About Me · EN

I am moving! :D

Hi Readers!

I’m moving my blog posts to my new address:

https://irinangelina.wordpress.com/

Why?

Well, I guess it’s time to move to new chapter of my writing journey and make it more inspirational and moving towards my life purpose in this writing aspect. It would be different, of how and the way I write things. And I am still learning to make myself to be a better writer.

Each of us is a working in progress. I am too..

So I will show you my world, that resides inside of here. And you would be surprise of how an Introvert – INFJ, the rarest personality on earth – handle things.

I’ll see you there! 😀

 

Advertisements
About Me · IN · Journey of Love · Life Lesson

I hope you are okay, like I once was, and still am..

samuel-zeller-34761

Aku pernah hadir di satu masa dimana aku bertanya jika cinta itu sanggup menyakiti. Mungkin itu adalah masa dimana aku sebenarnya belum benar-benar mengerti arti cinta. Saat itu, aku hanya tahu bahwa cinta tidak punya arti lain selain membahagiakan.

Aku pernah ada dalam sebuah hubungan yang berlangsung begitu lama. 8 tahun. Saking lamanya, tidak ada lagi yang kubayangkan selain menghabiskan sisa hidupku bersamanya.

Namun pada akhirnya hubungan itu harus berakhir.

Kemudian hubungan demi hubungan selanjutnya yang berlangsung tidak kilat, dalam hitungan umur tahunan, mengajarkanku arti cinta yang sesungguhnya.

Jadi, jangan heran ketika aku terlalu sering berkata bahwa sakit hati itu (atau patah hati) hanya akan membawamu selangkah lebih dekat kepada orang yang tepat. Karena melaluinya, melalui patah hati, aku belajar arti kedewasaan dalam cinta. Dan bagaimana pengalaman-pengalaman tersebut hanya menjadikanku pribadi yang lebih baik lagi untuk orang yang tepat.

Dan tentu saja hal tersebut tidak dapat didefinisikan melalui umur sebuah hubungan.

Aku penasaran dengan cerita satu orang teman yang suatu malam beberapa minggu lalu menghubungiku dan memohon (bukan sekedar meminta) waktuku untuk mendengarkan curahan hatinya. Saat itu aku tahu bahwa hubungannya dengan kekasihnya sudah berakhir. Secara, kekasihnya adalah salah satu dari bagian inner circle aku. Jadi aku tahu cerita mereka.

Aku memberikan satu jam waktuku pada hari selanjutnya untuk berbincang denganku melalui telefon. Dengan tangis yang begitu pilu dari balik barang elektronik mungil yang kujepit pada telinga kananku, aku hanya bisa mendengarkan segala kata-kata pedihnya. Pahit, aku tahu. Karena melalui tangis tersedu-sedunya aku dapat merasakan (bahkan menggambarkan) betapa terluka hatinya. Impiannya untuk membina masa depan dengan (mantan) kekasihnya, yang merupakan sahabatku, hancur bersamaan dengan kepingan-kepingan hatinya yang terjatuh ke tanah.

Sesungguhnya aku sudah mengerti bagaimana cinta dapat menjadi begitu indah, dan bagaimana cinta dapat menjadi begitu mengerikan bagaikan mimpi buruk. Karena aku sudah pernah mengalaminya hingga aku kehilangan jati diriku dan fungsi untuk hidup di dunia ini.

Tidak heran banyak orang berkata: “I am giving up on love”.

Tapi mungkin sebenarnya adalah bukan cinta yang menyakiti seseorang sebegitu parahnya.

Jadi, karena aku begitu penasarannya, aku mencoba untuk mencari keberadaannya di Social Media yang menyatukan kami. Tapi tidak kutemui keberadaannya dimana pun. Dan aku mencari keberadaannya di Social Media grup Inner Circle aku, dan tidak kutemui juga keberadaannya dimana pun.

Kemana kamu?

Mungkin dia sudah memblokir semua akses terhadap kami. Dan saat itu pun aku sangat mengerti betapa pedih hatinya sehingga berteman dengan kami pun tidak sanggup dia jalani.

Seperti yang pernah aku lewati empat tahun yang lalu ketika kami harus mengakhiri tiga tahun hubungan tanpa restu dengan sahabatku, aku memutuskan diriku dari interaksi terhadap dunia. Proses untuk melupakan segalanya bukanlah lagi menjadi sebuah proses untuk aku bertumbuh, melainkan prosesku menghancurkan diri sendiri.

Tidak ada rasa terburuk yang pernah kurasakan selain memutuskan diri dari dunia sekitar, terutama terhadap hal-hal yang pernah aku cintai.

Dan pada satu titik balik akhirnya aku menyadari bahwa jika memang itu benar-benar cinta, aku tidak akan membiarkan diriku menghancurkan diri sendiri. Aku tidak akan membiarkan diriku disakiti oleh diriku sendiri.

Karena cinta hanya akan dapat diberikan kepada orang lain ketika kita telah seutuhnya mencintai diri sendiri.

Jadi apa yang sesungguhnya aku jalani saat itu? Ego. Aku membiarkan ego mengkonsumsi hidup dua tahunku ketika aku berada dalam neraka – kesulitan untuk menerima kenyataan bahwa cinta yang aku pikir indah itu telah menyakitiku.

Aku belajar begitu banyak hal dari kesendirianku yang kemudian membentukku dari seorang Extrovert menjadi seorang Introvert. Berdamai dengan diri sendiri dalam sunyi seraya menjelajahi diriku sendiri. Mencoba mengenali dan mengerti diriku sendiri.

Dan pada akhirnya bukankah yang terpenting adalah kita yang mengenal diri kita sendiri – apa yang kita butuh terhadap apa yang kita mau?

Belakangan aku menyaksikan diriku sendiri yang menceritakan kepada beberapa sahabat di sekitarku apa yang aku butuhkan dalam hidup – terutama dalam sebuah hubungan.

Dan aku bersyukur akan semua pedih, pahit, luka, jatuh, hancur dalam kepingan yang pernah aku alami dalam hidup percintaan. Karena hanya dengan itu saja aku pada akhirnya dapat mengerti kebutuhanku dalam mencari seorang pasangan hidup.

Aku berharap dia, kawanku yang pernah memohon waktuku untuk didengarkan mengenai cerita hancur hatinya, juga dapat melewati proses yang sama. Sehingga suatu hari nanti ketika aku bertemu dengannya kembali, aku dapat melihat kembali senyum manis dari balik wajah cantiknya.

Dimana pun kamu berada, aku berdoa agar kamu baik-baik saja, kawan 🙂

I always believe, that pain is temporary. But happiness is eternal. And you can only see joy if you are willing to let go of the things you cannot control.

About Me · Blessings in Disguise · EN · Life Lesson

Fulfilled. Complete. Secure.

monica-silva-144542

If someone come to me and ask me a question: “How would you describe your life today?”. I would say: “I am fulfilled”.

For the first time in my life, I finally can understand and experience “the fullness of life”, to be complete. For the first time in my life, if I cry in the darkness, it is not because I mourn for the troubles I face, but because my heart is touched because I am loved. This heart feels nothing other than love itself. Love from and towards people around me, love from and towards my family, and most of all, love from and towards God. And if I ever feel forgotten by someone I appreciate his or her presence around, I might feel a little bit of sadness. But I will always survive, because God’s love never leave me.

A few years back when I got a “theory” that in order to find the love of your life and get into marriage, you must be fulfilled first. Complete. I had no idea at that point of time what was the meaning of “being complete”. I heard that an empty cup will never be able to give anything. And marriage is all about giving.

But how can I be complete? I was so broken and I never see myself as someone who is worthy enough to be loved by the others. I was scared that nobody would accept the true me. I was so logical and never really understand God’s love. I knew the theory, but I was never understand. I felt empty. Insecure.

But God never gave up on me. He is Faithful. And I am so grateful that God never miss me to put me into the right community and letting me meeting right people.

And most of all I am so grateful that God has given me this kind of “awareness” that He is always there. Even though I fell thousands times, but I always rise for another thousands times.

Sunday afternoon, when I had nothing to do and nowhere to go, I felt that “fear” to be on my own with these lots of energies inside of me. Lots energies mean lots of unnecessary thoughts. But I did not want to go exercise. I wanted to do something else. So I texted one of my good friend and asked her what was her plans for the afternoon. Turned out that she had not had her lunch, so I went for a light lunch with her and her future husband.

For me, every opportunity I spend with someone, will always be a quality one. So we talked on deep things about life.

And those moments will always give me a blessing, I will always learn something valuable from there.

We talked about their wedding plans. And each of them shared their experiences on relationships they had gone through for the past four years. Not easy, but they survived. Especially when I found the fact that they are almost 40s.

“There was some point where I was desperate to find someone to love. But that point had led me to another point where I told my Mom that even if I don’t find anyone, God’s love never leave me”, said she, “I am secure”, as she squeezed her handbag to her chest.

I replied her smile because there was nothing I could say further to reply her statement.

I continued my evening with my boy-friends, had what so called “dirty” dinner while I kept thinking of how these couple weeks I had been quite silence and did not write anything on my own blog.

You know I always vocal on a blog, right?

What did I feel? What did I think? I must’ve thought of something until I did not have any ideas to be poured into a writing.

Of course I faced something.

I liked a guy in my church that was too far away from my reach – as I wrote in my previous posts. And everybody around me somehow kept saying: “Just let him go, because you are far more too precious for a guy like him“. So I asked God: “What was the meaning of all that? Where the world defying back what I wished for just like how my four years ago relationship went. This must be something“.

Well.. I kinda have that kind of sensitivity..

I could not understand until one day God spoke right to me when I was in silence with my guitar: Don’t you be satisfied with the love I have for you? Why should you seek from the others?

Don’t you have that beautiful dream since you were a kid to have a kind of family you never had before?“.

I do, have that dream.

Isn’t it beautiful if you wait for My time?”.

I once wrote a quote and posted it in my Instagram: “What could be more beautiful than finding something when you are not seeking?”. This post I wrote when I was struggling with my moving on process a few months back and tried to seek for a runaway.

I always believe that beautiful things are worth the wait.

I am a writer. I need to live the words I am writing.

I knew that was God because after that night, suddenly I felt this deep feeling of peace. It felt like I was overwhelmed by God’s love, over and over again. I felt like the cup I left it half empty filled by a fresh water and somehow it is now full.

I recalled my love journey for the past one year, how I saw myself as someone who cannot be left alone because the problem is I was afraid of facing myself. But I learned a valuable lessons:

  1. When I thought I would never love somebody like how much I loved my four years ago boyfriend – I was in love with somebody I could never thought I would, and the sacrifices I made were more than I made for my ex, and I learned that the feeling I felt for him was far more beautiful than I felt towards my ex. I learned that you will never feel the same thing towards someone, it will just gets more beautiful.
  2. When I was having my struggles to accept that someone I love left for good, I was (almost) having a relationship with someone I never thought would turn my life – writing and publishing a book that has been delayed for a decade. He had been my inspiration for the work I am passionate about: writing, and I found myself again from the book I finished writing because I realized I defeated my own pain. I learned how to understand, listening, and handle myself and made peace with my own fears and loneliness. I came out not only as a survivor, but also a winner of my own weaknesses.
  3. When I was in the process of moving on, I got the chance to see everything that I had been through were actually God’s love to save me from the life or relationships He does not want me to get into. He loves me too much to see me settling down with someone that does not come from Him. He loves me too much to see me not to be the best of my life. He loves me too much as He is being protective to me.

I learned to accept me and facing my own fears: that even pain and fears are just temporary. But God’s love is endless.

Last night when I and my other three friends in my inner circle were joking around in a Whatsapp Group about how one of us was visiting the place his girlfriend once lived, “I’m just learning her past”, I mocked him – since he always mocks me and I finally get the chance to mock him :p. “Are you jealous, Irene, because you have not gotten the chance to have that kind of opportunity?“, said another one of us.

I replied him back: “No. My time will come”. I can see myself said that sentence confidently.

They all smiled 🙂

Because I believe that God who loves me that much will lead me to be with someone that comes from Him because all He wants for me is just me being the best of me in life.

And I believe on His timing.

Fulfilled. Complete. Secure. That’s who I am right now 🙂

About Me · Blessings in Disguise · IN · Life Lesson

The 30th – i am LOVED (by God)

Aku selalu mempunyai kebiasaan untuk menulis sesuatu di beberapa tanggal yang khusus. Natal, tahun baru, paskah, dan ulang tahunku sendiri. Tapi entah mengapa, tahun ini aku tidak terlalu ingin mengungkapkan apa pun di hari ulang tahunku.

Sudah sekian tahun aku menyembunyikan tanggal ulang tahunku dari beberapa info di Social Media, bermula dari tahun dimana hatiku hancur berkeping-keping oleh karena patah hati berat yang aku alami empat hingga lima tahun lalu. Aku hanya ingin sendiri.

Begitu pula tahun ini. Aku hanya ingin sendiri.

Namun kesendirian telah mengajarkan aku begitu banyak pelajaran berharga dalam hidup. Dan kini aku menikmatinya: kesendirian.

Ada kisah dimana kesendirian tersebut berevolusi menjadi kesepian. Tapi masalahnya bukan mengenai perasaan apa yang aku rasakan melalui kesendirian, melainkan bagaimana aku memeluknya menjadi satu momen dimana aku dapat bertumbuh lebih lagi melalui suatu pengenalan terhadap diri sendiri.

Dan tentu saja, melalui kesendirian, aku menemukan Tuhan lebih lagi. Aku mendengar Tuhan lebih lagi.

Tidak. Aku menyendiri bukan untuk mengasihani diri sendiri. Aku menyendiri untuk bertanya kepada Tuhan apa yang Tuhan mau aku buat untuk hidup ke depanku. Sebagaimana di awal tahun 2017 Tuhan pernah berkata kepadaku untuk mengalokasikan sebagian waktuku untuk suatu tujuan lain selain berolahraga. Aku memakai hari ulang tahunku untuk bertanya kepadaNya kembali. “Apa yang Kamu mau aku buat, Tuhan?”.

I explored within. To find me.

Untuk mencari tujuan hidupku di dunia ini.

Tidak banyak orang di dunia ini yang cukup berani untuk berkaca dan menggali isi hati, isi pikiran sendiri. Aku pun takut. Takut mendapatkan fakta bahwa ternyata aku membangun kebahagiaan dan keceriaanku di suatu dasar yang fana: penyangkalan diri. Menyangkal diri bahwa semandiri apa pun aku, sebenarnya aku ini sangat membutuhkan seseorang. Menyangkal diri bahwa sekuat apa pun aku, sebenarnya aku ini sangat rapuh ketika malam menerpa. Menyangkal diri bahwa seberani apa pun aku, sebenarnya aku ini sangat ketakutan menghadapi sesuatu. Menyangkal diri bahwa sepercaya-diri apa pun aku, sebenarnya aku ini tidak percaya dengan diriku sendiri.

Tapi Tuhan memaksaku untuk berada dalam ruangNya, dan satu per satu Dia bukakan lembaran-lembaran isi hatiku yang paling dalam, yang ternyata aku sembunyikan bahkan dari diriku sendiri. Aku dipaksaNya untuk menerima diriku sendiri, tidak lagi menyangkal keberadaanku sebagai seseorang yang sangat hancur, jika tidak Dia selamatkan.

Tapi sesungguhnya Tuhan tidak pernah melewatkan seorang pun.

Seharusnya aku bisa lebih bersyukur..

Tapi tidak ada yang terlambat dari sebuah permulaan jika kita ingin memulainya kembali, bukan?

Jadi.. Aku memulai kembali perjalananku dengan Tuhan, seraya menerima diriku sendiri, bahwa seberapa keras dunia menolakku, sudah cukup bagiku jika Tuhan yang mengasihiku dan menerimaku.

Hampir dua minggu yang lalu, aku pada akhirnya menginjak permulaan umur 30. Tidak sedih akan usiaku, tidak kecewa akan masa laluku, dan tidak takut akan masa depanku. Aku hanya tahu Tuhan telah memberikan aku beberapa pencapaian yang tidak dapat tergantikan dengan apa pun:

  1. 2 Full Marathons in 2016
  2. 1 Half Ironman in 2017
  3. 2 Bike Race Podiums in 2017
  4. 1 self-writing book launching
  5. But most of all: I AM LOVED – aku dipenuhi oleh cinta kasihNya yang tidak terbatas

Ya. Bukuku yang pertama mengenai sebuah kisah cinta yang berakhir dengan kisah patah hati. Tapi melalui patah hati tersebut aku belajar bagaimana Tuhan sangat sayang kepadaku sehingga Dia hanya ingin aku mendapatkan yang terbaik dariNya, bukan yang terbaik dari bagaimana seseorang membuatku merasakan hati yang berbunga-bunga.

Jika aku tidak pernah dipertemukan dengannya, aku tidak akan mengerti seberapa jauh Tuhan ingin aku melahirkan karya-karya sastra yang akan menginspirasi dunia.

Jadi.. Aku bersyukur kepadamu, J, dipertemukan dan diijinkan menoreh kisah dalam buku kehidupanku walau aku dan kamu tidak untuk satu sama lain 🙂 Aku pernah mengasihimu, dan aku tidak akan pernah melupakan bahwa rasa kasihku terhadapmu lah yang mendorongku untuk menciptakan sebuah karya.

Dan pada akhirnya aku mengerti maksud Tuhan menganugerahkan aku talenta dalam menulis. Tulisan-tulisanku tersebut pada akhirnya membawa berkat bagi diriku sendiri. Dan detik ini aku bisa bilang dengan yakin tujuan hidupku adalah untuk menulis.

Jika tulisanku memberkati orang lain, itu semua hanyalah bonus. Karena yang sesungguhnya merasa terberkati melalui karya tulisku adalah diriku sendiri.

Usai bukuku selesai ditulis, aku menemukan hatiku yang terkekang oleh kesedihan, pada akhirnya terlepas dari segala macam sakit dan rasa takut untuk mencintai. Pada akhirnya aku menyadari kata-kata Tuhan yang berkata: there is no fear in love. Berani mencintai, berani disakiti. Dan jika kita disakiti oleh cinta, sakit itu hanya akan membawa kita selangkah lebih dekat lagi terhadap seseorang yang tepat.

Melalui buku yang aku tulis sendiri, aku pulih.

Menulis merupakan caraku untuk menyembuhkan luka-luka yang terpendam lama. Dan jika kamu, Pembaca, yang sedang membaca tulisan ini memerlukan suatu pemulihan dalam hidupmu, telusurilah dirimu dan temukan sesuatu yang bisa kamu buat untuk kamu pulih dari luka-luka masa lalumu. Jangan lari atau sangkal dirimu.

I am so grateful of the beginning of my 30-ish life, and I am so excited of what God wants me to do to inspire people, to be a blessing for people around me.

Jadi… Tunggu aku dengan beberapa karya tulis berbentuk novel selanjutnya ya? 🙂

About Me · Blessings in Disguise · EN · Journey of Love · Literature

you

i have never found myself fascinated with a specific person. normally i would see him or her as someone i admire because he or she has become an inspiration to me. but what inspiration do i have when i see you? i don’t even know you, you don’t even know me, and we don’t even introduce ourselves to each other. but why your figure always visit my mind when i am at my weakest hour: the night.

it has always been the night that makes me believe that dreams really do come true..

so if i dream about you, will you allow me to wish it to come true? 

i know you and i believe you know me. but just to a limit of knowing each other that each of us exist somewhere in this city, and once seen somewhere on the corner of the stage that put us together. but no story built between us. 

will it be true? the story?

i told God that i am too afraid of myself, because i have this “unique” capability of falling in love with my own imagination. so if i am imagining you somewhere in the midnight, is it okay if i fear of myself to fall in love with you when i am standing in between the reality and the dream? because there is some fragile hours when i can’t differentiate where i am standing. 

that’s why, it is locked for a reason. i mean .. heart, my heart. because i understand if the world couldn’t understand this. and i always pray, i always ask, for someone to come in here, and understand that i am so vulnerable because i am easy to love. 

i am easy to love because i can accept someone’s weaknesses and love them (the weaknesses) easily. i deeply understand how imperfections can make my world to be so much perfect. 

wait.. is that something that needs to be embrace, or is it wrong? is it wrong to wish for a sun to shine at night, and the moon to light my path in the darkness? 

is it wrong to wish for something that is too impossible, or someone that is too far away? 

no. i never stop asking God for something that is too impossible. 

because i believe in the process. 

the result is just a reward.

i believe in the process, of praying about you, telling God (specifically) your name, even though you are so far away and too impossible, i believe that it will develop my Faith.

and knowing you is just a reward He gives to me 🙂

About Me · IN · Life Lesson

“I grow”

Sudah beberapa minggu terakhir aku dibebani pikiran akan sebuah pertanyaan yang mengusik hatiku, dan tentu saja kondisi emosionalku diguncangnya. Menyadari bahwa seringkali suasana hati dipengaruhi oleh apa yang otak kita pikirkan, aku tahu bahwa aku seharusnya mempunyai kontrol yang lebih kuat terhadap pikiran kita: tidak perlu memikirkan yang tidak perlu kita pikirkan. But how to eliminate those unnecessary thoughts?

Setelah bukuku selesai, walau belum benar-benar final karena masih banyak yang harus aku benahi – tapi setidaknya sudah selesai – seolah memori dan perasaan kasih yang pernah aku rasakan tersebut pun ikut menguap bersamaan dengan jam-jam yang aku habiskan untuk duduk di depan laptop dan menulis perasaanku ke dalam 90 halaman “version 1” of my own book. Aku tahu aku harus kembali mengunjungi draft tersebut, tetapi rasanya berat sekali karena it was painful. Aku takut mengunjungi draft bukuku dan kembali mengingat (atau teringat lebih tepatnya) bahwa aku pernah menaruh harapan pada cinta yang semu. Cinta yang belum benar-benar berevolusi menjadi cinta, namun sudah pada jalan yang tepat untuk mencintai. Aku takut dengan membaca kembali (or we, writers, called it “proofreading”) aku diingatkan akan diriku yang lemah dan rapuh.

Aku takut, dan aku butuh seseorang. Tapi apakah akan ada seseorang yang mengerti bahwa seluruh perasaanku terletak pada apa yang aku tulis? Akankah dunia mengerti bahwa jika aku menulis, aku men-“transfer” kegundahanku pada wadah putih polos ini melalui goresan-goresan hitam? Ataukah malah mereka semua akan berpikir: Irene adalah pribadi yang baper-an?

To be honest, aku tidak suka jika aku sedang menelaah emosiku, mencoba mengertinya, then someone would appear and tell me: “Ih, Irene orangnya baper-an”. Hello, world. It’s not about being baper. It’s about feeling.

Kemudian aku melirik ke sekelilingku, mencari orang yang tepat untuk aku mengutarakan hal paling dalam yang ada di hatiku hanya untuk mendapati bahwa ternyata sahabat-sahabatku yang dulu aku kira mengerti, tidak semengerti itu lagi.

Bahkan tidak ada lagi dukungan yang dulu pernah aku dapatkan regarding “another part of me”.

Lalu aku melemparkan sebuah pertanyaan dalam benakku: “Why the change?”.

Aku kira salah satu di antara kami, atau kedua belah pihak di antara kami, melupakan. Aku kira ada kesalahan yang tidak dapat di tolerir sehingga ada hubungan yang harus diretakkan oleh sebuah konflik, atau perasaan yang tersakiti sehingga masing-masing dari kami harus saling membangun jembatan.

Dan aku kembali merasakan kesepian lagi.

Masalah mengenai kesepian ini memang sudah sering (dan lama) aku rasakan. Again, bukan mengenai berapa teman atau sahabat yang aku kenal atau aku miliki (because I have A LOT, literally, A LOT), melainkan seberapa banyak orang yang mengerti why I feel what I feel. Not many. Or just one perhaps?

Tapi aku melihat duduk permasalahannya bukan mengenai siapa aku dan siapa mereka. But the big picture lies within myself. That I grow. Ada beberapa orang dalam hidup, yang dulunya kita dekat dan dapat membahas topik yang serupa mengenai hidup, berbulan-bulan atau bertahun-tahun kemudian pembicaraan yang serupa tidak lagi relevan dalam pembangunan hidupku secara pribadi. Aku mempertanyakan hal tersebut: Is it me? Or is it them?

Maka dari itu ada pepatah yang berkata: “People come and go”, karena bagian mereka dalam pembangunan hidup kita detik ini sudah selesai. Dan pada suatu titik kita sudah bertumbuh, kehadiran mereka sudah tidak relevan lagi. Memang, ada beberapa yang akan selalu menjadi sahabat kita selamanya dalam banyak wadah, tidak peduli kita ada dalam musim apa pun detik itu. Tapi aku berpikir bahwa orang-orang semacam inilah yang seharusnya kita rangkul dan tidak lepaskan.

A bestfriend came to me when I asked for his opinion mengenai “friendship”. He opened my eyes that I had so many talents to be developed which requires me to jump from one pond to another pond. “Komunitas dan pertemanan dalam komunitas itu bagaikan kolam. Yang dimana jika kita masuk ke dalam satu kolam, di situlah kita dibentuk. Since you have many talents that you are passionate about, you need more than one. If you’ve ever felt that your social live is not relevant anymore to your growth, it is okay to move to the new pond, because you grow. But don’t leave your former or current pond, maintain it”, dia dan kata-kata bijaknya. No wonder aku tiba di satu titik dimana kesepian kembali menyerangku, seolah tidak ada orang yang mengerti aku no matter how hard I try to explain them.

Ah, that is another thing I learned. Jika kamu sudah menemukan dirimu dimana kamu harus menjelaskan sesuatu kepada seseorang hanya untuk memohon pengertiannya, that is the sign that you are growing and you need a new pond to be fulfilled. Stop explaining something that does not need to be explained about.

Dan jika aku mengalami sedih yang tidak jelas, is it okay to take some time to recover, and be surrounded by silence so you will be able to see and listen clearly on what God wants to lead your life to.

“I am pieces of quotes from my favorite books, stitched together by song lyrics, and glued together by midnight conversations, and the sweet taste of coffee, and I have this tendency to fall apart suddenly, and I need you to be okay with this because I am created by the souls who are brave enough to gather my tattered pieces and put me together” – semalam aku menulis ini pada postingan account Instagramku. Aku dibentuk oleh mereka-mereka yang berani berhadapan dengan “keunikan” ku (complexity in a weird way – aku tidak menyebutnya “aneh”, walaupun mungkin “aneh” merupakan kata-kata yang tepat).

Tidak heran pada malam di beberapa minggu lalu Tuhan berbicara kepadaku ketika aku bertanya mengapa Tuhan mengambil orang-orang yang aku pilih untuk aku cintai, Dia menjawab: I want you to be the best of you. Semua perjalanan yang pernah aku lewati hanya akan membawaku kepada orang-orang yang tepat. Jika mereka harus pergi, itu karena Tuhan terlalu sayang kepadaku untuk membiarkan aku terlibat dengan orang-orang yang kurang (bukan tidak) tepat untuk menjadi sebagaimana Tuhan telah rencanakan aku di akhir perjalanan nanti akan menjadi seperti apa.

Pertanyaannya sekarang: “Tuhan mau aku jadi apa?”. But I guess we should not be worried about that now, right? Hanya bisa diketahui jika kita telah tiba di titik itu.

Karena pada akhirnya akan selalu indah daripada permulaannya – Pengkhotbah 7:8

Aku (seharusnya) bersyukur, rasa kehilangan ini karena aku bertumbuh, bukan karena ada kesalahan.

About Me · EN · Journey of Love · Life Lesson

when i met her

The day was bright, and she dressed like a princess. It was noon, and the sun at his highest. After a short moment with my friends, I met her on her way back to her place (and mine). I was thinking to catch up a little bit of her after our last meeting last week, when she was at her lowest. Approached her classy walk, and greeted her.

“Hi. Something to talk about?”, without further ado I asked her because I knew her well that she hid her uttermost feelings when she walks alone.

And she knew she could be open to me. I knew she would talk about all the things in the world to me without any hesitations. I knew she trusted me.

She looked at me with a deep stare. Her looks had already said the word.

“I think I’m a little afraid”, as she walked side by side with me.

“Of?, I asked her back.

She stood tighter by my side, wrapped around her little arm into my arm. As she bowed down, she sighed, a long one, showing the burden she carries in her heart, the one that no one in this world could see, and understand. But somehow I could understand her deeply.

We might rarely see each other, but I think this is the gift God gave me of being “sensitive” : someone who could understand others that deep. Maybe that kind of depth I have: connection.

She answered unhesitatingly..

“I’ve given so much to men. The wrong ones. And like the good stuff – you know – the loyalty, the care, the nurturing, the love, and sacrifices – the things you are supposed to give in a relationship. And I guess I’m a little afraid that when the right man comes along I’m gonna be reluctant to give that stuffs again. And then, I’m gonna be wasting a good thing because of it”.

I smiled when I looked at her bowing head, looking at the pavement to keep her pace.

To love is to be vulnerable. She is in the state whereas she’s being overly sensitive because she softens her heart to give another chance to her love. There were times when she gave up on love and she was so firm that she wouldn’t find love anymore. But God is too kind to her, and God gave her the opportunity to fall in love once again. God was trying to tell her that love is not giving up on her, why should she? But I don’t understand what was in God’s mind when He gave her the hard love to fill in her heart.

As once she chose to love, she will walk on it and committed to it. Most of the times it was the love that let her down. And crushed her into pieces. Just like how I see her now. I couldn’t stand seeing her to be that broken. What can I do to make her feel better?

I thought for a second and I turned to her.

“But you know what? The right guy is going to understand where you were coming from. And he’s gonna cherish you. He’s going to have all the patience in the world for you. He will take his time and go at your pace. He’ll work with you instead of going against you. He’ll come into your life and make things easier for you instead of harder. Because that’s what the right guys do. So don’t worry..”, I turn my arm around her shoulder, “..you’re gonna be just fine”.

The tears that clogged in the corner of her eyes were slowly fading away.

Under the blazing sun, her face was glowing as her skin glows.

I think the statements I tried to deliver to her were also the ones that made me believe that the right guy does not mean to be perfect, but he will make your world perfect even with his flaws and weaknesses.

And this is what I will love: his weakness, his flaws, his mistakes, his fears, and his wounds. Because loving someone at his good is easy. But loving someone at his worst is remarkable.

We were separated as I entered my office’s gate. She was gone when I reflected on my own words.

Well.. See you when I see you…