesempatan untuk disakiti, untuk berharap dan kecewa. Dan aku takut, takut jika aku salah menempatkan hatiku ke orang yang salah lagi. Hati ini hanya ingin dijaga, baik-baik, karena dia hanya ada satu..

Tapi begitu banyak pertanyaan dalam pikiranku mengenai: “bukankah seharusnya?”. Dan aku terus mencari jawaban akan kemungkinan-kemungkinan yang ada. Tapi tidak akan aku temui jawabannya jika Tuhan mau aku letakkan keputusan ini di tanganNya: to wait and see, untuk belajar mengisi gelas yang kosong dari sebuah kecukupan akan hari ini, untuk memandang perjalanan cerita baru ini sebagai perjalanan aku-dan-Tuhan dan aku-dan-aku, bukan aku-dan-dia. Tapi tentunya aku tidak dapat menyangkal rasa gelisah yang ada di dalam hatiku.

“Mungkin kamu hanya takut ditinggalkan sendiri lagi”, kata Ma tiba-tiba ketika aku bertanya dan meminta pendapat akan perubahan yang datang dari dia. Dan aku rasa, dia benar.

Terlebih lagi ketika demam menyerangmu, rasanya semua yang ada padaku rentan: hati, pikiran, dan tubuh yang bahkan terlalu lemah untuk berdiri sembari lima menit saja. Kegelisahanku menarikku pada harapan untuk cepat kembali ke negeriku, untuk melihat kesempatan akan aku dan dia di hari esok atau dua hari atau tiga hari lagi atau satu minggu lagi, juga menarikku untuk segera menyelesaikan kondisi fisikku pada para professional.

This is definitely the fever talking.

Ketika aku patah hati, aku menyadari bahwa proses yang kulalui adalah seperti batu yang dipukul berjuta-juta kali hingga hancur. Dari kepingan-kepingan tersebut, aku berlutut memungutnya dari tanah. Merendahkan diriku pada bumi, dan menangis pada langit, seraya aku susun kembali kepingan hati yang sudah tak terbentuk. Melaluinya aku perlahan melihat kembali siapa aku, aku melihat seberapa berharganya aku bagi mereka yang memandang aku berarti bagi mereka. Dan Tuhan yang hatiNya hancur juga melihatku berlutut memungut kepingan yang tersisa, memandangku berarti di mataNya. Karena Tuhan begitu mengasihiku terlebih dahulu, maka hatiNya hancur ketika melihat hatiku hancur.

Ketika aku mengasihi, aku menyadari bahwa proses yang kulalui adalah seperti batu yang perlahan-lahan dikikis oleh air sungai. Yang begitu keras, dan defensif, kemudian diberi kesempatan untuk menjadi lembut agar aku bisa mengasihi dengan sempurna melalui kelemah-lembutan cinta. Tapi aku menyadari dengan kelemah-lembutan tersebut, aku memberikan diriku untuk dikuasai kerentanan, yang akan lebih mudah untuk disakiti atau dikecewakan. Tapi mungkin disinilah titik lemahku yang Tuhan ingin buka, bahwa rasa sakit dan rasa kecewa yang bisa terjadi oleh karena kisah cinta aku dengan seseorang, adalah bagian dari cerita cintaku dengan diriku sendiri: menerimanya dan mencintainya apa adanya, sebagaimana adanya. Dan ketika aku dipertemukan dengan seseorang yang pada akhirnya dapat aku cintai, aku tidak memohon apa-apa lagi selain dari dirinya di hatiku, untuk aku cintai.

The cup will be fulfilled, not by him, but by Him. Aku dicukupkan oleh karena Tuhan mengasihiku terlebih dahulu -John 3:16.

“The greatest love of all is easy to achieve, is to learn to love yourself” – Whitney Houston

Btw, happy valentine, Readers 🙂

The fever is talking..

Aku bukan jomblo, tapi aku single. 

whatsapp-image-2017-02-08-at-1-01-24-pm

Detour

It was 4.45 am in the morning, I was getting ready to catch Aaron (my bike name) and meeting my early running appointment. The sky was like the night sky, it was very dark, and nobody had awakened yet. I was thinking to take the journey slow since I am still afraid of the darkness because of several accidents I experienced and witnessed. It was very windy anyway, so I can’t speed. Before I departed, I set Sean (my phone name) to the map mode, so he can guide me towards the destination by passing the correct and the fastest route. Well, actually this had been my third times riding Aaron going to South Jakarta in the early morning. Just took a precaution in case I forgot how to get to the destination, I didn’t have to be afraid of getting lost or late to reach the destination by the arranged time.

I put my earphone on my right ear-side because music can lessened my fear of darkness. I barely could see around, so I turned on my front light for a better sight towards the road. I was so secure when I rode on the main road (Sudirman-Senayan), because I am very familiar of every indentation, of the environment, of the corners diverting one road to another pathway.

And then I made a turn. And I knew that that particular road is the one I am not familiar with because I barely travel pass it. I thought I’ll just follow to where Sean directed me to. I kept riding, and riding, and riding, and somehow I turned to a smaller and quieter road where the road was darker, and no one around, not even single vehicles, but I chose to keep going. Until my guts stopped me, and under one of the road lamp I chose to take a look at the map.

There was a time when I continued riding, I did not now where to turn and Sean did not giving me the direction, he kept silent (or was I not listening to him?). I was in doubt at some point, but I refused to stop and take a look at Sean.

I made the wrong turn. So I turned around to get me back on the right track.

The trip went from 10k to 13k in total as I reached to the destination. After realizing that I was lost my way, I sped up because I was afraid I will be late, leaving me tiring legs for my planned 21k run. I was not late, but still, I made 3k extra effort to ride. I should be arriving in the destination earlier if I was not lost. I should be finishing my 21k running distance, but instead I stopped at my 17th because I was exhausted and thinking to save my energy for the ride back. The route was quite challenging with hills contour. I just did not want to waste my energies since my purpose is not to do brick training, but to run.

After I realized that I was lost, I reflected on myself. It was a detour. It was the unnecessary journey.

The same thing in life. Many times in our lives we make wrong decisions and end up to go through the unnecessary life journey. And we suffer for it. We often questioned God the Whys behind the bad things happened in our lives. We often blame ourselves and live in regrets as we are blinded by the negative things that affects life. “It was not supposed to be this way”. But one thing I knew for sure that everything happened, happens for a reason. A good one.

When I made wrong decisions in the past, almost all times I lived in regrets and tend to blame myself of why I did what I did. I used to isolate myself and let negativity feed me, drowned in sorrow and grieving for myself for months or even years. It affected how I interact with people, I got overly too sensitive over someone’s words. And I grew up as an insecure individual because I got too scared to open myself up. That fear got me just right of being an overthinking person. My world is my thoughts, and I lived that. But mind could be wrong. Being a stubborn individual, I thought that the world is a cruel place for me to live.

But that was my past when I was thinking that I am a victim of the mistakes I created.

The world is unkind, but we can’t force the world to adapt on who we are. But the very first thing that matters in life is not about how we fight the world, but how we are living in it as survivors, and come out as a winner to ourselves.

Living in an almost-depressed situation, God saw me broken. He pick me up and saved me before I made the kind of mistake that there will be no turning back. God is never giving up on me. There were lots of times when I was down and questioning my capabilities, God always cheered me up by simple little things afterwards, telling me that I am matter for Him, I am loved by Him. And just like how rainbow were portrayed over the blue sky after the storm, that is how God draws smiles and laughter after the tears. And then days or weeks or months or years later when I look back, I understand why that was happening the way it did.

If it’s good, it’s God’s blessing. If it’s bad, it’s still God’s blessing, a blessing in disguise. We may not see that today, but we will see the purpose of why it’s happening in the future.

  • Like why I was growing up in a broken home family – because then I saw lots of people who grew up broken, but I grew up healthy and I should be grateful of how God take care of me all these times. God always put me in positive communities where I can grew up to be a good person, and it’s all about choices. I chose good. And then I met a lot of people who needs support and encouragement of being strong when encountering family problems. I can empathize on them, because I’ve been there even though I am still struggling myself.
  • Like why I failed in few serious relationships – because then I got enough time to learn about true relationship before I got into marriage. Funny when God always given me the chance to be close with happily marriage couples – so I can learn how they live their marriages. And how God also given me the opportunities to know people whom marriage is broken – I can learn the “dos” and the “don’ts” in marriage, and what should be prepared before we are getting married. Failure is inevitable, pain is temporary, but lessons learned is valuable and nothing in this world can buy successful marriage.
  • Like why I should wander in few places leaving all my comfortable areas, losing lots of relationships, keep starting over – because then I got the chance to see the world bigger and dream big. And I just learned that my healing moments were not something that I’ve got from other people, but they were the things that I’ve got from exploring few places and living there for some period of time. I’ve got it from within me when I see the world. I’ve got it from the dream I wish to achieve and finding out where to start.

There were so many mistakes or bitter experiences in each of the three mentioned above events – but I learned that God has beautiful plans for me: so I can be who I am today, a blessing to other people. I made wrong decisions because I was so stubborn that I was so right, leaving me to get into the painful process. But that process is making me who I am today as a grown up survivor. I did not involve God in many decisions. But again, God never giving up one me. He is faithful. I might spend unnecessary efforts, taking longer distance or time to get to the destination, but then it’s all about process. I am a working in progress.

My brother always told me that the painful journey I was and am experiencing are meant to shape us and to reveal “the best of me” inside , don’t treat them as the enemy but as a way of knowing, understanding, and accepting ourselves, so when we see us we see God is working within us. The result is just a reward from God, but the process is what God mostly care about so He can see us as someone where He has seen us in the future. We tend to see result. But God sees process, He wants to process us through the journey He let us gone through.

At the end of the road I always see God. No matter how broken I was, I am, I always see Him right in front of me, speaking right through me, guiding me from one step into another step even though I made wrong turns, He never leave me. There were some times when I thought that He was silent. But that was not because He did not see my struggles or hear my calls, but because He wants me to grow bigger, exploring myself. It’s like when a father teaches us to ride a bike, when we fall, it’s not necessarily he helps us to stand, but he will be there to give us strength, encouragement, as well as seeing us stand and ride again. And when we rise again, God will smile at us and say: “good job, My child. Take my hand, and I will guide you”. I am not scared because God will never leave me, nor forsake me, and He Himself will always be with me – Deutronomy 31 : 6 & 8.

A detour doesn’t seem that terrible because I knew God is watching me, and I believe that He will guide me back to the right pathway, where the final destination is where God first wants me to get – in His time.

Jeremiah 29 : 11 – “For I know the plans I have for you,” declares the Lord, “plans to prosper you and not to harm you, plans to give you hope and a future”

A message: hidden struggles

All of us have struggles we don’t show to other people. Mine, lie in the mind-battle between me and myself where people would never see that in me. They mostly visit me during the night. I can hear loud voices inside of my mind. For some days, i am strong enough to let them pass my mind and let them slip out. For some other days, there are moments that i couldn’t bear it, i don’t have the strength to fight back. So i just lie down myself and get to sleep. When i wake up in the next morning, i’ll be forgetting what was there yesterday – and the circle keeps going. Maybe because i’m tired. Or maybe because i silently ask for a help and hope that someone would notice my struggle.

I would find myself asking why i feel the way i feel now. And i’ll look for answers. I’ll dig deeper and explore myself. And when that happens, i see myself withdrawing from being around. But i guess that is how introverts cope with their own struggles. I think it’s the art of being an introverted individual. But people often think that i’m too sensitive. I am. But this “sensitivity” doesn’t always mean that i easily get hurt. It could mean that i feel more than other people are feeling. And i understand if the world couldn’t understand this. So i would prefer to back off for a while from the surroundings and let myself settling her own.

When i woke up from the three hours deep sleep yesterday afternoon, i found the sky was almost dark. It was rainy for the whole morning, and cloudy for the whole day. Brought up all my emotions, the ones that i can’t explain. And they started to come: the unspeakable thoughts and i can hear them talking so loud inside my head. Planned to go outside in the evening just to refresh myself and spend the energies i gained back from having a long nap, i ended up to got back sleep in an early hour. Leaving me with a total 15 hours of sleep for the past 24 hours. There were times when i can’t explain myself, i’ll find myself hibernating herself. That is how i cope with some things i can’t explain, just when i was in a big shock when Da decided to start a new life without involving me – slept for 20 hours in a day. Yea. Maybe i was sad, but denying it was the best think my mind can do to let those talks get silence. But again, i’m not sure..

I used to love the night, because it is where i get to know the world after recalling beautiful events happened in the daylight. But night means those events will be faded away by the darkness and everything will just be memories to be remembered. And after many many months or years, they might be forgotten. Memories, feelings. People move on. And when people move on, things started to change a little bit, and then a few more little bit, and when we calculate them altogether, things are changing so much.

Am i the only one who is having issue in moving on? The only reason is just because the fear of being left alone.

I know now why i don’t like changes. Because changes make us forget so many things, and most of the times the beautiful things will also be forgotten. Because i don’t forget. I won’t forget. Memories, feelings.. Good or bad, i treasure them..

They make me happy, will i be that happy again one day? The same, or even more?

So while i am writing this in my favourite coffee shop waiting for an afternoon Sunday service start, listening to the music that could bring up the emotions into these words, i’m thinking other than to write this on, what else can i do to make (at least) today better. But there is none. I just need to wait. Because there are things that come and visit but don’t have a way out other than to survive. I don’t fight much, or hard, because i am more to wait for some things to pass. The only way out is to get through, right..

I am a fighter because i am a survivor, i just need to survive this phase.

As i had accepted myself of being complicated (as in the thoughts and the feelings), maybe at the end of the road i’ll learn something new about myself. Because this is what matter the most: to find and know your own self other than people know who you really are..

Let me by myself for some time?

If you’re feeling lonely..

If the night is so dark, the cold breeze blowing towards you, and you are feeling lonely . .

Read a book. A literature, or a reference would do just good.

Write. About anything you saw. Anything in your mind. What you’re feeling.

Drink copious amounts of tea or coffee. And make them hot ones.

Watch a sappy movie that makes you want to throw things at it. Don’t forget to hold on your pillow.

Watch a funny movie that makes you laugh like a madman. No one’s around anyway.

Capture moments with a camera. So you won’t forget them. You won’t forget everything.

Cook something. And make it a leftover for another days.

Clean up your house at what has already been cleaned up. There’s so much thoughts can be released when you are cleaning.

Call or text your best friend. No need topics. Just talk.

Play an instrument. And learn your favourite song. And sing along.

Shamelessly dance in your room, while no one’s watching.

Take a bath. Take a long one. And mused under the shower.

Listen to tantalizing music that’s overflowing with entrancing lyrics. And reflect on each lines.

Write a melodramatic poem that’s dripping with emotion. So people know who you really are, what you are feeling.

Make plans for your future. And dream about it. Dreams do come true someday, somewhere.

Wonder. About your curiosity. Some things in life are meant without answers.

Go for a walk. Observe people. And be grateful that you are who you are today. There’s a lot of people who are less lucky than you.

Cry. Until you fall asleep, so when you wake up it’ll be tomorrow: a brand new day.

Go to the rooftop and watch the night sky. You are watched by millions stars in the sky. You are never alone.

Make endless wishes to the star twinkling against the midnight sky.

Do nothing. Just laying on your bed and ponder.

Curl up on your bed. Hug your favourite doll.

Think about nothing..

Think about everything..

Think about things so hard that you barely remember what happened moments ago and why you are feeling the way you do . .