.berdampingan

Ada sebuah alasan mengapa ada ruang sunyi di antara aku dan dirinya ketika kita berjalan di keramaian kota Jakarta sore hari itu. Disinari cahaya matahari yang hendak mengucapkan salam perpisahan, aku dan dirinya berjalan berdampingan melalui sibuknya kendaraan-kendaran di sisi kiri kami mengungkapkan ketidaksabaran mereka melalui bisingnya bunyi klakson yang dibumbui oleh amarah. Tidak ada lagi kata canggung mewarnai hubungan kami. Kami hanya perlu menjalani langkah kami hingga kami tiba di tujuan kami, hingga kami berpisah.

Namun perpisahan itu selalu menjadi perpisahan yang sesungguhnya. Waktu yang aku miliki dengannya selalu hanya terpaut pada satu hari itu saja.

Mungkin aku sendiri adalah seseorang yang terlalu memikirkan hal-hal kecil yang seharusnya tidak perlu kupikirkan. Jika aku hendak bertemu dengannya, pikiranku akan selalu dikuasai oleh seberapa banyak kami akan menghabiskan waktu bersama, atau seberapa lama kami akan ada dalam satu ruang napas. Aku selalu mencari cara agar kami tidak pernah dikunjungi ruang bisu. Karena untukku, kebisuan berarti aku dan siapa pun lawan bicaraku tidak cocok untuk menghabiskan waktu bersama.

Tapi masalahnya adalah justru melalui kesunyian itulah seseorang benar-benar dapat merasakan kehadiran seseorang lainnya. Melalui kesunyian kita lebih dapat menghargai kehadiran seseorang. Keberadaan seseorang pun merupakan bentuk dan kasih sayang yang tidak dapat diungkapkan oleh kata-kata. Waktu yang menjadi saksi bahwa dia ingin bersama denganku daripada dengan seseorang yang lain.

Seperti yang pernah dirinya-yang-telah-berlalu katakan kepadaku: “aku tidak perlu topik pembicaraan, berada bersama denganmu dalam ruang sunyi pun sudah cukup bagiku”. Dan aku mengerti arti semua itu sekarang, bahwa duduk berhadapan dan tenggelam dalam dunia masing-masing, asalkan aku tahu bahwa ada dirinya di hadapanku, seharusnya itu sudah lebih dari cukup.

Dan hubungan yang telah dirajut oleh sekian banyak pengalaman naik gunung, turun ke lembah, berenang pada laut dengan batas tak terhingga, berlari menembus teriknya matahari dan badai hujan, semua itu hanya akan membawa aku dan dirinya ke sebuah titik bahwa aku dan dirinya seolah diciptakan untuk bersama.

Aku heran dengan diriku sendiri ketika aku berjalan dengannya, yang berusaha menyamakan langkahnya yang lebar dengan langkahku yang kecil, heran karena aku tidak lagi kebingungan oleh canggung ketika tidak ada satu pun kata yang keluar dari kedua mulut kami untuk membicarakan sesuatu. Aku hanya tahu sore hari itu aku menikmati perjalanan kami.

Seperti inikah seharusnya perjalanan cinta yang sesungguhnya? Bahwa pada akhirnya sebuah hubungan akan bermuara pada cara masing-masing individu saling menikmati kehadiran satu sama lain. Entahlah, sudah lama sekali nampaknya aku tidak berada pada ruang seperti demikian. Aku sudah lupa.

Tapi yang aku tahu itu indah.

Falling in love

Aku terduduk dibawah angin dingin yang sempat menyatukan nafasku dengan nafasmu pada suatu siang ketika matahari sedang sama-sama tersenyum bersama dengan kita. Aku dan dirimu pernah berbagi kebahagiaan yang sama. Dan jika salah satu dari kita menangis, alam pun berkonspirasi dan ikut berduka.

Seorang sahabat yang sudah lama tidak aku temui menghampiriku dan bertanya kepadaku jika aku telah melupakanmu. Tapi aku tahu bahwa aku tidak akan pernah melupakanmu. Aku bahkan mempertanyakan kepada diriku sendiri, mengapa aku harus mencintaimu? Bahkan sesingkat ini…

Tapi aku pernah mencintaimu sekali saja, dan terakhir.

Jika dunia berkata untuk mencari seseorang pengganti hanya untuk melupakanmu, aku memilih untuk bersikap adil terhadap hatiku. Jika hati ini masih menaruh kasih terhadap dirimu, pantaskah aku menggoresnya dengan memaksakannya melupakanmu? Karena cinta itu bukan mengenai seberapa jauh aku harus melupakanmu, bukan seberapa jauh aku harus melupakan rasa yang pernah ada untuk dirimu. Cinta itu mengenai seberapa jauh aku menerima jika kau memang bukan untukku, aku merelakan kebahagiaanmu untuk yang lain.

Semalam aku menyempatkan diriku untuk merenung seorang diri, mencari cinta di tengah kegelapan malam, berkelana ke suatu tempat yang belum pernah aku kunjungi. Aku bertanya kepada Tuhan jika cinta memang selayak itu untuk ditemukan, dan jika sudah ditemukan pantaskah untuk kuperjuangkan dengan segenap hidupku?

Aku menyadari bahwa aku mudah untuk mencintai. Karena aku selalu jatuh cinta dengan hal-hal kecil dan sederhana yang kau ciptakan untuk duniaku. Karena bukan hanya aku akan mencintaimu dengan kesederhanaanmu, melainkan mencintaimu dengan kerumitanmu. Seharusnya kau tidak perlu takut akan ruangku yang begitu luas untuk mencintaimu.

Aku menemukan sudut manis yang mulai meredup. Dengan segera aku tahu bahwa itu cinta yang harus segera kuselamatkan. Memberanikan diriku untuk memasuki ruang mungilnya, namun memberi aroma tersendiri yang sangat kuat. Pintu yang menyambutku membunyikan sebuah bel mungil yang tergaung indah di sudut pendengaranku. Aku disapanya ramah: “Hello, welcome!”.

Aku tersenyum kepada dua sosok penjaga gagah dengan topi koboinya yang mempesona. “Hai :)”, sapaku.

Aku tidak hanya jatuh cinta kembali kepada aroma yang selalu mengingatkanku terhadap cinta yang pernah mempertemukan kita untuk pertama kalinya kisahku denganmu dimulai, tapi aku jatuh cinta kembali kepada malam itu, malam dimana pertama kali hanya ada aku dan hatiku, memutuskan untuk mencintaimu.

Walaupun keberadaanku hari ini hanya untuk memeluk puing yang tersisa, tapi aku kini sadar, bahwa tidak ada cinta yang akan berakhir sia-sia.

 

 

Hantaran hujan

WhatsApp Image 2017-03-15 at 11.28.12 AM

Sudah seminggu terakhir ini tanah di Jakarta di basahi oleh hujan yang datang ketika kegelapan mewarnai langit. Dan dia, hujan, terus berlanjut hingga keesokan pagi, meninggalkan warna abu-abu pada pantulan genangan yang tertinggal di sudut trotoar jalanan. Matahari hanya menampakkan cerahnya pada siang hari, ketika dia ada di titik tertinggi angkasa. Menghapus genangan yang tertinggal dari pagi hari. Aku tidak pernah menyangka bahwa hujan akan turun kembali minggu ini. Aku tidak pernah menyangka bahwa hujan akan memberikanku pesan singkat dan sederhana mengenai sebuah perpisahan. Padahal, sebelumnya minggu-minggu kota Jakarta terasa begitu panas karena teriknya matahari yang bersinar sedari pagi hingga sore, hingga ia mengindahkan langit senja.

Malam-malam dalam beberapa hari ini ketika aku hendak membungkus tubuhku dengan selimut, tidak luput aku mendengar ketukan sentuhan hujan di jendela kamarku. Aku merangkak ke atas tempat tidurku bagaikan anak kecil yang baru saja kehilangan boneka kesayangannya. Dan tangisku pecah ketika aku memeluk salah satu boneka yang kususun di atas bantal tidurku. Kusembunyikan ringisanku ke balik selimut dan kemudian terlelap.

Tidak lama yang lalu, malamku terasa begitu hangat. Aku dapat mendengar suara dan tawamu sebesar apa pun hujan yang turun ketika malam hadir. Tapi kini, malamku tidak lagi diisi dengan senyum. Karena senyumku lahir ketika ada dirimu di sisiku. Walau jarak memisahkan kita, dan waktu membatasi ruang gerak kita, tapi aku tahu hadirmu di seberang sana memberi hidupku arti, menceriakan hari-hariku. Seperti ketika matahari bersinar dengan teriknya pada titik tertinggi, menceriakan dunia yang sedang terbangun.

Karena kamulah ceriaku..

Tapi kepergianmu memberikan kesunyian dalam hidupku. Malamku tidak lagi dipenuhi oleh senyum. Hanya lantunan lagu gemulai dan lirik-liriknya yang memberi hidupku arti. Dan hujan terdengar begitu kerasnya. Terdengar begitu ribut.

Seraya berbincang dengan diriku sendiri, dan Tuhan: “apa yang harus kulakukan selanjutnya?”. Karena hidup bagaikan putaran roda, yang terus berjalan tanpa memberikan kita kesempatan untuk terdiam sejenak.

Suatu hari di masa lampau, Da pernah berucap: “jangan menangis, nak, nanti malaikat di surga turut menangis untukmu dan nanti hujan turun”. Aku bertanya kepadanya apa hubungannya malaikat dengan aku. Dan dia menjawabku: “karena kamulah malaikat yang jatuh ke bumi”. Aku malaikat di mata Da.

Pedihku tidak dapat kuungkapkan dengan kata-kata. Dan mungkin Tuhan tahu itu. Hanya hujan yang dapat menceritakannya. Bukan hanya cerita mengenai kisah kita ketika aku dan kau berjalan berdampingan menerobos hujan yang di warnai dengan tawa dan senyum ketika kita bertukar cerita hidup, melainkan juga sebuah cerita mengenai sebuah perpisahan hati yang pernah berharap tentang kemungkinan kisah masa depan yang dapat di rajut suatu hari nanti. Cerita perjalanan pengetahuanku tentang dirimu yang kini harus aku hapus, karena aku bukan hanya sekedar mengenal namamu. Aku sudah mulai mengerti dirimu.

Dalam masa-masa sunyi yang kau biarkan aku tinggal, aku mengirimkan pesanku kepada hembusan angin dingin, bahwa aku merindukan berbincang denganmu. Dan hujan turun seketika ketika aku berucap pada langit: “aku merindukannya, dan masa-masa pembelajaran mengenai dirinya”. Hujan bukan hanya pernah menghantarkan rinduku kepadamu. Hujan juga menjadi caraku menghantarkan kepergianmu dari hidupku. Genangan yang tertinggal di tanah menjadi tuangan terhadap memori demi memori yang pernah aku ukir sepanjang aku bersamamu. Dan biarlah genangan tersebut suatu hari nanti ‘kan dihapus oleh teriknya matahari ketika dia bersinar kembali sepanjang hari, sepanjang minggu.

“Pernah”. Kamu pernah mengisi hatiku. Biarlah genangan yang di tinggal oleh derasnya hujan yang turun sepanjang malam tersebut suatu hari nanti ‘kan dihapus oleh teriknya matahari ketika dia bersinar kembali sepanjang hari, sepanjang minggu.

Dan ketika matahari bersinar sepanjang hari, aku percaya, indahnya warna senja yang membuat seluruh dunia jatuh hati akan kembali mewarnai hamparan langit yang luas, seluas hatiku ketika aku mencintai seseorang..

melupakan rasa

Sepanjang minggu terakhir Jakarta tidak diguyur hujan yang sebelumnya sempat menggemparkan beberapa daerah. Panas. Pengap. Tiba-tiba udara terasa begitu menyesakkan.

Seperti hatiku yang terasa sesak oleh karena beban yang kupikul di hatiku.

Matahari bersinar seolah menantang penduduk kota ini. Dan tidak sedikit aku mendengar keluhan orang-orang sekitarku berkata: “panas, panas, panas”. Tapi minggu ini aku bernaung di dalam ruangan kantorku. Dilindungi oleh dinginnya AC. Aku tidak menapakkan kakiku keluar. Aku hanya mengurung diriku di depan laptop dan menulis satu demi satu baris sepanjang dua belas hari terakhir.

Aku hanya ingin sendiri dan membiarkan kesendirianku di isi oleh kata-kata dari Tuhan, bukan manusia.

Mencurahkan isi hati kepada pribadi yang tidak pernah membalas setiap kata yang aku ungkap: tulisan. Bisunya menjadi caranya untuk memberi pesan kepadaku bahwa walau dunia tidak mengerti aku, dia mengerti. Aku hanya perlu di dengar. Di mengerti.

Ada satu perjalanan akan sebuah cerita perjuangan yang terlalu singkat untuk di ceritakan kepada dunia. Namun bagi duniaku, perjalanan singkat tersebut menjadi begitu berkesan sehingga aku menuliskannya di dalam buku kehidupanku. Dan mungkin, suatu saat nanti akan kembali kuceritakan di masa tuaku.

Perjalanan waktuku adalah detik. Mungkin perjalanan waktunya adalah hari. Atau bulan. Setiap detik menjadi caraku untuk mendoakannya.

Waktu yang ada pada duniaku dan duniaku tidak berjalan berdampingan. Ruang waktu kami berbeda.

Perhentian harus kami lewati, dan di sanalah kami berpisah. Mengucapkan selamat tinggal akan satu pandangan yang pernah kita sama-sama pegang.

Kita beranjak ke arah yang berbeda.

Matahari belum terbangun, alarmku belum berbunyi. Aku sudah terbangun. Pada jam dimana aku selalu terbangun ketika aku memikirkannya, merindukannya, kehilangannya.

3.00 pagi. Ketika seluruh dunia sedang begitu lelapnya, sesuatu membangunkanku. Dan pikiran mengenai dirinya yang pertama menghampiriku.

Sudah dua minggu terakhir kesunyian pukul 3.00 pagi menjadi sahabatku. Aku hanya ingin tidur. Dengan lelap. Sepanjang malam.

Sadarku kuletakan di antara dua dunia: mimpi dan realita. Dan satu setengah jam kemudian aku kembali terbangun, dan memutuskan untuk menyapa pohon-pohon yang berbaris rapih di luar sana. Mereka telah menjadi sahabatku yang melindungiku dari panasnya udara yang mencekik ketika aku berlari. Dan lelahnya jantungku berdegup telah ditelan oleh kesejukan sentuhan pepohonan ketika menari dengan angin yang berhembus.

Tapak kakiku pertama kali menghirup udara kota Jakarta, aku menemukan tanah di basahi oleh hujan yang sudah lama di nanti oleh penghuninya. “Mungkin malaikat di surga berduka melihat dukaku”, jadi aku tidak akan pernah merasa sendiri.

Aku berlari menembus hujan. Dan perlahan kenangan demi kenangan akan waktu kebersamaan singkat yang pernah dirajut muncul kembali bagaikan sebuah tontonan sebuah pertunjukan. Dalam langkah lariku, aku menyaksikannya melewati bayang memoriku.

Ya. Biar waktu saja yang menghapusnya. Untuk aku melupakannya.

Hujan pagi ini entah kenapa terasa seperti butiran-butiran batu kerikil yang memukul kulitku, menampar wajahku. Padahal hanya sebatas gerimis kecil. Aku menengadah ke atas, dan melihat butiran-butiran air yang jatuh dari langit terlihat besar.

Lanjutku aku berlari menembus jalanan-jalanan yang biasa kulewati ketika aku berlari pagi. Minggu ini aku sudah terlalu sering melewati jalur yang sama. Minggu ini sudah terlalu banyak aku berlari. Untuk berpikir.

Tiga puluh menit kemudian aku dipaksa berhenti oleh hujan yang kian deras.

Dan aku kembali tertidur, dengan harap akan melupakan satu per satu kejadian yang pernah kami alami, aku alami.

Tapi “lupa” itu bukan mengenai tidak mengingat setiap detil kejadian yang terjadi. Melainkan mengenai rasa yang pernah timbul ketika aku bersanding dengannya, ketika aku berbincang dengannya, walau hanya satu menit kami berpapasan, walau hanya satu atau dua kalimat terucap dari bibir ini. Cangkirku terisi, tidak lagi kosong.

Lupa. Aku harus melupakan rasa tersebut. Rasa nyaman, rasa aman, yang memulai segalanya.

Maafkan aku, hati, aku mengecewakanmu lagi.

Aku yang akan membantumu untuk menyusun bentukmu kembali. Dan percayalah, hati, waktu saja yang mempunyai otoritas untuk menghapusnya.

Dan sementara itu berlangsung, aku akan menanti dengan sabar agar kau pulih kembali.

Ini janjiku. Bersabar..

4,060,800 detik

Pada mulanya aku tidak pernah memandangmu sebagai apa-apa, juga tidak melihat dirimu sebagai suatu cerita baru, karena aku sedang menyerah pada kesempatan untuk bisa mencintai lagi.

Kehilangan harapan oleh sebab luka masa lalu.

Melihat suatu kesempatan untuk bisa melangkah lebih jauh, sudah kuurungkan jauh-jauh hari.

Aku, pada titik dimana aku tidak percaya lagi pada cinta, empat tahun lamanya, dan menyerah untuk bertemu dengan rasa itu lagi.

Tetapi hadirmu membawa kembali satu kesempatan yang pernah hilang tersebut.

Satu kesempatan dimana suatu hari nanti aku akan bertemu dengan cinta yang dapat kuberikan kepadamu.

Membukakan mata hati yang selalu tertutup ketika aku bertemu dengan beberapa orang di sekitarku.

Tidak sering hatiku merasakan rasa nyaman yang saat itu aku rasakan, ketika pertama kalinya aku terduduk di hadapanmu menggenggam secangkir kopi dan memandangmu seraya berbincang hal-hal umum yang bisa di perbincangkan pada pertemuan pertama, dibalik penolakanku untuk bertemu denganmu. Namun hatiku ingin mencoba.

Pertemuan pertama dimana aku bisa menjadi aku tanpa topeng, membuka diriku apa adanya tanpa bersandiwara.

Seolah aku sudah mengenalmu sejak jauh hari.

Aku ingin mengenalmu lebih lagi.

“Aku tahu aku bisa percaya kepadanya”, ungkapku dalam hati, “suatu hari nanti”, lanjutku. Tanda hatiku yang pernah terkunci pada akhirnya menemukan celah untuk terbuka kembali.

Aku tahu hatiku tidak pernah salah. Karena dia yang selalu membimbing setiap keputusanku: hatiku.

Hari-hariku pernah terasa begitu singkat ketika aku bersama denganmu, ketika aku merajut detik demi detik, menit demi menit,  jam demi jam, akan pengenalan tentang dirimu, tentang hatimu.

Sederhana dan singkat, namun entah kenapa terasa berkesan. Dan aku menuliskannya satu per satu baris dalam buku kehidupanku, menjadi sebuah rangkaian cerita ketika aku kembali membacanya.

Waktu. Kubiarkan waktu mengisi ruang dan jarak di antara kita dalam proses.

Aku bersabar..

Karena hanya waktu yang dapat mengajarkan masing-masing dari kita bertumbuh.

Aku tidak lagi merasakan sunyi di dalam batinku, aku tidak lagi tersesat ketika aku bersama denganmu, merasakan hadirmu dari seberang sana.

Aku tidak lagi merasakan jenuh karena rutinitas yang aku jalani sehari-hari.

Karena ada hadirmu dalam hari-hariku. Ada penantian untuk bertemu dan berbincang denganmu dalam detik jam berjalan.

Yang aku tahu, aku pernah merasakan hari-hari yang diisi dengan rasa penasaran disertai rasa kegirangan, akan pengalaman baru apa yang akan kau bawa untukku.

Akan kejutan apa yang akan kau bawa dalam hidupku di kemudian hari.

Keberadaanmu menjadi arti setiap pagi aku terbangun dari tidurku, menjadi ceriaku di siang hari ketika aku bertatapan dengan sinar matahari dan panasnya yang menyengat, menjadi senyumku ketika malam tiba menghantarkan seluruh rangkaian kejadian sepanjang hari.

Tangisku menjadi tangis rasa takut yang sudah kugenggam terlalu lama, dan hendak aku buang jauh-jauh. Karena aku ingin belajar untuk mempercayaimu perlahan.

Kemudian aku lepaskan rasa takut tersebut dan memberi hatiku kesempatan kembali.

Dunia berkata kepadaku untuk mengenggammu, untuk berjuang. Sudah lama aku tidak melihat dunia begitu mendukungku. Sudah lama aku tidak merasakan dukungan dari dunia yang pada akhirnya membawaku menjadi pribadi yang lebih kuat untuk menjalani sesuatu yang rapuh kembali.

Karena untuk mencintai adalah untuk menjadi rentan.

Sudah lama aku tidak melihat dunia turut bahagia memandang senyumku ketika namamu terucap.

Dunia begitu bersyukur akan kesempatanku bertemu denganmu yang kemudian membawaku pada kesempatan untuk membuka pintu hati ini.

Aku belajar untuk membagi ruang-ruang waktu yang pernah terisi oleh begitu banyak kegiatan tak terbatas, dan menyisihkan satu ruang untuk diisi oleh waktu untuk mengenalmu lebih lagi.

Aku belajar untuk membangun ruang pengorbanan kepada satu orang lagi, kamu, dimana isinya akan dihiasi oleh ego-ego yang akan kusisihkan untuk menyamakan langkahku denganmu.

Aku belajar untuk membuka kardus-kardus berisi toleransi yang tidak pernah aku buka sebelumnya.

Bahagiaku ketika kita bersatu pandang memandang satu titik di depan. Aku pikir aku bermimpi di siang bolong.

Dan jika Tuhan perkenankan aku bersamamu, aku bersamamu untuk menuntun, bukan menuntut.

Tapi aku tidak pernah tahu bahwa mengenalmu akan menjadi sesingkat ini.

Waktu yang singkat, namun pemahaman akan dirimu yang seolah sudah kukenal dari tahunan yang lalu, seolah teman lama yang sudah lama tak bertemu dan melepas rindu.

Kau bagai bintang yang jauh dan menjauh dan terus menjauh dari anganku.

Kau sejauh langit, atau kau sedekat langit-langit?

Kisah kita ini, kisah tanpa cerita.

Hanya untaian sehelai benang yang pernah terjulur dari satu sudut ke sudut lainnya. Tapi tidak pernah menjadi sebuah tenunan kain yang indah.

Bahkan jika matahari harus menyingsing dari sudut utara, dan jika salju turun di kota ini, aku pun akan percaya saja.

Malamku pernah dipenuhi senyum, senjaku pernah menjadi bait-bait puisi, dan hujan yang turun yang membasah-kuyupi aku pernah mengantarkan kerinduan.

Jarak terjauh kita adalah waktu.

Tabungan terindah aku adalah rindu yang sudah lama tidak pernah kurasakan terhadap seseorang. Hari-hari dan minggu-minggu kosong tersebut pernah menjadi angin dingin yang berhembus hingga menusuk tulang belulangku.

Langkah ini pernah tertuju kepadamu, namun harus kutinggal kembali untuk melupakan dirimu yang pernah mengisi salah satu ruang di hatiku.

Kehadiranmu pernah menjadi bintang di kelip malam yang hitam dan gelap, dan dingin.

Setidaknya aku pernah menantimu untuk menghubungiku. Dengan bersabar.

Setidaknya aku pernah bertaruh dengan waktu untuk berpapasan denganmu.

Setidaknya aku pernah menanti detik demi detik ketika hanya ada aku dan kamu hendak pergi ke suatu tempat untuk menghabiskan siang atau malam.

Biarlah semuanya menjadi kenangan untuk saat ini, walau berat untukku karena aku pernah sangat nyaman dan merasa aman ketika aku bersama denganmu.

Dan aku percaya, jika memang Tuhan ijinkan aku dan kau menjadi satu, Tuhan yang akan pertemukan kita kembali dan memulai segalanya dari awal lagi. Hanya itu yang menjadi peganganku saat ini.

Dan waktu, biar waktu saja, yang menghapus rasa duka akan kehilangan dirimu yang pernah mendiami salah satu ruang di hatiku.

Dan waktu, biar waktu saja, yang menjadi sahabatku untuk aku memungut puing-puing hati yang terjatuh ke tanah.

Dan waktu, biar waktu saja, yang memulihkan segala luka karena jatuh terjerembabku.

Empat Juta Enam Puluh Ribu Delapan Ratus detik aku pernah mengenalmu dan menantimu.

Jika kau memang untukku, sejauh apa pun kakimu membawamu berlari, jalan yang kau tempuh hanya akan membawamu kembali kepadaku, kepada “kita”.

Dan seperti inilah rasa peduliku kepadamu walau belum mencintai dengan utuh: you are matter..

Maybe this is the beauty of a goodbye: so we know how much a person means to us..

Thanks for being a part of my heart once, Mr.J.. :’)

the fog

Dalam gelap aku terbangun dari tidurku, siap menyambut hari baru. Dengan terhuyung-huyung aku menapakkan kakiku ke tanah, merasakan dinginnya lantai kamarku oleh karena sapuan angin semalam. Seraya mengumpulkan nyawaku, aku berpangku tangan pada sudut ranjang, tersenyum mengingat kehadiranmu dalam mimpiku. Ada satu orang lagi hadir dalam mimpiku, dalam doaku.

Bergegas aku merangkul tasku hendak melangkah ke tempat aku akan bertemu dengan sebagian teman-teman wanitaku sepanjang akhir pekan ini. Namun hujan turun membasahi langit gelap pagi ini. Aku membuka kemasan payungku dan berjalan menembus angin kencang disertai air yang membelai kedua kakiku. Melalui pantulannya yang mendarat di tanah, ia menyapa pagiku.

Melalui perjalanan singkat aku mengenangnya.. Mengenang siang kami, mengenang malam kami.. Seperti ketika aku berjalan melangkah ke depan dan meninggalkan tapak kaki terdahulu di belakangku. Masa lalu, yang tidak akan aku kunjungi lagi, kenangan hanya tinggal memori. Kuletak dalam sebuah kotak terkunci rapat di sudut ruangan memori.

Hujan. Menyapu jejak langkah yang kutinggalkan pada tanah, seperti angin yang berhembus membawa daun melewati sisi telingaku, demikianlah hati ini dibawanya pergi terbang ke langit biru. Memang sudah selayaknya dia terbang bebas sebagaimana indahnya kepakan sayap burung yang menembus awan di langit.

Dan aku melambai dengan senyum, karena aku tidak akan bertemu dengannya lagi.

Hanya satu kali dalam hidup, ketika suatu malam yang sunyi aku merangkak ke atas tempat tidurku dan meringkuk seraya bercucuran air mata, berdoa pada Tuhan: “berikan hati ini kepada orang yang tepat, Tuhan, berikan cinta ini kepada orang yang tepat”.

Untuk kata yang tak pernah terucap, untuk uluran tangan yang tak pernah menggapai, untuk pandangan yang tak pernah tertidur, untuk jiwa yang pernah tersesat, untuk harapan yang diketemukan kembali, untuk rindu yang tak pernah pudar, untuk hati yang tak pernah terungkap, hanya catatan yang bisa tertuang dibalik untaian rasa yang tak terungkap.

Di tengah dentuman hujan yang semakin keras di lapangan terbuka, aku berkendara dengan empat orang teman lainnya. Tetapi tetap tidak mengalahkan tawa dan canda kami dari balik kendaraan yang kami tumpangi. Dalam hitungan menit, kami telah menembus kabut yang tebal, mengaburkan pandangan kami. Aku bertemu dengannya dari sela-sela kabut yang semakin tebal seiring kami berjalan mendekat. Berbincang dengan Tuhan, menyebutkan satu garis namanya, untuk mengetahui maksud dan tujuan Tuhan yang memberikan cerita baru setelah aku melepas kepergiannya.

Setelah sekian lama akhirnya aku bertemu kembali dengan kabut yang merindukan tanah. Sudah terlalu lama dia berada di puncak awan sana dan tidak bisa menjauh lebih lama lagi dari bumi yang ia cintai. Hanya rasa lelah karena sudah terlalu lama dia mengambang.

Rasa takut oleh karena pandangan yang begitu tak jelas akan apa yang ada di balik kabut. Haruskah Tuhan, haruskah hati ini kuberikan? Benarkah Tuhan, benarkah dia orang yang tepat? Mungkinkah Tuhan, mungkinkah kami bersatu? Karena doa yang aku lantunkan malam aku bercucuran air mata adalah malam kemarin ketika Tuhan memberikan aku jawaban pada pagi selanjutnya.

Dan menyadari bahwa sebuah perjalanan cinta yang mustahil tersebut yang telah membawaku kepada pengalaman indah dimana aku dapat bertemu kembali dengan Tuhan, bertemu kembali dengan jati diriku, bertemu dengan diriku sendiri untuk mengetahui apa yang kubutuhkan dalam hidupku dan bukan sekedar apa yang kuingini dalam hidup. Ada berkat dan maksud yang begitu indah yang Tuhan ingin berikan kepadaku di balik begitu banyaknya pertanyaan dalam benakku. Ada maksud yang begitu berkesan yang Tuhan ingin aku kenang selamanya di balik hari-hari sendu yang aku jalani. Ada makna yang begitu dalam yang Tuhan ingin aku mengerti di balik pengalaman asing ini. Pada akhirnya semuanya mengenai cerita aku dan Tuhan, bukan cerita aku dan seseorang.

Kabut yang kami tembus bukanlah sebuah cerita menyeramkan dimana terdapat banyak kejutan dalam setiap langkah kami menembusnya. Walau tak pasti, namun kabut menjadi caraku untuk mempercayakan kehidupanku sepenuhnya kepada Tuhan, karena aku tidak tahu ada apa dan apa yang terjadi di depan nanti, tapi aku hanya tahu bahwa Tuhan pimpin jalanku, langkahku, tidak mungkin aku dibawaNya tersesat.

Aku telah melepaskannya. Dan kini aku siap menyambut yang baru..

Hanya rasa syukur yang dapat kuungkapkan. Melepaskannya adalah berkat Tuhan terbaik yang aku dapatkan.

Ini, merupakan garisan tangan terakhir tentangnya. Nanti, akan menjadi garisan tangan tentang kisah yang baru 🙂

Hujan untuk mengenangmu

Hujan pagi ini mengingatkanku pada kehadiranmu yang memberikanku hidup.

Seperti sentuhan rintiknya yang dengan lembut membasahi tanah, memberikan harapan pada tanah yang sudah lama gersang untuk hidup kembali, memberikan fondasi kehidupan bagi mereka yang bersandar diatasnya. Harapan yang pernah mati, kau bangkitkan melalui sentuhan kasih sayangmu.

Dinginnya angin yang berhembus menembus kulitku, menjadi caramu untuk menyampaikan pesan singkat kepadaku, bahwa kau tidak akan pernah meninggalkanku. Bahwa kau selalu hadir.

Teduhnya langit menjadi ruang dan waktu bagi aku dan kau untuk bernaung dalam kebersamaan yang tak terhingga. Karena kehadiranmu begitu berkesan dalam ruang batinku, kau tahu bahwa aku membutuhkanmu. Aku tidak pernah merasa terhilang.

Rasa rindu yang tak kunjung pudar bagaikan kabut yang menutup jarak pandangku, menyamarkan jarak yang terbentang di antara diriku dan dirimu. Tidak lagi aku memandangmu begitu jauh. Karena kau ada di hatiku. Selalu disana.

Suara dentuman rintik hujan terdengar begitu sunyi karena hanya suaramu lah yang mampu kudengar dalam kebisingan hentakan tarian mereka membangunkan dunia. Tidak ada lagi yang lain yang aku dengar karena hanya kaulah yang berarti. Aku mencintaimu melalui keteduhan suaramu.

Hujan selalu memberiku arti.

Untuk mengenangmu.

Menemukan sosokmu dari pantulan genangan air yang tergeletak di sudut kakiku.

Seperti cermin aku memandang diriku, demikianlah aku melihatmu begitu dekat di dalam hatiku.

Kau tidak pernah jauh dari hidupku.

Kehadiranmu (pernah) mengisi kosong dan sepi nya hati ini..