IN · Journey of Love · Life Lesson · Literature

Terbaik


Kutemukan dirinya terduduk di kursi penumpang, merenungi lalu lintas sekitar yang tidak biasanya sudah dipadati oleh mobil-mobil yang mengantri di jalur yang dilewatinya. Waktu menunjukan pukul tiga sore. Keberadaannya ketika orang lain sedang duduk bekerja di depan komputer masing-masing, disebabkan oleh karena dirinya sengaja mengambil setengah hari cuti untuk berurusan dengan persiapan keberangkatannya ke bandara dua hari ke depan. Udara di luar terlampau terik. Sehingga mobil yang dikendarainya memasang suhu AC paling rendah.

Terasa sejuk. Tidak dirasakannya dingin yang biasanya dia rasakan ketika tubuhnya diterpa angin AC.

Kepalanya disandarkannya ke sandaran kursi penumpang. Dengan tujuan mengistirahatkan tubuhnya yang kelelahan. Dan berat matanya yang diserang rasa kantuk. Berkedip semakin perlahan. Hampir saja dirinya terbuai untuk tertidur. Menyadari tidak lama lagi dia akan tiba di tempat tujuan, dia memilih untuk mengusap kedua matanya agar otot-otot yang telah lemas itu bisa terbangun kembali.

"Selelah ini aku. Bisakah aku menyelesaikan pertandingan jarak jauh tersebut?", ujarnya ragu dalam hati. Dia sudah tahu bahwa hatinya tidak lagi terpanggil untuk menjadi seambisius sebelumnya.

Karena daya imajinasinya yang kuat, aku temukan dirinya dengan tatapan kosongnya memandang daun-daun di pohon yang berdansa tertiup angin. Saat itu pun aku mengerti, seberapa dalam dia sedang membawa dirinya berpindah ke sisi dunia lain miliknya.

Tiga hari. Tiga hari berturut-turut dia menuju ke kawasan yang sama. Ke tempat dimana dirinya pernah dikuasai oleh rasa penasaran terhadap bagaimana malamnya akan dihabiskan, ke tempat dimana malamnya kemudian telah menjadi kenangan karena hari tersebut telah berlalu. Menggantung..

Kenangan? Akankah semuanya itu hanya sebatas kenangan belaka?

Atau sebuah permulaan?

Malam ketika seorang sahabatnya menghampirinya dengan sebuah pertanyaan jika dia siap untuk membuka diri lagi kepada seseorang, malam ketika dirinya terpaku memandang layar telefon genggamnya karena terjepit diantara harapannya dan ketakutannya, merupakan malam dimana sesungguhnya dia tahu bahwa akan ada resiko untuknya berhadapan dengan sisi gelap dirinya yang dia takuti. Tapi dia sudah memutuskan untuk berhadapan dengan resiko tersebut daripada harus kehilangan kesempatan untuk melihat pemenuhan impiannya.

Sebagaimana dia mencintai hentakan kakinya ketika bersentuhan dengan aspal, dia memilih untuk menempuh jalan panjang untuknya berbincang dengan sahabatnya: malam.

Karena dia tahu bahwa dia harus berhadapan dengan dirinya sendiri.

Jika ada tangis terjatuh membasahi kedua pipinya, adalah dirinya yang merasa lelah merasakan apa yang dia rasakan malam itu. Ketakutan. Karena pada dasarnya semua orang memiliki ketakutannya masing-masing.

Pada dasarnya semua orang terlalu takut untuk membuka kerentanannya.

Dan jika ada masa dimana untuk menjadi rentan adalah sebuah keputusan, mungkin memang itu lah yang harus dia berikan kepadanya, sebagai caranya menyampaikan bahwa dirinya bukan wanita pada umumnya. Bahwa tidak ada yang perlu ditakuti oleh siapa pun tentang dirinya, karena dirinya yang penakut, telah dibebaskan melalui proses perjalanannya meraih impiannya untuk mencintai.

Waktu. Dan jarak. Selama apa pun waktu, sejauh apa pun jarak, dirinya tidak dibentuk untuk menjadi seorang penyabar. Jika aku mendapatkan sosoknya yang bertahan dalam kesunyian ruang waktu, semua hanya karena dilandaskan dari kekuatan hatinya untuk mendapatkan yang terbaik …

… mendapatkan yang terbaik bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk dia yang sedang menjadi pertimbangan hatinya.

"Bukan lagi untuk aku berdoa mendapatkan yang terbaik untukku. Tapi aku berdoa agar kamu mendapatkan yang terbaik untukmu", ujarnya dalam doa tertulusnya yang dilantunkan dari bawah sinar lampu kuning yang menyorot tubuhnya dalam sebuah nyanyian. "Dan jika bukan aku orangnya, akan disediakan yang terbaik baginya. Juga sebaliknya", lanjutnya.

Bukankah hal terindah dalam hidup adalah ketika kita memikirkan orang lain jauh daripada diri kita sendiri?

A complete recovery from pain is to pray for recovery for others.

So, girl .. take your time as he takes his time.

About Me · IN · Journey of Love · Life Lesson

I hope you are okay, like I once was, and still am..

samuel-zeller-34761

Aku pernah hadir di satu masa dimana aku bertanya jika cinta itu sanggup menyakiti. Mungkin itu adalah masa dimana aku sebenarnya belum benar-benar mengerti arti cinta. Saat itu, aku hanya tahu bahwa cinta tidak punya arti lain selain membahagiakan.

Aku pernah ada dalam sebuah hubungan yang berlangsung begitu lama. 8 tahun. Saking lamanya, tidak ada lagi yang kubayangkan selain menghabiskan sisa hidupku bersamanya.

Namun pada akhirnya hubungan itu harus berakhir.

Kemudian hubungan demi hubungan selanjutnya yang berlangsung tidak kilat, dalam hitungan umur tahunan, mengajarkanku arti cinta yang sesungguhnya.

Jadi, jangan heran ketika aku terlalu sering berkata bahwa sakit hati itu (atau patah hati) hanya akan membawamu selangkah lebih dekat kepada orang yang tepat. Karena melaluinya, melalui patah hati, aku belajar arti kedewasaan dalam cinta. Dan bagaimana pengalaman-pengalaman tersebut hanya menjadikanku pribadi yang lebih baik lagi untuk orang yang tepat.

Dan tentu saja hal tersebut tidak dapat didefinisikan melalui umur sebuah hubungan.

Aku penasaran dengan cerita satu orang teman yang suatu malam beberapa minggu lalu menghubungiku dan memohon (bukan sekedar meminta) waktuku untuk mendengarkan curahan hatinya. Saat itu aku tahu bahwa hubungannya dengan kekasihnya sudah berakhir. Secara, kekasihnya adalah salah satu dari bagian inner circle aku. Jadi aku tahu cerita mereka.

Aku memberikan satu jam waktuku pada hari selanjutnya untuk berbincang denganku melalui telefon. Dengan tangis yang begitu pilu dari balik barang elektronik mungil yang kujepit pada telinga kananku, aku hanya bisa mendengarkan segala kata-kata pedihnya. Pahit, aku tahu. Karena melalui tangis tersedu-sedunya aku dapat merasakan (bahkan menggambarkan) betapa terluka hatinya. Impiannya untuk membina masa depan dengan (mantan) kekasihnya, yang merupakan sahabatku, hancur bersamaan dengan kepingan-kepingan hatinya yang terjatuh ke tanah.

Sesungguhnya aku sudah mengerti bagaimana cinta dapat menjadi begitu indah, dan bagaimana cinta dapat menjadi begitu mengerikan bagaikan mimpi buruk. Karena aku sudah pernah mengalaminya hingga aku kehilangan jati diriku dan fungsi untuk hidup di dunia ini.

Tidak heran banyak orang berkata: “I am giving up on love”.

Tapi mungkin sebenarnya adalah bukan cinta yang menyakiti seseorang sebegitu parahnya.

Jadi, karena aku begitu penasarannya, aku mencoba untuk mencari keberadaannya di Social Media yang menyatukan kami. Tapi tidak kutemui keberadaannya dimana pun. Dan aku mencari keberadaannya di Social Media grup Inner Circle aku, dan tidak kutemui juga keberadaannya dimana pun.

Kemana kamu?

Mungkin dia sudah memblokir semua akses terhadap kami. Dan saat itu pun aku sangat mengerti betapa pedih hatinya sehingga berteman dengan kami pun tidak sanggup dia jalani.

Seperti yang pernah aku lewati empat tahun yang lalu ketika kami harus mengakhiri tiga tahun hubungan tanpa restu dengan sahabatku, aku memutuskan diriku dari interaksi terhadap dunia. Proses untuk melupakan segalanya bukanlah lagi menjadi sebuah proses untuk aku bertumbuh, melainkan prosesku menghancurkan diri sendiri.

Tidak ada rasa terburuk yang pernah kurasakan selain memutuskan diri dari dunia sekitar, terutama terhadap hal-hal yang pernah aku cintai.

Dan pada satu titik balik akhirnya aku menyadari bahwa jika memang itu benar-benar cinta, aku tidak akan membiarkan diriku menghancurkan diri sendiri. Aku tidak akan membiarkan diriku disakiti oleh diriku sendiri.

Karena cinta hanya akan dapat diberikan kepada orang lain ketika kita telah seutuhnya mencintai diri sendiri.

Jadi apa yang sesungguhnya aku jalani saat itu? Ego. Aku membiarkan ego mengkonsumsi hidup dua tahunku ketika aku berada dalam neraka – kesulitan untuk menerima kenyataan bahwa cinta yang aku pikir indah itu telah menyakitiku.

Aku belajar begitu banyak hal dari kesendirianku yang kemudian membentukku dari seorang Extrovert menjadi seorang Introvert. Berdamai dengan diri sendiri dalam sunyi seraya menjelajahi diriku sendiri. Mencoba mengenali dan mengerti diriku sendiri.

Dan pada akhirnya bukankah yang terpenting adalah kita yang mengenal diri kita sendiri – apa yang kita butuh terhadap apa yang kita mau?

Belakangan aku menyaksikan diriku sendiri yang menceritakan kepada beberapa sahabat di sekitarku apa yang aku butuhkan dalam hidup – terutama dalam sebuah hubungan.

Dan aku bersyukur akan semua pedih, pahit, luka, jatuh, hancur dalam kepingan yang pernah aku alami dalam hidup percintaan. Karena hanya dengan itu saja aku pada akhirnya dapat mengerti kebutuhanku dalam mencari seorang pasangan hidup.

Aku berharap dia, kawanku yang pernah memohon waktuku untuk didengarkan mengenai cerita hancur hatinya, juga dapat melewati proses yang sama. Sehingga suatu hari nanti ketika aku bertemu dengannya kembali, aku dapat melihat kembali senyum manis dari balik wajah cantiknya.

Dimana pun kamu berada, aku berdoa agar kamu baik-baik saja, kawan πŸ™‚

I always believe, that pain is temporary. But happiness is eternal. And you can only see joy if you are willing to let go of the things you cannot control.

IN · Journey of Love · Life Lesson

melepaskan

aku pernah merasakan kebahagiaan yang tidak pernah dapat dijelaskan ketika aku memandang dirimu. dan ketika aku berjalan seorang diri, aku sudah cukup bahagia ketika aku memandang gambaran dirimu di genggaman tangan kananku. senyuman yang tergores di wajahmu, menghangatkan hatiku. 

aku bahkan sempat mencintaimu.

jatuh cinta pada sosok imajinasi yang aku bangun sendiri terhadap dirimu. dan aku sempat menyalahkan diriku sendiri karena kebodohan yang hampir terulang. dan kembali mengalami kesulitan menerima bahwa aku mudah terbuai oleh cinta. 

aku tidak berhenti menangis ketika seorang sahabat menghampiriku dan berkata untuk melepaskanmu. lagi. melepaskan cinta yang aku kira akan kumulai kembali. 

“aku hanya ingin menyelamatkanmu dari sakit hati yang sama”, katanya, karena dia tidak sanggup melihat hatiku hancur lagi. 

kesulitanku untuk melepaskan yang kugenggam erat adalah karena aku takut untuk tidak mendapatkan sesuatu, atau seseorang yang akan membuatku merasakan perasaan seindah yang kini aku rasakan. 

walaupun sebenarnya aku telah belajar bahwa kita tidak pernah merasakan perasaan yang sama akan apa yang pernah kita rasakan terhadap seseorang. 

takut.. aku takut karena aku ragu terhadap diriku sendiri. jika akan ada orang yang mencintaiku sebesar aku akan mencintainya.

dan ternyata hanya Tuhan yang bisa memberikan cinta melebihi yang bisa aku berikan. mengapa aku harus mencarinya di dunia yang fana? 

aku tidak takut untuk mencintai, tapi aku hanya takut untuk disakiti. padahal sakit itu sendiri merupakan salah satu elemen yang terkandung dalam mencintai. jika kamu berani mencintai, maka kamu harus berani disakiti. 

dan hanya orang-orang yang berani saja yang memutuskan untuk mencintai. 

jadi jika aku berkata bahwa aku berani mencintai, bukankah seharusnya aku berani disakiti? karena sakit hati hanya akan membawa kita satu langkah lebih maju kepada orang yang tepat. 

“aku ingin membantumu, tapi lepaskan apa yang kamu pegang terlebih dahulu”, sahabatku kembali melanjutkan kata-katanya. aku jadi teringat bagaimana hidup telah mengajarkanku untuk melepaskan dan menyaksikannya jika ia kembali, maka ia untukku. dan jika tidak, biar kapalnya berlabuh dengan segala muatan perasaan yang pernah aku kumpulkan untuk dirinya. 

dan hidup telah mengajarkanku bahwa melepaskan adalah tandaku mencintai seseorang. melepaskan adalah tandaku mencintai Tuhan, karena itu berarti aku mempercayakan sepenuhnya Tuhan berikan yang terbaik dariNya. 

jadi, jika kini aku harus melepasmu, menghapus beberapa hal yang sudah kupelajari dari dirimu hingga hari ini, hanya caraku untuk menyelamatkan diri sendiri karena yang Tuhan mau pun adalah ketika aku tahu apa yang terbaik untukku.

jika kamu untukku, akan ada jalan lain yang terbuka, bukan? πŸ™‚ 

IN · Journey of Love

enough

jika matahari terbenam terlalu cepat, dan malam terasa begitu sunyi, aku tahu itu jam-jam kritisku. seperti seseorang yang koma dan ada diperbatasan antara hidup dan mati, aku memandang diriku dari balik cermin yang terbentang lebar pada dinding kamarku, dan melihat sosok yang menyedihkan. karena dia berurai air mata. 

seringkali aku memilih untuk tidak bertemu dengan siapa-siapa agar aku tidak perlu mengungkapkan apa-apa. karena jika telinga ini mendengar dari mulutku sendiri mengenai diriku sendiri, aku hanya akan mendapati diriku yang rentan. 

terutama rentan akan cinta.

seorang sahabat bertanya kepadaku apa yang menjadi pertimbanganku untuk memutuskan sesuatu. memutuskan untuk menggapainya. “kenapa kamu harus banyak berpikir mengenai apa yang hendak atau harus kamu lakukan untuk menggapainya?”, tanyanya. kenapa aku harus memikirkan kemungkinan apa yang akan terjadi jika dia sudah dihadapanku? sesungguhnya itu semua hanya akan melelahkan jiwaku.

“karena aku ini takut”, ujarku. aku ini takut akan apa yang diriku sendiri bisa lakukan jika sedang mencintai. aku ini takut akan diriku sendiri. maka dari itu ada dinding tebal yang mengelilingi duniaku ketika aku berjalan membaur dengan dunia ini. 

salahkah?

apa yang sesungguhnya harus aku pinta dariMu, Tuhan? untuk diberikan kesempatan untuk menggapainya, ataukah kesempatan untuk melupakannya? karena sesungguhnya aku tidak mengerti mengapa Engkau memberikanku namanya di malam hari untuk kudoakan dengan tekun. mulai dari dengan raungan dan lolongan panjang dengan hingga detak jantung bahagia yang tak beralasan, aku tidak pernah luput untuk tidak membawa namanya dalam doaku. 

jika Engkau ingin melatih kesabaranku, cukuplah sudah Tuhan. karena sesungguhnya aku ini sudah ingin menyerah. 

mustahil.. terlalu mustahil. jangan jadikan impian semu ini untuk kuharapkan terjadi, Tuhanku.. 

dua jam aku berhadapan dengan sahabatku sambil aku menahan air mata yang sudah siap jatuh ke pipiku. aku hanya bisa menutupnya dengan tawa canda selingan agar mereka tidak jadi jatuh, dan tidak seorang pun harus melihat aku yang rentan. 

sebagaimana ketika siang tadi, aku berada di atas panggung yang memberi kesan warna kuning tua pada lampu sorotnya, aku meneteskan satu atau dua tetes saja dan menyembunyikannya dengan menundukkan kepalaku ke lantai kayu yang kuinjak. 

karena sesungguhnya hati ini sudah lelah.. 

lelah jika harus berjuang, lelah jika harus bertahan, lelah jika harus menunggu, lelah jika harus bertahan, lelah jika harus berharap. 

lelah jika harus sakit.

“jangan putus pengharapan, karena semua orang memerlukan sebuah harapan untuk hidup”, ujarnya. tapi tidak bisakah jika aku hidup hanya untuk menjalani yang harus aku jalani? walau memang akan terasa menjemukan. 

walaupun begitu, aku heran. heran karena aku tidak putus2nya mendoakan namamu. 

tolong yakinkan raguku, Tuhan.. walau aku siap melangkah, namun sesungguhnya hatiku tidak siap terluka. 

IN · Journey of Love · Literature

imperfectionΒ 

hari mengijinkanku untuk berbicara terhadap diriku sendiri. siang hari, kelabu yang menggambarkan warna langit tidak mencerminkan perasaan yang sama terhadap udara yang kuhirup. pengap. dan panas. aku berjalan di bawah sinar cahaya matahari yang masih bersinar menerangi kota Jakarta, namun penampakannya tidak dapat kutemui. 

satu minggu sudah sejak pertemuan terakhirku dengan sosoknya, aku bertanya kepada malamku jika aku akan dipertemukan dengannya kembali, jika aku akan dipersatukan dengannya kembali di satu panggung yang sama. tetapi aku tetap melatih diriku untuk tidak berharap akan sebuah harapan yang bertindak sebagai mimpi. 

jika memang aku harus bertemu, aku akan dipertemukan, jika memang aku harus dipersatukan kembali pada panggung yang sama, aku akan dipertemukan.

seorang sahabat tak hentinya menggodaku kapan pun kami mempunyai kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama. seperti yang terjadi semalam, ketika aku makan malam dengannya. aku berkata kepadanya bahwa aku sudah mengenal sebagian besar dari hal-hal umum yang patut aku ketahui di awal perkenalan. 

“aku sendiri kagum dengan diriku sendiri yang begitu bersemangat berjuang mencari tahu sebagian kecil tentang kehidupnya”, ujarku. 

“mungkin kamu sedang jatuh cinta”, dia meresponi.

jatuh cinta? secepat ini? lagi? tidak. ini bukan cinta. dia sendiri yang berkata kepadaku jika aku benar-benar serius ingin mengenalnya. 

“kamu serius untuk mengenalnya?”, tanyanya sekitar satu bulan lalu. ternyata sahabat karibnya merupakan teman baik sahabatku ini. aku mempertimbangkan jika aku memang benar-benar ingin serius mengenal dirinya yang kukagumi.

“iya. aku sudah putuskan, aku serius”, aku tiba pada suatu keputusan yang tidak akan aku tarik kembali tiga hari setelah dia melemparkan pertanyaan tersebut kepadaku. 

tapi hingga detik ini, waktu belum mengijinkan aku dan dirinya bersanding di kursi yang dipisahkan oleh bentangan meja kotak. dan pada siang ini, ketika Jakarta mendung namun pengap, aku bertanya seraya berjalan di sisi kiri jalan raya: mungkinkah? akankah? 

ada Suara dalam hatiku yang berkata: “tunggu waktunya”.

tapi dikuasai dengan rasa penasaran yang hampir membunuhku ini, aku terus-terusan tak henti bertanya: “tapi kapan?”. mungkin sudah sebaiknya aku tidak bertanya jika aku hendak menanti dengan penuh kesabaran.

tidak heran jika Tuhan sering menguji kesabaranku. 

namun fakta demi fakta yang terungkap mengenai sebagian kecil tentang dirinya menjadi cara hidup kembali bertanya kepadaku jika aku memang benar-benar masih ingin mengenalnya. atau bahkan, berimajinasi jika aku diberikan kesempatan untuk bersama dengannya, apakah aku masih akan tekun untuk menjalaninya? karena aku pernah meminta hal lain dari apa yang sekarang kuketahui ada pada dirinya. 

aku juga tidak tahu jika memang dia orang yang tepat untuk kukenal. tapi aku hanya tahu isi hatiku masih terus ingin mengenalnya, dan menerima kekurangannya yang masih bisa aku terima itu sebagai cara aku mensyukuri apa yang Tuhan sudah kabulkan kepadaku jika memang harapan terbesarku Dia kabulkan. 

lagi pula.. tidak ada yang sempurna di dunia ini, bukan? 

IN · Journey of Love · Literature · Random Things Found in Daily Life

Kenangan semata

Dia bersandar pada satu pilar di ruang depan gym yang berdiri gagah di hadapanku. Pilar penopang langit-langit ruangan yang menghadapku. Padahal sebelumnya, kudapati dia memunggungiku. Aku tahu saat itu juga bahwa alasannya memunggungiku adalah karena dia bersikap seolah tidak menyadari keberadaanku pada ruang yang sama. 

Karena aku tiba sebelum dia menghampiri ruang lobby gym untuk mengambil secangkir gelas. 

Aku memandang punggungnya yang lebar dan mempertimbangkan sikapku selanjutnya. 

Terpaku. 

Tapi aku memutuskan untuk berbincang dengannya.

“Hi”, ujarku seperti masa lalu. Ketika aku dan dirinya masih dalam garis waktu yang sama. 

Dia menoleh. Aku dapat membaca tatapannya yang jelas berkata sudah mengetahui keberadaanku. Kamu tidak bisa membohongiku. 

“Hi”, ujarnya balik seraya tersenyum canggung. Mungkin dia tidak tahu apa lagi yang harus dia katakan kepadaku. Aku kembali memutuskan untuk berbincang dengannya. 

“Tumben, nggak biasanya hari Selasa kamu latihan?”, tanyaku berusaha membuka pembicaraan senormal mungkin. Dan kemudian lima menit selanjutnya, dengan pembicaraan basa-basi. Hingga akhirnya aku lagi-lagi kembali memutuskan untuk meninggalkannya. “Oke. Masuk ruang ganti dulu ya”, sambil melambaikan handuk kecil yang kuambil dari rak handuk, tanda aku mengucapkan salam perpisahan. Kemudian aku melangkah menjauhi keberadaan sosoknya. 

Kemudian aku beredar di seputaran ruang latihan bersama dengannya sepanjang 45 menit selanjutnya. Sesuatu yang tidak dapat aku lakukan sebelumnya, pada masa-masa pemulihan hatiku terhadapnya.

Ada alasan sederhana yang kini aku mengerti, mengapa dalam dua minggu penuh itu, pertemuanku yang diatur Tuhan sedemikian rupa intens harus terjadi. “Karena kamu tidak akan bertemu dengannya lagi”, ujarNya suatu malam. Namun pada minggu-minggu selanjutnya, sesungguhnya aku masih bertemu dengannya. Jadi apa maksud Tuhan berkata “tidak akan bertemu dengannya lagi”? 

Bukan. Sebenarnya bukan tidak akan bertemu dengan sosoknya yang pernah kudambakan. Bukan dengan senyumnya yang pernah meluluhkan hatiku. Bukan dengan sapaan sederhananya yang pernah menceriakan detikku. Namun aku tidak akan pernah bertemu lagi dengan cinta yang pernah aku rasakan terhadapnya.

Yang pernah aku rasakan terhadap dirimu πŸ™‚

Aku tahu bahwa kemarin aku sudah menemukan kedamaianku. Namun aku pun tahu bahwa sesungguhnya aku masih memendam rasa. Menanti kapan waktunya Tuhan mengangkat perasaan yang tak bisa memilikimu ini. 

Tapi hari ini, memandang wajahmu, menatap matamu, mendengar suaramu, merasakan senyumanmu, aku dapat dengan yakin berkata, bahwa cinta ini sudah terbang bebas ke langit tak berbatas, ke laut lepas. 

Dan siap menyambut cinta yang baru.

Terima kasih ya sudah membuat diriku menciptakan sebuah karya indah yang menceritakan tentang kita. Aku tidak lagi akan merindukanmu, tapi aku akan selalu mengenangmu πŸ™‚

About Me · Blessings in Disguise · IN · Life Lesson

The 30th – i am LOVED (by God)

Aku selalu mempunyai kebiasaan untuk menulis sesuatu di beberapa tanggal yang khusus. Natal, tahun baru, paskah, dan ulang tahunku sendiri. Tapi entah mengapa, tahun ini aku tidak terlalu ingin mengungkapkan apa pun di hari ulang tahunku.

Sudah sekian tahun aku menyembunyikan tanggal ulang tahunku dari beberapa info di Social Media, bermula dari tahun dimana hatiku hancur berkeping-keping oleh karena patah hati berat yang aku alami empat hingga lima tahun lalu. Aku hanya ingin sendiri.

Begitu pula tahun ini. Aku hanya ingin sendiri.

Namun kesendirian telah mengajarkan aku begitu banyak pelajaran berharga dalam hidup. Dan kini aku menikmatinya: kesendirian.

Ada kisah dimana kesendirian tersebut berevolusi menjadi kesepian. Tapi masalahnya bukan mengenai perasaan apa yang aku rasakan melalui kesendirian, melainkan bagaimana aku memeluknya menjadi satu momen dimana aku dapat bertumbuh lebih lagi melalui suatu pengenalan terhadap diri sendiri.

Dan tentu saja, melalui kesendirian, aku menemukan Tuhan lebih lagi. Aku mendengar Tuhan lebih lagi.

Tidak. Aku menyendiri bukan untuk mengasihani diri sendiri. Aku menyendiri untuk bertanya kepada Tuhan apa yang Tuhan mau aku buat untuk hidup ke depanku. Sebagaimana di awal tahun 2017 Tuhan pernah berkata kepadaku untuk mengalokasikan sebagian waktuku untuk suatu tujuan lain selain berolahraga. Aku memakai hari ulang tahunku untuk bertanya kepadaNya kembali. “Apa yang Kamu mau aku buat, Tuhan?”.

I explored within. To find me.

Untuk mencari tujuan hidupku di dunia ini.

Tidak banyak orang di dunia ini yang cukup berani untuk berkaca dan menggali isi hati, isi pikiran sendiri. Aku pun takut. Takut mendapatkan fakta bahwa ternyata aku membangun kebahagiaan dan keceriaanku di suatu dasar yang fana: penyangkalan diri. Menyangkal diri bahwa semandiri apa pun aku, sebenarnya aku ini sangat membutuhkan seseorang. Menyangkal diri bahwa sekuat apa pun aku, sebenarnya aku ini sangat rapuh ketika malam menerpa. Menyangkal diri bahwa seberani apa pun aku, sebenarnya aku ini sangat ketakutan menghadapi sesuatu. Menyangkal diri bahwa sepercaya-diri apa pun aku, sebenarnya aku ini tidak percaya dengan diriku sendiri.

Tapi Tuhan memaksaku untuk berada dalam ruangNya, dan satu per satu Dia bukakan lembaran-lembaran isi hatiku yang paling dalam, yang ternyata aku sembunyikan bahkan dari diriku sendiri. Aku dipaksaNya untuk menerima diriku sendiri, tidak lagi menyangkal keberadaanku sebagai seseorang yang sangat hancur, jika tidak Dia selamatkan.

Tapi sesungguhnya Tuhan tidak pernah melewatkan seorang pun.

Seharusnya aku bisa lebih bersyukur..

Tapi tidak ada yang terlambat dari sebuah permulaan jika kita ingin memulainya kembali, bukan?

Jadi.. Aku memulai kembali perjalananku dengan Tuhan, seraya menerima diriku sendiri, bahwa seberapa keras dunia menolakku, sudah cukup bagiku jika Tuhan yang mengasihiku dan menerimaku.

Hampir dua minggu yang lalu, aku pada akhirnya menginjak permulaan umur 30. Tidak sedih akan usiaku, tidak kecewa akan masa laluku, dan tidak takut akan masa depanku. Aku hanya tahu Tuhan telah memberikan aku beberapa pencapaian yang tidak dapat tergantikan dengan apa pun:

  1. 2 Full Marathons in 2016
  2. 1 Half Ironman in 2017
  3. 2 Bike Race Podiums in 2017
  4. 1 self-writing book launching
  5. But most of all: I AM LOVED – aku dipenuhi oleh cinta kasihNya yang tidak terbatas

Ya. Bukuku yang pertama mengenai sebuah kisah cinta yang berakhir dengan kisah patah hati. Tapi melalui patah hati tersebut aku belajar bagaimana Tuhan sangat sayang kepadaku sehingga Dia hanya ingin aku mendapatkan yang terbaik dariNya, bukan yang terbaik dari bagaimana seseorang membuatku merasakan hati yang berbunga-bunga.

Jika aku tidak pernah dipertemukan dengannya, aku tidak akan mengerti seberapa jauh Tuhan ingin aku melahirkan karya-karya sastra yang akan menginspirasi dunia.

Jadi.. Aku bersyukur kepadamu, J, dipertemukan dan diijinkan menoreh kisah dalam buku kehidupanku walau aku dan kamu tidak untuk satu sama lain πŸ™‚ Aku pernah mengasihimu, dan aku tidak akan pernah melupakan bahwa rasa kasihku terhadapmu lah yang mendorongku untuk menciptakan sebuah karya.

Dan pada akhirnya aku mengerti maksud Tuhan menganugerahkan aku talenta dalam menulis. Tulisan-tulisanku tersebut pada akhirnya membawa berkat bagi diriku sendiri. Dan detik ini aku bisa bilang dengan yakin tujuan hidupku adalah untuk menulis.

Jika tulisanku memberkati orang lain, itu semua hanyalah bonus. Karena yang sesungguhnya merasa terberkati melalui karya tulisku adalah diriku sendiri.

Usai bukuku selesai ditulis, aku menemukan hatiku yang terkekang oleh kesedihan, pada akhirnya terlepas dari segala macam sakit dan rasa takut untuk mencintai. Pada akhirnya aku menyadari kata-kata Tuhan yang berkata: there is no fear in love. Berani mencintai, berani disakiti. Dan jika kita disakiti oleh cinta, sakit itu hanya akan membawa kita selangkah lebih dekat lagi terhadap seseorang yang tepat.

Melalui buku yang aku tulis sendiri, aku pulih.

Menulis merupakan caraku untuk menyembuhkan luka-luka yang terpendam lama. Dan jika kamu, Pembaca, yang sedang membaca tulisan ini memerlukan suatu pemulihan dalam hidupmu, telusurilah dirimu dan temukan sesuatu yang bisa kamu buat untuk kamu pulih dari luka-luka masa lalumu. Jangan lari atau sangkal dirimu.

I am so grateful of the beginning of my 30-ish life, and I am so excited of what God wants me to do to inspire people, to be a blessing for people around me.

Jadi… Tunggu aku dengan beberapa karya tulis berbentuk novel selanjutnya ya? πŸ™‚