IN · Journey of Love · Literature · Random Things Found in Daily Life

Kenangan semata

Dia bersandar pada satu pilar di ruang depan gym yang berdiri gagah di hadapanku. Pilar penopang langit-langit ruangan yang menghadapku. Padahal sebelumnya, kudapati dia memunggungiku. Aku tahu saat itu juga bahwa alasannya memunggungiku adalah karena dia bersikap seolah tidak menyadari keberadaanku pada ruang yang sama. 

Karena aku tiba sebelum dia menghampiri ruang lobby gym untuk mengambil secangkir gelas. 

Aku memandang punggungnya yang lebar dan mempertimbangkan sikapku selanjutnya. 

Terpaku. 

Tapi aku memutuskan untuk berbincang dengannya.

“Hi”, ujarku seperti masa lalu. Ketika aku dan dirinya masih dalam garis waktu yang sama. 

Dia menoleh. Aku dapat membaca tatapannya yang jelas berkata sudah mengetahui keberadaanku. Kamu tidak bisa membohongiku. 

“Hi”, ujarnya balik seraya tersenyum canggung. Mungkin dia tidak tahu apa lagi yang harus dia katakan kepadaku. Aku kembali memutuskan untuk berbincang dengannya. 

“Tumben, nggak biasanya hari Selasa kamu latihan?”, tanyaku berusaha membuka pembicaraan senormal mungkin. Dan kemudian lima menit selanjutnya, dengan pembicaraan basa-basi. Hingga akhirnya aku lagi-lagi kembali memutuskan untuk meninggalkannya. “Oke. Masuk ruang ganti dulu ya”, sambil melambaikan handuk kecil yang kuambil dari rak handuk, tanda aku mengucapkan salam perpisahan. Kemudian aku melangkah menjauhi keberadaan sosoknya. 

Kemudian aku beredar di seputaran ruang latihan bersama dengannya sepanjang 45 menit selanjutnya. Sesuatu yang tidak dapat aku lakukan sebelumnya, pada masa-masa pemulihan hatiku terhadapnya.

Ada alasan sederhana yang kini aku mengerti, mengapa dalam dua minggu penuh itu, pertemuanku yang diatur Tuhan sedemikian rupa intens harus terjadi. “Karena kamu tidak akan bertemu dengannya lagi”, ujarNya suatu malam. Namun pada minggu-minggu selanjutnya, sesungguhnya aku masih bertemu dengannya. Jadi apa maksud Tuhan berkata “tidak akan bertemu dengannya lagi”? 

Bukan. Sebenarnya bukan tidak akan bertemu dengan sosoknya yang pernah kudambakan. Bukan dengan senyumnya yang pernah meluluhkan hatiku. Bukan dengan sapaan sederhananya yang pernah menceriakan detikku. Namun aku tidak akan pernah bertemu lagi dengan cinta yang pernah aku rasakan terhadapnya.

Yang pernah aku rasakan terhadap dirimu πŸ™‚

Aku tahu bahwa kemarin aku sudah menemukan kedamaianku. Namun aku pun tahu bahwa sesungguhnya aku masih memendam rasa. Menanti kapan waktunya Tuhan mengangkat perasaan yang tak bisa memilikimu ini. 

Tapi hari ini, memandang wajahmu, menatap matamu, mendengar suaramu, merasakan senyumanmu, aku dapat dengan yakin berkata, bahwa cinta ini sudah terbang bebas ke langit tak berbatas, ke laut lepas. 

Dan siap menyambut cinta yang baru.

Terima kasih ya sudah membuat diriku menciptakan sebuah karya indah yang menceritakan tentang kita. Aku tidak lagi akan merindukanmu, tapi aku akan selalu mengenangmu πŸ™‚

Advertisements
Blessings in Disguise · EN · Journey of Love · Life Lesson · Random Things Found in Daily Life

A(nother) fulfillment

I never have the intention to test God. But I did ask Him if He will fulfill my little secret wish today.

Again. There is no wish that is too stupid or too impossible if we believe in it. If we turn it as a prayer.

Specific. I heard that God loves detail. And how He appreciates specific wishes. Or prayers.

So I learned to be specific with Him. I asked Him specifically if He is about to allow me meeting him. One more time. And hear his voice. Understand his way of talking as a part of who he is when he interacts with other people.

Maybe. Just maybe. I could visualize a kind of man he is.

Do you know that each night I bring your name to my night prayer before I surround myself with a warm blanket? Asking God if He would given me the chance of knowing you better. Asking God if your appearance lately means something.

While I am also teaching myself to accept when I wish for something that might not come true. Maybe most people called it “gamble”.

No expectation. Understand that if God wants it to happen, it will happen eventually.

I was amazed by God’s love.

So I met him. So he stood in front of me. So I heard his voice.

I believe that was God’s love that I was allowed to receive that kind of fulfillment. Just as like I asked, specifically to Him last night before I crawled into my bed and drown to sleep.

So I smiled, so he smiled. I don’t know about him, but I will never forget this moment. I will never forget the days when I met you because those days were the days where God showed me His grace by fulfilling my wishes.

I wonder if that means something. Of course, I asked Him. I asked God what does He want to teach from this.

But even if it does not mean anything, I understand that God wants me to witness and feel His love towards me: that everything we’ve asked for, will come true eventually, as long as we believe that it will happen.

At the perfect moment πŸ™‚

I learn it now.. I learn to believe..

Do you believe it now?

Blessings in Disguise · Irin Active Journey · Journey of Love · Random Things Found in Daily Life

granted simple wish

Semalam aku bermimpi tentang kamu. Dan aku dapat merasakan mimpi itu seolah kenyataan. Aku dapat merasakan keberadaanmu begitu dekat.

Aku mengerti sekarang bahwa mimpi itu merupakan hasil dari segala sesuatu yang kita pikirkan tepat sebelum kita tertidur. Dan ya, aku memang sempat memikirkan dirimu sore hari, dan malam hari, hingga tepat sebelum tertidur. Terutama setelah kesempatan singkat dan sederhana bertemu denganmu pada tempat dan waktu yang tidak diduga.

Siang itu merupakan siang setelah kebaktian gereja usai, ada satu harapan sederhana di dalam hatiku, “seandainya saja aku dapat dipertemukan dengannya”. Mungkinkah? Atau harapan itu hanya sekedar impian semu belaka? Aku turun ke lantai bawah seraya berpikir restoran mana yang akan kupilih untuk aku menyantap makan siangku yang tertunda dari dua jam yang lalu. Entah bagaimana, ada sesuatu dalam hatiku yang menyarankan untuk mengunjungi restoran dimana aku dan dirinya pertama bertemu. Jadi aku pergi ke sana.

Tentu saja, dia tidak disana.

“Ah mungkin hanya harapan bodohku saja”. Tapi tidak ada satu pun harapan yang terlalu bodoh jika kamu mengubahnya menjadi doa sederhana.

Mungkin tanpa disadari aku ini sebenarnya berdoa kepada Tuhan untuk dipertemukan dengannya. Entah kenapa ada rindu melihat sosoknya, bukan hanya memandangnya dari sosial media yang menyatukan kita.

Aku memilih untuk duduk di sisi luar restoran yang berdampingan dengan jalan umum. Tadinya Ma, yang saat itu sedang bersamaku, memilih untuk duduk di sisi dalam restoran. Tapi entah mengapa, sesuatu dalam hatiku kembali berkata, “ada baiknya kamu duduk di sisi luar”.

“Duduk di luar saja yuk, Mam? Di dalam pengap”. Jadi aku duduk di sebelah lorong restoran tersebut.

Ternyata suara itu bukan sesuatu. Melainkan Seseorang.

Tiga puluh menit kemudian, pandanganku bertemu dengan sosoknya yang sedang berjalan dari hadapanku, menyelusuri lorong sisi luar restoran tempatku makan siang. Aku pikir aku berkhayal. Tapi aku tahu, bahwa itu dia. Dari jauh aku sudah dapat mengenal sosoknya yang belum lama ini baru menarik perhatianku.

Dia selalu mempesona dengan caranya tersendiri πŸ™‚

Detik itu aku mengerti, suara-suara itu merupakan suara Tuhan yang mendengar doaku dan mengabulkan doaku.

Lalu sepanjang sore hingga malam hari aku terus berpikir jika doa dan harapan sederhana yang sempat aku lantunkan itu mempunyai maksud tertentu. Aku bercerita kepada seorang teman baikku mengenai kejadian sederhana yang aku alami itu.

“Tidak ada yang kebetulan, bukan?”, ujarnya.

Mungkin saja. Mungkin saja tidak. Tapi aku selalu menganggap segala sesuatu yang terjadi dalam hidupku mempunyai maksud-maksud khusus yang tersembunyi. Jadi aku bertanya kepada Tuhan jika memang Tuhan ijinkan aku membuka diriku kepadanya.

Tapi pertanyaannya lebih ke: “siapkah aku?”. Siapkah aku terluka lagi, siapkah aku membuka diriku lagi, siapkah aku mencinta lagi?

Ah tidak. Mungkin tidak secepat itu untuk mencinta. Tidak lagi. Tapi tentu saja aku harus membuka diriku akan kesempatan untuk menemukan cinta kembali.

Dan sepanjang tiga hari aku menyendiri di perbatasan kota Jakarta dan Bogor, aku telah merenungkan banyak hal.Β Bahwa hanya orang berani saja yang bisa mencintai. Mungkin aku harus lebih memberanikan diri, karena jika aku mencintai, artinya aku membuka diriku akan kesempatan untuk terluka kembali.

Aku bangun di pagi hari dengan perasaan heran mengapa aku memimpikanmu begitu dekat, begitu nyata. Apakah pikiranku yang menguasai isi mimpiku? Atau memang alam bawah sadarku mengatakan bahwa sudah saatnya aku kembali membuka diriku? Ataukah mimpi tersebut merupakan caraku menyampaikan doa dan harapan, dan bagaimana Tuhan mengemasnya menjadi sebuah petunjuk?

Aku hanya tahu satu hal: Tuhan mendengar doa dan harapan kecil hati yang merindu.

Percayakah kamu? πŸ™‚

IN · Journey of Love · Random Things Found in Daily Life

“Karena aku sudah menemukan kedamaianku”

Jakarta turun hujan lagi malam ini. Apakah aku sedang merindukanmu? Karena masa-masa aku mencintaimu adalah ketika hujan turun untuk menyampaikan kerinduanku kepadamu. Tetapi ketahuilah, bahwa aku sudah menemukan kedamaianku.

Aku pun heran ketika pikiranku tiba-tiba tidak lagi diisi dengan sosoknya ketika aku sedang berkelana di kantorr. Atau di gym. Atau di kantin. Ruang-ruang yang dulu pernah kami isi untuk menghabiskan waktu bersama. Seperti yang malam itu Tuhan katakan kepadaku, bahwa pertemuan super-intensif sepanjang dua minggu bertujuan untukNya “mengenyangkan” kerinduan yang pernah aku sampaikan kepada Tuhan. Sebuah penutup, dengan caraNya meyakinkanku bahwa aku dan dirinya adalah kemustahilan, bukan kemungkinan. Aku tidak lagi bertemu dengannya. Perlahan memori mengenai keberadaannya hilang, disapu angin waktu.

Karena aku sudah menerima dirinya yang telah menjadi bagian dari diriku yang akan kubawa sampai akhir hidupku, walaupun kisah tentangnya akan perlahan terlupakan. Melekat dalam batinku, sudah cukup, tanpa aku harus memandang bayang-bayang dirinya lagi.

Namun hari ini aku bertemu lagi dengan dirinya. Maksudku “bertemu” bukan mengenai bertatap muka dengan muka, atau bertukar pandang. Kehadirannya yang aku ketahui ada di sekitarku: melihat namanya tertulis dalam sebuah lembaran daftar hadir dan memandang pantulan sosoknya dari balik kaca yang membalut seluruh ruang gym.

“Dia lagi”, ujarku kepada sahabat-sahabatku. Mungkin mereka heran mengapa aku harus mempermasalahkan jika kami bertemu.

“Kenalan lagi donk: hai kayak pernah liat di kantor, kamu satu kantor sama aku ya?”, aku tidak dapat menahan tawaku ketika membaca salah satu dari ketiga sahabatku menuliskan pesan melalui WhatsApp group kami. Epic.

Tapi duduk permasalahannya bukan mengenai ada atau tidak ada dia disekitarku. Mungkin kemarin jika aku bertemu dengannya, aku akan dikuasai oleh perasaan sedih yang tak terungkap oleh karena kami sudah menjadi dua orang asing. Namun sekarang aku dapat katakan bahwa pertemuanku dengannya hanya akan membawa hawa canggung yang tidak sanggup aku hadapi. “Bagaimana aku harus bersikap kepadanya?”, tanyaku dalam hati jika ada satu kemungkinan untuk disempatkan berpapasan dengannya.

Aku bertanya kepada langit malam yang memantulkan cahaya merah entah darimana, jika aku sedang merindukannya sehingga haruskah hujan turun malam ini ketika sudah sekian lama Jakarta tidak turun hujan? Tetapi aku memang sudah tidak lagi merindukan dirinya. Bahkan ketika aku sedang berlari seraya bertanya apakah aku dan dia akan berpapasan lagi hari ini dari atas ban berjalan di gym, aku mendengar Tuhan bertanya kepadaku jika aku ingin bertemu dengannya. Dengan yakin aku menjawab: tidak. Karena aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepadanya jika kami harus berpapasan sebegitu dekatnya, dan hanya ada kami berdua di dalam ruangan tersebut. Aku memilih untuk melepaskannyaΒ dengan tidak bertemu dengannya kembali.

Mungkin hujan yang mengguyur kota Jakarta malam ini adalah cara alam, cara Tuhan menyampaikan pesan, bahwa hujan bukan lagi caraku bersembunyi dari dunia ketika aku sedang menangisinya, hujan yang pernah menyamarkan tangisku yang membelai kedua sisi pipiku.

Karena aku tidak lagi menangisi kehampaan dirinya.

Aku sudah menemukan kedamaianku πŸ™‚

 

EN · Journey of Love · Random Things Found in Daily Life

Will I see you again?

Two weeks. 

Two weeks of constant meetings. I wonder if God is making a joke with me. 

I had my darkest moments after losing him. And in those moments, i craved for his presence. I wished hard to bump into him. I tried to create moments to meet him accidentally, but it was never succeed. I stalked his social media profiles only to find how he is been doing, but i ended up getting hurt because i am not a part of his life anymore. Until i had to asked myself, why i do what i do. Why i seeked him. Why i cried for his absence. Why i missed him so much and our small talks. I didn’t even love him, did i? I just (thought) i cared for him. Until one of my bestfriend came to me and told me: “it’s love, my dear, it is love”.

Shocked, as well as relieved at the same time. Like a caged bird which now free to fly.

I stopped denying the feelings and accepted it. Somehow, it became easier. I mean, the moving on and healing process became easier. Because from where i’ve been, from what i’ve learned, love doesn’t need to own each other. Seeing him from afar fulfills my emptiness. Even if love needs some time to grow, but it is so possible that little love touches the heart in the beginning of the journey. Do you believe that? I believe it now.. 

Is it wrong to love you in such way that no one could understand it?

So i lived my days, my own journey. He is no longer a shadow, but he was a part of me. I chose to embrace his memories in my heart.

Then it started.. When i kept seeing him until the next two weeks. I was overwhelmed as well as confused because i did not understand why he was suddenly everywhere. Though i came in hours where he was not supposed to be there: gym, canteen, office lounge, lift, office lobby. But i realized that my cup was abundantly fulfilled.

On the contrary, the saddest thing is that we were strangers to each other. I could feel the awkwardness when our eyes met. Do i prefer to meet him? Or do i prefer to avoid him? I can’t give the right answer. I just knew i missed him, but i also don’t want to put any of us in a hard position.

So i asked God every night before i go to bed: “will i see him again tomorrow?”.

Will I see you again, my love?

Because every day is always been a mystery for me, why things happen the way they they are. Like why do i have to meet you every day, in every given moments. Was it because we are working in the same office? No. This had never been happened before. Why should it happens now? 

Or maybe it is because i am no longer dwell in your shadow, but accepting the loss not as a failure, but as a room to grow.

But i learned to be grateful, of you. Maybe it is love, and the true one πŸ™‚

Will i see you again? Only God knows.. 

IN · Journey of Love · Random Things Found in Daily Life

granted (hidden) wish

I met you again this afternoon.

Ada banyak hari ketika aku bertanya kepada Tuhan: “Mengapa aku sering dipertemukan dengannya tanpa sengaja ketika kami saling memiliki, namun kini tidak lagi aku dipertemukan dengannya walaupun aku bertaruh dengan waktu untuk menanti satu pertemuan denganmu di suatu tempat?”.

Aku tahu saat itu adalah ketika aku sedang merindukanmu. Aku begitu merindukanmu sehingga setiap hari aku berseru kepada Tuhan: “Aku ingin bertemu dengannya”.

Tetapi aku tidak tahu bagaimana aku harus menyikapi diriku ketika aku bertemu denganmu.

Dua hari yang lalu aku memandangmu dari kejauhan. Lima meter dari tempat kamu terduduk membelakangiku, aku menghentikan langkahku dan mengambil nafas panjang. Aku tidak dapat mengingkari jantungku yang hendak melompat dari sangkarnya karena kita bertemu, walaupun kita tidak benar-benar saling bertatapan. Aku melewati hadapanmu tanpa menoleh menyapa atau memberi salam kepadamu.

Karena aku tidak tahu bagaimana aku harus menyikapi diriku ketika aku bertemu denganmu, maka aku memilih untuk tidak bertatapan denganmu.

Walau sebenarnya aku sangat merindukanmu. Terutama pembicaraan kecil kita yang terkesan tidak berarti, namun memberikan kesan tersendiri bagiku.

Dan aku penasaran mengapa aku merindukanmu sedemikan rupa. Padahal aku telah melepasmu pergi.

Kemarin aku berpapasan denganmu, ketika aku benar-benar ingin seorang diri karena aku tidak dapat menguasai kerinduanku padamu, dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tidak dapat meraihmu lagi. Dirimu bersanding dengan diriku. Bertegur sapa melalui satu kata “hai”, tanpa mengucapkan kata-kata yang lain lagi.

Karena kita sudah menjadi dua orang asing kembali.

Aku hanya bisa menangis ketika berhadapan denganmu. Masih terasa menyakitkan, terutama ketika menyadari bahwa kita bukan lagi dua orang yang sama.

Mungkin pedihku ini karena sebenarnya aku (pernah) mencintaimu (atau masih).

Dan hari ini aku bertemu denganmu. Sekian kali kita bertukar pandang, tapi tidak satu pun senyum kita saling lemparkan terhadap masing-masing.

Dan ketika kamu tidak melihatku, diam-diam aku mencuri pandang terhadap sosokmu yang terduduk dengan dua sahabatmu di sisi kiri meja tempat aku tergabung dengan teman-temanku.

Tetapi kenapa tidak lagi sesakit kemarin? Kenapa tidak lagi aku menangis?

Mungkin aku sudah cukup menangis.

Bahkan ketika aku memandangmu dari kejauhan, tidak lagi aku merasakan kepedihan yang sama.

Aku hanya bisa tersenyum kecil dari kejauhan ketika aku menunduk setelah menatapmu: “Aku tahu dia baik-baik saja, dan itu cukup bagiku”.

Maybe this is what everybody calls “love”.

Mungkin Tuhan sebenarnya terlalu sayang denganku sehingga tidak rela Dia melihatku bersedih karena terlalu merindukan sosokmu. Maka diberikanNya kesempatan untuk aku berpapasan denganmu.

“This is what you wanted. This is what I can give”, said God, “Even though I hurt seeing you hurt”.

I knew He loves me too much :’)

 

EN · Journey of Love · Random Things Found in Daily Life

side by side

I took some time to ask myself about why do I dwell in our memories lately. I had moved on. I knew I had. I had accepted the fact that we have to go separate ways from the plans we once had put on the top of that table.

You see, the thing about moving on is not about me forgetting you, but it is about me who took the courage to erase your presence from anything that could bring out the turmoil back to the surface.

I preferred to be occupied with the pile of paperwork at work, while I can’t keep my thoughts off of you when I was sitting in front of my laptop.

I wonder why. That’s why I took some time to ask myself.

And then there was that moment, an unexpected one .. where I got inside a lift for an early lunch appointment and it stopped in front of you that was standing firm with your best friend. You. Going for a lunch at an early hour. Always.

I was surprised, so were you. I was surprised, because I did not expect that I could bump into you this close. I thought that mother nature conspires to detach our awareness from each other.

But this was what so hurt so much: that even though we were standing side by side to each other, not a single word was spoken. We were strangers to the world.

As I stepped out the lift, I could not hold myself to run to the restroom before I meet my lunch appointment. To cry.

“Why was it so hurt, to see you eye to eye once more?”.

I knew I had missed you. I miss your presence during the nights, the midnight conversations, your smile during the daylight to enlighten my day, and all those small little talks. I miss you so much..

“Because you loved him so much, and perhaps you still are”, she said as she was the only one whom I told that I bumped into you.

I did not realize before, that I did, and perhaps I still do..

.. love you.

Because love does not need a reason to stay. It just happened.