God’s love

I was wondering why I feel like always being at the lowest point of my life when Easter is approaching. I feel like the moment is just right, for me to shed so many tears, and I can feel the greatest pain when we are in an Easter’s atmosphere. There are so many seasons in our lives, and every year would be a different season for each of us to experience what life could offer. And in that particular season, there will always be the downside, and we are at our lowest. For me, the time would be every time Easter is approaching.

For so many years, the pain kept coming in Easter season.

I asked God as how I asked God for the last few weeks, during my morning run earlier this morning, “why do I feel the pain every time it is Easter time?”.

I never thought the answer would be so close, would be this fast. I seek, and I received what I’ve been looking for.

“Have you ever understood My kind of love for you?”, He asked softly.

“No, God. I never understand Your kind of love”, I replied back by talking inside. I knew that God loves us. So much. Ok. I get that. I get that God loves us so much. But it’s just to the limit of my own knowledge, not to understand or even feel His kind of love.

I never understand how much He loves us until He is willing to give His life for all of us, even to those who don’t know who He is at all.

As humans, we are willing to sacrifice for our closest people. We choose whom we are going to give our all to. But God, He does not. He doesn’t choose our background, or our relationship with Him – whether we are close or not to Him, or our appearances. He loves His children.

“I have to break you, so you would understand how much I want you to lean on Me at your darkest hours, your loneliest nights, and your painful walks”, said He. We tend to seek for people’s helps or supports when we are going through something terrible. Instead of talking to God, we go to people and seek their ears so they can listen to our stories, or asking their advice. But God just want us, His children, to have an intimate relationship with Him. He wants us to talk with Him first, because He is the most understandable Entity of the entire world.

Even though we had found someone who can listens to us and understands us, but no .. God is way more beyond that. I don’t even find words to describe how much He understands what we are going through, and how much He can really feel what we feel.

He wants us to experience His love. He wants me to experience His love in person.

“Do you understand how much I love you, and I don’t want you to be in the place where I don’t want you to be? And if you are broken and shattered, and if you are ever feel so lost and hopeless, know that My love will never leave you. I will always be here”, I can feel it was Him that talking to me such beautiful words. “I never stop watching you, I never stop listen to you”, said He.

I lost love – but I found love in God.

WhatsApp Image 2017-04-11 at 2.22.47 PM

I was dragged, fell, and lost my way – but I found a way back with God.

WhatsApp Image 2017-04-11 at 2.20.37 PM

I was shattered – but His love healed me

WhatsApp Image 2017-04-13 at 4.43.23 PM

That much He loves me. And you. And all of us. He never gives up to reach out to us. And for the first time in my life, I literally UNDERSTAND how big His love really is.

Easter would be the best moment for us to reflect on His unconditional love. It was never His intention to allow me experiencing several huge problems when Easter is approaching for the past few years. I never understand it before, but it is the best moment to understand His love: that nobody can escape from His love, not even me.

Well, I think I missed moment to reflect on His love for so many years. But I am grateful that this year, I get the chance to be filled with His love, no matter what I am going through.

And I should really thank my brother to give me this beautiful song, I couldn’t find anything else that can express the love that He fills in me other than to sing this beautiful song.

I Love You Lord / Passion – by Hillsong Young and Free

I love You, Lord, and I lift my voice to worship You

Oh my soul, rejoice, take joy my King in what You hear

And let it be a sweet sound in Your ear

All I have is Yours, take my life Jesus

Let my heart sing, how I love You Lord, how I need You Lord

I love You, You are my everything

I love You, in my life take who I am

I love You hear my heart sing

I love You, Lord, I love You

You’re brighter than the sun

Risen from the shadows

Seated on the throne of majesty

Higher than the skies and all we see

—————

No matter what you are going through, reflect on His love. And be fulfilled with His love, because it is the only thing that can satisfy you ūüôā

di dalam keteduhan

Belum lama saja, aku keluar dari “gua”ku dan kembali berbaur dengan dunia.

Oke. Dunia membutuhkan beberapa penjelasan. Atau bahkan sama sekali tidak. Tapi ada beberapa yang mungkin penasaran dan bertanya-tanya kepada orang yang kurang¬†tepat (maksudku, selain¬†diriku sendiri). Dan tentu saja aku ingin berbagi dengan dunia mengenai apa yang aku alami, apa yang aku dapatkan dari “menarik diri” dengan lingkungan sekitarku.

Aku diberikan kesempatan untuk bertemu dan menjalin sebuah masa pengenalan dengan seorang pria, yang kemudian hanya berlangsung secara singkat hanya untuk mendapati diriku yang harus melepaskannya. Semuanya memang berjalan terlalu cepat, ada visi serupa yang kami pandang dan pertimbangan demi pertimbangan mengenai beberapa perbedaan yang kami miliki sudah kami diskusikan dan cari jalan tengahnya, dan kami tahu kemana kami ingin membawa arah hubungan ini.

Dalam masa penantianku¬†menyambut tahun 2017, di penghujung tahun 2016, ketika semua orang sibuk mencari¬†daftar resolusi mereka tetapi tidak denganku, aku bertanya kepada Tuhan: “apa yang Tuhan mau aku lakukan di tahun 2017”. Aku berhenti sibuk menyusun¬†daftar resolusiku, karena aku ingin 2017-ku di isi oleh rencana Tuhan, dan bukan harapan-harapanku yang semu. Suatu malam Tuhan berkata kepadaku untuk mengurangi gilanya aku berolahraga dan mengikuti berbagai macam pertandingan olahraga yang tidak mempunyai tujuan. Atau lebih tepatnya: mengikuti¬†pertandingan olahraga hanya untuk mendapatkan pengakuan dan pencapaian, hanya untuk ikut-ikutan meramaikan acara dengan teman-teman. Tuhan taruh di dalam hatiku bahwa “olahraga” bukan panggilan hidupku. Lalu¬†Tuhan berkata kepadaku untuk mempersiapkan¬†diriku dalam menyisihkan sebagian waktuku untuk sesuatu yang Tuhan tidak saat itu juga Dia¬†buka kepadaku. Tuhan letakkan¬†hal tersebut di hatiku, untuk melakukan pengorbanan¬†dalam waktu. Tuhan penuh¬†misteri, maka dari itu Dia-lah¬†seorang Pribadi yang layak kita tunduk kepadaNya.

Dalam masa ketika aku hendak mencari tahu apa yang Tuhan maksud mengenai menyisihkan sebagian waktuku untuk sesuatu yang lain selain mencari pencapaian dalam olahraga, aku bertemu dengannya. Aku mengambil kesimpulan, mungkin Tuhan ingin waktuku kuberikan untuk membangun hubungan masa depan dengan seseorang. Memiliki pasangan tentu saja merupakan sebuah pengorbanan besar. Banyak waktu yang harus dikuras, tenaga fisik dan emosional, ego, dan masih banyak lagi pengorbanan demi pengorbanan yang harus dilakukan untuk menyamakan langkah kita. Jadi aku mentitikberatkan setengah waktuku untuk mengenalnya, seraya aku pun tak hentinya bertanya kepada Tuhan jika memang pertemuan kami adalah maksud Tuhan ketika Dia berkata kepadaku malam itu.

Aku menemukan fakta bahwa kami berbeda keyakinan. Namun menemukan titik tengah ketika kami berbincang untuk membawa hubungan ini menjadi sebuah hubungan yang lebih serius untuk mencapai masa depan bersama, bahwa dirinya yang mengerti prinsip utama keyakinanku bahwa aku tidak akan pernah berpaling dari Tuhan, dan aku akan tetap memegang keyakinanku, dan aku yang mendambakan pernikahan yang diberkati di gereja. Dengan penuh keyakinan dia berkata bahwa dia tidak mempunyai masalah mengenai perubahan keyakinan yang akan terjadi dalam hidupnya jika di depan nanti hubungan kami bermuara pada pernikahan. The point is: he is very open to convert to mine.

Kemudian kami memutuskan untuk berkomitmen berjalan bersama-sama, memandang satu titik di masa depan, sambil perlahan kami saling mengenal satu sama lain. Hari itu aku melihat diriku yang membuka ruang toleransi lebih besar lagi, menjelajah dunia yang tidak pernah aku tapaki sebelumnya: perbedaan keyakinan dan perbedaan dunia kami.

Tapi bukan itu yang Tuhan ingin aku jalani. Tuhan yang memberikan, Tuhan juga yang mengambil. Kami harus berpisah di persimpangan oleh karena kami tidak berada pada satu visi yang sama lagi. Satu minggu sebelum kami memutuskan untuk menyudahi segalanya, aku menyendiri dan menarik dari dunia luar dengan keluar dari 90% WhatsApp grup dimana aku bergabung dan tidak berkumpul dengan teman-temanku. Aku benar-benar menyendiri. Dan semua orang terheran-heran mengapa aku harus melakukan hal tersebut.

Aku sempat mempertanyakan perbuatanku sendiri. Tapi aku tahu, itu kebutuhanku. So I kept going without worrying what others might say. Aku butuh waktu untuk diriku sendiri. Bukan untuk mengasihani diriku sendiri dan tenggelam dalam stress, melainkan untuk berpikir. Mengembalikan semua pertanyaan kepada Tuhan guna mencari maksud.

Dan disanalah ketika Tuhan hadir dalam kesepianku, dalam kesunyianku. Aku tidak pernah merasakan Dia begitu dekat sebelum hari-hari itu. Konfirmasi demi konfirmasi, jawaban demi jawaban, pencerahan demi pencerahan, aku mendapatkannya ketika aku meminta semuanya kepada Tuhan. Sedekat ini Dia, tahu setiap sudut pikiran dan perasaan kita.

2017 gerejaku, JPCC, mengambil tema taunan “Alive” – hidup yang lebih hidup, bukan hanya sekedar hidup untuk bernafas saja. Hidup untuk menjadi arti. Dan salah satu sub-tema bulanan Maret-April adalah “hidup dipimpin Roh Kudus”, yang dari dulu aku¬†mempunyai sudut pandang abstrak mengenai hidup dipimpin Roh Kudus itu bagaimana caranya atau rasanya. Aku tidak pernah menyangka bahwa sub-tema tersebut akan begitu berarti dalam aku memproses maksud dari fase patah hatiku ini. Dan tema besar yang¬†diluncurkan pun seolah memberi gambaran besar akan maksud Tuhan dalam hidupku di tahun 2017 ini.

Hening. Roh Kudus bekerja dalam keheningan, merupakan inti sari dari sub-tema tersebut.¬†Ketika kita menyingkirkan semua suara yang dapat mengalihkan kita dari mendengarkan maksud Tuhan bahwa sesuatu yang Dia ijinkan terjadi¬†dan terlihat begitu pedih ini, adalah salah satu bagian dari rencana besar¬†yang baik di depan.¬†“The lesser the noise, the clearer the Voice”. Untuk aku, WhatsApp group merupakan “noise”-ku. Jadi dengan berat hati aku melepaskannya, untuk¬†memberi keputusan apakah hubungan tersebut harus berakhir, atau¬†harus aku perjuangkan kembali. Aku yang harus berjuang. Aku. Bukan dia. Maka dari itu aku putuskan untuk aku lepaskan, sebesar apa pun hatiku ingin berjuang untuknya.

Lalu aku terus mencari jawaban kepada Tuhan, hingga tiga minggu selanjutnya. Aku masih dalam kesendirian, dalam keheningan. Perlahan Tuhan bukakan pengertian demi pengertian.

Learn to let go. Aku belajar untuk tidak lagi memegang kendali di tanganku, aku belajar untuk melepaskan kendali kepada Tuhan. Jika Tuhan ingin aku bersamanya, Tuhan yang akan satukan kami, dan hubungan kami akan berlandaskan oleh kebahagiaan dan kedamaian, bukannya kesulitan demi kesulitan yang perlahan dibukakan. Aku terlahir¬†sebagai anak tunggal dari latar belakang kedua orang tua yang telah berpisah sejak kecil. Keberadaanku tersebut menjadi reaksi otomatisku ketika aku sudah menginginkan sesuatu atau mencintai sesuatu, aku genggam erat dan akan terus berjuang untuk mempertahankannya. Tapi berjalan dipimpin Tuhan bukan seperti itu caranya. Tuhan mau kita percaya bahwa jika Dia mengambil sesuatu dalam hidup kita sebesar apa pun kita mencintainya,¬†He has a better idea in His mind. Hanya waktu yang dapat membukakan ide Tuhan. Kita hanya perlu bersabar, dan percaya bahwa Dia akan menepati janjiNya sesuai dengan apa yang Dia sudah taruh dalam hati kita. Tuhan menaruh satu hal dalam hatiku: memiliki keluarga harmonis yang tidak pernah aku miliki. Maka dari itu, Tuhan ingin aku mendapatkan yang terbaik, bukan hanya sekedar¬†yang menurut aku yang terbaik. Karena manusia sering dibiaskan antara “kemauan” dan bukan “kebutuhan”.

The calling. Pernikahan dengan perbedaan keyakinan bukan merupakan panggilan hidupku. Sahabatku membukakan wawasanku mengenai¬†pernikahan dengan dua keyakinan yang¬†berbeda. Ada yang¬†hidup bahagia, dan ada juga yang berjuang hingga titik darah penghabisan untuk mempertahankannya. Dan kita tidak bisa untuk menghakimi siapa benar atau siapa salah, karena menikah dengan dua keyakinan yang berbeda merupakan sebuah panggilan hidup. Kita tidak bisa menikah dengan dasar harapan bahwa pasangan kita akan pindah ke keyakinan kita suatu hari nanti. Aku tidak bisa menikah dengannya dengan dasar harapan bahwa¬†walaupun dia akan¬†pindah ke keyakinanku jika kita masuk dalam pernikahan, tetapi isi hati hanya Tuhan¬†yang dapat rubahkan. Tentu saja aku mendambakan seorang pendamping hidup yang dapat menjadikanku seseorang dengan pribadi yang lebih baik di dalam Tuhan. If it is your calling to go for an interfaith marriage, then you can survive the whole journey. If it is not, don’t ever go to touch the surface.¬†Karena pernikahan merupakan gerbang penentu akan sebahagia atau setidak-bahagia apa kehidupanmu puluhan tahun ke depan – it is not only have an impact on who you are as an individual, but also who you are as a whole (career, potency, friendship, and many other things).

The strong one. Aku sangat memahami bahwa pernikahan tidaklah mudah, karena pria dan wanita merupakan dua pribadi yang berbeda. Apakah aku ingin menambahnya dengan¬†perbedaan prinsip? Tidak ada yang salah dari agama manapun, tetapi masalah akan timbul ketika¬†masing-masing memegang erat kepercayaan satu sama lain yang pada akhirnya menimbulkan perpecahan. Terutama ketika hal itu merupakan prinsip dasar hidup. Terutama ketika hal itu merupakan kepercayaan seseorang dalam menghadapi sebuah masalah. Dan aku tidak ingin sendiri. Aku tahu bahwa dalam pernikahan dibutuhkan seorang pria yang dapat berada di “ruang perjuangan” yang sama dengan pasangannya. Karena ada banyak hal dalam hidup yang hanya bisa diisi oleh keberadaan kita di dalam¬†“ruang spiritual” yang sama. Jika¬†dia sanggup menghadapi peperangan rohani tersebut sendiri karena perbedaan keyakinan, tidak masalah. Tetapi Tuhan tahu kerinduanku untuk berada bersama di¬†“ruang spiritual” yang sama dengan pasanganku. Seseorang¬†dengan karakter yang kuat di dalam prinsip yang sama. God has a big-big-big plans for me regarding marriage-life, why settle for less?

Wishes. Suatu Minggu sore ketika aku baru saja menyelesaikan sepanjang pagi-siang tugas Choir-ku di bulan Maret untuk bernyanyi di gereja, aku menyaksikan beberapa teman sepelayananku satu per satu dihampiri oleh pasangannya dari bawah panggung. Tersirat dalam hatiku sekilas harapan: “jika dia mempunyai hati untuk berkunjung ke gereja dengan rutin setiap minggu, seperti aku, akan betapa menyenangkannya. Terutama ketika aku menyelesaikan tugasku dan dihampirinya aku dari bawah panggung” – karena ketika kita mengucapkan komitmen kami hari itu, harapan darinya untuk tidak memaksakan dia untuk ke gereja rutin setiap minggu.¬†Lubuk hatiku yang paling dalam sudah mengetahui, bahwa akan ada harapan-harapan kecil yang bertumpuk dan kemudian memiliki potensi untuk bertumbuh sebagai suatu kekecewaan ketika hatinya bukan untuk Tuhan.

A book. Mungkin sudah¬†sekitar tiga hingga lima tahun yang lalu ketika aku mulai¬†mendisiplinkan diriku untuk menulis, Tuhan¬†taruh di dalam hatiku untuk menulis sebuah buku. Aku tahu talentaku di menulis, because I always have a thing with words. Dan aku tahu bahwa passion-ku di menulis. Menulis, buku bertemakan apa saja, asal aku pakai talentaku dengan maksimal. Tapi aku tidak pernah mengambil kesempatan untuk berkomitmen menulis sebuah buku. Semua tulisan yang pernah aku tulis di komputerku (yang bukan di blog) aku tinggalkan berdebu. Tetapi tanpa aku sadari ketika aku bertemu dengannya, aku menuliskan semacam “buku harian” dari hari ke hari mengenai pembelajaranku dalam mengenalnya, dan apa yang aku rasakan hari itu. Dan ketika hubungan kami berakhir, aku tahu bahwa¬†buku harian tersebut dapat kurangkai menjadi sebuah buku. Sudah 13 hari aku menuliskannya untuk menjadi draft buku, dan sudah 17,000 kata aku tenun menjadi sebuah cerita. 50% progress yang aku jalani dalam waktu dua minggu. Pertemuanku dengannya mungkin saja dapat menjadi salah satu cara sebuah permulaanku untuk memulai karirku sebagai penulis, membangun sebuah komitmen untuk mengalokasikan waktuku untuk menulis. Tetapi terlebih lagi ketika melalui proses pembentukan buku ini, aku menemukan diriku yang perlahan bangkit, because writing is one of my healing process ūüôā

Me. Aku belajar mengenal “aku” lebih lagi. Aku ini sebenarnya merupakan rangkaian algoritma penuh logika. Tetapi ada masa dimana¬†ketika dunia menuntutku “to feel”, aku akan jatuh terjerembab dikuasai emosi:¬†excitement,¬†sorrow,¬†tension,¬†anxiety. Dan aku kebingungan untuk mengatasinya. Dan disanalah duniaku akan diisi oleh peperangan antara nalar dan emosi. Dengan menyendiri, aku belajar untuk mengatasi¬†duniaku, yang dimana aku selalu merasa takut untuk menghadapinya sendirian. Tetapi aku menemukan bahwa ternyata the more I am alone when I encounter the tides, the more I am able to calm my own. Because it is you alone who can control yourself. Dan sudah dua minggu dari berakhirnya hubunganku dengannya, dan tentu saja aku¬†yang merupakan pribadi penuh rasa, penuh emosi, pada malam-malam tertentu ketika aku sendiri dan dunia terlelap, aku masih menangis, dan ada nyeri di dada ketika aku teringat tentangnya. It is not him that I can’t forget. It is how he made me feels what I felt that hard to forget. Tapi aku belajar untuk menerima diriku yang¬†membutuhkan waktu ketika aku merasakan sesuatu. And that’s okay. Aku harus hadir di dunia bukan untuk menjadi seseorang dengan tuntutan lingkungan sekitar yang mengharapkanku untuk segera cepat beralih,¬†but as a survivor. Seperti yang ditulis dalam ayat favoritku – ada waktu untuk segala sesuatunya, waktu untuk berbahagia, dan bahkan waktu untuk menangis dan bersedih (Pengkotbah 3). Aku hanya perlu memeluk diriku erat, dan berkata: it’s alright if you are sad today, and¬†joyful tomorrow. And it’s alright if you feel sad again for the day after tomorrow, and feel the happiness for the next.¬†Because the most important thing in life is how you learn to accept yourself, and love yourself from there – because the greatest love of all is learning¬†to love yourself (Whitney Houston).

Hari ini aku bisa katakan kepada dunia yang membaca tulisanku ini, bahwa dalam fase patah hati yang aku lewati beberapa minggu terakhir dalam kesunyian menjadi suatu titik temu bahwa aku terlahir di dunia ini untuk suatu tujuan besar, dan Tuhan sebenarnya berusaha menyelamatkan aku dari suatu jalan yang sebenarnya Tuhan tidak ingin aku jalani. Aku percaya jika Tuhan ingin aku berada di jalan ini, Tuhan yang akan menaruh di hatinya keinginan untuk sama-sama berjuang. Di sisi lain Tuhan bukakan sisi lain dalam hidupku yang tertunda dari tahunan yang lalu. Aku tidak bermaksud untuk berkata bahwa dia tidak baik untukku. Dia baik untukku, dan aku pernah memutuskan untuk dapat menjalani hidup bersamanya, embrace his weaknesses, adore his strengths. Tetapi apa yang di anggap manusia baik, belum tentu Tuhan anggap baik. Dan mungkin Tuhan mempunyai sesuatu atau seseorang yang lebih sepadan untuk aku menjalani hidup bersama hingga maut memisahkan. Jika bukan dia untukku, aku harus percaya bahwa Tuhan sudah sediakan. Jika dia untukku, Tuhan yang akan bukakan kembali jalannya di depan nanti. Segala hal yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia, ada di tanganNya.

Dan ketika pada suatu hari aku mempertanyakan kembali kepada Tuhan mengapa Dia memberikan aku suatu pengalaman yang tidak mengenakkan, aku dapat menyimpulkan bahwa cerita ini, cerita aku, cerita kamu, cerita kalian, bukan cerita antara kita dengan seseorang. Tetapi cerita kita dengan Tuhan – it is a love story between me and God, a life journey between me and God. Yang ingin Tuhan bangun adalah hubungan kita denganNya melalui kejadian demi kejadian yang terjadi dalam hidup kita.

Pengalaman ini telah membukakan mataku sedemikian besar cinta Tuhan kepadaku, begitu pedulinya Dia kepadaku sehingga Dia sangat ingin aku to be my best in my life, termasuk menaruh orang-orang yang tepat di dalam hidupku guna mencapainya.

Ini cerita yang Tuhan tulis untuk buku kehidupanku, dan tentunya akan berbeda dari sudut pandang orang lain. Apa yang telah kutulis pada baris-baris sebelumnya merupakan kesimpulan yang aku dapat ketika aku melihat kejadian tersebut dari kacamata Tuhan. Mungkin jika kita melihat dari kacamata manusia, ada banyak hal-hal yang kita bela untuk membenarkan diri kita sendiri, dan berakhir terpuruk. Tapi aku berusaha untuk melihat dari kacamata Tuhan, dan mengerti maksudNya ketika aku bertanya “why, God, why?”. Tidak ada damai sejahtera dari hasil analisa yang aku buat jika hanya sebatas nalar saja aku mencari jawaban. Namun hal-hal yang aku ceritakan pada baris-baris sebelumnya¬†di dukung dari damai yang Tuhan berikan dalam satu per satu pengertian (atau pencerahan) yang Tuhan sampaikan. Aku percaya, it is God Himself who speaks right through my heart – if¬†there is peace within you, then it is God.

Last but not least, one final closing line: the more you are able to calm your own world, the clearer you are able to hear the Voice. And that is true, because I experienced it myself.

“Be still and know that I am God” – Psalm 46:10

Have a blessed life! ūüôā

WhatsApp Image 2017-04-02 at 8.04.28 PM

Pertemuan dan perpisahan

Aku selalu percaya Tuhan mempertemukan aku dengan seseorang untuk suatu tujuan. Dan jika Tuhan yang mengijinkan sebuah pertemuan, maka Tuhan juga yang kemudian mengijinkan sebuah perpisahan. Pertemuan yang diiringi dengan sebuah perpisahan merupakan satu bagian dari rancangan besar yang sudah Tuhan susun dengan baik sedari awal. Jika hari ini Tuhan ijinkan aku bertemu dengan seseorang, maka Tuhan pun tahu di masa depan nanti apakah akan ada perpisahan atau hubungan dengan waktu tanpa batas.

Maka dari itu, aku akan sangat menghargai waktu-waktuku dengan siapa pun dia karena aku tidak akan pernah tahu seberapa banyak waktu yang aku miliki untuk bersamanya. Seberapa lama Tuhan ijinkan aku untuk bersama dengannya.

Bukan. Ini bukan hanya berbicara mengenai aku dan kisah cintaku. Aku berbicara mengenai sudut pandang sebuah pertemuan secara umum. Dengan teman-teman sekitarku, dengan keluarga, dengan orang-orang asing yang kutemui secara acak dalam kilas waktu.

Pertemuan seringkali diisi oleh tawa dan senyum. Ada salam hangat yang hadir di antara jabatan tangan ketika kita pertama kali bertemu dengan seseorang. Ada canda dan senyum yang mengisi setiap baris pembicaraan. Seiring berjalannya waktu, sebuah hubungan perkenalan bertumbuh menjadi pertemanan, dari pertemanan menjadi persahabatan. Proses. Bahkan hubungan persahabatan pun membutuhkan sebuah proses yang hanya dapat dibentuk melalui waktu. Aku dibentuk melalui proses tersebut. Dibentuk dari caraku belajar mengenai karakter seseorang. Ruang hatiku semakin diperluas untuk aku dapat menyamakan langkahku dengannya. Jika ada hubungan baik yang dibangun melalui pertemuan kami, membawa sebuah cerita indah yang akan terus berlangsung hingga waktu tak terbatas. Namun jika ada hubungan yang tidak baik terjadi berjalan dalam proses pengenalan kami, kujadikan sebagai bentuk pembelajaran terhadap berbagai macam karakter seseorang, dan tentang apa yang bisa dan tidak bisa aku tolerir. Terlebih lagi tentang siapa aku ketika aku besosialisasi dengan orang lain.

Aku didewasakan dengan cara memperluas ruang hatiku untuk mengerti mengapa seseorang melakukan suatu perbuatan seperti yang dia lakukan. Jika aku tidak menyukai perbuatannya, aku belajar untuk tidak melakukan apa yang aku tidak sukai terhadap orang lain, karena aku mengerti rasa tidak nyaman karena perbuatan tersebut. Jika perbuatan itu baik adanya, aku belajar untuk bersikap demikian sesuai dengan kebutuhan orang lain terhadap sebuah perlakuan.

Tapi aku sadar bahwa siapa pun yang aku temui dan masuk ke ruang hatiku, selalu mengkontribusikan suatu perubahan dalam hidupku. Perasaan yang dibangun melalui pertemuan demi pertemuan menjadi caraku untuk merenungi maksud Tuhan mempertemukan aku dengan mereka. Jika Tuhan tahu aku akan berpisah dengannya, mengapa Tuhan ambil dari hidupku? Karena aku tidak pernah merelakan sebuah perpisahan. Mungkin hanya bagian dari sisi kanak-kanakku yang masih ingin merasakan kebersamaan dengan mereka, masih ingin berbagi cerita hidupku dengan mereka. Tetapi hari-hari perpisahan yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidupku, menjadi cara Tuhan berkata kepadaku: “waktumu dengannya sudah habis”. Bagian mereka dalam hidupku sudah selesai.

Karena yang Tuhan ingin sampaikan kepadaku adalah bukan siapa mereka dalam hidupku, melainkan proses yang Tuhan mau aku jalani agar aku dapat semakin dibentuk melalui kehadiran masing-masing dari mereka.

Terutama ketika proses yang dimaksud adalah proses pembentukan hubungan antara diriku dengan Tuhan sendiri.

Pada akhirnya, Tuhan hanya peduli proses yang kita lewati, hasil akhir hanyalah sebuah hadiah dari perjalanan senang dan sedih yang telah kita tempuh dalam proses. Sama hal nya dalam mengikuti sebuah pertandingan Marathon. Empat bulan kita berlatih, ketahanan tubuh kita dibentuk, dan pada harinya kita melewati rute yang harus kita tempuh, kemudian berakhir di garis akhir pertandingan setelah 42 km kita berlari, kita akan melihat kembali ke belakang ketika semuanya baru dimulai, dan bersyukur bahwa ada proses yang diijinkan terjadi. Tangis haru yang turun dari kedua sudut mata kita adalah tangis rasa syukur karena kita telah di proses menjadi pribadi yang lebih kuat. Hasil akhir hanyalah hadiah dari ketekunan yang kita tempuh untuk bertahan dalam suatu hubungan, pertemanan, persahabatan, kekeluargaan, maupun percintaan.

Dan jika pada suatu malam yang sunyi aku kembali bertanya kepada Tuhan mengapa seseorang harus pergi dalam hidupku, Tuhan kembali mengingatkan kepadaku bahwa mereka-mereka yang pernah mengisi hidupku tidak pernah pergi dari hatiku sejauh apa pun aku terpisah dengan mereka, sejauh apa pun jarak terbentang di antara aku dan mereka.

Mereka selalu ada di hatiku. Karena mereka membawa perubahan dalam hidupku. Masing-masing dari mereka mendewasakan aku, hatiku, dan cara berpikirku tentang dunia dan isinya.

Pembelajaran mengenai cinta, pembelajaran mengenai penerimaan terhadap diriku sendiri, pembelajaran mengenai sebuah kepercayaan, pembelajaran mengenai banyak hal di dunia mengenai hidup, pembelajaran mengenai yang salah dan benar, semua kudapati dari proses yang aku jalani dengan seseorang yang Tuhan ijinkan aku bertemu. Apa lagi yang bisa aku minta dari Tuhan untuk suatu pembelajaran mengenai kedewasaan?

Tuhan sudah berikan sumbernya: orang-orang yang Dia ijinkan aku untuk bertemu.

“Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya manusia” – Amsal 27:17

the fog

Dalam gelap aku terbangun dari tidurku, siap menyambut hari baru. Dengan terhuyung-huyung aku menapakkan kakiku ke tanah, merasakan dinginnya lantai kamarku oleh karena sapuan angin semalam. Seraya mengumpulkan nyawaku, aku berpangku tangan pada sudut ranjang, tersenyum mengingat kehadiranmu dalam mimpiku. Ada satu orang lagi hadir dalam mimpiku, dalam doaku.

Bergegas aku merangkul tasku hendak melangkah ke tempat aku akan bertemu dengan sebagian teman-teman wanitaku sepanjang akhir pekan ini. Namun hujan turun membasahi langit gelap pagi ini. Aku membuka kemasan payungku dan berjalan menembus angin kencang disertai air yang membelai kedua kakiku. Melalui pantulannya yang mendarat di tanah, ia menyapa pagiku.

Melalui perjalanan singkat aku mengenangnya.. Mengenang siang kami, mengenang malam kami.. Seperti ketika aku berjalan melangkah ke depan dan meninggalkan tapak kaki terdahulu di belakangku. Masa lalu, yang tidak akan aku kunjungi lagi, kenangan hanya tinggal memori. Kuletak dalam sebuah kotak terkunci rapat di sudut ruangan memori.

Hujan. Menyapu jejak langkah yang kutinggalkan pada tanah, seperti angin yang berhembus membawa daun melewati sisi telingaku, demikianlah hati ini dibawanya pergi terbang ke langit biru. Memang sudah selayaknya dia terbang bebas sebagaimana indahnya kepakan sayap burung yang menembus awan di langit.

Dan aku melambai dengan senyum, karena aku tidak akan bertemu dengannya lagi.

Hanya satu kali dalam hidup, ketika suatu malam yang sunyi aku merangkak ke atas tempat tidurku dan meringkuk seraya bercucuran air mata, berdoa pada Tuhan: “berikan hati ini kepada orang yang tepat, Tuhan, berikan cinta ini kepada orang yang tepat”.

Untuk kata yang tak pernah terucap, untuk uluran tangan yang tak pernah menggapai, untuk pandangan yang tak pernah tertidur, untuk jiwa yang pernah tersesat, untuk harapan yang diketemukan kembali, untuk rindu yang tak pernah pudar, untuk hati yang tak pernah terungkap, hanya catatan yang bisa tertuang dibalik untaian rasa yang tak terungkap.

Di tengah dentuman hujan yang semakin keras di lapangan terbuka, aku berkendara dengan empat orang teman lainnya. Tetapi tetap tidak mengalahkan tawa dan canda kami dari balik kendaraan yang kami tumpangi. Dalam hitungan menit, kami telah menembus kabut yang tebal, mengaburkan pandangan kami. Aku bertemu dengannya dari sela-sela kabut yang semakin tebal seiring kami berjalan mendekat. Berbincang dengan Tuhan, menyebutkan satu garis namanya, untuk mengetahui maksud dan tujuan Tuhan yang memberikan cerita baru setelah aku melepas kepergiannya.

Setelah sekian lama akhirnya aku bertemu kembali dengan kabut yang merindukan tanah. Sudah terlalu lama dia berada di puncak awan sana dan tidak bisa menjauh lebih lama lagi dari bumi yang ia cintai. Hanya rasa lelah karena sudah terlalu lama dia mengambang.

Rasa takut oleh karena pandangan yang begitu tak jelas akan apa yang ada di balik kabut. Haruskah Tuhan, haruskah hati ini kuberikan? Benarkah Tuhan, benarkah dia orang yang tepat? Mungkinkah Tuhan, mungkinkah kami bersatu? Karena doa yang aku lantunkan malam aku bercucuran air mata adalah malam kemarin ketika Tuhan memberikan aku jawaban pada pagi selanjutnya.

Dan menyadari bahwa sebuah perjalanan cinta yang mustahil tersebut yang telah membawaku kepada pengalaman indah dimana aku dapat bertemu kembali dengan Tuhan, bertemu kembali dengan jati diriku, bertemu dengan diriku sendiri untuk mengetahui apa yang kubutuhkan dalam hidupku dan bukan sekedar apa yang kuingini dalam hidup. Ada berkat dan maksud yang begitu indah yang Tuhan ingin berikan kepadaku di balik begitu banyaknya pertanyaan dalam benakku. Ada maksud yang begitu berkesan yang Tuhan ingin aku kenang selamanya di balik hari-hari sendu yang aku jalani. Ada makna yang begitu dalam yang Tuhan ingin aku mengerti di balik pengalaman asing ini. Pada akhirnya semuanya mengenai cerita aku dan Tuhan, bukan cerita aku dan seseorang.

Kabut yang kami tembus bukanlah sebuah cerita menyeramkan dimana terdapat banyak kejutan dalam setiap langkah kami menembusnya. Walau tak pasti, namun kabut menjadi caraku untuk mempercayakan kehidupanku sepenuhnya kepada Tuhan, karena aku tidak tahu ada apa dan apa yang terjadi di depan nanti, tapi aku hanya tahu bahwa Tuhan pimpin jalanku, langkahku, tidak mungkin aku dibawaNya tersesat.

Aku telah melepaskannya. Dan kini aku siap menyambut yang baru..

Hanya rasa syukur yang dapat kuungkapkan. Melepaskannya adalah berkat Tuhan terbaik yang aku dapatkan.

Ini, merupakan garisan tangan terakhir tentangnya. Nanti, akan menjadi garisan tangan tentang kisah yang baru ūüôā

Detour

It was 4.45 am in the morning, I was getting ready to catch Aaron (my bike name) and meeting my early running appointment. The sky was like the night sky, it was very dark, and nobody had awakened yet. I was thinking to take the journey slow since I am still afraid of the darkness because of several accidents I experienced and witnessed. It was very windy anyway, so I¬†can’t speed. Before I departed, I set Sean (my phone name) to the map mode, so he can guide me towards the destination by passing the correct and the fastest route. Well, actually this had been my third times riding Aaron going to South Jakarta in the early morning. Just took a precaution in case I forgot how to get to the destination,¬†I didn’t have to be afraid of getting lost or late to reach the destination by the arranged¬†time.

I put my earphone on my right ear-side because music can lessened my fear of darkness. I barely could see around, so I turned on my front light for a better sight towards the road. I was so secure when I rode on the main road (Sudirman-Senayan), because I am very familiar of every indentation, of the environment, of the corners diverting one road to another pathway.

And then I made a turn. And I knew that that particular road is the one I am not familiar with because I barely travel pass it. I thought I’ll just follow¬†to where Sean directed me to. I kept riding, and riding, and riding, and somehow I turned to a smaller and quieter road where the road was darker, and no one around, not even single vehicles, but I chose to keep going. Until my guts¬†stopped me, and under one of the road lamp I chose to take a look at the map.

There was a time when I continued riding, I did not now where to turn and Sean did not giving me the direction, he kept silent (or was I not listening to him?). I was in doubt at some point, but I refused to stop and take a look at Sean.

I made the wrong turn. So I turned around to get me back on the right track.

The trip went from 10k to 13k in total as I reached to the destination. After realizing that I was lost my way, I sped up because I was afraid I will be late, leaving me tiring legs for my planned 21k run. I was not late, but still, I made 3k extra effort to ride. I should be arriving in the destination earlier if I was not lost. I should be finishing my 21k running distance, but instead I stopped at my 17th because I was exhausted and thinking to save my energy for the ride back. The route was quite challenging with hills contour. I just did not want to waste my energies since my purpose is not to do brick training, but to run.

After I realized that I was lost, I reflected on myself. It was a detour. It was the unnecessary journey.

The same thing in life.¬†Many times in our lives we make wrong decisions and end up to go through the unnecessary life journey.¬†And we suffer for it. We often questioned God the Whys behind the bad things happened in our lives. We often blame ourselves and live in regrets as we are blinded by the negative things that affects life. “It was not supposed to be this way”. But one thing I knew for sure that everything happened, happens for a reason. A good one.

When I made wrong decisions in the past, almost all times¬†I lived in regrets and tend to blame myself of why I did what I did. I used to isolate myself and let negativity feed me, drowned in¬†sorrow and grieving for myself for months or even years. It affected how I interact with people, I got overly too sensitive over someone’s words. And I grew up¬†as an insecure individual because I got¬†too scared to open myself up. That fear got me just right of being an overthinking person.¬†My world is my thoughts, and I lived that. But mind could be wrong. Being a stubborn individual, I¬†thought that the world is a cruel place for me to live.

But that was my past when I was thinking that I am a victim of the mistakes I created.

The world is¬†unkind, but we can’t force the world to adapt on who we are. But the very first thing that matters in life is not about how we fight the world, but how we are living in it as survivors, and come out as a winner to ourselves.

Living in an almost-depressed situation, God saw me broken. He pick me up and saved me before I made the kind of mistake that there will be no turning back. God is never giving up on me. There were lots of times when I was down and questioning my capabilities, God always cheered me up by simple little things afterwards, telling me that I am matter for Him, I am loved by Him. And just like how rainbow were portrayed over the blue sky after the storm, that is how God draws smiles and laughter after the tears. And then days or weeks or months or years later when I look back, I understand why that was happening the way it did.

If it’s good, it’s God’s blessing. If it’s bad, it’s still God’s¬†blessing, a blessing in disguise. We may not see that today, but we will see the purpose of why it’s happening in the future.

  • Like why I was growing up in a broken home family – because then I saw lots of¬†people who¬†grew up broken, but I grew up healthy and I should be grateful¬†of how God take care of me all these times.¬†God always put me in positive communities where I can grew up to be a good person, and it’s all about choices. I chose¬†good. And then I met a lot of people who needs support and encouragement¬†of being strong when encountering family problems. I can empathize on them, because I’ve been there even though I am still struggling myself.
  • Like why I¬†failed in few serious relationships – because then I got enough time to learn about true relationship before I got into marriage. Funny when God always given me the chance to be close with happily marriage couples – so I can learn how they live their marriages. And how God also given me the opportunities to know people whom marriage is broken – I can learn¬†the “dos” and the “don’ts” in marriage, and what should be prepared before we are getting married. Failure is inevitable, pain is temporary, but lessons learned is valuable and nothing in this world can buy successful marriage.
  • Like why I should wander in few¬†places leaving all my comfortable areas, losing lots of relationships, keep starting over – because then I got the chance to see the world bigger and dream big. And I just learned that my healing moments were not something that I’ve got from other people, but they were the things that I’ve got from exploring few places and living there for some period of time. I’ve got it from within me when I see the world. I’ve got it from the dream I wish to achieve and finding out where to start.

There were so many mistakes or bitter experiences in each of the three mentioned above events – but I learned that God has beautiful plans for me:¬†so I can be who I am today, a blessing to other people. I made wrong decisions because I was so stubborn that I was so right,¬†leaving me to get into the painful process. But that process is making me who I am today as a¬†grown up survivor.¬†I did not involve God in many decisions. But again, God never giving up one me. He is faithful. I¬†might spend unnecessary efforts, taking longer distance or time to get to the destination, but then it’s all about process.¬†I am a working in progress.

My brother always told me that the painful journey I was and am experiencing are meant to¬†shape us and to reveal “the best of me” inside , don’t treat them as the enemy but as a way of knowing, understanding,¬†and accepting ourselves, so when we see us we see God is working within us. The result is just a reward from God, but the process is what God mostly care about so He can see us as someone where He has seen us in the future. We tend to¬†see result. But God sees process, He wants to process us through¬†the journey He let us gone through.

At the end of the road I always see God. No matter how broken I was, I am, I always see Him right in front of me, speaking right through me, guiding me from one step into another step even though I made wrong turns, He never leave me. There were some times when I thought that He was silent. But that was not because He did not see my struggles or hear my calls, but because He wants me to grow bigger, exploring myself. It’s like when a father teaches us to ride a bike, when we fall, it’s not necessarily he helps us to stand, but he will be there to give us strength, encouragement, as well as seeing us stand and ride again. And when we rise again, God will smile at us and say: “good job, My child. Take my hand, and I will guide you”. I am not scared because God will never leave me, nor forsake me, and He Himself will always be with me – Deutronomy 31 : 6 & 8.

A detour¬†doesn’t seem that terrible because I knew God is watching me, and I believe that He will¬†guide me back to the right pathway, where the¬†final destination is where God first wants me to¬†get – in His time.

Jeremiah 29 : 11 – “For I know the plans I have for you,‚ÄĚ declares the Lord, ‚Äúplans to prosper you and not to harm you, plans to give you hope and a future”

Pasangan hidup: Tuhan tidak pernah terlambat

Ketika aku dihadapkan dengan sebuah pilihan untuk menempatkan “cari pacar” di salah satu daftar¬†resolusi tahun baru, aku bertanya kepada diriku sendiri: haruskah aku menaruhnya pada salah satu daftar “hal-hal yang harus dicapai di tahun 2017”?. Dan ketika aku melihat beberapa temanku yang mulai kuatir karena 2016 mereka dilalui tanpa menemukan pasangan hidup mereka, ada masa dimana aku sedikit terseret oleh perasaan mereka: panik dan terburu-buru.¬†Tentu saja mencari jodoh jadi salah satu harapanku terbesarku dalam hidup, tetapi aku sadar¬†bahwa mencari jodoh bukan tujuan hidup utamaku. Menemukannya adalah. Dan “menemukan” membutuhkan waktu.

Aku belajar jika aku mencari, berarti aku mengerahkan seluruh kekuatanku untuk mendapatkan apa yang aku inginkan,m. Sedangkan aku belajar bahwa bukan keinginanku semata saja¬†jika aku berharap untuk memiliki seorang pendamping hidup. Apa yang aku butuhkan dalam hidup? Apa tujuan hidupku? Dan bagaimana seseorang yang akan menjadi pendampingku dapat membawaku ke titik dimana Tuhan mau aku berada. Jadi aku belajar untuk membiarkan Tuhan bawa perjalanan hidupku ke jalan dimana tujuan akhirnya adalah bertemu dengan “the one and only”.

It’s a long process hingga aku tiba di satu titik dimana aku memiliki sikap¬†menahan diriku sendiri untuk mencari. Karena aku ingin Tuhan yang bawa jalanku.

“Aku berhenti¬†mencari, dan seketika itu juga Tuhan memberikan yang terbaik, yang tidak pernah aku sangka aku akan dapatkan”, kutip seorang Martin Saba, pelatih Choir di gerejaku yang aku kagumi karena Ayahnya terdahulu adalah pelatihku yang dengan sabar dan setia melatih aku bernyanyi secara pribadi setiap kali aku dan Choir masa SMAku selesai latihan rutin.

Kami semua adalah saksi hidup dari kesaksian yang disampaikan oleh Kak Martin malam itu, mengenai perjalanannya bertemu dengan istrinya.¬†Jauh sebelum Kak Martin bertemu dengan istrinya, hatinya sudah menetapkan diri¬†untuk tunduk kepada suara¬†Tuhan, walaupun pada awalnya dia merasa berada di jalan yang tidak seharusnya dia langkahi, salah satunya adalah: masuk sekolah hukum. Karena ketaatannya, dia tidak pernah menganggap segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya merupakan sebuah kesalahan. Kak Martin bercerita bahwa ada satu malam dimana Tuhan¬†membangunkannya untuk bertemu dengan Tuhan, disanalah dia diperlihatkan mengenai masa depannya, masa depan kehidupan pernikahannya. DitunjukanNya lah juga kepada Kak Martin siapa wanita beruntung itu. DibimbingNya lah juga kepada Kak Martin proses hubungan yang terjadi diantara keduanya, sedari sang wanita masih mempunyai kekasih lain, hingga berakhir dalam sambutan uluran tangan Kak Martin. Dan demikianlah Kak Martin berkata: “aku berhenti mencari, karena Tuhan sudah¬†siapkan yang terbaik untuk aku”. He was that secure..

Seraya aku duduk¬†bersandar pada¬†kursi ruangan, terkagum-kagum aku berpikir dalam hatiku ada kejadian seindah itu ketika Tuhan membimbing seseorang ketika dipertemukan oleh pasangan hidupnya. Dan bukan kali pertama aku mendengarnya, mungkin sudah puluhan kali aku mendengar kisah seperti demikian. Dan campur tangan Tuhan sedekat itu begitu nyata bagaikan cerita dongeng.¬†“Aku ingin mempunyai kisah pertemuan cinta seindah itu, bukan hanya keajaiban cinta yang terjadi, melainkan keajaiban Tuhan”, ungkapku dalam hati.

“Untuk kalian yang masih sendiri, taat dan setia lah kemana Tuhan membawamu pergi”, ujar Kak Martin sebelum pertemuan kami ditutup dalam doa dan kami berpisah ke rumah masing-masing.

Ketika aku membayangkan akan seperti apa cintaku, terlintas dalam benakku bahwa mungkin kami yang memiliki perbedaan kesukaan dan sifat tidak akan bisa bersatu. Dan aku berakhir untuk menutup diriku akan segala kemungkinan yang ada, mencari seorang pribadi yang aku inginkan sebagaimana aku imajinasikan sedemikian sempurnanya. Duniaku sempurna, tapi aku tinggal di dalam dunia yang tidak sempurna. Tidak diketemukannya siapa dia yang aku pikir ada di sekitarku.

Aku mulai bertanya-tanya kepada diriku sendiri, dan bukan kepada Tuhan. “Siapa? Yang mana?”. Dan aku berakhir dalam kelelahan dan mulai menyerah akan cinta. Tapi Tuhan terlalu baik kepadaku, sehingga Dia tidak pernah menyerah mengingatkanku pada bagaimana cinta hadir oleh karena Tuhan yang mengijinkan itu terjadi.

Aku dipertemukan dengan begitu banyak teman yang sudah berkeluarga dengan kehidupan pernikahan yang aku idam-idamkan. Aku bersyukur karenanya Tuhan mengajarkan aku melalui mereka bagaimana kehidupan pernikahan yang seharusnya. Aku tidak dapat belajar dari kedua orang tuaku, karena mereka berpisah sejak aku masih sangat kecil. Tapi Tuhan sangat baik kepadaku sehingga ditempatkannya aku di komunitas yang begitu mendukung kekuranganku. Aku tidak pernah merasa tersesat walaupun ada kalanya aku merasa kosong. Aku menyaksikan bagaimana perbedaan disatukan. Bagaimana dua pribadi yang sangat berbeda pun dapat bersatu dan hidup berbahagia satu sama lain. Maka dari itu aku akan selalu berbahagia mendengarkan cerita cinta kehidupan pernikahan teman-temanku, belajar dari mereka, menjadi saksi hidup mereka.

Perbedaan lah yang menyatukan hati..

Maka aku belajar membuka hatiku akan perbedaan, akan kemungkinan persatuan dari sebuah perbedaan.

Minggu pertama di tahun 2017, aku¬†di sambut “jawaban” dari sebuah pertanyaan semulaku: “HARUSKAH di 2017 ini aku mempunyai kekasih?”. Dan jika memang harus, dimana¬†dan bagaimana aku mencarinya. Pertanyaan tersebut terjawab oleh beberapa kalimat sederhana dari kotbah yang aku dengarkan: “Jika Tuhan ingin kau naik pangkat, Tuhan bisa buat atasanmu melirik kemampuanmu dan mem-promosikan dirimu. Begitu pula jika Tuhan ingin kau bertemu dengan pendamping hidupmu, Tuhan yang akan buat seseorang yang tepat melirik karaktermu, bukan fisikmu, dan jatuh cinta pada keseluruhan dirimu. Karena Tuhan yang¬†punya kuasa terhadap semua itu”.

Aku tidak tahu bagaimana caranya aku bisa tertidur hingga siang hari melewati jam makan siang, dan memaksaku untuk hadir ke ibadah terakhir di gereja yang jam ibadahnya hampir tidak pernah aku hadiri. Dan aku tahu kemudian bahwa Tuhan ingin berbicara mengenai sesuatu denganku melalui kotbah sore itu.

Sama seperti tahun 2016 awal ketika entah bagaimana aku diserang oleh perasaan kesepian yang begitu besar, begitu pula aku di awal tahun 2017 ini aku diberikan kembali perasaan kesepian tersebut. Caraku mengatasi kesepian ini tidak seburuk tahun lalu (walau masih ada sedikit perasaan kesepian yang berangsur berlanjut). Dan dari situ aku melihat diriku sendiri bahwa aku sudah lebih berdamai dengan diriku sendiri, menghargai sebuah kesendirian sebagai cara Tuhan untuk membentuk aku lebih lagi dengan segudang pikiran tak terungkap.

Jadi, jika seseorang bertanya kepadaku apakah aku punya resolusi mengenai pasangan hidup di tahun 2017, aku akan menjawab: tidak. Tidak bukan karena aku takut resolusi tersebut tidak akan tercapai, tetapi tidak karena aku ingin mendengarkan suara Tuhan dan mengikuti kemana Dia membimbing jalanku untuk aku tiba di tujuan akhir dimana aku akan bertemu dengan yang terbaik dari Tuhan. Dan aku tidak tahu kemana Tuhan akan bawa aku. Aku hanya ingin¬†lebih taat lagi akan rencanaNya¬†untuk aku di 2017. Jika tahun 2017 ini adalah tahun dimana aku masih harus dibentuk – dari banyak aspek yang masih menjadi kelemahan terbesar aku, atau tahun dimana aku masih harus menanti – untuk belajar menghargai waktu, atau tahun dimana aku harus belajar lebih lagi mengenai diriku sendiri – karena berpasangan bukan mengenai kita mempelajari orang lain melainkan belajar mengenai siapa diri kita ketika kita dipersatukan dengan pasangan kita, aku akan sabar menanti Tuhan berkata “it is time”.

“Karena Tuhan tidak pernah terlambat. Dia selalu tepat waktu” – Martin Saba

The Christmas Eve

Tengah malam. Aku diberikan kesempatan untuk melihat kumpulan orang-orang dari atas. Atas panggung. Memandang satu per satu jemaat yang hadir malam itu. Ya. Aku berdiri di atas panggung sebagai bagian dari salah satu penyanyi paduan suara masa aku di Bandung dahulu.

Malam Natal.

Dan ibadah malam Natal di gerejaku di Bandung selalu dilaksanakan pada jam 23.00 malam, dan berakhir setelah hari berganti tanggal.

Karena aku mempunyai kesempatan demikian, aku jadi mulai memandang satu per satu jemaat yang terduduk dengan manis menunggu ibadah di mulai. Wajah mereka terlihat ceria. Masih terlihat segar. Sudah banyak orang yang tiba 60 hingga 45 menit sebelum ibadah di mulai, berharap kursi yang mereka akan duduki mendapat titik terbaik untuk dapat menikmati acara.

Kemudian aku mulai tersenyum pada satu per satu orang yang datang dan duduk pada kursi¬†yang telah mereka¬†pilih. “Ah, sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan mereka”, pikirku. Sudah lama sekali bahkan aku tidak berdiri dari atas panggung untuk menjadi pelayan penyanyi di gereja ini.

Ketika si pemimpin paduan suara menawarkan untuk ikut terlibat dalam acara malam Natal, awalnya aku menerima tawarannya karena memang aku akan pulang ke kampung halamanku Bandung menjelang Natal. Tapi menjelang hari, aku sempat membatalkannya karena tidak sempatnya aku mengikuti detik-detik latihan terakhir mereka. Singkat cerita, satu per satu bertemu denganku dan memintaku untuk ikut terlibat, dan aku kembali pada rencana awalku untuk terlibat.

Kesempatan ini¬†membuat aku untuk¬†terpaksa menulis. “Terpaksa”, maksudku. Karena dari penglihatan dan pengalamanku dari depan panggung ini¬†memberikan aku kesempatan untuk merenungkan banyak hal dan menyumbangkan begitu banyak ide akan kata-kata yang harus dilimpahkan melalui tulisan ini.

1. Hatiku tersenyum kecil ketika melihat beberapa orang di kursi jemaat mulai tertidur sambil bernyanyi. Aku juga mengantuk, jam 23.00 sudah jauh melewati batas jam tidurku biasanya. Tapi berada di depan panggung¬†memaksa aku untuk tetap terjaga. Pemandangan ini membuatku berpikir bagaimana mereka membuat diri mereka untuk hadir di kebaktian malam Natal tengah malam walau mereka tahu kantuk akan mengetuk dan mengunjungi mereka.¬†Tapi tidak menghalangi mereka hadir karena mereka tahu siapa yang akan mereka¬†temui.¬†Mereka tahu “ulang tahun” siapa yang akan mereka rayakan. Mereka ingin menjadi yang pertama untuk mengucapkan: Happy Birthday, Jesus. Aku juga ūüôā

2. Ketika aku berada di depan panggung, pikiranku tidak luput dari tujuan aku memberanikan diriku bernyanyi tanpa dilengkapi dengan latihan yang rutin. Saat aku ditawarkan untuk terlibat dalam acara malam Natal tersebut, tentu saja aku memikirkannya berulang kali karena aku tahu bahwa aku tidak dapat berkomitmen untuk datang ke Bandung dan mengikuti jadwal latihan yang sudah ditentukan. Tapi ketika aku memegang partitur dan bernyanyi mengikuti alunan lembut piano di samping kananku. Aku hampir lupa bahwa aku mencintai musik lebih dari aku mencintai lari atau olahraga lainnya. Dan aku bersyukur aku dapat menjadi bagian dari grup nyanyi mana pun: JPCC Choir, Cantate Domino, atau yang lainnya. Pertemuanku dengan Tuhan adalah melalui musik dan nyanyian.

3. Seorang calon pendeta muda berdiri dari barisan kursi paling depan. Dengan mic headset yang melekat pada sisi sebelah kanan wajahnya, dia mulai berdialog. “Setiap Natal aku selalu merayakannya dengan baju baru, kue-kue lezat, hiasan Natal yang indah. Begitu manis rasanya di hati. Tapi mengapa rasanya ada yang¬†kurang?”.¬†Seorang pendeta yang lebih senior menghampirinya, dan menepuk bahunya: “Bro, Natal bukan hanya sekedar kemewahan seperti yang kau jabarkan”. Melalui dua pendeta yang berdialog pesan Natal disampaikan. Sederhana saja. Bahwa Tuhan hadir di tempat yang begitu sederhana, tapi yang teristimewa adalah¬†bahwa¬†Tuhan hadir di dalam hati kita. Dia rela menjadikan diriNya begitu sederhana, supaya kita menjadi kaya di dalam Dia: kaya akan perasaan damai, kaya akan perasaan sukacita, kaya akan sebuah harapan, kaya akan perasaan kasih kita terhadap orang-orang sekeliling kita.

Berbicara mengenai damai, dan sukacita. Sudah berapa tahun ya aku tidak merasakan kedamaian dan sukacita di hari Natal. Tapi mengingat begitu banyak berkat dan perubahan dalam hidupku setahun kebelakang, aku begitu bersyukur di tahun 2016 ini akhirnya aku¬†terlahir kembali menjadi pribadi yang baru – bersambung di tulisanku menjelang tahun baru ya? ūüôā . Perayaan kelahiran Tuhan di tahun ini¬†adalah wujud bahwa¬†aku telah lahir kembali: the peace, the joy, the hope, the love.

Walau aku terbentuk dari begitu banyaknya pikiran-pikiran yang seringkali memaksaku untuk jatuh dan berduka, tapi kehadiran Tuhan lebih nyata dari semua masalah yang aku hadapi, yang kamu hadapi, Readers..

1:30am, I went back home, driving by myself and thinking: just simple thoughts when I was on stage that night. But so much peace I received, so much joy I felt¬†ūüôā

Merry Christmas, everyone.. May this Christmas brings you peace and joy just as I experienced..

PS: picture of moments during stage trial

fullsizerender-1

And with the ladies ūüėÄ

img_9883