.berdampingan

Ada sebuah alasan mengapa ada ruang sunyi di antara aku dan dirinya ketika kita berjalan di keramaian kota Jakarta sore hari itu. Disinari cahaya matahari yang hendak mengucapkan salam perpisahan, aku dan dirinya berjalan berdampingan melalui sibuknya kendaraan-kendaran di sisi kiri kami mengungkapkan ketidaksabaran mereka melalui bisingnya bunyi klakson yang dibumbui oleh amarah. Tidak ada lagi kata canggung mewarnai hubungan kami. Kami hanya perlu menjalani langkah kami hingga kami tiba di tujuan kami, hingga kami berpisah.

Namun perpisahan itu selalu menjadi perpisahan yang sesungguhnya. Waktu yang aku miliki dengannya selalu hanya terpaut pada satu hari itu saja.

Mungkin aku sendiri adalah seseorang yang terlalu memikirkan hal-hal kecil yang seharusnya tidak perlu kupikirkan. Jika aku hendak bertemu dengannya, pikiranku akan selalu dikuasai oleh seberapa banyak kami akan menghabiskan waktu bersama, atau seberapa lama kami akan ada dalam satu ruang napas. Aku selalu mencari cara agar kami tidak pernah dikunjungi ruang bisu. Karena untukku, kebisuan berarti aku dan siapa pun lawan bicaraku tidak cocok untuk menghabiskan waktu bersama.

Tapi masalahnya adalah justru melalui kesunyian itulah seseorang benar-benar dapat merasakan kehadiran seseorang lainnya. Melalui kesunyian kita lebih dapat menghargai kehadiran seseorang. Keberadaan seseorang pun merupakan bentuk dan kasih sayang yang tidak dapat diungkapkan oleh kata-kata. Waktu yang menjadi saksi bahwa dia ingin bersama denganku daripada dengan seseorang yang lain.

Seperti yang pernah dirinya-yang-telah-berlalu katakan kepadaku: “aku tidak perlu topik pembicaraan, berada bersama denganmu dalam ruang sunyi pun sudah cukup bagiku”. Dan aku mengerti arti semua itu sekarang, bahwa duduk berhadapan dan tenggelam dalam dunia masing-masing, asalkan aku tahu bahwa ada dirinya di hadapanku, seharusnya itu sudah lebih dari cukup.

Dan hubungan yang telah dirajut oleh sekian banyak pengalaman naik gunung, turun ke lembah, berenang pada laut dengan batas tak terhingga, berlari menembus teriknya matahari dan badai hujan, semua itu hanya akan membawa aku dan dirinya ke sebuah titik bahwa aku dan dirinya seolah diciptakan untuk bersama.

Aku heran dengan diriku sendiri ketika aku berjalan dengannya, yang berusaha menyamakan langkahnya yang lebar dengan langkahku yang kecil, heran karena aku tidak lagi kebingungan oleh canggung ketika tidak ada satu pun kata yang keluar dari kedua mulut kami untuk membicarakan sesuatu. Aku hanya tahu sore hari itu aku menikmati perjalanan kami.

Seperti inikah seharusnya perjalanan cinta yang sesungguhnya? Bahwa pada akhirnya sebuah hubungan akan bermuara pada cara masing-masing individu saling menikmati kehadiran satu sama lain. Entahlah, sudah lama sekali nampaknya aku tidak berada pada ruang seperti demikian. Aku sudah lupa.

Tapi yang aku tahu itu indah.

“Karena aku sudah menemukan kedamaianku”

Jakarta turun hujan lagi malam ini. Apakah aku sedang merindukanmu? Karena masa-masa aku mencintaimu adalah ketika hujan turun untuk menyampaikan kerinduanku kepadamu. Tetapi ketahuilah, bahwa aku sudah menemukan kedamaianku.

Aku pun heran ketika pikiranku tiba-tiba tidak lagi diisi dengan sosoknya ketika aku sedang berkelana di kantorr. Atau di gym. Atau di kantin. Ruang-ruang yang dulu pernah kami isi untuk menghabiskan waktu bersama. Seperti yang malam itu Tuhan katakan kepadaku, bahwa pertemuan super-intensif sepanjang dua minggu bertujuan untukNya “mengenyangkan” kerinduan yang pernah aku sampaikan kepada Tuhan. Sebuah penutup, dengan caraNya meyakinkanku bahwa aku dan dirinya adalah kemustahilan, bukan kemungkinan. Aku tidak lagi bertemu dengannya. Perlahan memori mengenai keberadaannya hilang, disapu angin waktu.

Karena aku sudah menerima dirinya yang telah menjadi bagian dari diriku yang akan kubawa sampai akhir hidupku, walaupun kisah tentangnya akan perlahan terlupakan. Melekat dalam batinku, sudah cukup, tanpa aku harus memandang bayang-bayang dirinya lagi.

Namun hari ini aku bertemu lagi dengan dirinya. Maksudku “bertemu” bukan mengenai bertatap muka dengan muka, atau bertukar pandang. Kehadirannya yang aku ketahui ada di sekitarku: melihat namanya tertulis dalam sebuah lembaran daftar hadir dan memandang pantulan sosoknya dari balik kaca yang membalut seluruh ruang gym.

“Dia lagi”, ujarku kepada sahabat-sahabatku. Mungkin mereka heran mengapa aku harus mempermasalahkan jika kami bertemu.

“Kenalan lagi donk: hai kayak pernah liat di kantor, kamu satu kantor sama aku ya?”, aku tidak dapat menahan tawaku ketika membaca salah satu dari ketiga sahabatku menuliskan pesan melalui WhatsApp group kami. Epic.

Tapi duduk permasalahannya bukan mengenai ada atau tidak ada dia disekitarku. Mungkin kemarin jika aku bertemu dengannya, aku akan dikuasai oleh perasaan sedih yang tak terungkap oleh karena kami sudah menjadi dua orang asing. Namun sekarang aku dapat katakan bahwa pertemuanku dengannya hanya akan membawa hawa canggung yang tidak sanggup aku hadapi. “Bagaimana aku harus bersikap kepadanya?”, tanyaku dalam hati jika ada satu kemungkinan untuk disempatkan berpapasan dengannya.

Aku bertanya kepada langit malam yang memantulkan cahaya merah entah darimana, jika aku sedang merindukannya sehingga haruskah hujan turun malam ini ketika sudah sekian lama Jakarta tidak turun hujan? Tetapi aku memang sudah tidak lagi merindukan dirinya. Bahkan ketika aku sedang berlari seraya bertanya apakah aku dan dia akan berpapasan lagi hari ini dari atas ban berjalan di gym, aku mendengar Tuhan bertanya kepadaku jika aku ingin bertemu dengannya. Dengan yakin aku menjawab: tidak. Karena aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepadanya jika kami harus berpapasan sebegitu dekatnya, dan hanya ada kami berdua di dalam ruangan tersebut. Aku memilih untuk melepaskannya dengan tidak bertemu dengannya kembali.

Mungkin hujan yang mengguyur kota Jakarta malam ini adalah cara alam, cara Tuhan menyampaikan pesan, bahwa hujan bukan lagi caraku bersembunyi dari dunia ketika aku sedang menangisinya, hujan yang pernah menyamarkan tangisku yang membelai kedua sisi pipiku.

Karena aku tidak lagi menangisi kehampaan dirinya.

Aku sudah menemukan kedamaianku ūüôā

 

Proper goodbye

Ada alasan yang tepat mengapa pada malam itu Tuhan berbicara langsung dalam hatiku. Karena untuk sekian hari aku bertanya-tanya jika aku akan bertemu denganmu kembali setelah pertemuan tiada henti selama dua minggu terakhir.

Tentang mengapa aku harus terus-terusan bertemu denganmu.

Sesuatu dalam hatiku berbicara bahwa sudah waktunya aku mengucapkan selamat tinggal kepadamu. Selamanya. Menutup buku akan pengetahuan hatiku terhadap dirimu.

Aku percaya itu Tuhan yang berbicara.

Tapi ingatlah selalu, sayangku, bahwa kamu adalah bagian dari diriku. Bahkan mungkin, masih menjadi bagian dari diriku hingga waktu menghembus ingatanku akan dirimu. Dan aku hanya perlu menerima diriku yang mengasihimu sedemikian rupanya.

Mengasihimu yang tidak akan pernah kumiliki kembali.

Senin malam. Aku menghadiri latihan rutin Choir di sudut kota Jakarta bagian barat. Awalnya aku hadir dengan keceriaan. Namun berakhir dengan tangis tak henti yang mengalir di kedua pipiku. Seorang teman Choir memergoki aku yang terus tertunduk menatap lantai seraya bernyanyi. Karena tangis yang turun dan menetes ke lantai dingin ruangan latihan itu, tidak dapat kukendalikan.

Matanya terbelak kejut, “Irene, kamu kenapa?”. Aku? Kenapa? Aku tidak tahu. Aku hanya tahu aku menangis begitu kencangnya. Aku hanya tahu aku merasakan kesedihan yang sangat besar. Dan aku tahu detik itu, bahwa Tuhan sedang duduk di dalam ruang hatiku, berhadapan muka dengan muka dengan sosokku, berbicara denganku, membukakan satu demi satu fakta hati yang tak terungkap, atau bahkan mungkin yang aku sudah lama sangkal.

Aku tahu Tuhan sedang menutup pintu yang pernah terbuka untukku mencintainya. Dan itu menyakitkan. Aku mengerti sekarang mengapa banyak orang mengusikku ketika aku harus melepaskan seseorang yang kucintai. Karena hal yang paling sulit mengenai melepaskanmu adalah menyadari bahwa kenangan-kenangan indah dan manis yang pernah kita rangkai bersama akan terlupakan seiring berjalannya waktu.

Bahkan ketika aku meyakinkan diriku sendiri bahwa tidak apa-apa jika aku tidak melupakan. Tapi aku tahu bahwa waktu akan menghapus segala yang pernah kumiliki bersama dengannya. Dan itu terlalu indah untuk dilupakan. Karena sudah pasti aku tidak akan merasakan perasaan yang sama.

Tentu saja aku tidak akan merasakan perasaan yang sama seperti yang pernah aku rasakan terhadapnya. Karena kemungkinannya hanya 1: merasakan perasaan yang lebih indah dari yang sebelumnya. Itulah keajaiban cinta.

Maka dari itu aku harus melepaskanmu. Selamanya. Untuk mendapatkan perasaan yang lebih indah lagi dari yang pernah aku rasakan terhadap dirimu.

Jadi.. Tidak. Aku tidak akan bertemu dengannya lagi. Atau kebetulan bertemu dengannya lagi. Dan kita akan kembali ke titik awal ketika semuanya belum dimulai: aku yang tidak pernah mengingat dirimu, dan kamu yang tidak pernah mempedulikan aku. Tuhan sudah mengenyangkan aku dengan pertemuanku denganmu. Aku pernah merasa begitu kosongnya karena aku begitu merindukanmu. Tuhan terlalu sayang kepadaku sehingga Dia berikan kepadaku kesempatan untuk menutup segala yang masih tersisa tentangmu, termasuk caraku yang terlalu merindukanmu.

Selamat tinggal. Aku tidak akan lagi merindukanmu. Karena malam penuh tangis itu, Tuhan berbicara seraya mengusap kepalaku: “lepaskanlah anakKu, sayang. Karena hatimu terlalu berharga untuk merindukan seseorang yang bukan untukmu”.

Falling in love

Aku terduduk dibawah angin dingin yang sempat menyatukan nafasku dengan nafasmu pada suatu siang ketika matahari sedang sama-sama tersenyum bersama dengan kita. Aku dan dirimu pernah berbagi kebahagiaan yang sama. Dan jika salah satu dari kita menangis, alam pun berkonspirasi dan ikut berduka.

Seorang sahabat yang sudah lama tidak aku temui menghampiriku dan bertanya kepadaku jika aku telah melupakanmu. Tapi aku tahu bahwa aku tidak akan pernah melupakanmu. Aku bahkan mempertanyakan kepada diriku sendiri, mengapa aku harus mencintaimu? Bahkan sesingkat ini…

Tapi aku pernah mencintaimu sekali saja, dan terakhir.

Jika dunia berkata untuk mencari seseorang pengganti hanya untuk melupakanmu, aku memilih untuk bersikap adil terhadap hatiku. Jika hati ini masih menaruh kasih terhadap dirimu, pantaskah aku menggoresnya dengan memaksakannya melupakanmu? Karena cinta itu bukan mengenai seberapa jauh aku harus melupakanmu, bukan seberapa jauh aku harus melupakan rasa yang pernah ada untuk dirimu. Cinta itu mengenai seberapa jauh aku menerima jika kau memang bukan untukku, aku merelakan kebahagiaanmu untuk yang lain.

Semalam aku menyempatkan diriku untuk merenung seorang diri, mencari cinta di tengah kegelapan malam, berkelana ke suatu tempat yang belum pernah aku kunjungi. Aku bertanya kepada Tuhan jika cinta memang selayak itu untuk ditemukan, dan jika sudah ditemukan pantaskah untuk kuperjuangkan dengan segenap hidupku?

Aku menyadari bahwa aku mudah untuk mencintai. Karena aku selalu jatuh cinta dengan hal-hal kecil dan sederhana yang kau ciptakan untuk duniaku. Karena bukan hanya aku akan mencintaimu dengan kesederhanaanmu, melainkan mencintaimu dengan kerumitanmu. Seharusnya kau tidak perlu takut akan ruangku yang begitu luas untuk mencintaimu.

Aku menemukan sudut manis yang mulai meredup. Dengan segera aku tahu bahwa itu cinta yang harus segera kuselamatkan.¬†Memberanikan diriku untuk memasuki ruang mungilnya, namun memberi aroma tersendiri yang sangat kuat. Pintu yang menyambutku membunyikan sebuah bel mungil yang tergaung indah di sudut pendengaranku. Aku disapanya ramah: “Hello, welcome!”.

Aku tersenyum kepada dua sosok penjaga gagah dengan topi koboinya yang mempesona. “Hai :)”, sapaku.

Aku tidak hanya jatuh cinta kembali kepada aroma yang selalu mengingatkanku terhadap cinta yang pernah mempertemukan kita untuk pertama kalinya kisahku denganmu dimulai, tapi aku jatuh cinta kembali kepada malam itu, malam dimana pertama kali hanya ada aku dan hatiku, memutuskan untuk mencintaimu.

Walaupun keberadaanku hari ini hanya untuk memeluk puing yang tersisa, tapi aku kini sadar, bahwa tidak ada cinta yang akan berakhir sia-sia.

 

 

granted (hidden) wish

I met you again this afternoon.

Ada banyak hari ketika aku bertanya kepada Tuhan: “Mengapa aku sering dipertemukan dengannya tanpa sengaja ketika kami saling memiliki, namun kini tidak lagi aku dipertemukan dengannya walaupun aku bertaruh dengan waktu untuk menanti satu pertemuan denganmu di suatu tempat?”.

Aku tahu saat itu adalah ketika aku sedang merindukanmu. Aku begitu merindukanmu sehingga setiap hari aku berseru kepada Tuhan: “Aku ingin bertemu dengannya”.

Tetapi aku tidak tahu bagaimana aku harus menyikapi diriku ketika aku bertemu denganmu.

Dua hari yang lalu aku memandangmu dari kejauhan. Lima meter dari tempat kamu terduduk membelakangiku, aku menghentikan langkahku dan mengambil nafas panjang. Aku tidak dapat mengingkari jantungku yang hendak melompat dari sangkarnya karena kita bertemu, walaupun kita tidak benar-benar saling bertatapan. Aku melewati hadapanmu tanpa menoleh menyapa atau memberi salam kepadamu.

Karena aku tidak tahu bagaimana aku harus menyikapi diriku ketika aku bertemu denganmu, maka aku memilih untuk tidak bertatapan denganmu.

Walau sebenarnya aku sangat merindukanmu. Terutama pembicaraan kecil kita yang terkesan tidak berarti, namun memberikan kesan tersendiri bagiku.

Dan aku penasaran mengapa aku merindukanmu sedemikan rupa. Padahal aku telah melepasmu pergi.

Kemarin aku berpapasan denganmu, ketika aku benar-benar ingin seorang diri karena aku tidak dapat menguasai kerinduanku padamu, dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tidak dapat meraihmu lagi. Dirimu bersanding dengan diriku. Bertegur sapa melalui satu kata “hai”, tanpa mengucapkan kata-kata yang lain lagi.

Karena kita sudah menjadi dua orang asing kembali.

Aku hanya bisa menangis ketika berhadapan denganmu. Masih terasa menyakitkan, terutama ketika menyadari bahwa kita bukan lagi dua orang yang sama.

Mungkin pedihku ini karena sebenarnya aku (pernah) mencintaimu (atau masih).

Dan hari ini aku bertemu denganmu. Sekian kali kita bertukar pandang, tapi tidak satu pun senyum kita saling lemparkan terhadap masing-masing.

Dan ketika kamu tidak melihatku, diam-diam aku mencuri pandang terhadap sosokmu yang terduduk dengan dua sahabatmu di sisi kiri meja tempat aku tergabung dengan teman-temanku.

Tetapi kenapa tidak lagi sesakit kemarin? Kenapa tidak lagi aku menangis?

Mungkin aku sudah cukup menangis.

Bahkan ketika aku memandangmu dari kejauhan, tidak lagi aku merasakan kepedihan yang sama.

Aku hanya bisa tersenyum kecil dari kejauhan ketika aku menunduk setelah menatapmu: “Aku tahu dia baik-baik saja, dan itu cukup bagiku”.

Maybe this is what everybody calls “love”.

Mungkin Tuhan sebenarnya terlalu sayang denganku sehingga tidak rela Dia melihatku bersedih karena terlalu merindukan sosokmu. Maka diberikanNya kesempatan untuk aku berpapasan denganmu.

“This is what you wanted. This is what I can give”, said God, “Even though I hurt seeing you hurt”.

I knew He loves me too much :’)

 

“I grow”

Sudah beberapa minggu terakhir aku dibebani pikiran akan sebuah pertanyaan yang mengusik hatiku, dan tentu saja kondisi emosionalku diguncangnya. Menyadari bahwa seringkali suasana hati dipengaruhi oleh apa yang otak kita pikirkan, aku tahu bahwa aku seharusnya mempunyai kontrol yang lebih kuat terhadap pikiran kita: tidak perlu memikirkan yang tidak perlu kita pikirkan. But how to eliminate those unnecessary thoughts?

Setelah¬†bukuku selesai, walau belum benar-benar final karena¬†masih banyak yang harus aku benahi – tapi setidaknya sudah selesai – seolah memori dan perasaan kasih yang pernah aku rasakan tersebut pun ikut menguap bersamaan dengan jam-jam yang aku habiskan untuk duduk di depan laptop dan menulis perasaanku ke dalam 90 halaman “version 1” of my own book. Aku tahu aku harus kembali mengunjungi draft tersebut, tetapi rasanya berat sekali karena it was painful. Aku takut mengunjungi draft bukuku dan kembali mengingat (atau teringat lebih tepatnya) bahwa aku pernah menaruh harapan pada cinta yang semu. Cinta yang belum benar-benar berevolusi menjadi cinta, namun sudah pada jalan yang tepat untuk mencintai. Aku takut dengan membaca kembali (or we, writers, called it “proofreading”) aku diingatkan akan diriku yang lemah dan rapuh.

Aku takut, dan aku butuh seseorang. Tapi apakah akan ada seseorang yang mengerti bahwa¬†seluruh perasaanku terletak pada apa yang aku tulis? Akankah¬†dunia mengerti bahwa jika aku menulis, aku men-“transfer” kegundahanku pada wadah putih¬†polos ini melalui goresan-goresan hitam? Ataukah malah mereka semua akan berpikir: Irene adalah pribadi yang¬†baper-an?

To be honest, aku tidak suka jika aku sedang menelaah emosiku, mencoba mengertinya, then someone would appear and tell me: “Ih, Irene orangnya baper-an”. Hello, world. It’s not about being baper. It’s about feeling.

Kemudian aku melirik ke sekelilingku, mencari orang yang tepat untuk aku mengutarakan hal paling dalam yang ada di hatiku hanya untuk mendapati bahwa ternyata sahabat-sahabatku yang dulu aku kira mengerti, tidak semengerti itu lagi.

Bahkan tidak ada lagi dukungan yang dulu pernah aku dapatkan¬†regarding “another part of me”.

Lalu aku melemparkan sebuah pertanyaan dalam benakku: “Why the change?”.

Aku kira salah satu di antara kami, atau kedua belah pihak di antara kami, melupakan. Aku kira ada kesalahan yang tidak dapat di tolerir sehingga ada hubungan yang harus diretakkan oleh sebuah konflik, atau perasaan yang tersakiti sehingga masing-masing dari kami harus saling membangun jembatan.

Dan aku kembali merasakan kesepian lagi.

Masalah mengenai kesepian ini memang sudah sering (dan lama) aku rasakan. Again, bukan mengenai berapa teman atau sahabat yang aku kenal atau aku miliki (because I have A LOT, literally, A LOT), melainkan seberapa banyak orang yang mengerti why I feel what I feel. Not many. Or just one perhaps?

Tapi aku melihat duduk permasalahannya bukan mengenai siapa aku dan siapa mereka. But the big picture lies within myself. That I grow. Ada beberapa orang dalam hidup, yang dulunya kita dekat dan dapat membahas topik yang serupa mengenai hidup, berbulan-bulan atau bertahun-tahun kemudian pembicaraan yang serupa tidak lagi relevan dalam pembangunan hidupku secara pribadi. Aku mempertanyakan hal tersebut: Is it me? Or is it them?

Maka dari itu ada pepatah yang berkata: “People come and go”,¬†karena bagian mereka dalam pembangunan hidup kita detik ini sudah selesai. Dan pada suatu titik kita sudah bertumbuh, kehadiran mereka sudah tidak relevan lagi. Memang, ada beberapa yang akan selalu menjadi sahabat kita selamanya dalam banyak wadah, tidak peduli kita ada dalam musim apa pun detik itu. Tapi aku berpikir bahwa orang-orang semacam inilah yang seharusnya kita rangkul dan tidak lepaskan.

A bestfriend came to me when I asked for his opinion mengenai “friendship”. He opened my eyes that I had so many talents to be developed which requires me to jump from one pond to another pond. “Komunitas dan pertemanan dalam komunitas itu bagaikan kolam. Yang dimana jika kita masuk ke dalam satu kolam, di situlah kita dibentuk. Since you have many talents that you are passionate about, you need more than one. If you’ve ever felt that your social live is not relevant anymore to your growth, it is okay to move to the new pond, because you grow. But don’t leave your former or current pond, maintain it”, dia dan kata-kata bijaknya. No wonder¬†aku tiba¬†di satu titik dimana kesepian kembali menyerangku, seolah tidak ada orang yang mengerti aku no matter how hard I try to explain them.

Ah, that is another thing I learned. Jika kamu sudah menemukan dirimu dimana kamu harus menjelaskan sesuatu kepada seseorang hanya untuk memohon pengertiannya, that is the sign that you are growing and you need a new pond to be fulfilled. Stop explaining something that does not need to be explained about.

Dan jika aku mengalami sedih yang tidak jelas, is it okay to take some time to recover, and be surrounded by silence so you will be able to see and listen clearly on what God wants to lead your life to.

“I am pieces of quotes from my favorite books, stitched together by song lyrics, and glued together by midnight conversations, and the sweet taste of coffee, and I have this tendency to fall apart suddenly, and I need you to be okay with this because I am created by the souls who are brave enough to gather my tattered pieces and put me together” –¬†semalam aku menulis ini pada postingan account Instagramku. Aku dibentuk oleh mereka-mereka yang berani berhadapan dengan “keunikan” ku (complexity in a weird way – aku tidak menyebutnya “aneh”, walaupun mungkin “aneh” merupakan kata-kata yang tepat).

Tidak heran pada malam di beberapa minggu lalu Tuhan berbicara kepadaku ketika aku bertanya mengapa Tuhan mengambil orang-orang yang aku pilih untuk aku cintai, Dia menjawab: I want you to be the best of you. Semua perjalanan yang pernah aku lewati hanya akan membawaku kepada orang-orang yang tepat. Jika mereka harus pergi, itu karena Tuhan terlalu sayang kepadaku untuk membiarkan aku terlibat dengan orang-orang yang kurang (bukan tidak) tepat untuk menjadi sebagaimana Tuhan telah rencanakan aku di akhir perjalanan nanti akan menjadi seperti apa.

Pertanyaannya sekarang: “Tuhan mau aku jadi apa?”. But I guess we should not be worried about that now, right? Hanya bisa diketahui jika kita telah tiba di titik itu.

Karena pada akhirnya akan selalu indah daripada permulaannya – Pengkhotbah 7:8

Aku (seharusnya) bersyukur, rasa kehilangan ini karena aku bertumbuh, bukan karena ada kesalahan.

di dalam keteduhan

Belum lama saja, aku keluar dari “gua”ku dan kembali berbaur dengan dunia.

Oke. Dunia membutuhkan beberapa penjelasan. Atau bahkan sama sekali tidak. Tapi ada beberapa yang mungkin penasaran dan bertanya-tanya kepada orang yang kurang¬†tepat (maksudku, selain¬†diriku sendiri). Dan tentu saja aku ingin berbagi dengan dunia mengenai apa yang aku alami, apa yang aku dapatkan dari “menarik diri” dengan lingkungan sekitarku.

Aku diberikan kesempatan untuk bertemu dan menjalin sebuah masa pengenalan dengan seorang pria, yang kemudian hanya berlangsung secara singkat hanya untuk mendapati diriku yang harus melepaskannya. Semuanya memang berjalan terlalu cepat, ada visi serupa yang kami pandang dan pertimbangan demi pertimbangan mengenai beberapa perbedaan yang kami miliki sudah kami diskusikan dan cari jalan tengahnya, dan kami tahu kemana kami ingin membawa arah hubungan ini.

Dalam masa penantianku¬†menyambut tahun 2017, di penghujung tahun 2016, ketika semua orang sibuk mencari¬†daftar resolusi mereka tetapi tidak denganku, aku bertanya kepada Tuhan: “apa yang Tuhan mau aku lakukan di tahun 2017”. Aku berhenti sibuk menyusun¬†daftar resolusiku, karena aku ingin 2017-ku di isi oleh rencana Tuhan, dan bukan harapan-harapanku yang semu. Suatu malam Tuhan berkata kepadaku untuk mengurangi gilanya aku berolahraga dan mengikuti berbagai macam pertandingan olahraga yang tidak mempunyai tujuan. Atau lebih tepatnya: mengikuti¬†pertandingan olahraga hanya untuk mendapatkan pengakuan dan pencapaian, hanya untuk ikut-ikutan meramaikan acara dengan teman-teman. Tuhan taruh di dalam hatiku bahwa “olahraga” bukan panggilan hidupku. Lalu¬†Tuhan berkata kepadaku untuk mempersiapkan¬†diriku dalam menyisihkan sebagian waktuku untuk sesuatu yang Tuhan tidak saat itu juga Dia¬†buka kepadaku. Tuhan letakkan¬†hal tersebut di hatiku, untuk melakukan pengorbanan¬†dalam waktu. Tuhan penuh¬†misteri, maka dari itu Dia-lah¬†seorang Pribadi yang layak kita tunduk kepadaNya.

Dalam masa ketika aku hendak mencari tahu apa yang Tuhan maksud mengenai menyisihkan sebagian waktuku untuk sesuatu yang lain selain mencari pencapaian dalam olahraga, aku bertemu dengannya. Aku mengambil kesimpulan, mungkin Tuhan ingin waktuku kuberikan untuk membangun hubungan masa depan dengan seseorang. Memiliki pasangan tentu saja merupakan sebuah pengorbanan besar. Banyak waktu yang harus dikuras, tenaga fisik dan emosional, ego, dan masih banyak lagi pengorbanan demi pengorbanan yang harus dilakukan untuk menyamakan langkah kita. Jadi aku mentitikberatkan setengah waktuku untuk mengenalnya, seraya aku pun tak hentinya bertanya kepada Tuhan jika memang pertemuan kami adalah maksud Tuhan ketika Dia berkata kepadaku malam itu.

Aku menemukan fakta bahwa kami berbeda keyakinan. Namun menemukan titik tengah ketika kami berbincang untuk membawa hubungan ini menjadi sebuah hubungan yang lebih serius untuk mencapai masa depan bersama, bahwa dirinya yang mengerti prinsip utama keyakinanku bahwa aku tidak akan pernah berpaling dari Tuhan, dan aku akan tetap memegang keyakinanku, dan aku yang mendambakan pernikahan yang diberkati di gereja. Dengan penuh keyakinan dia berkata bahwa dia tidak mempunyai masalah mengenai perubahan keyakinan yang akan terjadi dalam hidupnya jika di depan nanti hubungan kami bermuara pada pernikahan. The point is: he is very open to convert to mine.

Kemudian kami memutuskan untuk berkomitmen berjalan bersama-sama, memandang satu titik di masa depan, sambil perlahan kami saling mengenal satu sama lain. Hari itu aku melihat diriku yang membuka ruang toleransi lebih besar lagi, menjelajah dunia yang tidak pernah aku tapaki sebelumnya: perbedaan keyakinan dan perbedaan dunia kami.

Tapi bukan itu yang Tuhan ingin aku jalani. Tuhan yang memberikan, Tuhan juga yang mengambil. Kami harus berpisah di persimpangan oleh karena kami tidak berada pada satu visi yang sama lagi. Satu minggu sebelum kami memutuskan untuk menyudahi segalanya, aku menyendiri dan menarik dari dunia luar dengan keluar dari 90% WhatsApp grup dimana aku bergabung dan tidak berkumpul dengan teman-temanku. Aku benar-benar menyendiri. Dan semua orang terheran-heran mengapa aku harus melakukan hal tersebut.

Aku sempat mempertanyakan perbuatanku sendiri. Tapi aku tahu, itu kebutuhanku. So I kept going without worrying what others might say. Aku butuh waktu untuk diriku sendiri. Bukan untuk mengasihani diriku sendiri dan tenggelam dalam stress, melainkan untuk berpikir. Mengembalikan semua pertanyaan kepada Tuhan guna mencari maksud.

Dan disanalah ketika Tuhan hadir dalam kesepianku, dalam kesunyianku. Aku tidak pernah merasakan Dia begitu dekat sebelum hari-hari itu. Konfirmasi demi konfirmasi, jawaban demi jawaban, pencerahan demi pencerahan, aku mendapatkannya ketika aku meminta semuanya kepada Tuhan. Sedekat ini Dia, tahu setiap sudut pikiran dan perasaan kita.

2017 gerejaku, JPCC, mengambil tema taunan “Alive” – hidup yang lebih hidup, bukan hanya sekedar hidup untuk bernafas saja. Hidup untuk menjadi arti. Dan salah satu sub-tema bulanan Maret-April adalah “hidup dipimpin Roh Kudus”, yang dari dulu aku¬†mempunyai sudut pandang abstrak mengenai hidup dipimpin Roh Kudus itu bagaimana caranya atau rasanya. Aku tidak pernah menyangka bahwa sub-tema tersebut akan begitu berarti dalam aku memproses maksud dari fase patah hatiku ini. Dan tema besar yang¬†diluncurkan pun seolah memberi gambaran besar akan maksud Tuhan dalam hidupku di tahun 2017 ini.

Hening. Roh Kudus bekerja dalam keheningan, merupakan inti sari dari sub-tema tersebut.¬†Ketika kita menyingkirkan semua suara yang dapat mengalihkan kita dari mendengarkan maksud Tuhan bahwa sesuatu yang Dia ijinkan terjadi¬†dan terlihat begitu pedih ini, adalah salah satu bagian dari rencana besar¬†yang baik di depan.¬†“The lesser the noise, the clearer the Voice”. Untuk aku, WhatsApp group merupakan “noise”-ku. Jadi dengan berat hati aku melepaskannya, untuk¬†memberi keputusan apakah hubungan tersebut harus berakhir, atau¬†harus aku perjuangkan kembali. Aku yang harus berjuang. Aku. Bukan dia. Maka dari itu aku putuskan untuk aku lepaskan, sebesar apa pun hatiku ingin berjuang untuknya.

Lalu aku terus mencari jawaban kepada Tuhan, hingga tiga minggu selanjutnya. Aku masih dalam kesendirian, dalam keheningan. Perlahan Tuhan bukakan pengertian demi pengertian.

Learn to let go. Aku belajar untuk tidak lagi memegang kendali di tanganku, aku belajar untuk melepaskan kendali kepada Tuhan. Jika Tuhan ingin aku bersamanya, Tuhan yang akan satukan kami, dan hubungan kami akan berlandaskan oleh kebahagiaan dan kedamaian, bukannya kesulitan demi kesulitan yang perlahan dibukakan. Aku terlahir¬†sebagai anak tunggal dari latar belakang kedua orang tua yang telah berpisah sejak kecil. Keberadaanku tersebut menjadi reaksi otomatisku ketika aku sudah menginginkan sesuatu atau mencintai sesuatu, aku genggam erat dan akan terus berjuang untuk mempertahankannya. Tapi berjalan dipimpin Tuhan bukan seperti itu caranya. Tuhan mau kita percaya bahwa jika Dia mengambil sesuatu dalam hidup kita sebesar apa pun kita mencintainya,¬†He has a better idea in His mind. Hanya waktu yang dapat membukakan ide Tuhan. Kita hanya perlu bersabar, dan percaya bahwa Dia akan menepati janjiNya sesuai dengan apa yang Dia sudah taruh dalam hati kita. Tuhan menaruh satu hal dalam hatiku: memiliki keluarga harmonis yang tidak pernah aku miliki. Maka dari itu, Tuhan ingin aku mendapatkan yang terbaik, bukan hanya sekedar¬†yang menurut aku yang terbaik. Karena manusia sering dibiaskan antara “kemauan” dan bukan “kebutuhan”.

The calling. Pernikahan dengan perbedaan keyakinan bukan merupakan panggilan hidupku. Sahabatku membukakan wawasanku mengenai¬†pernikahan dengan dua keyakinan yang¬†berbeda. Ada yang¬†hidup bahagia, dan ada juga yang berjuang hingga titik darah penghabisan untuk mempertahankannya. Dan kita tidak bisa untuk menghakimi siapa benar atau siapa salah, karena menikah dengan dua keyakinan yang berbeda merupakan sebuah panggilan hidup. Kita tidak bisa menikah dengan dasar harapan bahwa pasangan kita akan pindah ke keyakinan kita suatu hari nanti. Aku tidak bisa menikah dengannya dengan dasar harapan bahwa¬†walaupun dia akan¬†pindah ke keyakinanku jika kita masuk dalam pernikahan, tetapi isi hati hanya Tuhan¬†yang dapat rubahkan. Tentu saja aku mendambakan seorang pendamping hidup yang dapat menjadikanku seseorang dengan pribadi yang lebih baik di dalam Tuhan. If it is your calling to go for an interfaith marriage, then you can survive the whole journey. If it is not, don’t ever go to touch the surface.¬†Karena pernikahan merupakan gerbang penentu akan sebahagia atau setidak-bahagia apa kehidupanmu puluhan tahun ke depan – it is not only have an impact on who you are as an individual, but also who you are as a whole (career, potency, friendship, and many other things).

The strong one. Aku sangat memahami bahwa pernikahan tidaklah mudah, karena pria dan wanita merupakan dua pribadi yang berbeda. Apakah aku ingin menambahnya dengan¬†perbedaan prinsip? Tidak ada yang salah dari agama manapun, tetapi masalah akan timbul ketika¬†masing-masing memegang erat kepercayaan satu sama lain yang pada akhirnya menimbulkan perpecahan. Terutama ketika hal itu merupakan prinsip dasar hidup. Terutama ketika hal itu merupakan kepercayaan seseorang dalam menghadapi sebuah masalah. Dan aku tidak ingin sendiri. Aku tahu bahwa dalam pernikahan dibutuhkan seorang pria yang dapat berada di “ruang perjuangan” yang sama dengan pasangannya. Karena ada banyak hal dalam hidup yang hanya bisa diisi oleh keberadaan kita di dalam¬†“ruang spiritual” yang sama. Jika¬†dia sanggup menghadapi peperangan rohani tersebut sendiri karena perbedaan keyakinan, tidak masalah. Tetapi Tuhan tahu kerinduanku untuk berada bersama di¬†“ruang spiritual” yang sama dengan pasanganku. Seseorang¬†dengan karakter yang kuat di dalam prinsip yang sama. God has a big-big-big plans for me regarding marriage-life, why settle for less?

Wishes. Suatu Minggu sore ketika aku baru saja menyelesaikan sepanjang pagi-siang tugas Choir-ku di bulan Maret untuk bernyanyi di gereja, aku menyaksikan beberapa teman sepelayananku satu per satu dihampiri oleh pasangannya dari bawah panggung. Tersirat dalam hatiku sekilas harapan: “jika dia mempunyai hati untuk berkunjung ke gereja dengan rutin setiap minggu, seperti aku, akan betapa menyenangkannya. Terutama ketika aku menyelesaikan tugasku dan dihampirinya aku dari bawah panggung” – karena ketika kita mengucapkan komitmen kami hari itu, harapan darinya untuk tidak memaksakan dia untuk ke gereja rutin setiap minggu.¬†Lubuk hatiku yang paling dalam sudah mengetahui, bahwa akan ada harapan-harapan kecil yang bertumpuk dan kemudian memiliki potensi untuk bertumbuh sebagai suatu kekecewaan ketika hatinya bukan untuk Tuhan.

A book. Mungkin sudah¬†sekitar tiga hingga lima tahun yang lalu ketika aku mulai¬†mendisiplinkan diriku untuk menulis, Tuhan¬†taruh di dalam hatiku untuk menulis sebuah buku. Aku tahu talentaku di menulis, because I always have a thing with words. Dan aku tahu bahwa passion-ku di menulis. Menulis, buku bertemakan apa saja, asal aku pakai talentaku dengan maksimal. Tapi aku tidak pernah mengambil kesempatan untuk berkomitmen menulis sebuah buku. Semua tulisan yang pernah aku tulis di komputerku (yang bukan di blog) aku tinggalkan berdebu. Tetapi tanpa aku sadari ketika aku bertemu dengannya, aku menuliskan semacam “buku harian” dari hari ke hari mengenai pembelajaranku dalam mengenalnya, dan apa yang aku rasakan hari itu. Dan ketika hubungan kami berakhir, aku tahu bahwa¬†buku harian tersebut dapat kurangkai menjadi sebuah buku. Sudah 13 hari aku menuliskannya untuk menjadi draft buku, dan sudah 17,000 kata aku tenun menjadi sebuah cerita. 50% progress yang aku jalani dalam waktu dua minggu. Pertemuanku dengannya mungkin saja dapat menjadi salah satu cara sebuah permulaanku untuk memulai karirku sebagai penulis, membangun sebuah komitmen untuk mengalokasikan waktuku untuk menulis. Tetapi terlebih lagi ketika melalui proses pembentukan buku ini, aku menemukan diriku yang perlahan bangkit, because writing is one of my healing process ūüôā

Me. Aku belajar mengenal “aku” lebih lagi. Aku ini sebenarnya merupakan rangkaian algoritma penuh logika. Tetapi ada masa dimana¬†ketika dunia menuntutku “to feel”, aku akan jatuh terjerembab dikuasai emosi:¬†excitement,¬†sorrow,¬†tension,¬†anxiety. Dan aku kebingungan untuk mengatasinya. Dan disanalah duniaku akan diisi oleh peperangan antara nalar dan emosi. Dengan menyendiri, aku belajar untuk mengatasi¬†duniaku, yang dimana aku selalu merasa takut untuk menghadapinya sendirian. Tetapi aku menemukan bahwa ternyata the more I am alone when I encounter the tides, the more I am able to calm my own. Because it is you alone who can control yourself. Dan sudah dua minggu dari berakhirnya hubunganku dengannya, dan tentu saja aku¬†yang merupakan pribadi penuh rasa, penuh emosi, pada malam-malam tertentu ketika aku sendiri dan dunia terlelap, aku masih menangis, dan ada nyeri di dada ketika aku teringat tentangnya. It is not him that I can’t forget. It is how he made me feels what I felt that hard to forget. Tapi aku belajar untuk menerima diriku yang¬†membutuhkan waktu ketika aku merasakan sesuatu. And that’s okay. Aku harus hadir di dunia bukan untuk menjadi seseorang dengan tuntutan lingkungan sekitar yang mengharapkanku untuk segera cepat beralih,¬†but as a survivor. Seperti yang ditulis dalam ayat favoritku – ada waktu untuk segala sesuatunya, waktu untuk berbahagia, dan bahkan waktu untuk menangis dan bersedih (Pengkotbah 3). Aku hanya perlu memeluk diriku erat, dan berkata: it’s alright if you are sad today, and¬†joyful tomorrow. And it’s alright if you feel sad again for the day after tomorrow, and feel the happiness for the next.¬†Because the most important thing in life is how you learn to accept yourself, and love yourself from there – because the greatest love of all is learning¬†to love yourself (Whitney Houston).

Hari ini aku bisa katakan kepada dunia yang membaca tulisanku ini, bahwa dalam fase patah hati yang aku lewati beberapa minggu terakhir dalam kesunyian menjadi suatu titik temu bahwa aku terlahir di dunia ini untuk suatu tujuan besar, dan Tuhan sebenarnya berusaha menyelamatkan aku dari suatu jalan yang sebenarnya Tuhan tidak ingin aku jalani. Aku percaya jika Tuhan ingin aku berada di jalan ini, Tuhan yang akan menaruh di hatinya keinginan untuk sama-sama berjuang. Di sisi lain Tuhan bukakan sisi lain dalam hidupku yang tertunda dari tahunan yang lalu. Aku tidak bermaksud untuk berkata bahwa dia tidak baik untukku. Dia baik untukku, dan aku pernah memutuskan untuk dapat menjalani hidup bersamanya, embrace his weaknesses, adore his strengths. Tetapi apa yang di anggap manusia baik, belum tentu Tuhan anggap baik. Dan mungkin Tuhan mempunyai sesuatu atau seseorang yang lebih sepadan untuk aku menjalani hidup bersama hingga maut memisahkan. Jika bukan dia untukku, aku harus percaya bahwa Tuhan sudah sediakan. Jika dia untukku, Tuhan yang akan bukakan kembali jalannya di depan nanti. Segala hal yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia, ada di tanganNya.

Dan ketika pada suatu hari aku mempertanyakan kembali kepada Tuhan mengapa Dia memberikan aku suatu pengalaman yang tidak mengenakkan, aku dapat menyimpulkan bahwa cerita ini, cerita aku, cerita kamu, cerita kalian, bukan cerita antara kita dengan seseorang. Tetapi cerita kita dengan Tuhan – it is a love story between me and God, a life journey between me and God. Yang ingin Tuhan bangun adalah hubungan kita denganNya melalui kejadian demi kejadian yang terjadi dalam hidup kita.

Pengalaman ini telah membukakan mataku sedemikian besar cinta Tuhan kepadaku, begitu pedulinya Dia kepadaku sehingga Dia sangat ingin aku to be my best in my life, termasuk menaruh orang-orang yang tepat di dalam hidupku guna mencapainya.

Ini cerita yang Tuhan tulis untuk buku kehidupanku, dan tentunya akan berbeda dari sudut pandang orang lain. Apa yang telah kutulis pada baris-baris sebelumnya merupakan kesimpulan yang aku dapat ketika aku melihat kejadian tersebut dari kacamata Tuhan. Mungkin jika kita melihat dari kacamata manusia, ada banyak hal-hal yang kita bela untuk membenarkan diri kita sendiri, dan berakhir terpuruk. Tapi aku berusaha untuk melihat dari kacamata Tuhan, dan mengerti maksudNya ketika aku bertanya “why, God, why?”. Tidak ada damai sejahtera dari hasil analisa yang aku buat jika hanya sebatas nalar saja aku mencari jawaban. Namun hal-hal yang aku ceritakan pada baris-baris sebelumnya¬†di dukung dari damai yang Tuhan berikan dalam satu per satu pengertian (atau pencerahan) yang Tuhan sampaikan. Aku percaya, it is God Himself who speaks right through my heart – if¬†there is peace within you, then it is God.

Last but not least, one final closing line: the more you are able to calm your own world, the clearer you are able to hear the Voice. And that is true, because I experienced it myself.

“Be still and know that I am God” – Psalm 46:10

Have a blessed life! ūüôā

WhatsApp Image 2017-04-02 at 8.04.28 PM